The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 77. DETAK JANTUNG


__ADS_3

"Hei! Ada apa? Jangan bikin aku takut, Tiger!" lanjut Jihan menggoyangkan lengan pria itu.


"Oh shittt! Ayo ikut! Ngapain kita di sini!" geramnya menarik Jihan agar beranjak berdiri.


"Loh, kita mau periksa, Tiger!" elak Jihan berusaha menolak, namun kalah tenaga dengan suaminya.


Tiger tak menjawab, ia melalui barisan demi barisan ibu-ibu hamil yang antri hingga mencapai depan meja perawat yang mengurus pemeriksaan tensi, penimbangan berat badan.


"Atas nama Nyonya Vita!" teriak perawat berseragam hijau itu.


Melihat Tiger bersama Jihan berdiri di hadapannya, mengira bahwa Jihan adalah pasien yang dia panggil. Namun tak berselang lama, sepasang suami istri pun mendekati meja.


"Maaf, Nyonya Vita yang mana?" tanya suster tersebut.

__ADS_1


"Saya, Vita! Ini 'kan giliran saya!" seru seorang wanita muda sedikit menaikkan nada bicaranya.


Jihan bermaksud menarik lengan suaminya. Namun pria itu bergeming tak mengindahkan suara siapapun. "Tiger, ayo duduk nunggu antrian," bisik Jihan di telinga sang suami.


Namun Tiger bergeming dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia mengeluarkan dompet dan menyerahkan sebuah golden card yang tertulis jelas Sebastian Group. Sebuah kartu yang menunjukkan identitas keluarganya.


Sontak saja perawat tersebut menelan ludahnya, karena Sebastian Group adalah pemilik saham terbesar di rumah sakit tersebut. Ia kembali menatap penampilan Tiger yang kali ini jauh dari kata formal. Namun tetap saja, aura yang dipancarkan sangat kuat.


Keluarga Sebastian memang jauh dari media. Itu semua atas larangan Milano. Ia tidak ingin kenyamanan keluarganya terusik karena selalu dibuntuti media saat berada di manapun. Oleh karena itu, perawat tersebut benar-benar terkejut.


"Gimana sih!" gerutu Vita lalu kembali ke tempat duduknya.


"Silakan duduk, Tuan, Nyonya," sapanya dengan sopan dan terlihat sangat tegang. Apalagi saat melirik Tiger yang menatapnya dengan dingin, seketika membuatnya bergidik.

__ADS_1


Jihan kebingungan, ia menoleh pada sang suami ingin menanyakannya. Tiger hanya mengangguk saja. Dengan ragu, Jihan duduk sembari mengulurkan berkas dan buku pemeriksaan. Setelah pemeriksaan dasar, buru-buru perawat tersebut mengantar pasangan itu masuk ke ruangan dokter.


Dengan ramah sang dokter pun menyapa. Ia mempersilakan dua orang itu duduk. Dokter mendengar setiap keluhan Jihan dengan antusias lalu memberikan penjelasan untuk solusinya. Tiger hanya diam membisu.


"Baiklah, silakan naik ke atas ranjang pemeriksaan, Nyonya. Kita akan bertemu si kecil," ucap dokter perempuan itu beranjak berdiri.


Jihan menurut, ia segera merebahkan diri di atas ranjang. Tiger tidak pernah jauh darinya, selalu mengikuti setiap gerakan Jihan. Ia berdiri di sebelah Jihan, memperhatikan layar dengan seksama.


Dokter mulai menjalankan alat pada permukaan perut Jihan yang sudah diolesi gel. "Kehamilan Nyonya sudah memasuki usia 16 minggu, ya. Ini berarti sudah mulai memasuki trimester kedua. Janin sudah mulai bisa merangsang cahaya dan pendengarannya mulai terbentuk. Jadi, Tuan silakan sering ajak bicara janinnya agar mengenal suara sang ayah," jelasnya.


Tubuh Tiger membeku, ia tak berkedip mendengar penjelasan sang dokter. Tangannya refleks meremas jemari Jihan untuk mengurai kegugupannya.


"Semua organ tumbuh dengan baik. Sudah ada gerakan-gerakan halus ya, Nyonya. Tapi mungkin Anda belum terlalu merasakannya. Ini terlihat sangat aktif. Nanti ketika memasuki usia kehamilan 27 minggu, saya sarankan untuk USG 4 dimensi. Agar bisa melihat jelas wajah dan gerakan bayi," sambung dokter lagi.

__ADS_1


Kemudian ia mendeteksi detak jantung janin. Terdengar suara detak jantung yang menggema di ruangan. Tiger meraba dadanya yang ikut berdebar dengan sangat kuat. Tubuhnya meremang dipenuhi rasa haru. Jihan tampak tersenyum lebar karena mendengar janinnya sangat sehat dan tumbuh dengan baik.


Bersambung~


__ADS_2