
Tiger membalikkan tubuh Jihan hingga wanita itu kini terlentang. Keduanya saling menatap lekat, Manik Jihan mengerjap lembut. Tiger mulai membuka kancing piyama Jihan yang sontak membuat wanita itu membelalak.
"Tiger," gumamnya pelan dengan napas tak beraturan.
Pria itu tak menghiraukannya. Ia masih terus melanjutkan membuka seluruh kancing itu. Tiger juga membuka kaosnya, ia bertelanjang dada. Wajah Jihan seketika memerah dan membuang muka ke samping, membelakangi tubuh kekar suaminya yang terpampang di depan mata.
"Tiger, kamu masih sakit," gumam Jihan menggigit bibir bawahnya. Sungguh debaran jantungnya seperti sedang bermarathon saat ini.
"Aku tahu, memang kenapa?" tanya Tiger menopang salah satu tangannya, sedikit mencondongkan tubuh pada istrinya. Ia bisa melihat dengan jelas wajah Jihan yang sudah seperti kepiting rebus.
"Ja ... jangan lakuin itu dulu, sebaiknya kita beristirahat," ucap Jihan masih memalingkan muka.
Tiger menggerakkan wajah Jihan hingga kini mereka saling bersitatap. Pria itu terkekeh melihat Jihan yang menegang. Ia segera menyambar bibir ranum istrinya yang selalu menggodanya. Menggigit dan mengulumnya dengan intens.
Tangan lebar pria itu mulai menjelajah bukit kembar sang istri. Namun baru memainkannya sebentar, ia merebahkan wajahnya pada dada Jihan.
Memeluk tubuh wanita itu hingga kulit mereka saling bersentuhan. Semakin kuatlah debaran jantung Jihan saat ini. Bahkan tubuhnya gemetar karena sentuhan suaminya itu, sentuhan yang sebenarnya sangat ia rindukan.
__ADS_1
"Tiger, demammu belum turun!" ucap Jihan sebisa mungkin menahan hasratnya yang mulai menanjak.
"Eemmm ... skin to skin ini akan lebih cepat menurunkan suhu badanku, jadi diamlah dan peluk aku," balas Tiger yang sudah kembali memejamkan mata.
"Eh!" Jihan tersadar dari otak mesumnya. Ia mengira hal yang lain. Rupanya Tiger meminta metode alami untuk menurunkan demam.
Jihan menertawakan dirinya sendiri dalam hati. Untung saja ia tak mengatakan hal yang tidak-tidak. Bisa-bisa nanti digunakan Tiger untuk meledeknya.
Jihan segera berbalik menghadap suaminya. Ia beralih memeluk erat pria itu, membiarkan hawa panas dari permukaan kulit Tiger bersinggungan dengan kulit mulusnya.
"Tidurlah," gumam Jihan membelai kepala Tiger.
Seperti kucing yang patuh dengan majikannya, Tiger mengangguk lalu memejamkan matanya. Menelusupkan wajah pada dada sang istri, dan tubuhnya menempel satu sama lain. Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
Gelapnya malam berubah terang ketika mentari mulai keluar dari sarangnya. Jihan merasa kesemutan karena semalaman penuh tidak bisa bergerak. Tiger mengunci pergerakannya.
Ia mengerjapkan mata, pemandangan yang ia lihat pertama kali adalah wajah tampan suaminya. Bibirnya menyunggingkan senyum, lengannya terangkat untuk membelai wajah itu.
__ADS_1
"Sudah turun demamnya," gumam Jihan.
Jihan bergerak sangat pelan sekali untuk keluar dari kungkungan Tiger. Ia tak tahan ingin segera buang air kecil. Atasan piyamanya ternyata sudah berhamburan entah dimana. Tanpa sadar, ternyata tubuh Jihan bagian atas sudah polos tanpa sehelai kain pun.
'Kayaknya semalam nggak dibuka semua,' gumamnya dalam hati.
Tak ingin larut dalam pikirannya, Jihan beralih ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Matanya membelalak saat melihat dadanya banyak sekali hasil karya Tiger yang kini berwarna biru keungunan.
"Kapan dia melakukannya? Kenapa aku nggak sadar?" ucapnya meraba dadanya. "Aiih, untung nggak sampai leher. Sakit aja masih bisa berbuat mesum!" gerutunya memulai ritual mandinya.
Tak lama kemudian, dia sudah keluar dengan dress berwarna peach yang sangat pas membalut tubuhnya. Perutnya tampak menonjol saat mengenakan gaun tersebut.
Baru saja menutup pintu kamarnya untuk menuju dapur, terdengar denting bell yang berbunyi. Jihan menautkan kedua alisnya, "Siapa yang datang sepagi ini?" ucapaanya segera melangkah keluar karena takut akan membangunkan Tiger.
Saat membuka pintu, Jihan terkejut. Karena Bima berdiri dengan mengurai senyum lebar di bibirnya.
"Bi ... Bima? Ada apa?" tanya Jihan gugup.
__ADS_1
Bersambung~