
Jihan menoleh dengan cepat, menatap Tiger dengan sebelah alis yang terangkat. Pria itu menelan ludahnya, beralih pada raut wajah polos putrinya, sembari berkerut kening.
"Cheryl! Kan perjanjiannya tadi nggak gitu, Nak!" gumamnya pelan dan tampak frustasi.
"Emang papa bilang apa?" Jihan berjongkok, menyentuh kedua bahu Cheryl sembari memperhatikannya lekat-lekat.
"Papa bilang, Cheryl harus rayu mama biar bisa nginep di rumah om papa!" cetus Cheryl sejujur-jujurnya.
Tiger menepuk jidatnya. Jihan menahan senyumnya, ia menanggapi ucapan Cheryl dengan mengangguk beberapa kali sembari berkata, "Ooh, gitu!"
"Aahh Cheryl, kenapa bilang sama mama!" geram Tiger menjambak rambut pendeknya sendiri.
Cheryl nampak kebingungan, menatap papanya dengan serius. "Papa, kata mama Cheryl nggak boleh bohong. Apalagi sama orang tua," ceramahnya membuat wajah Tiger memerah.
"Cheryl juga tidak boleh berkhianat sama Papa!" seru Tiger panik.
Gadis kecil itu mengernyitkan keningnya bingung. Ia belum mengerti arti berkhianat. Nampak sekali Cheryl tengah berpikir keras.
Jihan beranjak berdiri, tanpa bersuara menatap suaminya yang kebingungan, sembari melipat kedua lengannya. "Oh, jadi ini modus ya, Tuan Macan?" Jihan melangkah hingga semakin mengikis jarak antara mereka berdua. Sedangkan Tiger bergerak mundur.
Dalam hati Tiger berteriak, ia lebih memilih menghadapi 10 musuh sekaligus. Dari pada terjebak dalam situasi tersudutkan seperti ini.
"Eee ... bukan gitu maksudnya, Sayang. Aku hanya, hanya ... eee ingin Cheryl semakin dekat dan puas bermain bersama om dan tantenya saja. Sungguh!" jawabnya gagu dengan mengangkat kedua jarinya.
__ADS_1
"Yakin?" Jihan memicingkan matanya.
Tatapan wanita itu mengintimadasi dan seketika membuat bulu kuduknya berdiri. Jihan berdiri hanya berjarak beberapa inchi saja, "Aku sudah susah payah mendidiknya agar selalu terbuka dan jujur. Jadi, semua negosiasi tidak akan mempan, Papa Macan. Dan satu lagi, kamu mau mengusir Cheryl secara halus?" ucap Jihan menjewer telinga Tiger dengan gemas.
"Haaahh! Iya, iya. Aku kalah!" Tiger menarik pinggang wanita itu, tangan Jihan terlepas. Tubuhnya tersentak hingga benar-benar rapat, Tiger menunduk saling melempar pandang dengan sang istri.
"Sayang, aku tidak bermaksud mengusir anak kita. Tapi ini momen yang tepat, karena sebentar lagi Leon dan Khansa pasti sangat sibuk. Kasihan Cheryl nanti kecewa nggak bisa bertemu dengan mereka. Dan lagi ... aku sangat merindukanmu," bisiknya mencium pipi Jihan lalu menopang wajahnya pada bahu istrinya.
Jihan terkekeh, melonggarkan pelukannya karena diperhatikan oleh Cheryl sedari tadi. Namun gadis kecil itu tampak tersenyum lebar melihat kemesraan ayah dan ibunya.
Ia tidak mengerti urusan orang dewasa, hanya saja melihat mereka saling sayang seperti itu membuatnya bahagia. Apalagi, selama ini dia terlalu sering melihat mamanya menangis. Tentu ia ikut bahagia melihat sang mama selalu tertawa.
"Yaudah, aku berangkat dulu." Tiger meraih kemeja panjangnya, mengenakan asal dan mengancingkan sebagian saja. Ia bermaksud mengganti pakaian di kantor.
"Cheryl, jadi ikut papa 'kan, Nak?" tawar Tiger membuat Cheryl mengangguk semangat.
Jihan kembali masuk untuk mempersiapkan meeting online dengan timnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Papa! Cheryl mau duduk depan papa boleh?" tanya Cheryl membisik di telinga Tiger saat mereka sampai di mobil.
"Apa sih yang nggak boleh buat anak papa?" balas Tiger mencium pipinya gemas.
__ADS_1
"Horeee! Papa terbaik!" pujinya.
Mereka duduk di balik kemudi. Mata Cheryl mengedar dengan binar kebahagiaan. Apalagi saat ini tidak ada yang melarangnya.
Tiger membelitkan seatbelt pada tubuh Cheryl dan juga tubuhnya. Ia mulai menyalakan mesinnya.
"Papa! Ngebut kayak kemarin. Cheryl suka!" pinta Cheryl meletakkan tangan kecilnya pada setir bundar itu.
"Oke siap ya! Tapi tangan Cheryl nggak boleh kaku. Harus ngikutin gerakan papa. Jangan sampai bergerak sesukanya ya. Kalau enggak, besok-besok papa nggak kasih izin lagi!" terang Tiger sekaligus memberi ancaman.
"Siap papa! Baiklah!" sahut gadis cilik itu antusias.
Dan bagai raja jalanan, mobil sport milik Tiger melesat dengan kecepatan sangat tinggi. Cheryl terus tertawa, memekik kegirangan tanpa rasa takut sedikitpun. Ia juga menurut dengan semua ucapan Tiger, karena takut besok-besok akan dilarang.
Hingga mobil mereka melewati gerbang yang menjulang tinggi, dan berhenti di pelataran luas sebuah gedung serba kaca. Mereka berdua turun dari mobil. Tiger sama sekali tak melepaskan gendongannya.
"Pusing nggak, Sayang?" tanya Tiger khawatir.
"Enggak, Pa. Cheryl seneng banget. Pokoknya mau lagi!" tegasnya tertawa.
Tiger hanya tersenyum. Ia lalu melenggang masuk dengan melewati berbagai sistem kemanan. Cheryl melongo terheran-heran melihatnya.
Bersambung~
__ADS_1
anak macan emang ya 😌