
Tiger terdiam beberapa saat, seringai di wajahnya tampak begitu kentara. Semua mata dan telinga mereka pasang dengan baik agar fokus dengan ucapan Tiger. Tidak ada yang berani bersuara selain deru napas dan detak jantung mereka.
"Pertama, berikan semua informasi mengenai Klan Black Blood! Maka kalian bisa keluar dengan selamat. Pilihan kedua, kalian berdua keluar dari sini tinggal nama. Karena raga kalian akan diberikan ke penangkaran singa!" ucap Tiger.
Dua pria penyusup itu saling melempar pandangan. Wajahnya tampak sangat pucat bahkan telihat memutih seolah kehabisan aliran darah. Panas dingin kini merajai tubuh keduanya.
"Pilihan ada di tangan kalian berdua. Saya beri waktu 30 menit. Ah sepertinya kelamaan. Sepuluh menit dari sekarang!" ujarnya menunjuk salah satu anak buahnya untuk mengambilkan pistol yang sempat ia jatuhkan.
Tiger kembali duduk di kursi kebesarannya. Menyandarkan punggung sembari menautkan kedua tangan. Memperhatikan dua lelaki yang sedang bernegosiasi dengan nyawa mereka masing-masing.
Tak berapa lama, salah satu bawahan Tiger membisikkan sesuatu di telinga Tiger. Pria itu segera beranjak berdiri. "Awasi mereka, lima menit lagi saya kembali untuk meminta keputusan!" tegasnya melenggang sembari mengancingkan jasnya.
"Baik, Tuan!" seru mereka serempak.
Di luar ruangan, Tiger menerima telepon yang ternyata dari Assinten Gerry. Tiger berdehem lalu menempelkan ponsel yang memang digunakan untuk beroperasi dalam kawasan dunia hitamnya.
__ADS_1
"Ya, Asisten Gerry!"
"Tuan, besok kami akan mengirim tim untuk bekerja sama dengan Anda. Surat perjanjian sudah saya kirimkan melalui email. Tolong segera kirim kembali setelah Anda menandatanganinya. Semua point perjanjian mutlak atas keputusan Tuan Leon. Jika Anda tidak menyetujui atau melanggarnya, kami akan membatalkan bahkan memberikan sanksi. Selengkapnya ada dalam perjanjian tersebut," papar asisten Gerry menjelaskan.
"Baik, terima kasih asisten Gerry, saya akan segera mengeceknya," sahut Tiger.
Setelah memutuskan sambungan telepon, Tiger menyerahkan lagi ponsel pada anak buahnya. Ia kembali masuk dan segera membuka email.
Surat perjanjian ia baca dengan teliti, keningnya mengernyit, namun tak butuh waktu lama dia membubuhkan tanda tangan digitalnya pada email tersebut dan mengirim kembali pada Assisten Gerry.
"Baiklah! Waktu habis. Apa pilihan kalian?" Tiger menutup laptopnya, ia kembali berdiri dan bersandar pada tepian meja.
Meraih salah satu pengusup itu dan menghajarnya tanpa ampun. Sempat terjadi perlawanan dari pria satunya lagi. Tiger terkena sambaran bogem di tulang pipi dan sudut bibirnya.
Semua bawahan Tiger segera bergerak cepat. Namun Tiger melarangnya. "Tunggu! Biar saya saja! Kalian tunggu perintah!" tegasnya melepas jas dan melemparkannya, segera ditangkap oleh sang anak buah. Tiger ingin meluapkan amarahnya. Napasnya mulai berembus kasar, matanya memerah dengan seluruh tubuh mulai menegang.
__ADS_1
Emosinya sudah mencapai ubun-ubun dan tidak bisa ditahan lagi. dengan cepat, dia mengendurkan dasi, melepas kancing kedua lengannya lalu menggulung hingga ke siku.
"Meskipun kami bicara, tetap saja kami pasti mati di tanganmu!" seru salah seorang penyusup dengan berani.
"Pintar juga otak kamu!" sahut Tiger mendengkus.
Segera ia berlari dengan kencang, dua lawannya bergerak menyingkir. Tanpa diduga, Tiger justru memanjat dinding lalu salto di udara dan menendang punggung keduanya dengan kekuatan penuh.
Mereka tersungkur ke lantai dengan begitu keras hingga mulutnya berdarah. Giginya patah, sedang pria satunya lagi lidahnya tergigit. Berusaha berdiri, Tiger bersiap di belakangnya.
Keduanya berbalik lalu Tiger menyerang dengan cepat, melesatkan beberapa bogem di wajah keduanya sambil berteriak. Ternyata, lawannya itu bukan kaleng-kaleng. Mereka cukup menguasai ilmu bela diri. Namun bukan masalah besar bagi Tiger, ia masih ingin bermain dengan dua bonekanya itu untuk melampiaskan amarah.
Meski sesekali terkena pukulan, Tiger masih berdiri kokoh. Dan setelah beberapa lama, Tiger pun mematikan gerakan mereka. Menarik lengannya ke belakang, mematahkan lengan itu. Saat hendak mendapat serangan dari samping, Tiger melayangkan kakinya dengan cepat.
Tiger menghempaskan tubuh mereka ke lantai. Wajah dua pria itu tak berbentuk. Darah dan lebam memenuhi muka mereka.
__ADS_1
"Bereskan mereka di ruang eksekusi. Ambil alat komunikasinya lalu lemparkan mayatnya ke penangkaran singa!" tegas Tiger dengan napas tersengal-sengal.
Bersambung~