
"Hah?! Serius? Aku harus gimana? Terus harus ngapain ini?" Tiger membelalak sembari berdiri mondar-mandir bingung.
Bulir keringat mulai menyembul membasahi wajah tampannya. Cheryl dan Jihan saling bersitatap kemudian kompak mendongak, menatap Tiger yang tengah dilanda panik di hadapan mereka.
"Papa! Cheryl pusing lihat Papa!" Cheryl menggenggam jemari Tiger hingga membuat pria itu menoleh, kemudian berjongkok lagi.
Tiger tampak menghela napas berat, ia menelan saliva yang tiba-tiba kering di tenggorokan. Dadanya berdegub dengan kasar hingga menghilangkan pikiran jernihnya saat ini.
"Sayang, tenanglah. Sepertinya kita harus ke rumah sakit. Kemungkinan masih bukaan awal, sakitnya hilang timbul." Jihan berucap pelan ketika mulas dan ketegangan di perutnya mulai berkurang.
"Ah! Iya, rumah sakit. Mbak! Mbak! Bibi! Rico!" teriak Tiger menggema di seluruh penjuru ruangan memanggil para pekerjanya.
Nada suara yang terdengar marah, membuat mereka berlarian mendekat dan berbaris rapi di hadapan Tiger. Mereka menunduk dalam, seolah bersiap untuk menerima hukuman.
"Mbak, kamu urus Cheryl. Bibi ambilkan pakaian yang harus dibawa ke rumah sakit. Rico, cepat antar kami ke rumah sakit!" perintah Tiger pada masing-masing bawahannya.
Mereka bertiga memberanikan diri untuk mengangkat pandangan. Hingga bisa melihat jelas wajah Tiger yang panik bercampur ketakutan.
__ADS_1
"Apa yang kalian tunggu?! Buruan! Jihan mau melahirkan!" berang Tiger dengan wajah memerah, ketika mereka justru bergeming.
"Hah? Ba ... baik, Tuan!" Tiga orang itu segera berhamburan melakukan tugasnya masing-masing.
"Mama!" Cheryl berucap lirih dan hampir menangis.
Pengasuh Cheryl segera meraih dalam gendongannya, "Nggak apa-apa, Kak. Dede udah mau keluar. Kita doain dari rumah ya," ucapnya menyeka air mata anak asuhnya itu.
"Mama!" panggil Cheryl lagi. Dia paling takut melihat mamanya kesakitan.
"Sini sebentar, Sayang. Peluk mama dan dede!" pinta Jihan merentangkan kedua lengannya.
Cheryl berangsut turun, lalu menghambur ke pelukan ibunya. "Mama! Sakit ya?" tanya gadis kecil itu.
"Nggak apa-apa kok, Sayang. Mama 'kan kuat. Jadi, Cheryl jangan khawatir. Cheryl mau jadi kakak bentar lagi. Jadi kakak yang baik dan pinter ya. Di rumah dulu sama Mbak. Nanti nyusul kalau dede udah lahir," ucap Jihan sedikit tersengal mencium kening putrinya. Cheryl mengangguk pelan.
Semua sudah siap. Cheryl segera diambil oleh pengasuhnya. Tiger menggendong tubuh istrinya, meski Jihan menolak keras, tapi pria itu tetap kekeuh.
__ADS_1
"Tiger, tenanglah," bisik Jihan di telinga Tiger, menarik kedua sudut bibirnya, berusaha tersenyum.
"Tenang, tenang gimana?! Aku takut kalian kenapa-napa! Hei Bukakan pintu cepat!" Tiger berteriak gusar sembari melangkah cepat.
"Tiger stop!" teriak Jihan mengerahkan seluruh tenaganya. Napasnya tersengal.
Gerakan lelaki itu seketika terhenti di ambang pintu mobil. Ia menatap Jihan lekat-lekat. Bagaimana bisa dia tenang melihat istrinya kesakitan seperti itu. Dadanya seolah teremas dengan kuat.
"Jangan membuatku takut. Jika kamu terlalu panik, aku teringat kembali ketika akan melahirkan Cheryl." Tangis Jihan tiba-tiba pecah. "Kamu harus tetap tenang. Aku tenang, bayi kita nyaman, semuanya aman dan selamat. Sekali lagi aku mohon, kendalikan dirimu, emosimu dan tetap tenang. Kalau nggak bisa, tinggallah di rumah bersama Cheryl! Aku bisa melahirkannya sendiri!" tegas Jihan mencengkeram kuat kedua bahu Tiger dengan tatapan tajam.
Dada Tiger berdenyut nyeri mendengarnya. Ia terpaku dengan kedua bahu sedikit merosot, namun masih mampu menopang tubuh istrinya yang sedang hamil tua itu.
Jihan sedari tadi menekan ketakutannya. Kilasan-kilasan ketika akan melahirkan Cheryl kembali terngiang. Panik, takut, teriakan dan kecelakaan yang membuat suaminya koma, semua itu membuat dadanya seperti terhimpit. Ditambah sikap suaminya saat ini, justru membuatnya semakin sesak.
Bersambung~
Tenang papa macan.... aku juga panik kok ngetiknya. kamu nggak sendiri 😌
__ADS_1