The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 137. PERTEMUAN ZERO DAN TIGER


__ADS_3

"Tunggu! Tunggu! Ceritakan pelan-pelan, jangan gegabah. Jangan ambil keputusan saat kamu lagi emosi. Ingat, kamu punya Cheryl, jangan egois okay? Sekarang mau nangis dulu apa mau cerita? Kalau mau nangis, aku tungguin, jangan matiin teleponnya!" Khansa dengan cepat mencoba meredakan emosi Jihan.


Tidak ada percakapan lagi yang terdengar. Jihan menangis mengeluarkan semua sesak di dada yang ia tahan sedari tadi. Setelah 30 menit berlalu, dia mulai lebih tenang.


Barulah Jihan bercerita, bagaimana Tiger menghinanya, merendahkannya dengan segala umpatan-umpatan kasarnya hanya karena kesalah pahaman. Jihan bercerita sembari menangis. Percayalah, setiap wanita berbicara sambil menangis, apa yang terjadi dan dialaminya sangat menyakitkan.


"Jihan, tenangin diri dulu. Aku nggak mau kamu nyesel nantinya. Pikirkan juga Cheryl. Dia juga membutuhkan seorang ayah. Bukankah kamu mau ada acara sebentar lagi. Fokuslah dulu dengan acaramu, singkirkan Tiger sejenak dari pikiranmu," saran Khansa.


"Sakit banget hatiku, Sa!" Jihan hampir kehabisan suara.


"Iya aku tahu, tapi luapkan emosimu dengan hal-hal positif agar tidak ada penyesalan di kemudian hari. Jadi sekarang, semangat untuk acara yang akan digelar di butikmu! Tunjukkan kamu wanita elegan. Bukan seperti yang dituduhkan! Buktikan semua dengan hasil dan perbuatan. Bukan hanya dengan kata-kata. Fighting, Jihan!" seru Khansa memberi semangat.


Jihan mengangguk walau tak dapat dilihat dengan Khansa. Ia membenarkan ucapan saudaranya itu, akan dia buktikan dengan hasil yang elegan. "Baik, Sa. Terima kasih," sahut Jihan sudah lebih tenang.


"Cheryl udah tidur?" tanya Khansa.


"Udah mungkin, aku baru mau pulang," jawab Jihan beranjak berdiri. Menepuk-nepuk bajunya yang sedikit kotor.


"Oke, hati-hati ya. See you! Bentar lagi aku pulang ke Indonesia kok!"


Percakapan dini hari itu berakhir. Jihan tersenyum, menggenggam ponselnya dan memasukkan kembali ke dalam tas. Ia bergegas ke apartemen.


Sesampainya di sana, Jihan sudah menemukan Cheryl dan pengasuhnya. Cheryl yang bangun sejak tadi berlari memeluk mamanya. Jihan meringis ketika tangan kanannya tertindih oleh tubuh Cheryl.


"Sebentar, Nak!" Jihan meregangkan pelukan menyingkirkan lengannya lalu memeluk dengan satu tangan.

__ADS_1


"Mama?" ucap Cheryl yang sudah berusia 3,5 tahun.


"Iya, Sayang. Mama nggak apa-apa. Sementara kita tinggal di sini ya," balas Jihan menciumi puncak kepala Cheryl.


Cheryl paling takut jika melihat Jihan menangis atau kesakitan. Dia selalu menuruti setiap ucapan sang mama. Balita itu akan ketakutan jika melihat Jihan marah.


"Heem. Mama jangan nangis!" ujarnya dengan suara gemas.


Entah kenapa Jihan justru menangis mendengarnya. Namun ia berusaha menyeka air matanya agar tidak terjatuh. Terus mempertahankan senyumnya.


"Iya, Sayang. Anak mama hebat, kuat dan pintar. Sekarang tidur ya. Ini masih malam. Ayo ke kamar!" ucap Jihan melepas pelukannya.


"Iya, Ma!" Cheryl berjalan sembari jemari kecilnya saling bertaut dengan Jihan.


Sampai di kamar, Cheryl segera merangkak naik ke ranjang dan merebahkan tubuhnya. Disusul Jihan untuk menemaninya. Hanya butuh beberapa menit gadis kecil itu terlelap kembali.


Ia segera berjalan keluar, kebetulan berpapasan Mbak Lala yang berjalan hendak ke dapur. "Mbak, tolong jaga Cheryl. Aku harus ke rumah sakit. Lenganku sakit," ujar Jihan menunjukkan tangannya.


"Yaampun, Nyonya kenapa?!" pekik Mbak Lala.


"Sssttt... jangan teriak. Nanti Cheryl bangun. Nggak apa-apa, jatuh tadi. Aku tinggal ya!"


Jihan melenggang keluar. Ia menghubungi Rico dan memintanya untuk mengantar ke rumah sakit. Kebetulan Rico masih menempati apartemennya yang dulu. Masih dekat dengannya.


"Hei, kamu kenapa?" Rico bertanya ketika mereka berpapasan di lorong.

__ADS_1


"Nggak sengaja kepleset aja. Buruan deh, makin bengkak nih," keluh Jihan enggan bercerita lalu memimpin jalan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sisi lain, Tiger frustasi karena sesampainya di rumah ia tidak bertemu dengan putrinya itu. Ia takut, takut sekali jika Jihan meninggalkannya.


Ia masuk ke dalam kamar, berjalan menyusuri ruangan luas yang kini sudah lebih berwarna. Banyak sekali foto-foto pertumbuhan Cheryl, piagam, piala dan juga foto-foto Jihan.


Tangannya gemetar meraba bingkai itu satu per satu. Karena kebodohan dan kecerobohannya, dia sendiri yang membuang Jihan pergi.


"Temui aku besok di Cafe Starla jam 8 pagi. Dengarkan semua penjelasanku. Sebelum kamu menyesal!" ~ Zero.


Pesan yang masuk ke ponsel Tiger kala itu. Ya, sekarang dia harus beristirahat, agar bisa berpikir jernih. Juga mengistirahatkan tubuhnya yang baru saja pulih.


Dia segera masuk kamar mandi untuk menyiram kepalanya yang mendidih. Mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin.


Setelahnya ia justru tidak bisa tidur. Duduk bersandar dengan pikiran menerawang istri dan anaknya. Ia beralih mengambil satu bingkai foto mereka berdua.


Membelainya lembut dan membawanya ke ranjang. Dipeluknya gambar dua perempuan beda usia tengah tertawa lepas. Ia terus merutuki kebodohannya sendiri. Tidak punya keberanian untuk menghubungi mereka.


Bahkan hingga mentari pagi mulai menyingsing, Tiger enggan memejamkan mata. Dia sama sekali tidak keluar kamar sampai waktu pertemuan dengan Zero tiba. Bian sudah stanby untuk mengantar tuannya itu.


Di Cafe Starla ....


Tiger sudah sampai terlebih dahulu. Dia duduk di salah satu kursi pengunjung yang menghadap pintu dengan sedikit gusar. Tak lama kemudian, ia terkejut dengan kedatangan Zero dan seorang wanita yang sangat ia kenal.

__ADS_1


"Erent?" gumam Tiger menautkan kedua alisnya.


Bersambung~


__ADS_2