
Tak mudah bagiku untuk lupakan semua cerita indah diantara kita
Andai saja kau bisa rasakan yg kurasa
Bahwa hatiku terluka karnamu
Sanggupkah ku tegakkan langkahku
Jalani hari tanpa kau disampingku
Sungguh berat beban yg ku tempuh
Mampukah aku?
Mungkin inilah jalan yg terbaik
untuk kita berdua
Ku do’akan smoga kau bahagia
Biarlah ku simpan saja
kisah cinta yg pernah ada
Ku relakan apa adanya
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Senandung lagu yang berjudul tak semestinya kita berpisah, dipopulerkan oleh soft band itu mengiringi perjalanan Jihan dalam sebuah bus antar provinsi.
Cocok sekali dengan perasaannya saat itu. Bersama sikecil dalam dekapannya, air matanya membanjir membasahi kedua pipinya.
Sama sekali tidak pernah menyangka, bahwa suaminya bukan hanya seorang pengusaha seperti pada umumnya, tetapi juga seorang mafia. Hatinya bergejolak untuk mengelak, tetap ingin bertahan di samping suaminya dalam kondisi apa pun, karena ia lebih berhak.
Namun, nuraninya menolak tegas. Dia wanita, pernah merasakan bagaimana sakitnya ketika pertunangannya gagal, impian pernikahannya hancur. Tidak! Dia tidak bisa berbahagia di atas penderitaan wanita lain.
"Maaf!" gumam Jihan menyandarkan punggung dan kepala pada sandaran kursi bus yang ditumpanginya.
Jihan menarik napasnya panjang, mengembangkan dada yang sesak, "Mama janji, akan memberikan yang terbaik untuk kamu. Mama janji akan berjuang hingga embusan napas terakhir untuk membahagiakan kamu."
Ia tidak tahu kemana tujuannya. Tangan kanannya menepuk-nepuk dada yang teramat sesak. Cheryl begitu tenang tidur dengan pulas dalam dekapannya, Jihan menghujani kecupan pada putrinya.
Sopir bus pun memelankan kecepatannya. Dan benar saja, tak begitu jauh darinya mobil hitam itu berhenti. Sang sopir menurunkan kaca jendela melongokkan kepala ke bawah pada seorang pria yang menghentikan jalannya.
"Buka pintunya! Saya mau menjemput salah satu penumpang Anda!" tegas pria berkacamata hitam itu yang tak lain adalah Zero.
Sang sopir pun melempar pandang hingga bersitatap pada kernetnya. "Buka pintu!" ujarnya.
Setelah pintu terbuka, Zero berlari untuk naik dari pintu depan. Di balik kaca mata hitamnya menelisik satu per satu penumpang dari bus tersebut.
"Hei, cepatlah anak muda! Waktu adalah uang. Kamu sudah membuang waktuku terlalu banyak!" sembur sopir tersebut.
__ADS_1
Zero meraih beberapa lembar uang dari dompetnya, lalu menyodorkan pada sopir itu yang akhirnya bungkam. Kemudian ia melanjutkan pencariannya.
Jihan tak menghiraukan apa yang terjadi. Tatapannya mengarah keluar jendela. Tersentak saat tiba-tiba ada yang menarik lengannya. Segera ia menoleh.
"Ikutlah," ajak Zero bersuara pelan.
Sedangkan Jihan justru merasa ketakutan. Manik matanya bergerak tak tentu arah dengan air mata yang terus berjatuhan. Apalagi ketika mengetahui bahwa lelaki itu musuh besar suaminya yang juga seorang ketua mafia.
Kedua lengannya semakin erat memeluk Cheryl, kepalanya menunduk dengan debaran jantung bagai lari marathon. "Tolong jangan sakiti saya atau anak saya," pinta Jihan dengan suara bergetar.
Kursi sebelah Jihan kebetulan kosong. Zero duduk di sampingnya, tubuh Jihan semakin bergerak hingga ke ujung. Sebisa mungkin menjauh dari pria itu.
"Saya janji tidak akan menyakiti kalian!" Zero membuka kaca mata hitamnya. Menoleh pada Jihan dengan mengurai senyum di bibirnya.
Jihan meneguk salivanya dengan berat. Ia tidak bisa percaya begitu saja. "Tolong lepaskan saya. Saya hanya ingin hidup tenang bersama anak saya," ucapnya memohon dengan suara bergetar. Teringat Zero adalah ketua mafia dan pernah menyekap Erent, Jihan sangat yakin pria itu bukan pria yang baik.
Dekapannya pada Cheryl semakin kuat. Panik pun mulai membuncah. Ia terus bergerak tak nyaman. Orang-orang sekelilingnya tidak ada yang berani ikut campur. Mereka mengira, itu adalah urusan rumah tangga.
"Aku janji tidak akan menyakitimu, atau putrimu. Ikutlah, akan aku jelaskan semuanya. Percaya atau tidak saat ini orang-orang suamimu pasti sedang mencarimu. Dia pasti bisa melacakmu dengan mudah. Aku tahu, kamu membutuhkan waktu untuk menerima semua kenyataan yang baru saja kamu dengar." Zero berusaha meyakinkan.
Perbincangan Jihan dengan Erent tertangkap mata dan telinga Zero. Dan tak lama setelahnya, melihat Jihan keluar dengan ekspresi yang mengkhawatirkan. Zero pun mengikutinya dari belakang. Sampai di sebuah jalan yang tidak memungkinkan tertangkap CCTV, ia baru menghentikan laju bus yang ditumpangi Jihan.
Jihan menyorot kedua matanya dengan tajam. Menelisik kejujuran dari mata pria itu. Napasnya tampak memburu dengan sangat cepat.
"Tolong, izinkan aku memenebus semuanya!" lanjut Zero dengan raut sendu.
__ADS_1
Bersambung~