The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 34. GALI KUBURAN SENDIRI


__ADS_3

"Mau!!" teriak Jihan dari balkon lantai dua. Kakinya sudah melangkah naik pagar pembatas yang seketika membuat Rico panik setengah mati.


"Woy! Woy! Balik nggak?" teriak Rico dengan wajah merah padam, sembari menunjuk-nunjuk Jihan.


"Katanya suruh turun?! Tangkap, Ric!" tantang Jihan sudah memanjat setengah pagar pembatas balkon.


"Balik!" pekik Rico kesal sembari berkacak pinggang.


Jihan tertawa terbahak-bahak. Ia turun dengan hati-hati dan terduduk di lantai karena tertawa terpingkal-pingkal bahkan sampai mengeluarkan air mata. Ia puas sekali melihat ekspresi Rico yang panik seperti itu.


"Begini ya rasanya diperhatikan," gumamnya menyeka air matanya yang keluar dari sudut matanya.


Saat berusaha bangun dengan berpegangan tepi meja, Jihan dikejutkan dengan dobrakan pintu kamarnya. Rico dan beberapa pengawal lainnya terpaksa masuk karena khawatir istri sang boss nekad terjun ke bawah.


Tiga pria bertubuh kekar kini menjulang di hadapan Jihan dengan napas terengah-engah. Mereka berlari dari pelataran rumah meniti anak tangga berkelok agar lekas sampai di kamar bosnya sebelum terlambat.


"He, maaf," ucap Jihan mengangkat dua jarinya.


"Jangan kayak gitu lain kali! Bikin jantung nggak sehat aja!" gerutu Rico duduk di kursi santai, merebahkan tubuhnya di sana.


"Nyonya tidak apa-apa?" tanya salah satu pengawal mengulurkan tangan untuk membantu Jihan berdiri.


"Enggak kok. Rico nih pasti gara-garanya. Bikin panik! Maaf ya, Pak," ucap Jihan sembari berdiri. Niatnya hanya ingin mengerjai Rico, justru yang lain juga ikut kena. Jihan merasa tidak enak.


Setelah memastikan Jihan tidak apa-apa mereka kembali turun dan berjaga di luar. Rico dengan malas beranjak berdiri dan hendak kembali ke bawah. Namun jasnya ditarik oleh Jihan.


"Apa?" ucap Rico masih merasa kesal.


"Anterin jalan-jalan dong. Kemana gitu kek, tempat yang tenang, damai dan nggak ada yang ganggu," pinta Jihan masih menggenggam sedikit ujung jas hitam Rico.


"Mmm ... ada, aku tahu tempat yang kamu cari."

__ADS_1


"Yess! Di mana?" tanya Jihan berbinar.


"Kuburan!" celetuk Rico.


Jihan melebarkan mulut juga matanya, "Aiihh sialan nih anak!" serunya memukul punggung tegap pengawalnya itu meluapkan kekesalannya.


Kini Rico yang tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah kesal wanita itu yang nampak begitu menggemaskan. Jihan menatapnya kesal.


"Ya sana ganti baju. Ayo!"


"Ogah! Kalau ke kuburan mah sendiri aja sono!" cebiknya menatap ke lain arah.


"Yakin nggak mau? Di sini ada danau tersembunyi loh. Nggak banyak yang tahu, masih alami banget. Kalau nggak mau yaudah, aku mau tidur lagi!" ucap Rico memicingkan mata.


Jihan menoleh dengan cepat. Tampak ketertarikan dari wajah imutnya. "Maulah! Tunggu di luar, aku ganti baju."


"Ok, Boss!" sahut Rico dengan hormat lalu melenggang keluar kamar.


Perjalanan yang ditempuh tidak begitu lama. Ternyata benar, ada danau yang begitu cantik di bawah kucuran air terjun yang indah. Tempatnya sangat sepi, tidak banyak yang tahu. Hanya ada beberapa orang saja yang beraktivitas di tempat tersebut.


Jihan duduk di tepian danau. Airnya sangat jernih sampai bisa melihat bebatuan yang ada di dasar danau tersebut.


"Mau mandi? Belum mandi 'kan?" ledek Rico duduk di sebelah Jihan.


"Hmm? Ya kali mandi di tempat terbuka gini."


"Terus mau ngapain? Meditasi?" lanjut pria itu melempar batu ke tengah danau.


"Enggak juga. Takut diterkam buaya," celetuk Jihan tanpa menoleh.


Sejuknya angin yang berdesir pagi itu, menyapu seluruh permukaan kulit Jihan. Rambut panjangnya pun melambai-lambai. Suasana tenang cukup merileks kan hatinya.

__ADS_1


"Di sini aman. Nggak ada buaya!" sahut Rico menyelonjorkan kedua kakinya. Kedua tangan menopang di belakang tubuhnya.


"Lah, ini lepas satu. Hahaha!" seru Jihan tertawa menunjuk pria di sebelahnya.


Rico hanya terdiam, meski melirik wanita itu dengan tajam. Namun ada sedikit senyum yang mengukir kala melihat tawa menyembur dari Jihan. Tawa yang menular.


Setelah hampir menanjak siang, Jihan meminta mampir ke sebuah minimarket. Ia tiba-tiba sangat menginginkan cokelat. Aneka snack dan cokelat batangan pun ia pilih sepuasnya.


Tiba-tiba ada yang sengaja mengenggol bahu Jihan dengan kasar, hingga keranjang belanjanya terjatuh dan isinya berhamburan. Untungnya dia tidak ikut terjatuh.


"Apa-apaan sih?" teriak Jihan melempar tatapan tajam pada dua wanita muda di depannya. Ia berjongkok memunguti belanjaannya.


"Oopss! Sorry, sengaja!" sahut salah satunya dengan ketus.


Jika saja tidak dalam keadaan hamil, sudah pasti dia akan melabrak dua perempuan itu. Mengingat kandungannya masih rentan, tidak diperkenankan terlalu banyak gerakan ekstreme.


SREK!


Kaki perempuan yang berambut blonde menendang beberapa snack yang hendak diraihnya. Benar-benar menguji kesabarannya saat ini. Jihan menoleh dengan deru napas kasar. Berdiri dengan mengepalkan kedua tangannya.


"Apa sih mau kalian, hah?" pekik Jihan mendorong dada perempuan yang menendang snacknya tadi.


"Jauhi Tuan Tiger!" semburnya membalas mendorong Jihan.


Tubuh wanita hamil itu terhuyung karena kehilangan keseimbangan. Untung saja seseorang menangkapnya tepat waktu.


Bersambung~



Hajar aja jii.. masa kalah ama cabe2an. Lu kan induknya cabe. 🔥🔥

__ADS_1


__ADS_2