
Jihan menegakkan duduknya, menoleh pada Rico dan menuntut jawaban. Selama satu bulan lalu, Jihan malas ngapa-ngapain dan malas ke mana-mana. Hanya menghabiskan waktu dengan makan, nonton drama atau film, sesekali membantu masak Bi Sari.
Baru kali ini ada waktu berbincang dengan Rico. Karena tidak mungkin mereka berkomunikasi, sudah pasti Tiger akan langsung mengetahuinya.
"Kenapa?" Rico justru bertanya balik.
"Aku tuh sering denger dia ngomongin waspada, siaga, polisi, pokoknya kayak gitu-gitu deh. Nggak jelas juga!" ucap Jihan mengeluarkan unek-uneknya.
"Emm kalau perusahaan sih baik-baik aja. Usaha resort dan bar juga aman. Kalau selain itu nggak tahu deh," jawab Rico mengedikkan bahu.
"Iissh kau ini kerja nggak sih! Masa nggak tahu!" cibit Jihan menepuk bahu Rico.
Rico mendesah kasar mengabaikan Jihan yang menggerutu, tak menjawab lagi ucapan Jihan. Tak berapa lama, mereka telah sampai di sebuah rumah sakit. Tanpa mengambil nomor antrian, Jihan langsung masuk karena sudah melakukan pendaftaran online dan tepat waktunya.
Seperti sebelumnya, Rico selalu ikut menemani sang nyonya masuk ke ruangan. Turut melihat dan mendengar setiap penjelasan sang dokter.
"Semua sehat, Nyonya. Pertumbuhannya bagus, terus pertahankan banyak makan yang bergizi ya. Jangan sampai stress. Ada keluhan?" tanya Dokter dengan ramah.
__ADS_1
"Enggak ada, Dok. Suami saya yang mual muntah terus. Udah sebulan ini," sahut Jihan.
"Wah, kehamilan simpatik ya. Anda salah satu wanita yang beruntung, Nyonya. Itu artinya suami Anda memiliki rasa empati yang tinggi pada kehamilan Anda," papar dokter menuliskan resep vitamin.
'Empati apanya! Yang ada kebalikan!' gerutunya dalam hati.
"Emmm ... maaf, Dok. Tapi saya ingin melakukan test DNA." Jihan meraih sesuatu dari dalam tasnya lalu menyodorkan pada sang dokter.
Kening dokter mengernyit heran saat melihat beberapa helai rambut yang tersimpan rapi pada plastik berwarna putih.
Dokter perempuan itu melirik ke arah Rico. Lelaki itu mengangkat sebelah alisnya karena tidak nyaman dengan tatapan dokter. Jihan yang mengerti segera menyela.
"Eee ... dia bukan suami saya. Dia asisten saya. Jadi, bagaimana? Apa saya bisa melakukannya? Tolong, Dok. Saya tidak mau ketika anak saya lahir nanti, papanya masih tidak mau mengakuinya," tukas Jihan dengan cepat.
Dokter mengangguk, "Ooh, begitu. Tapi resikonya besar, Nyonya. Sangat rentan mengalami keguguran. Apa Anda siap?" tanya Dokter meyakinkan.
Sejenak Jihan berpikir, meraba perutnya yang sudah semakin terlihat menonjol di bagian bawah. "Aku yakin dia pasti baik-baik saja, lakukanlah, Dok. Sejak kecil aku tidak merasakan kasih sayang seorang ayah. Aku tidak mau anakku nanti juga merasakan hal yang sama," gumamnya tersenyum meski matanya berkaca-kaca.
__ADS_1
"Baiklah, suster tolong persiapkan semua prosedur test DNA," titah sang dokter pada perawat yang membantunya.
"Baik, Dok!" sahut perempuan itu membungkuk lalu dengan cekatan mempersiapkan tempat dan semua alat yang diperlukan.
Setelah beberapa waktu berlalu, Jihan sudah menandatangani berkas-berkas persetujuan test DNA. Kemudian ia diminta berbaring, diambil sampel darah dan juga air ketuban.
Rico hanya diam memperhatikan tanpa berani menyela apa pun yang dilakukan oleh sang nyonya. Tiba-tiba ponselnya berdering, tampak matanya membelalak ketika melihat sang penelepon adalah Tiger.
"Mungkin ini yang dinamakan ikatan batin."
Bersambung~
Terima kasih banyak supportnya, Bestie 😘 like dan komen kalian bikin semangat!! Lope you sekebon 🌶
Di penghujung ramadhan, takutnya besok gak bisa update. Apalagi reviewnya lama banget.
Saya mengucapkan selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir dan batin ya. Maaf jika ada ketikanku yang menyakiti kalian, sengaja ataupun tidak. Selamat liburan buat yang lagi long holiday 🥰 Selamat menikmati waktu bersama keluarga...
__ADS_1