
Deru napas yang berembus terdengar kasar. Tiger menoleh sembari menatap dengan sangat tajam pada dua orang yang saling berangkulan dan berusaha membantu rekannya berdiri di hadapan Tiger. Satu lengannya masih mengarahkan pistol pada Tiger namun pandangannya fokus dengan rekannya.
Manik abu Tiger memindai lengan musuhnya, sebuah tato hitam berbentuk setetes darah dan kepala ular tertangkap netranya di pergelangan tangan pria itu. Bibirnya tersenyum menyeringai dengan pandangan kembali pada wajah dua pria itu.
Tangan Tiger bergerak pelan dan seolah tak terlihat di belakang tubuhnya, meraih pisau lipat kesayangannya. Lalu dengan gesit melempar sangat kuat mengarah pada lengan musuhnya.
"Aarrghhh!" pekik pria itu otomatis melepaskan senjata di genggamannya. Pisau tajam milik Tiger menggores tepat pada urat nadi lelaki itu.
Darah langsung mengalir dengan sangat deras. Ia menekan pergelangan tangannya, bahkan cairan merah itu mengalir melalui sela-sela jarinya.
Musuh satunya hendak meraih pistol dengan tangan lainnya yang belum sempat dipatahkan Tiger, namun Tiger segera menendang pistol tersebut dan terlempar sangat jauh dari jangkauan mereka.
Kemudian Tiger melepaskan tendangan pada dua orang itu sekaligus, lalu melesakkan pukulan demi pukulan pada wajah juga beberapa bagian tubuh lainnya. Bukan masalah besar bagi Tiger.
Apalagi kini tubuhnya dipenuhi emosi yang membuncah. Gerakan tubuhnya terasa sangat ringan namun sangat mematikan. Keduanya tersungkur, tidak diberi kesempatan membalas pukulan Tiger. Karena terus diserang oleh Tiger.
"Klan Black Blood! Mau sampai kapan kalian berusaha menghancurkanku!" geram Tiger dengan tatapan mematikan. Ia menunduk untuk meraih pisaunya. Mengelap ujung mata pisau yang terdapat darah dengan bahu musuhnya yang sudah terkapar di lantai.
__ADS_1
Lengannya langsung mengelak, namun gerakannya kalah cepat dengan Tiger yang menyiku dadanya sangat keras hingga terbatuk karena merasa sesak napas.
Tiger menaikkan dagu pria itu dengan ujung mata pisaunya, lalu menggerakkannya perlahan di pipi dan memberi sedikit goresan namun cukup dalam.
"Di mana boss kalian?" tanya Tiger dengan nada pelan tapi penuh penekanan.
Tak berapa lama, dua anak buah Tiger menyusul dan menodongkan senjata pada dua musuh itu dan mendudukkan dengan kakinya. Mereka segera bergerak setelah mendapat signal bahaya dari Tim-IT, saat melaporkan bahwa ada satu musuh lagi yang mengekori Tiger diam-diam.
Pria di hadapannya panik, hendak membuka jaket hitamnya dan menyobek kaos untuk menghentikan pendarahannya. Rekannya tidak bisa melakukan apa pun karena tangannya sudah patah, tidak bisa digerakkan. Tiger meraih sapu tangan, membersihkan noda merah itu lalu melemparnya.
Moncong senjata laras panjang kini menempel pada kepala belakang dua musuh. Keduanya saling lirik satu sama lain dengan irama detak jantung yang sangat kuat. Tubuh mereka panas dingin dan sedikit gemetar.
"Sepuluh detik dari sekarang! Atau kepala kalian akan meledak!" tegas Tiger pada dua musuhnya itu.
"Kapal sudah berhenti di titik transaksi. Lini pertama segera bergerak!" Suara Grey terdengar di seluruh alat komunikasi yang dipakai oleh anggota Tiger.
Tiger menoleh ke bawah. Ia mengambil senjata laras panjang milik musuhnya tadi dan memindai keadaan di bawah dengan teleskop senjata itu.
__ADS_1
"Lima musuh bergerak pelan dari arah utara. Masing-masing bersembunyi di balik bak mobil box yang sudah terbengkalai!" lapor tim IT yang terus memantaunya.
Tiger yakin Grey dan bawahannya bisa menguasai keadaan. Kini ia kembali berbalik pada dua musuh yang masih bersimpuh. Salah satunya bahkan sudah hampir kehabisan darah.
"Klek!"
Suara dua senjata siap dilesakkan membuat musuh itu semakin gemetar ketakutan. Meski tahu ini sudah resikonya. Tetap saja mereka merasa takut.
"10, 5, 3 ...." Tiger mengikis jarak di antara mereka sambil berhitung mundur.
"Tunggu! Tunggu! Anda tidak menghitungnya dengan benar!" protes salah satu musuhnya itu.
Tiger memicingkan mata dengan senyum menyeringai. "Satu!" tegasnya menunduk hingga sejajar dengan wajah lelaki yang memucat itu.
"Di Jakarta!" teriaknya memejamkan mata, membuat Tiger segera mengangkat tangan agar bawahannya tidak melepaskan tembakan.
"DEG!"
__ADS_1
Bersambung~