
Mobil yang dikendarai Rico berhenti tepat di depan gerbang tinggi, tertutup rapat berwarna hitam legam. Ia tentu saja tahu kediaman Sebastian dari Leon.
"Tekan aja klaksonnya, nanti kebuka sendiri," ucap Jihan yang teringat saat kepulangannya bersama Tiger.
"Masa?" seru Rico merasa gamang.
Jihan mengangguk beberapa kali, dengan senyum meyakinkan. Rico pun menekan klankson beberapa kali tapi tetap tidak ada gerakan apa pun dari pintu gerbang itu. "Mana? Nggak gerak?" gumam Rico menautkan alisnya.
"Nggak tahu! Tiger tiap klakson tiga kali langsung kebuka lebar gerbangnya," cetus Jihan dengan polosnya.
Sontak, Rico mendengkus dan refleks menggerakkan lengannya menekan pelipis Jihan dengan dua jarinya. "Itu artinya mobil si boss doang yang disensor otomatis, dudul!" geramnya kesal. "Sudah sana! Turun!" lanjutnya mengedikkan dagu.
"Iih ngusir. Tapi makasih!" ucap Jihan mengerucutkan bibirnya, segera turun dari mobil lalu membanting pintunya dengan keras.
Jihan menekan bell yang ada di pagar, beberapa saat kemudian pintu gerbang yang besar dan tinggi itu dibuka oleh penjaga. Jihan melenggang masuk hingga pintu kembali tertutup.
Rico baru meninggalkan rumah besar itu setelah Jihan benar-benar menghilang dari pandangannya. Ia beralih ke perusahaan Anderson.
__ADS_1
Sangat mudah menemukan perusahaan tersebut. Letaknya memang berada di pusat kota. Sekilas dari luar gedung tidak ada yang mencurigakan. Dari seberang jalan, dia membuka jendela mobilnya. Meletakkan teropong jarak jauh di kedua matanya membidik tepat pada gedung pencakar langit itu.
Sesekali kedua tangannya mengatur lensa untuk menembus bayangan di setiap ruangan yang keseluruhan dindingnya kaca tebal dan luas. Semua gorden setiap hari selalu dibuka, memudahkan Rico untuk melihatnya.
"Wow, surganya wanita. Ckckck!" gumamnya ketika melihat banyak wanita cantik dan sexy sedang melakukan pemotretan indoor di gedung tersebut.
"Hmm, sampai di sini cukup meyakinkan," ucapnya lagi menggerakkan alatnya dengan perlahan.
Setelah beberapa lama, Rico membelalakkan kedua mata saat bidikannya tepat di rooftop gedung tersebut. Sebuah helikopter mendarat, lalu beberapa pria kekar berbalut pakaian serba hitam dan mengenakan penutup wajah juga topi hitam, mulai melompat turun dan berbaris rapi. Seolah mereka adalah pasukan terlatih.
"Apaan tuh?" gumamnya tak mengalihkan pandangan ke manapun.
"Sayang sekali nggak bisa nguping! Kalau sudah seperti ini, tidak ada jalan lain," ujarnya lalu bergegas meninggalkan gedung tersebut, mengakhiri penguntitannya.
Rico melanjutkan perjalanannya. Ia siap dengan apapun resiko yang akan dihadapi nanti. Hingga mobilnya berhenti di pelataran perusahaan Sebastian Group yang berdiri kokoh di Kota Jakarta.
Berulang kali ia mengembuskan napas berat. Ini pertama kalinya Rico berani menghadap pada Tiger setelah melarikan diri bersama Jihan tempo lalu.
__ADS_1
Senja di ufuk barat mulai membias langit biru. Rico segera turun dari mobilnya. Mengancingkan jas hitamnya lalu berjalan tegap dan percaya diri ke dalam.
Pengabdiannya pada Tiger berawal dari perekrutan keamanan di perusahaan tersebut. Karenanya dia sedikit banyak tahu tata letak perusahaan itu. Meskipun tak lama kemudian dialihkan tugas ke Palembang.
"Tuan, Tunggu!" Suara wanita sexy menghentikan langkah kaki Rico di lorong menuju ruangan Tiger.
Pria itu memutar tubuhnya dan menatap wanita yang berdiri dari tempat duduknya. "Apa?" ucapnya mengedikkan kepala.
"Anda mau ke mana?"
"Ketemu, Boss!" sahut Rico santai.
"Beliau sedang tidak bisa diganggu," ucap wanita itu lagi.
"Aku tunggu!" sahut Rico melajukan langkahnya lalu duduk di sofa depan ruangan Tiger.
Sekretaris itu mengangguk, lalu kembali mendaratkan bokong di kursinya. Ia sedang berkemas hendak pulang karena jam kerja sudah habis. Dan Tiger sempat berpesan agar tidak ada yang mengganggunya sejak siang tadi.
__ADS_1
Rico menyatukan telapak tangannya, sesekali menggeseknya karena hawa dingin mulai menyeruak pada permukaan kulitnya. Debaran jantungnya juga mulai berdentum kuat, membayangkan apa yang akan terjadi nanti.
Bersambung~