The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 22. JANGAN TERLALU BERHARAP


__ADS_3

Rico menghentikan langkah, ia sedikit panik. Terlihat dari gerakan bola matanya yang ke sembarang arah. Namun tetap berusaha untuk menenangkan diri.


"Maksudnya?" tanya Rico menatap Jihan.


Jihan menunjuk dada Rico dengan telunjuknya, "Kamu sebenarnya kerja cuma karena gabut ya? Atau kabur dari keluargamu? Nggak mungkin sekedar pengawal punya kartu kredit. Belanjain majikan pula!" ketus Jihan menatap pria itu dengan tatapan penuh intimidasi.


Rico menyemburkan tawanya. "Ya, anggap saja begitu. Dari pada nggak kepake duitnya," jawabnya dengan enteng masih terkekeh. Dalam hati ia memuji kepolosan wanita itu.


Jihan melebarkan kedua manik indahnya. Ia menepuk lengan Rico dengan keras sehingga membuat lelaki muda itu terjingkat. "Yaampun, jadi gue punya pengawal tajir melintir nih? Sering-sering ya belanjain gini! Haha!" seru Jihan antusias diiringi tawa.


Embusan napas Rico terdengar penuh kelegaan. Ia pun turut bahagia melihat Jihan yang sudah bisa tertawa lepas seperti itu. Tidak seperti kemarin-kemarin yang terlihat penuh tekanan.


Jihan masih memimpin jalan, seperti biasa Rico selalu berjalan di belakangnya. Dan kini perempuan itu berbinar ketika sampai di foodcourt. Berjajar aneka makanan yang menggugah selera dan nafsu makannya. Apalagi aroma yang menyeruak semakin membuatnya keroncongan.


Jihan berjalan dari satu stand ke stand yang lain untuk memenuhi keinginannya. Seperti sebelumnya ia sangat menghindari seafood. Di belakangnya ada Rico yang selalu sigap membawakan apa pun yang dipesan Jihan dan meletakkannya di meja.

__ADS_1


"Sudah dulu! Lihat mejanya sampai penuh. Jangan buang-buang makanan," ujar Rico menarik ujung sweater Jihan.


"Lepas! Lepas!" sanggah perempuan itu menepuk-nepuk tangannya. Ia melongokkan kepala mengintip mejanya. Dan benar saja, sudah dipenuhi berbagai macam makanan dan camilan.


"Terakhir ya," rengeknya dengan berkedip manja.


"Emang bisa habis? Udah cukup!" seru Rico.


Jihan yang sempat memunggunginya kini berbalik lagi, "Kan ada kamu. Makanan yang kamu bilang sampah aja bisa ludes semua. Apalagi makanan mewah, itu tempat sampah otomatis melar 'kan?" cibir Jihan menunjuk perut Rico.


"Rico!" seru Jihan yang mau tidak mau harus mengikuti langkahnya dengan berjalan mundur.


Pria itu mengabaikan pekikan Jihan walau menjadi pusat perhatian beberapa pengunjung lainnya. Rico menarik kursi dan mendudukkan Jihan dengan geram.


"Awas aja aku aduin ke Tiger! Ini penganiayaan! Biar dipotong gajimu!" decih Jihan meraih ponsel pemberian Tiger.

__ADS_1


Matanya melirik ke arah Rico yang biasa saja. Tampak santai menyesap minuman dingin yang dinding gelasnya mulai berembun.


"Apa?" Rico mengedikkan kepalanya ketika matanya bertabrakan dengan manik Jihan.


"Aku aduin nih!" ancamnya lagi menggerakkan jemarinya pada benda pipih itu.


"Silakan. Nggak masalah potong gaji. Asal nggak potong leher. Krek!" balas Rico menggerakkan ibu jarinya di leher. "Nanti nggak bisa jagain kamu lagi!" gumamnya santai mulai menyuapkan makanan.


Jihan mengerutkan bibirnya, karena lelaki itu tidak bisa diancam. Lagi pula ia sendiri enggan menghubungi Tiger. Tapi Jihan merasa aneh. Karena Tiger sama sekali tidak menghubunginya. Padahal kemarin waktu tidak membawa ponsel, puluhan panggilan tak terjawab hanya dari suaminya itu.


'Mungkin sibuk. Eh, kenapa berharap ditelepon sama dia? Stop Jihan, jangan pernah berharap lagi,' gumam Jihan dalam hati yang masih melekat kuat betapa sakit hatinya mengingat kisah cintanya dulu.


Bersambung~


πŸ€— terima kasih banyak supportnya, Bestie 😘 like dan komen kalian bikin semangat!! πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯Lope you sekebon cabe milik tetangga πŸŒΆπŸŒΆπŸ’•πŸ’–

__ADS_1


__ADS_2