The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 93. MAUNYA MASAKAN KAMU!


__ADS_3

Tiger meremas rambutnya, karena Jihan tak kunjung berbicara. Padahal ini sudah hampir pagi. Dadanya sesak mendengar isak tangis dari wanita itu.


"Jihan, tenangin diri kamu. Kasihan baby kita pasti ikut sedih. Coba ngomong pelan-pelan, ada yang sakit?" ucap Tiger meredam paniknya, menurunkan nada suaranya. Ingin rasanya segera memeluk wanitanya itu, memberi kenyamanan dan juga rasa aman seperti biasanya.


Jauh di seberang pulau yang berbeda, Jihan meringkuk di ranjang. Petir yang menyambar-nyambar, derasnya hujan yang mengguyur membuatnya ketakutan. Apalagi ditambah dengan kerinduan pada suami yang selalu mendekapnya setiap malam.


"Kapan pulang?" lirih Jihan di tengah isak tangisnya.


"Iya, aku segera pulang." Tiger bergegas keluar dari ruangannya. Ia menepuk salah satu bahu anak buahnya yang masih memegang kendali layar monitor.


Pria yang masih duduk dengan headphone di kedua telinganya menoleh, sedikit membuka headphone tersebut untuk menerima instruksi dari bossnya.


"Hubungi Dylan suruh cepat kembali untuk mengantarku ke bandara!" tegasnya masih dengan telepon yang tersambung dengan Jihan.


"Tuan akan kembali ke Jakarta?" tanyanya memastikan.


"Ya, cepatlah!" serunya menepuk sekali lagi.


Sebelum melakukan tugasnya, terlebih dahulu memeriksa cuaca yang akan dilintasi oleh pesawat Tiger. Pasalnya, di Palembang tengah diliputi awan gelap yang tebal meski belum sampai hujan. Jemarinya dengan cekatan bergerak di atas keyboard, matanya juga enggan untuk berkedip.

__ADS_1


"Tuan! Cuaca di Pulau Jawa sedang buruk. Hujan badai disertai petir sedang mengguyur kota Jakarta. Tidak mungkin melakukan perjalanan dengan pesawat," lapor pria muda itu.


"Sial! Mobilku masih di Jakarta!" desis Tiger menggertakkan giginya.


Mobil khusus yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa, sehingga bisa berjalan sekitar 60 mil per jam hanya dalam waktu lima detik. Selain itu, mobil itu dilapisi dengan anti peluru. Tiger akan merasa lebih aman dan lekas sampai dengan supercar nya itu.


"Minta Dylan agar untuk segera menemuiku jika sudah sampai!" tegas Tiger yang dijawab anggukan oleh anak buahnya itu.


Tiger mendesah kasar. Ia kembali ke ruangannya melalui sebuah lift. Masih dengan ponsel di genggamannya. Denyut nyeri di kepalanya mulai terasa, hatinya terasa diremas saat membayangkan Jihan yang ketakutan di kamar.


"Jihan, tenang ya. Cuaca sedang buruk. Aku akan langsung terbang jika kondisi sudah memungkinkan, ini sudah hampir pagi, tidurlah," ucap Tiger melebarkan langkah menuju balkon ruangannya.


"Kenapa dari tadi nggak bisa dihubungi? Aku khawatir tahu nggak? Aku takut terjadi sesuatu sama kamu! Apalagi cuaca seperti ini. Dari tadi aku terus meneleponmu tapi sama sekali tidak ada jawaban. Kamu tahu nggak gimana perasaanku sejak tadi, hah? Pikiranku kemana-mana! Dan sekarang seenaknya saja kamu menyuruhku untuk tidur!" cecar Jihan berteriak mengungkapkan kekesalannya.


Tiger tersentak, bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Tangannya mencengkeram tralis besi dengan kuat, mengungkapkan kebahagiaannya ketika ada seseorang yang begitu mengkhawatirkannya.


"Tiger!" pekik Jihan lagi ketika tak mendengar apa pun dari pria itu.


"Iya, iya. Maaf, Sayang. Aku langsung memegang pekerjaan dan meninggalkan ponselku di ruangan," jawab Tiger dengan nada suara rendah.

__ADS_1


"Kasih kabar dulu kalau udah sampai 'kan bisa? Biar aku tidak berpikiran buruk!" seru Jihan.


"Aku salah, maaf ya. Lain kali tidak akan aku ulangi. Baby baik-baik saja?"


"Lapar," gumam Jihan di balik telepon.


Seperti dugaannya, wanitanya itu akan kelaparan di tengah malam. Tiger mengembuskan napas berat. Saat seperti ini tentu saja menginginkannya untuk segera sampai di Jakarta.


"Pesan online dulu ya. Minta Rico yang ambil!" ujar Tiger.


"Nggak mau! Maunya masakan kamu!" elak Jihan yang memang sama sekali tidak selera dengan makanan di luaran sana. Bahkan masakan pelayan di rumah pun, ia tidak tertarik.


"Sementara, Sayang. Demi Baby. Aku akan segera memasakkanmu kalau sudah sampai di sana." Tiger sudah kehabisan kata-kata.


"Yaudah, hati-hati kalau pulang," ucap wanita itu menyeka air matanya. Setitik kelegaan mulai menjalar di tubuhnya.


"Iya, sekarang tidurlah!" titah Tiger lalu mematikan sambungan teleponnya.


Tiger mengalihkan panggilan pada Rico untuk menanyakan kabar mengenai lelaki yang pernah menolong Jihan dan tampak mencurigakan.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2