
Zero menyeringai tipis, ia memberi tepuk tangan yang keras atas kejujuran dan keberanian dari wanita yang kini masih menatapnya tanpa gentar.
Kejadian demi kejadian yang pernah dia alami, membuat mental Jihan terlatih. Sekeras apa pun perilaku orang terhadapnya, tidak terlalu mengejutkan baginya.
"Wow! Saya sangat mengapresiasi keberanian dan kejujuranmu, Jihan atau Vallen? Jadi kamu kabur dari suami kamu?" ujar Zero menurunkan pandangannya, walau kini ia sudah berdiri tegak.
"Terserah Anda, Tuan. Mmm ... bisa dibilang begitu," sahut perempuan itu masih berada di posisi sebelumnya.
Zero menarik kesimpulan, bahwa yang dimaksud iblis jelmaan manusia kemungkinan adalah suami wanita itu. Pria itu pun berjalan di ruangan mondar-mandir sembari berkacak pinggang.
"Apa pengalaman kerja kamu?" tanya Zero lagi.
"Maaf, saya sama sekali tidak ada pengalaman kerja," sahut Jihan.
"Haissh lalu bagaimana kamu bisa membayar ganti rugi? Mmm ... begini saja, aku akan menunggu sampai kamu melahirkan. Setelah itu, barulah kamu melakukan tugas utamamu. Jangan coba-coba kabur, karena kamu akan kucincang hidup-hidup jika berani melakukannya!" tegas Zero, ia lalu beralih pada Bima.
"Bima, berikan dua asisten rumah tangga di apartemen, lalu dua orang penjaga dan buatkan dia identitas!" perintah Zero bertubi-tubi pada sang asisten.
Bima tersentak, penasaran kenapa bossnya justru memberi fasilitas bahkan diminta membuatkan identitas. 'Apa rencana yang ada di otaknya kali ini?' gumam Bima hanya menatap Zero.
Jihan sendiri menatap tak percaya. Orang yang tadinya menyeramkan tiba-tiba berubah dalam sekejap. Namun ia mendesah lega. Setidaknya, Jihan aman untuk saat ini. Keberuntungan sedang ada di pihaknya.
"Baik, Tuan. Terima kasih banyak," ucap Jihan mengangguk dengan ekspresi datar.
__ADS_1
Berbeda sekali dengan para wanita di luaran sana yang selalu menatapnya penuh damba, karena bentuk tubuh yang bagus, juga paras yang sangat tampan. Seringkali ia sangat mudah mendapat perempuan hanya dengan menjentikkan jari.
Zero mengibaskan tangannya, Jihan yang mengerti segera membungkuk lalu melenggang keluar.
Sedangkan Bima masih bertahan di posisinya, Zero kembali ke kursi kebesarannya. Membuka berkas paling teratas dan pandangannya fokus pada berkas tersebut. "Antar dia kembali Bim!" perintahnya.
"Baik, Tuan!" jawabnya patuh.
"Oh iya, satu lagi!" ucapannya menghentikan langkah Bima. Asistennya itu segera berbalik mendengarkan dengan seksama. "Cari tahu identitas perempuan itu yang sebenarnya!"
"Baik!" sahut Bima lalu pamit undur diri.
Jihan sudah berjalan pelan keluar gedung tersebut. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Terkejut ketika tiba-tiba ada yang menyambar lengannya.
Jihan menoleh, melihat lengannya yang digenggam oleh Bima. Segera pria itu melepasnya. "Maaf!"
"Bima, aku yang harusnya minta maaf. Gara-gara aku, kamu jadi kena tendang," ucapnya menatap sendu.
"Ah tidak masalah. Aku sudah terbiasa! Beliau memang seperti itu. Tapi aku heran, dia melepaskanmu. Biasanya tidak kenal pria atau wanita. Beruntung kamu, Vall! Ayo aku antar," tutur Bima mengedikkan kepala ke arah parkiran.
"Mungkin karena aku lagi hamil. Kamu denger sendiri, dikasih tugas utama setelah melahirkan," jawab Jihan.
Bima mengangguk, "Bener juga. Oh ya, jadi kamu beneran kabur dari suamimu? Kenapa?" tanya pria itu membuat langkah Jihan terhenti.
__ADS_1
Jihan menatap tak suka jika ditanyakan urusan pribadinya. Bima ikut menghentikan langkah dan menatap wanita itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sedangkan Tiger diikuti beberapa anak buahnya melajukan mobil masing-masing dengan kecepatan di atas rata-rata. Mereka terus mengejar pergerakan titik merah yang ada dalam petunjuk jalan pada layar ponselnya.
Seperti raja jalanan, mereka menguasai setiap jalur yang dilalui. Hingga suara sirine polisi kini tengah mengejarnya, karena dianggal ugal-ugalan dan membayahakan pengendara lain.
Tiger melirik melalui kaca spion. Senyum smirk terbit di bibir tipisnya. Ia justru semakin menambah laju kecepatan, kejar mengejar pun tak terelakkan di sebuah perkotaan yang sudah cukup jauh dari Kota Palembang.
Polisi berkali-kali memperingati melalui microphone dari mobilnya. Terdengar nyaring dan jelas, meminta agar Tiger dan tim segera berhenti. Namun, tidak ada kata menyerah dalam kamus Tiger.
"Kejar aja kalau bisa!" ketus Tiger yang justru menaikkan laju kecepatan mobilnya, bahkan menerobos lampu merah di perempatan besar. Tentu saja setelah mengamati situasi dan kondisi yang aman.
"Segitu doang?" cibirnya yang menatap jaraknya semakin jauh.
Namun tiba-tiba, dari depan dia dihadang tiga mobil polisi yang berjajar hingga memenuhi jalan.
"Sial! Beraninya keroyokan!" semburnya memainkan pedal gas dan rem pada jarak yang semakin dekat.
Tanpa disangka dan tanpa diduga para polisi itu, mobil Tiger justru melayang melampaui ketiga mobil polisi itu. Dan saat kembali mendarat dengan sempurna di jalan raya, Tiger kembali menaikkan kecepatannya.
"Jangan ganggu macan yang sedang tidur, menjauhlah sebelum mengaum!" gumamnya dengan raut wajah bengisnya, fokus pada lika liku jalan yang ia lalui.
__ADS_1
Bersambung~