
Sesampainya di rumah, Jihan segera membersihkan tubuhnya. Ketika hendak kembali keluar dengan gaun santainya, tubuhnya terhuyung. Kepalanya semakin terasa berat, ia pun berjalan dengan meraba tepian ranjang dan merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk itu.
Sepasang kaki jenjangnya masih menggantung ke lantai. Tubuhnya benar-benar ambruk, pandangannya memudar. Helaan napas berat dan pendek-pendek ia hembuskan. Jihan memejamkan mata sembari menekan kepalanya.
Di luar rumah, Rico berdiri tegap dengan terus menatap pergelangan tangannya seolah menghitung waktu. Sudah hampir satu jam, dia menunggu kedatangan sang nyonya yang masih tidak menampakkan batang hidungnya.
"Kenapa lama sekali," gumam pria itu menatap ke arah pintu.
Rico segera menahan seorang ART yang sedang membuang sampah, "Bibi, tolong periksa kondisi Jihan. Sudah satu jam tidak keluar kamar," ucap Rico.
"Baik, Den!" sahut wanita paruh baya sembari mengangguk.
Mereka berdua bergegas masuk menuju kamar Jihan. Rico berdiri di depan kamar, menunggu ART masuk untuk memeriksa wanita itu. Dan tak berapa lama kembali lagi keluar dengan raut wajah panik.
"Den! Anu ... Non Jihan sepertinya pingsan!" lapornya.
__ADS_1
"Apa? Sudah berganti pakaian?" tanya Rico membelalakkan mata.
"Sudah, Den!" sahut Bibi itu, Rico segera menerobos masuk dan ternyata benar, Jihan sudah tidak sadarkan diri.
Rico segera membenarkan posisi Jihan agar tidur dengan nyaman. Ia mencoba menghubungi Tiger, namun sudah beberapa kali panggilan masuk ternyata tidak ada jawaban sama sekali.
"Bi, tolong telepon dokter keluarga ini!" perintah Rico sedikit melirik ke arah pelayan itu, lalu kembali fokus pada ponselnya. Panik dan khawatir kini mendera lelaki tampan itu.
Buru-buru pelayan undur diri dan melakukan panggilan pada dokter pribadi keluarga isvara. Rico masih tidak menyerah menghubungi Tiger, meski hasilnya sama. Tidak ada jawaban.
"Beliau hanya kelelahan, kondisi psikisnya juga sedang tidak stabil. Apalagi beliau sedang hamil, emosinya mudah naik turun. Saya akan berikan vitamin dan suplemen yang aman dikonsumsi ibu hamil. Biarkan beristirahat selama beberapa jam ke depan. Setelah itu saran saya, beri penghiburan agar tidak tertekan dan stress!" papar dokter setelah melakukan serangkaian pemeriksaan.
"Baik, terima kasih!" ucap Rico singkat.
Dokter pamit undur diri diantar salah satu pelayan. Rico menghela napas berat, meminta pelayan lain untuk menjaga Jihan. Sedangkan ia menunggu di depan kamar sembari menyulut sebuah rokok, menenangkan hati dan pikirannya.
__ADS_1
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
Di sebuah ruangan besar tempat bernaung Tiger beserta anak buahnya, kini menatap serius layar laptop masing-masing. Semua laptop diproyeksikan menjadi satu dalam sebuah layar yang sangat besar di depan. Tiger yang meneliti keseluruhan layar tersebut.
Jari jemari para pria tangguh itu bergerak lincah di atas keyboard, memecah suasana di ruangan tersebut. Masing-masing memiliki tugas untuk menyelidiki setiap titik lokasi dari segala penjuru. Meski sedikit kesulitan karena beberapa jaringan terputus, namun tidak ada kata menyerah dalam kamus Tiger.
Ia harus segera mendapatkan bukti untuk membela diri di depan Jihan, sekaligus agar bisa lebih berhati-hati setelah ini. Pandangan pria itu tampak kosong, padahal terlihat sangat serius memperhatikan layar di depannya. Satu tangannya memainkan bolpoin.
'Mungkin memang sebaiknya jaga jarak dengan Jihan dulu sementara waktu. Takutnya, dia juga akan menjadi sasaran,' gumam Tiger dalam hati sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
Bersambung~
Terima kasih banyak supportnya, Bestie 😘 like dan komen kalian bikin semangat!! Lope you sekebon 🌶
__ADS_1