
"Aku sendiri juga nggak tahu. Tadi hanya bilang suruh nganter kamu ke sana!" Rico menjawab sembari melajukan mobil perlahan.
Perasaan kalut dan tidak tenang kini semakin menghimpit dada Jihan. Ia menepuk-nepuk pahanya sesekali menyugar rambut ke belakang untuk mengurai kepanikannya.
"Buruan, Ric. Perasaanku makin nggak enak nih!" ucap Jihan bergerak tak nyaman dan gelisah.
Rico menginjak pedal gas hingga kecepatan mencapai di atas rata-rata. Ia sendiri ikut panik ketika melihat Jihan seperti itu. Hingga beberapa saat kemudian, mobil yang mereka tumpangi berhenti tak jauh dari kantor polisi.
Sepasang manik hitam Jihan membelalak dengan sempurna. Tubuhnya mendadak beku dengan jantung yang hampir melompat dari sarangnya.
Tampak api menyambar-nyambar ke angkasa, sesekali terdengar ledakan-ledakan kecil yang membuat sekujur tubuh Jihan meremang. Tenggorokannya seperti tercekik, dengan air mata mulai menyeruak. Pikirannya kalut memikirkan kondisi ibunya.
"A ... apa yang terjadi?" gumam Jihan dengan dengan suara bergetar.
Susah payah menelan salivanya. Puluhan mobil pemadam sudah diterjunkan untuk meluluhkan kobaran api. Jihan segera turun dari mobil, kedua kakinya seolah tertancap kuat di tanah hingga teramat sulit digerakkan.
__ADS_1
"Ibu!" gumamnya berdebar kuat. Dadanya terasa seperti terhimpit beban yang sangat besar. Hingga mengambil napas pun terasa sangat sesak.
Rico dengan sigap hendak menopang tubuh Jihan yang terhuyung ke belakang. Namun, kalah cepat dengan gerakan Tiger yang sudah memeluk pinggangnya dengan erat.
Tubuh Jihan terjatuh pada dada bidang suaminya. Rico mundur sembari membungkuk setelah menyadari kedatangan sang boss yang menatapnya tajam.
"Ibu? Di mana ibuku? Kak Yenny?" gumam Jihan yang seluruh tubuhnya sudah melemas menanyakan nasib ibunya dan juga kakaknya yang berada di penjara.
Tidak mampu mengeluarkan suara lagi, wanita hamil itu merasa kepalanya berputar-putar, pandangannya meremang lalu ambruk tak sadarkan diri. Tiger memeluknya dengan erat, kemudian membawanya dalam gendongan dengan sekali gerakan.
"Ibunya turut menjadi korban tidak selamat. Jasadnya sedang dalam perjalanan ke kediaman Isvara. Aku sudah menghubungi ayahnya. Kita susul ke sana!" titah Tiger ketika Rico sudah bersiap di balik kemudi.
"Baik, Tuan!" sahutnya singkat lalu menyalakan mesin mobil dan segera melaju.
Sesampainya di kediaman Isvara, proses pemakaman Maharani segera dilakukan sesuai prosedur. Selama tiga jam Jihan baru tersadar dari pingsannya.
__ADS_1
Tiger masih setia menemani duduk di tepi ranjang, menggenggam erat jemarinya. Jihan terdiam sesaat, mengedarkan pandangan pada kamar yang ditempatinya.
"Ibu!" seru Jihan beranjak dengan cepat saat menyadari sesuatu yang buruk baru saja terjadi. "Di mana ibuku? Dia baik-baik saja 'kan? Antarkan aku padanya!" seru Jihan menyibak selimut dan hendak berlari.
Tiger menautkan jari-jari besarnya di sela jemari lentik Jihan dan menggenggamnya dengan erat. "Kamu harus kuat, Jihan," ucap Tiger pelan berusaha agar tidak membuat istrinya syok.
Tatapan dalam kini terpancar dari manik indah Tiger. "Ibu ... tidak dapat diselamatkan. Ibu meninggal dalam musibah itu," jelasnya peelahan.
Seperti tertusuk tombak api tepat di jantungnya. Jihan merasa kesakitan luar biasa di dadanya. Ternyata pertemuan beberapa waktu silam adalah pertemuan terakhir mereka. Tidak menyangka ibunya akan meninggal dengan cara yang tragis.
Tiba-tiba untaian kalimat Tiger kembali terngiang di telinganya. Kalimat yang selalu membuatnya penasaran, waspada, eksekusi, polisi, sontak saja membuatnya curiga. Apalagi saat dihubungkan dengan ancaman Tiger melenyapkan ibunya ketika awal pernikahan mereka.
Tatapan Jihan berubah nyalang, hingga membuat Tiger mengernyitkan alisnya. Dengan kasar Jihan menepis tangan Tiger. Air matanya menyeruak dan mengalir dengan sangat deras membasahi pipinya.
"Kau? Apa yang kau lakukan pada ibuku, hah? Kau telah membunuhnya! Aku sudah menuruti semua keinginanmu. Tapi kenapa kamu masih menyakiti ibuku. Kamu jahat, Tiger! Tidak punya perasaan! Aaarrrghhh!" jerit Jihan menangis meraung sambil memukuli dada Tiger.
__ADS_1
Bersambung~