The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 88. TERPUKAU DENGAN LELEHAN PATUNG ES


__ADS_3

Dua insan terlelap dalam remang cahaya yang berpendar di kamar besar bernuansa serba hitam dan putih. Lelah usai pertempuran panas yang membuat keadaan antah berantah.


Jihan melenguh ketika tenggorokannya terasa gatal dan kering. Matanya mengerjap perlahan, tubuhnya dipeluk dengan posesif oleh suaminya. Perlahan, ia menyingkirkan lengan kekar sang suami yang membelit tubuhnya, lalu mencari-cari pakaian yang berserakan di ranjang.


Dipakaianya asal, duduk di atas ranjang sembari menguap. Diteguknya satu gelas air putih yang selalu disediakan di atas nakas. Tiger meraba-raba sampingnya saat kehilangan guling yang sepanjang malam selalu ia peluk.


Pria itu membuka mata dengan cepat, karena takut Jihan tiba-tiba menghilang. Ia mendesah lega saat netranya menangkap sang istri tengah duduk di tepi ranjang.


"Kenapa?" tanya Tiger memeluk Jihan dari belakang, menumpukan dagu di bahunya.


Jihan menoleh, "Laper," gumamnya pelan.


Tiger tersadar bahwa wanitanya itu pasti kehilangan banyak tenaga karena ulahnya. Ia segera mengenakan pakaiannya lalu turun dari ranjang.


"Mau ke mana?" tanya Jihan mengamati suaminya.


Tiger memutar langkahnya agar berhadapan dengan Jihan. Ia membungkuk hingga sejajar dengan wajah wanita itu, "Memberimu makan," cetus pria itu mengacak rambut Jihan.


"Eh!" kejut Jihan menautkan alisnya. Kepalanya menoleh, mengamati gerak langkah Tiger hingga keluar dari kamarnya.


Beberapa waktu setelah menghabiskan waktu dengan berpikir, Jihan beranjak berdiri lalu melenggang pergi menghampiri suaminya. Jihan sudah menghirup aroma tumisan bawang. Pria gagah dan kekar kini tampak lihai menggerakkan lengannya di depan kompor.


Lagi dan lagi, Jihan terpukau dengan pria itu. Seperti patung es yang sudah mencair. Di satu sisi memang dingin, kejam dan terkadang tak berperasaan. Namun ketika melihat sisi lain itu, hatinya terenyuh. Hal yang tidak pernah ia duga.


"Masak apa?" tanya Jihan melingkarkan lengannya di perut sixpac Tiger.

__ADS_1


Tiger menghentikan gerakannya sejenak karena terkejut. "Udang balado! Doyan 'kan?" Ia bertanya balik saat kembali pada kesadarannya.


"Kok kamu pinter masak sih," puji Jihan beralih ke sebelah Tiger dan memeluknya dari samping.


"Aku sudah terbiasa sejak kecil. Apalagi saat tinggal di luar negeri. Semua serba mandiri, ya walaupun aku bisa mendapat apa yang ku mau dengan menjentikkan jari," ujar Tiger dengan sombongnya.


"Sejak ibu meninggal, aku selalu suka mencoba hal-hal baru. Ayah tidak pernah melarangku. Selalu membiarkan apa pun yang kulakukan. Beda kalau sama Leon yang diharuskan selalu perfect dalam pendidikan," paparnya sembari menuangkan makanan ke dalam mangkuk.


Asap yang mengepul menabrak dua lubang hidung Jihan, hingga membuatnya menelan saliva berkali-kali. Perutnya semakin memberontak ingin segera diisi.


Ia pun tak sabar, tangannya meraih satu ekor udang yang sudah berbalut saus bolognese, bertabur bawang bombay ala Tiger, lalu memasukkannya ke dalam mulut kecilnya.


"Ssshhh! Mmmm! Lumer banget!" gumam Jihan memejamkan mata, menikmati setiap kunyahannya. Sampai menyesap sisa saus di jarinya.


"Duduk! Ambil nasi!" titah Tiger mengangkat piring berisi udang dan menerbangkannya di atas kepala Jihan saat hampir mengambilnya lagi.


Tiger mengedikkan bahu dan tersenyum tipis. Menyiapkan nasi dan teh lemon hangat sebagai minumannya. Jihan hanya mengamatinya dengan sorot kekaguman.


Pria itu lalu mendorong punggung Jihan dan mendudukkannya. Segera menyuapkan makanan ke mulut Jihan. Namun perempuan itu bergeming dalam keterkejutannya.


"Ayo makan!" ucapnya masih mengulurkan makanan tepat ke bibir Jihan.


Jihan membuka mulutnya, mengunyah dengan lembut bahkan sampai menitikkan air mata.


"Makasih, Tiger," gumam Jihan menyeka bulir bening yang jatuh di pipinya. 'Aku harap selamanya seperti ini. Dan tidak akan ada yang berubah. Meskipun dia hanya bersikap manis saat berdua saja. Kalau di luar, jangan ditanya!' lanjutnya penuh harap. Namun hanya terucap dalam hati.

__ADS_1


Tiger tidak tahu harus mengatakan apa. Intinya dia hanya ingin membahagiakan wanitanya dengan caranya sendiri. Entah kenapa mulutnya seolah terkunci dan tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.


Malam-malam berikutnya pun sama. Ia selalu membuatkan makan tengah malam untuk istrinya. Jihan sering terbangun karena lapar di jam-jam pocong.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tiba waktunya Tiger harus pergi meninggalkan istrinya. Hari ini dia terpaksa naik pesawat pribadi milik Keluarga Sebastian, karena keadaan. Jihan mengantar keberangkatan suaminya hingga landasan pesawat yang akan membawa suaminya terbang.


Air matanya berjatuhan sedari tadi, padahal Jihan berusaha menahannya. Tetap saja tidak bisa. Semakin mencoba diam, dia justru semakin menangis.


"Hei, aku tidak pergi selamanya. Aku hanya dua hari dan akan segera kembali," ucap Tiger merapikan rambut di kedua sisi wajah Jihan.


"Gimana kalau nanti anak kita rindu papanya," ucap Jihan menuduhkan bayi dalam kandungannya.


Tiger tertawa, lalu memeluk erat wanita itu. "Bilang saja, papa sedang bertugas dan akan segera kembali. Kalau mamanya yang kangen, suruh sabar sebentar saja," ucapnya.


Ia berjongkok, lalu memeluk kedua sisi pinggang Jihan. Hingga perut yang menonjol itu menabrak wajah tampannya. "Baby, please jangan nyusahin mama ya selama papa nggak ada. Jangan laper tengah malem, mama nggak bisa masak," ucapnya terkekeh mendapat tepukan di bahunya.


"Aku berangkat!" pamit Tiger beranjak berdiri mencium kening Jihan cukup lama, lalu turun ke bibir. Hanya kecupan, bukan pagutan lembut dan panas seperti biasanya.


"Hati-hati dan cepat kembali!" balas Jihan menyeka kedua air matanya.


Pria itu mengangguk, melepas genggaman tangan Jihan lalu berjalan tenang menaiki tangga pesawat. Jihan terus melambaikan tangannya sampai Tiger menghilang di balik pintu yang tertutup dan kendaraan itu mulai lepas landas.


Jihan mengembuskan napas berat, memutuskan segera kembali bersama Rico dan beberapa bawahannya.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2