
Terdiam selama beberapa saat, hingga membuat Cheryl terhimpit tak nyaman. Bayi itu terusik tidur cantiknya, lalu menangis menjerit hingga memudarkan lamunan dua orang berbeda gender itu.
Jihan segera mendorong dada pria itu, mengusap lembut punggung putrinya agar kembali tertidur. Sedangkan pria itu memancarkan tatapan nanar, napasnya berembus tak beraturan karena ketidak percayaannya. Satu tangannya berkacak pinggang. Bibirnya bergetar namun menyunggingkan senyum.
"Jihan! Kamu ke mana aja, astaga! Aku sampai gila mencarimu!" ucapnya dengan suara bergelombang. Menarik satu lengan perempuan itu dan memeluknya.
"Rico lepasin, Cheryl kejepit!" sergah Jihan menahan kepala dan punggung anaknya.
"Ah! Maaf! Maaf! Aku bahagia banget. Akhirnya nemuin kamu, bahkan di momen yang tidak disengaja ini!" seru Rico menyeka sudut matanya yang basah.
Siapa yang tidak terharu, masih diperhatikan seperti itu? Bahkan setelah dia menghilang tanpa berpamitan. Tak terbayangkan bagaimana pengawal setianya itu kelimpungan mencarinya.
"Kalian baik-baik saja? Kemana aja kamu selama ini? Hai, Baby Macan. Kamu udah makin besar. Makin comel sekali, Sayang!" celetuk Rico mencubit pipi Chery dengan gemas.
Sapaan Rico tentu saja membuat sorot mata Jihan menajam. "Rico!" serunya kesal.
Sedangkan Cheryl terbangun, bayi yang mengenakan pakaian serba pink itu menunjuk Rico dengan ekspresi bingung.
"Makin nggak ada mirip-miripnya sama kamu, Ji. Bener-bener cuma numpang di rahim kamu aja." Rico masih terus berbicara, namun fokusnya beralih pada bayi cantik dan lucu itu.
Jihan hanya menghela napas panjang. Enggan menanggapi cetusan Rico yang menyebalkan. Tiba-tiba dadanya berdegub kencang, ketika hendak menanyakan kabar suaminya.
__ADS_1
"Rico!" panggil Jihan pelan setelah menelan salivanya yang terasa berat.
Pria itu kembali menegakkan tubuhnya, hingga matanya saling bersitatap. Rico diam mendengarkan kelanjutan ucapan Jihan.
"Mmm ...." Jihan menarik napas panjang dengan mata terpejam. "Bagaimana keadaan Tiger!" ucapnya cepat bersamaan dengan embusan napasnya.
"Oh astaga! Aku harus jemput dokter!" pekik Rico menepuk dahinya. Pertemuannya dengan Jihan membuatnya lupa tugas utamanya, untuk menjemput dokter rekomendasi dari Leon.
Dengan panik, Rico menyambar ponsel di saku jas dan berbicara dalam bahasa asing. Beberapa menit berlalu, ia pun mengakhiri panggilan dan kembali menyimpan ponselnya.
"Ikutlah. Tuan masih sama seperti terakhir kali kamu bersamanya," ucap Rico yang melihat Jihan terdiam. "Tuan Leon mencarikan dokter syaraf terbaik dari Korea, untuk membantu merangsang kesadarannya. Meski sangat kecil kemungkinannya, namun kami selalu berusaha."
Lagi-lagi Jihan harus mengembangkan dadanya untuk menyimpan pasokan oksigen sebanyak mungkin. Tubuhnya terhuyung, dengan sigap asistennya dan Rico menangkap lengan Jihan.
"Mbak, kamu bawa Cheryl ke hotel. Sudah disiapkan perusahaan. Kasihan kalau ikut," Jihan menyerahkan identitas pada sang asisten agar mudah mengakses kamarnya nanti.
"Baik, Nyonya!" balasnya setelah menggendong Cheryl.
Rico mengernyitkan dahinya, "Kamu sudah bekerja? Di mana? Di perusahaan apa?" cecar Rico penasaran.
"Nanti aku cerita sambil jalan. Sekarang antar aku ke tempat Tiger! Cheryl harus beristirahat dulu, dia tidak boleh kelelahan setelah perjalanan panjang," sahut Jihan posesif, membenarkan topi dan jaket yang membalut tubuh mungilnya.
Kemudian melepaskan satu ciuman lembut di kening Cheryl sebelum akhirnya ibu dan anak itu harus berpisah di Jakarta. Sudah ada jemputan dari perusahaan Anderson yang akan mengantarnya menuju hotel.
__ADS_1
"Oke," sahut Rico singkat.
Jihan melambaikan tangan, hingga menghilang di balik pintu mobil, sebagai ucapan perpisahan. Ia lalu berbalik dengan koper di genggamannya.
"Ayo!" ucap Rico memimpin jalan untuk mencari keberadaan dokter utusan tuannya.
Jihan mengekor, berjalan tenang meski gemuruh dalam dadanya serasa ingin meledak, menahan kerinduan yang membuncah.
Setelah berhasil menemukan sang dokter, Rico segera membawanya untuk berpindah ke pesawat pribadi milik Keluarga Sebastian. Melanjutkan perjalanan kembali menuju ke Palembang saat itu juga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam mulai menyapa saat mereka mendarat di Kota Palembang. Seolah tidak ada rasa lelah, mereka berpindah transportasi darat untuk bisa sampai di markas.
Satu jam kemudian, Jihan terpaku melihat sebuah bangunan yang begitu besar dan unik di hadapannya. Tidak seperti gedung perusahaan pada umumnya. Terlebih lagi, letaknya jauh dari keramaian.
"Tempat apa ini?" gumamnya sangat pelan.
Semakin dekat, Jihan semakin gugup. Ia mencengkeram kuat sling bag nya untuk meredam debaran dadanya yang sulit dikendalikan.
Bersambung~
nungguin ya? sama aku juga 😅
__ADS_1