The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 109. KETUA MAFIA


__ADS_3

Pagi itu, separuh beban di dada Jihan seolah terangkat. Karena akhirnya, dia bisa mendekap erat bayi yang selama ini selalu membuatnya kuat sejak masih dalam kandungan. Masih terbesit penyesalan terdalam ketika mengingat keinginannya untuk menggugurkannya beberapa waktu silam.


"Maafin mama, Sayang! Maaf!" gumam Jihan memeluk erat dengan tubuh gemetar dengan tangis penyesalan.


Bayi cantik dan mungil itu hanya bergerak tak nyaman saat Jihan terlalu erat mendekapnya. Lama kelamaan menangis hingga membuat Jihan tersentak dan menarik kesadarannya. Segera ia mengayunkan bayi cantik itu sembari menyeka air matanya.


"Kita ketemu papa ya. Bangunin papa," ucap Jihan kembali melenggang menuju ruangan suaminya.


Kakinya mengayun bersemangat namun tetap hati-hati. Ia berjalan sambil sesekali mengajak anaknya berbicara. Meski bayi cantik itu belum sepenuhnya mendengar dan melihat dengan jelas.


Tiba di depan ruangan, Jihan mematung. Bibirnya terkatup rapat, ada rasa nyeri yang menusuk jantungnya. Sudah satu bulan ini dia bahkan melupakan kejadian sebelum tragedi ini terjadi.


Namun kini di hadapannya tersaji seorang wanita yang menangis di tepi ranjang suaminya. Wanita yang sama ketika masuk ke dalam mobil bersama suaminya.


Jihan menarik napas panjang, menyimpan banyak pasokan oksigen dalam dada yang berdebar tak karuan. Menguatkan pijakan kakinya, agar tidak jatuh. Menekan emosi yang sekiranya akan meledak.


Perlahan satu tangannya menjulur untuk membuka pintu. Kakinya melangkah dengan sangat pelan, namun tetap saja derit pintu yang terbuka membuat wanita itu menoleh.


Masih ada perban yang menempel di sebagian wajahnya, juga lengan kirinya. Keningnya mengernyit saat melihat kedatangan Jihan yang menggendong seorang bayi.


"Kamu siapa? Dan sedang apa di sini?" tanya Jihan berdiri di seberang wanita itu.

__ADS_1


"Saya Erent, tunangan Tiger!" ucapnya memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


DEG!


"Tu ... tunangan?" Seperti bom yang meledak dalam dadanya.


Pasokan oksigen yang sedari tadi dikumpulkan seolah menguap hingga habis. Lengannya mengeratkan pelukan pada Cheryl. Sedang tangan lainnya mencengkeram kuat tepian ranjang suaminya. Tanpa membalas uluran tangan Erent.


'Jadi, apakah ini alasannya ketika dulu menolak keras menikah denganku?' Jihan menelan salivanya yang teronggok di tenggorokan.


Erent lalu mengangkat tangannya. Memperlihatkan cincin yang tersemat di jemari lentiknya. "Iya, kami bertunangan satu tahun yang lalu. Dan sudah berencana menikah. Namun, Zero, musuh bebuyutan Tiger menghancurkan semua rencana itu."


Tubuh Jihan gemetar hebat. Ia baru tahu jika Zero dan Tiger saling bermusuhan. Jihan terus menarik napas panjang, meski tak berhasil melegakan sesak di dadanya.


Namun ternyata, sehari setelah pertunangan, Erent diculik oleh sekelompok orang. Dia disekap selama satu tahun. Sepanjang hari terus mengalami penyiksaan dan ancaman. Jika dia berusaha kabur, nyawa Tiger dalam bahaya.


Erent menghilang tanpa kabar dan tanpa meninggalkan jejak apa pun. Tiger mengira, wanita itu meninggalkannya begitu saja. Baru-baru ini Erent mengetahui, bahwa ternyata penculiknya memiliki motif ingin menghancurkan Tiger.


"Terus? Kejadian satu bulan lalu?" Suara Jihan mulai berubah. Ia berusaha tenang.


"Zero memancingnya untuk datang, dengan membawaku ke tempat itu. Mereka sempat adu pukul, saling menyerang satu sama lain. Hingga aku tahu bahwa ternyata, mereka memiliki dendam masing-masing," papar Erent dengan pandangan kosong.

__ADS_1


Tangannya menggenggam erat jemari Tiger, semua itu tak luput dari pandangan Jihan yang seketika membakar hatinya. Ia menoleh, menyeka bulir bening yang lancang berjatuhan di pipinya.


"Mereka bukan orang biasa. Tapi ... sekelompok mafia yang berbeda. Dan dua pria itu, adalah ketuanya," jelas Erent yang lagi-lagi menghantam dada Jihan. "Mmm ... ngomong-ngomong, kamu siapa?" tanya Erent menautkan kedua alisnya.


Sudah banyak yang ia menjelaskan siapa dirinya, namun Jihan sama sekali belum memperkenalkan diri.


Jihan berkeringat dingin, dadanya bertalu dengan kuat. Tenggorokannya tercekat. Ia membungkuk lalu segera pamit undur diri tanpa berkata apa pun.


Jihan berjalan cepat menyusuri lorong rumah sakit. Ia mengeratkan pelukannya pada Cheryl. Takut, terkejut, panik dan segala perasaan yang bercampur aduk seolah meledak dalam dada. Jihan benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Akhirnya terjawab sudah kecurigaannya sejak awal pernikahan mereka.


"Mafia? Ketua?" Air matanya berhamburan begitu derasnya sambil terus melangkah tanpa tahu arah.


"Tunangan? Disekap dan berkorban demi keselamatan Tiger? Lalu, apa yang sudah aku berikan untuknya? Hanya kesulitan dalam hidupnya. Cheryl, sejak awal kamu memang cuma milik mama!" racau Jihan dengan tangis yang memekik di sepanjang jalan, memeluk erat bayi dalam balutan selimut itu.


Sesak sekali dadanya, kakinya mengayun dengan berat dan gemetar. Tidak ada yang tahu kepergiannya. "Terima kasih, sudah memberiku hal yang paling berharga!" gumamnya mencium puncak kepala bayi nya.


Milano dan Bian masih sibuk mengurus bisnisnya. Sedangkan Rico berpamitan sebentar untuk mengambilkan pakaian ganti untuk Cheryl setelah mendapat kabar bayi cantik itu sudah keluar dari inkubator.


Bersambung~


Jihan kekanakan banget sih😒kabur kaburan mulu. eitts tunggu dulu...

__ADS_1


Terkejut, dengan berbagai kenyataan mengenai status suaminya. Sedangkan dia sadar, tidak memiliki kelebihan apapun. Minder? Sudah pasti. Apalagi suaminya konglomerat dan lagi, identitas tersembunyi yang selama ini ditutup rapat benar-benar membuatnya syok. Dia perlu menata hati menerima kenyataan. juga untuk menyiapkan diri dan yang pasti memantaskan diri..... 😌


__ADS_2