The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 53. SALAH ORANG


__ADS_3

"Apa?! Kok bisa? Apa Tiger melakukan kekerasan lagi pada Jihan?" tanya Leon di ujung telepon.


"Tidak, Tuan. Tapi, setelah ibunya meninggal, emosinya sangat tidak stabil. Beliau selalu overthinking akan suatu hal yang belum tentu terjadi. Termasuk, Nyonya Khansa yang akan mengambil bayinya kelak," jelas Rico.


Terdengar embusan napas kasar dari seberang. Rico masih memasang telinganya baik-baik untuk menerima perintah selanjutnya. Sudah melangkah sejauh ini, tentu saja dia tidak akan berani kembali pada Tiger. Kecuali permintaan Leon.


"Mmm ... tetap dampingi Jihan. Berikan fasilitas yang layak dan juga pastikan semua kebutuhan atau keinginannya terpenuhi. Jika ada sesuatu yang kurang, katakan saja," terang Leon.


"Baik, Tuan. Lalu, apakah saya harus memberi tahu Tuan Tiger? Jujur, saya takut, Tuan. HP saya dibuang di sungai oleh Nyonya Jihan. Saya juga tidak hafal nomor Tuan Tiger. Ini beli baru dan log in dengan identitas yang berbeda," aku Rico sejujurnya, sembari menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Tidak! Biarkan Jihan tenang terlebih dahulu. Saya tahu bagaimana perasaannya. Karena Khansa pun pernah mengalaminya, meski dengan jalan berbeda. Namun mereka sama-sama kehilangan. Dan butuh waktu tidak sebentar untuk menyembuhkannya. Yang paling penting, biar mereka menyadari perasaan masing-masing," papar Leon menjelaskan. "Oh ya, satu lagi. Untuk keamananmu, koordinasi dengan asisten Gerry!"


"Baik, Tuan. Terima kasih banyak. Mohon maaf mengganggu," ujar Rico mengakhiri panggilannya.


Dengan gerakan cepat Jihan menutup kaca jendela yang ia buka sejak Rico keluar. Dadanya berdetak berkali-kali lipat setelah mendengar ucapan Rico. Walaupun dia sama sekali tidak mendengar apa yang Leon ucapkan. Tetapi, mendengar nama Leon, membuatnya ketakutan. Ia tidak menyangka bahwa Rico ternyata bawahan Leon.


'Apa yang harus aku lakukan? Ternyata aku percaya dengan orang yang salah,' gumamnya dalam hati sembari menyandarkan kepalanya dengan mata terpejam.


Ia kembali ke posisi semula, agar Rico tidak curiga bahwa dia sudah tahu semuanya. Rico menunduk, mengintip ke arah Jihan. Ia mendesah lega karena wanita itu masih memejamkan mata.

__ADS_1


Rico kembali melanjutkan perjalanan hingga beberapa jam kemudian, sampai di sebuah kota kecil yang jauh dari hiruk pikuk keramaian.


"Jihan! Kita sudah sampai," ucap Rico menoleh ke belakang.


Cukup lama tertidur, ia langsung mengerjapkan mata saat suara Rico menelusup pendengarannya. Jihan melihat sekeliling, ia terkejut karena hari sudah berganti malam.


"Kita di mana, Ric?" ucap Jihan.


"Katanya mau pergi sejauh-jauhnya? Aku turuti. Aku yakin kamu betah di sini." Rico mulai turun lalu membukakan pintu untuk Jihan.


Wanita itu turun, lalu mengedarkan pandangannya. Di sana terlihat sebuah perumahan yang tidak terlalu mewah. Rico meraih koper Jihan dan memimpin jalan.


"Kalau kamu tinggal di tempat mewah akan mudah terlacak," ucap Rico lagi sembari meraih sebuah kunci.


"Temenku, udah lama disewakan. Cuma karena aku tinggal di villa Tuan Tiger ya nggak pernah dihuni. Tapi tenang aja, udah aku bayar sampai satu tahun ke depan," sahut Rico membuka pintu tersebut.


Beberapa bulan tidak ditempati menjadi berdebu dan kotor. Rico memintanya untuk duduk di ruang tamu terlebih dahulu. Sedangkan ia segera menuju kamar.


Jihan mengangguk, duduk santai di sofa sembari mengedarkan pandangannya. Memang sederhana namun tampak nyaman lebih nyaman dari tempat tinggalnya dulu ketika hidup susah.

__ADS_1


Satu jam berlalu, Rico sudah selesai membereskan kamarnya. Ia keluar menghampiri Jihan yang berkutat dengan handphone barunya. Mendengar langkah kaki Rico, Jihan segera menyembunyikan ponselnya.


"Sudah bersih, tidurlah. Aku cari makan dulu," ucap Rico.


Jihan tersenyum disertai sebuah anggukan. Ia terlihat sangat penurut dan tidak banyak bicara saat ini. Jihan menatap punggung Rico yang keluar hingga menghilang bersama mobilnya.


"Terima kasih atas semua kebaikanmu, Rico. Ternyata, kamu bukan hanya bawahan Tiger. Tetapi juga suruhan Leon dan Khansa." Jihan tertawa getir. Hidupnya terlalu dikekang oleh orang-orang yang berkuasa. Ketakutan akan kehilangan anaknya semakin menyergap tubuhnya.


Buru-buru Jihan keluar dari rumah tanpa membawa kopernya. Karena itu hanya akan menyulitkannya. Jihan hanya membawa tas berisi uang dan dokumen pribadinya saja.


Jihan berjalan berlawanan arah dengan mobil Rico. Ia tidak tahu ada di mana sekarang. Yang ia inginkan adalah pergi sejauh-jauhnya dari orang-orang yang mengenalnya.


"Kamu harus kuat ya, Nak. Kita harus memulai kehidupan baru," gumamnya mengusap perutnya sembari menyusuri jalan di gelapnya malam.


Hingga tak terasa kakinya melangkah sampai di keramaian jalan yang besar. Banyak transpotasi yang melaluinya. Kepalanya menoleh dari ujung hingga ke ujung jalan, mencari petunjuk arah untuk mengetahui keberadaannya saat ini.


Namun tiba-tiba matanya menangkap mobil Rico keluar dari sebuah gang kecil. Kemungkinan pria itu menyadari jika Jihan pergi dari rumah.


"Duh, gawat!" Jihan berjalan cepat. Segera ia masuk ke mobil yang parkir di bahu jalan untuk bersembunyi. Kebetulan pintunya tidak terkunci.

__ADS_1


Bersambung~


Overthinking berlebihan itu ga baik ya bestiee... Contohnya Jihan. Jangan ditiru 😌


__ADS_2