
Panik dan gugup kini merajai tubuh Jihan. Ia takut suaminya terbangun dan justru akan menimbulkan salah paham. Baru saja arus yang mereka lalui mulai tenang, kehadiran Bima bisa menjadi badai yang kembali mengombang-ambingkannya kapal layar mereka.
Bima merapikan rambutnya yang sama sekali tidak berantakan. Ia menatap Jihan penuh kekaguman. "Wow! Penampilan barumu semakin membuatku gemas, pengen gigit!" gumamnya pelan mendekatkan wajah pada Jihan.
Dengan sigap Jihan menahan wajah pria itu dengan kelima jarinya dan mendorongnya hingga terpundur ke belakang. "Jangan bikin aku takut, Bim!" cetus Jihan melotot tajam.
Ia langsung menutup pintu apartemen lalu membukanya sedikit. Ada kaitan besi yang tidak akan bisa dibuka dari luar. Tubuhnya hanya terlihat separuh dan mengintip di balik pintu. Meskipun pria itu tak pernah melakukan sesuatu di luar batas. Tetap saja dia harus waspada.
"Mau apa?" tanya Jihan berusaha meredam suaranya.
Bima mendengkus, namun masih cengar-cengir. Merasa gila sendiri karena begitu mengagumi wanita itu. Bima mengulurkan sebuah dokumen beserta bolpoin, menyusupkannya melalui celah pintu.
"Ini surat kontrak perjanjian antara kamu dan Tuan Zero. Setelah melihat kamu, ternyata semua sesuai kriterianya. Jadi kemarin aku langsung diminta membuat kontrak kerja sama."
DEG!
'Surat kontrak?' batin Jihan dengan debaran jantung yang berantakan.
Jihan menariknya, lalu membuka dan membaca dokumen itu dengan cepat, untuk memastikan tidak ada hal yang membahayakan.
Ada sekitar tiga lembar, keduanya asli. Satu bendel untuknya, sedangkan bendel lainnya untuk Zero. Setelah membaca keseluruhan Jihan membubuhkan tanda tangannya.
"Ini!" ucap wanita itu mengulurkan berkas tersebut.
__ADS_1
"Kirim foto close up kamu ya. Untuk aku urus identitas ke kantor catatan sipil. Sekalian tanda tangan digital. Ini kartu nama aku!" Bima mengulurkan kartu nama setelah menerima berkas yang ditanda tangani Jihan.
"Sayang, kamu di mana?" teriak Tiger dengan suara serak sembari menguap. Tidak begitu jelas. Meski begitu, Jihan membelalakkan kedua matanya. Ia merampas kartu nama Bima lalu menutup pintu. Untung saja Bima tidak mendengar suara Tiger, terbukti dia diam dan tak melayangkan protes.
Jihan menyelipkan kartu nama itu di saku gaunnya. Merapikan rambut untuk mengurai rasa panik berlebih. Lalu mengembuskan napas berat sembari memaksa senyum di bibirnya.
Wanita itu melenggang masuk ke kamar dengan tergesa segera memenuhi panggilan suaminya. Jihan mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. "Sudah bangun? Gimana, masih ada yang sakit?" tanya Jihan penuh perhatian.
"Enggak, selama kamu di sampingku," tuturnya beranjak bangun dan merebahkan kepala di paha istrinya. Tiger mencium perut Jihan yang tampak sedikit menyembul karena gaunnya cukup ketat di bagian perut namun bahannya nyaman dikenakan. "Hai, jagoan papa! Kamu sehat 'kan di dalem sana?" ucapnya tepat di depan perut Jihan.
"Kok jagoan? Kalau dia perempuan gimana?" ucap Jihan mengerutkan bibirnya.
"Ya nggak masalah. Nanti pasti imut kayak kamu. Namanya juga lagi berharap, semoga laki-laki," sahut Tiger kembali menempelkan wajahnya pada perut Jihan.
"Enggak! Anak aku sendiri kenapa harus merasa repot?!" cebik Jihan kesal.
Tiger mengangkat kedua lengannya, "Hei, anak kita, Sayang!" ucapnya pelan membuat hati Jihan serasa dialiri air es. Nyess!
"Kayaknya karena dia mau nunjukkin sama papanya. Tiap pagi aku selalu tersiksa, muntah-muntah, nggak nafsu makan, uring-uringan, apalagi sejak kamu pergi dariku. Duniaku seolah berhenti." Tiger melanjutkan ucapannya.
"Jadi sekarang percaya 'kan kamu mengalami morning sickness?" cibir Jihan menunduk, menatap penuh sindiran pada suaminya. Namun tangannya membelai lembut rambut Tiger.
"Ya, karena semua dokter mengatakan, kesehatanku baik-baik saja," jawab Tiger santai.
__ADS_1
"Oiya, gimana ceritanya kamu bisa sampai ke sini? Dan kenapa kebetulan banget kita bisa ketemu, ya?" Jihan menatapnya serius.
Tiger lalu menceritakan perjuangannya mencari jejak Jihan. Yang mana saat itu semua petunjuk telah lenyap, mulai dari ponsel Jihan dan Rico, email yang tidak aktif lagi, mobil Rico, bahkan kehilangan jejak ketika meretas CCTV setiap sudut jalan.
Wanita itu terharu. Tidak menyangka dirinya sangat berarti bagi Tiger. Dadanya terus bergelombang hebat. Karena getaran cinta Tiger mulai menabrak dinding pembatas yang ia bangun.
"Terus, kok bisa sampai di Jakarta?" Jihan bertanya lagi.
"Rumah ayah di Jakarta. Usaha aku juga ada yang di sini. Tadinya nggak tau mau ke mana. Tiba-tiba aku lihat kamu di streetfood itu." Tiger memeluk pinggang Jihan dengan erat. "Jangan pergi lagi," sambungnya.
"Naik mobil?"
"Ya!" sahut Tiger singkat.
"Kenapa nggak naik pesawat aja? Bukannya kamu orang kaya? Biasanya orang-orang kaya pakai jet pribadi!" ledek Jihan tertawa.
"Enggak suka! Aku lebih nyaman mengendarai mobil sendiri. Menghargai kerja kerasku bersama ayah sepuluh tahun lalu. Kami membangun jalan tol yang membentang di atas laut, dari Sumatera ke Jawa. Puas aja rasanya bisa ngerasain hasilnya," papar Tiger.
Sontak Jihan terkejut, ia melebarkan kedua matanya. Jalan tol saja milik suami dan ayah mertuanya. Selama ini dia benar-benar tidak tahu jumlah kekayaan keluarga suaminya.
'Sekaya apa mereka?' tanyanya meneguk ludah tak bisa membayangkan seberapa kekayaan sang suami.
Bersambung~
__ADS_1
Note; Semua tempat, lokasi dan bangunan hanya kehaluan author. jadi pliss jangan disangkutin sama dunia nyata ya.. 😘