The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 42. PENASARAN


__ADS_3

Jihan diam sejenak, memikirkan jawaban yang tepat untuk suaminya. "Eee ... itu, gimana ya ngomongnya," ujarnya bingung sembari menggaruk kepalanya.


"Apa?" tanya Tiger memutar tubuh dan menyandarkan bokongnya pada tepi wastafel.


"Sebentar aku tanya google dulu, soalnya aku lupa-lupa ingat penjelasan dokter," sahutnya meringis berlalu keluar meninggalkan sang suami yang menautkan kedua alisnya bingung.


Dengan napas berembus berat, Tiger pun bergerak santai menyusul istrinya. Meski sedikit lemas, namun kedua kakinya masih bisa menopang tubuh kekar itu.


Jihan seru berselancar di internet, segera mengetik pada mesin pencarian mengenai morning sickness. Sederet penjelasan pun segera muncul dan dengan bersemangat menyodorkan ponselnya pada Tiger yang sudah berdiri di hadapannya.


"Nih," ucapnya tersenyum menaik turunkan alisnya.


Tiger mengernyit menerima benda pipih itu, manik matanya bergerak ke kiri dan kanan membaca sebuah artikel. Keningnya berkerut dalam, "Ngaco! Aku 'kan nggak hamil!" cebiknya menyerahkan ponsel itu lagi.


"Tunggu dulu! Ini tuh disebut hamil simpatik. Artinya, kamu berempati sama kandungan aku!" serunya bertepuk tangan.


Tiger hanya memutar bola matanya. Kedua tangan menangkup bahu Jihan, menatap wajah wanita itu yang tengah berseri-seri. "Aku rasa itu tidak benar! Sudah, aku mau mandi!" ucap pria itu melenggang pergi.


Jihan menghela napas panjang, tersenyum getir dengan mata berkaca-kaca. Tak dapat dipungkiri, keinginan ingin dimanja dan diperhatikan melewati masa-masa hamilnya, terkadang membumbung tinggi.

__ADS_1


Pandangannya beralih menuju perut ketika Tiger sudah menghilang di balik pintu. Menyentuhnya dengan tangan gemetar, setetes bulir bening pun terjatuh melalui pipinya.


"Kamu punya mama, Nak. Yang selalu mencintaimu sejak bersemayam di perut mama," gumamnya tersenyum meski matanya berlapis cairan bening.


Setelah menenangkan diri dan menyeka air matanya sendiri, Jihan menyiapkan pakaian kantor Tiger dengan lengkap. Kemudian turun ke dapur membantu menyiapkan sarapan sekaligus membuatkan kopi seperti biasanya.


Malas kembali ke kamar, Jihan makan terlebih dahulu tanpa menunggu suaminya. Roti tawar dengan selai cokelat kacang ditambah segelas susu hamil menemani paginya. Perutnya sudah meronta ingin segera diisi.


"Ya! Tetap awasi pergerakan polisi juga! Cari celah dan kesempatan untuk eksekusi!"


Suara Tiger yang tengah menuruni tangga mengalihkan perhatian Jihan. Ia mendongak, pergerakan bola matanya mengikuti gerakan Tiger yang semakin mendekat. Bahkan sampai berhenti mengunyah.


"Udah makan duluan? Laper banget ya?" ucap Tiger ketika sampai di hadapan Jihan. Sebuah kecupan mendarat di kening wanita itu.


Jihan kembali mengunyah dan hanya mengedikkan kedua bahunya. Tiger segera duduk dan menyesap kopi yang masih mengepulkan asap di cangkirnya.


"Pulang jam berapa?" tanya Jihan setelah meneguk susunya setengah gelas.


"Aku usahain cepet. Kalau ngantuk, tunggu di kamar. Jangan tidur di luar, ok?" perintah Tiger membelai kepala Jihan.

__ADS_1


Wanita itu tersenyum dan mengangguk. Setelah sarapan, Jihan mengantar keberangkatan suaminya. Seperti pasangan suami istri pada umumnya.


Waktu terus berjalan, hari silih berganti. Hingga tak terasa genap satu bulan Jihan seatap dengan Tiger. Sikap Tiger selalu hangat pada Jihan, keduanya semakin romantis di setiap waktu. Mereka saling merindu saat berjauhan, namun Tiger selalu enggan jika membahas mengenai kehamilan atau perkembangan janinnya.


Jihan sesekali menangis karena ingin diperhatikan seperti ibu hamil pada umumnya. Kini kandungannya sudah berusia 10 minggu. Dan hari ini, jadwalnya untuk periksa kandungan.


Kali ini dia keluar tanpa meminta izin suaminya. Karena menurutnya, hal ini tidak penting bagi Tiger. Ia selalu meminta Rico untuk menemaninya kemanapun. Hanya pengawal muda itu yang dia percaya.


"Kenapa, Ji? Sariawan?" tanya Rico melirik Jihan yang duduk di sebelahnya.


Perempuan yang biasanya cerewet itu kini berubah kalem dan lebih banyak diam. Hanya menyandarkan kepala dan memejamkan mata. "Emmm!" sahutnya menggumam.


"Aneh!" cebik Rico fokus pada jalan.


"Eh, Ric. Kamu pernah denger nggak sih Tiger punya masalah apa gitu? Secara kamu 'kan bawahannya. Pasti tahu dong semua tentangnya!" tanya Jihan penasaran.


Bersambung~


Terima kasih banyak supportnya, Bestie 😘 like dan komen kalian bikin semangat!! Lope you sekebon 🌶

__ADS_1


__ADS_2