
Tak terasa, satu minggu terlewati begitu cepat. Selama itu pula, Jihan dan Tiger saling berjauhan. Jihan tinggal di rumah ayahnya, sedangkan Tiger jarang pulang ke rumahnya. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di markas.
Keduanya tidak saling bertukar kabar. Terakhir menanyakan keadaan Jihan tiga hari lalu, pada Rico, pengawalnya. Sedikit membuatnya lega karena kondisi istrinya sudah lebih baik.
Selain untuk menjaga Jihan agar tidak diketahui musuh, Tiger juga ingin memberikan waktu pada Jihan untuk menenangkan diri. Walaupun setiap pagi dia harus mati-matian melawan mual muntah dan juga menekan kerinduan mendalam.
"Tuan, apa nggak sebaiknya Anda periksa ke dokter? Ini sudah satu minggu dan Anda selalu seperti ini setiap pagi," ucap Dylan yang selalu ada di sampingnya setiap waktu.
"Tidak! Nanti agak siangan juga baik-baik saja," elak Tiger membasuh mukanya.
"Tuan, dua orang yang bertemu dengan kita waktu itu, sudah ditemukan. Namun, keduanya sudah tidak bernyawa. Sepertinya mereka hanya boneka saja di sini," jelas Dylan membawa laporan hasil penyelidikannya bersama tim selama satu minggu ini.
Tiger mendongak, memandang Dylan dari pantulan kaca dengan tatapan menyeringai dingin dan menyeramkan. Rahangnya tampak mengeras dan gigi bergemeletuk kuat.
Dylan menunduk dalam, tidak berani menautkan tatapannya terlalu lama. Karena baru beberapa detik saja, ia sudah merasakan merinding di sekujur tubuhnya.
"Aaarrghhh! Brengsek!" teriak Tiger mengepalkan tangan lalu memukul kaca besar yang ada di hadapannya hingga serpihan itu berhamburan ke lantai. "Itu artinya semakin kecil peluang kita untuk menemukan dalang dari semua kejadian ini!" geramnya dengan napas memburu.
Bagaimana tidak, ia rela berjauhan dengan wanitanya hingga selama ini. Tapi ternyata tidak membuahkan hasil. Pagi itu juga dia bergegas keluar dari markas, Dylan juga berlari mengikuti sang boss. Namun saat asistennya duduk di samping kemudi, Tiger menoleh dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Ngapain kamu di sini?" teriak Tiger menoleh sembari menyalakan mesin mobilnya.
Dylan tersentak mendengar teriakan pria itu. Matanya mengerjap berulang, "Eee ... maaf, Tuan. Saya pikir Anda akan membutuhkan saya," gumamnya dengan wajah mulai memucat.
"Keluar!" pekik Tiger menyemburkan amarah.
Kerinduan yang membuncah hingga ubun-ubun membuatnya uring-uringan. Buru-buru Dylan mengangguk, "Maaf, Tuan!" Kemudian segera turun dari mobil. Tubuhnya membungkuk sampai mobil civic turbo berwarna biru itu melesat dengan kecepatan dinggi.
Sepanjang perjalanan, Tiger memukul-mukul setir mobil meluapkan kekesalannya. Bahkan dia tidak merasa darah mengalir dari punggung tangannya akibat hantaman keras pada cermin kamar mandi tadi. Yang ada di benaknya sekarang hanyalah bertemu dengan Jihan.
Satu jam perjalanan ditempuh Tiger hingga sampai di pelataran kediaman Isvara. Rumah tampak sangat sepi. Ia bergegas turun dan masuk ke rumah yang kebetulan pintunya terbuka saat pelayan sedang membersihkan lantai.
Tidak ada balasan apa pun dari Tiger selain ekspresi dingin yang tampak dari wajah tampannya. Langkah kaki pria itu panjang dan tegas menaiki tangga, menuju kamar Jihan.
"Jihan!" panggil Tiger membuka pintu kamar.
Manik abunya tidak menemukan apa pun di dalam sana. Kosong, bersih, bahkan tampak seperti tidak ada penghuninya. Ia masih berpikir positif, mencari ke dalam kamar mandi. Ternyata sama, lantainya kering sama sekali tidak ada percikan air.
"Maaf, Tuan!" ujar pelayan yang lancang masuk kamar Jihan.
__ADS_1
Tiger menoleh cepat, tatapannya mengerikan membuat pelayan itu menunduk semakin dalam. Deru napas Tiger terdengar sangat kasar. Ia berkacak pinggang sembari menunggu kelanjutan ucapan pelayan itu.
"Non Jihan keluar dari rumah tiga hari yang lalu," lanjut pelayan itu mencengkeram ujung kemejanya.
"Apa?! Kemana dia pergi?" sentak Tiger membuat pelayan itu terjingkat kaget. Suara pria itu menggelegar di penjuru ruangan.
"Saya juga tidak tahu, Tuan. Saya pikir, Nyonya pulang ke rumah."
Bibi Fida yang mendengar teriakan pun bergegas menghampiri mereka. ART itu cukup dekat dengan Jihan selama ia tinggal di sana.
"Tuan, Non Jihan berkata, beliau ingin menenangkan diri terlebih dahulu. Di rumah ini terlalu banyak kenangan bersama ibunya. Beliau tidak kuat jika harus tinggal di sini. Kami pikir, Non Jihan akan kembali ke rumah Tuan," papar Bibi Fida menjelaskan.
"Sial!" geram Tiger dengan kemarahan membuncah. Kedua tangannya terkepal dengan sangat kuat. Lalu melangkah keluar, namun sebelumnya ia menendang nakas dengan sangat keras hingga menjatuhkan lampu tidur dan beberapa figura yang terletak di atasnya.
Bibi Fida dan pelayan satunya tentu saja terjingkat kaget, menekan dada sembari memejamkan matanya. Tiger berlalu begitu saja, melangkah penuh emosi.
Bersambung~
Terima kasih banyak supportnya, Bestie 😘 like dan komen kalian bikin semangat!! Lope you sekebon 🌶
__ADS_1