The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 101. REMOTE CONTROL


__ADS_3

"Perut aku ... Sa ... kit!" rintih Jihan mengerang kesakitan, tubuhnya meringkuk dengan kaki terbuka.


Rico semakin panik, ia segera memasang sabuk pengaman lalu menjalankan mesin mobil dengan cepat.


Tepat saat Tiger keluar dari pagar gedung yang ditinggalkannya, manik matanya menangkap pergerakan mobil Rico yang melaju dengan kecepatan tinggi. Tiger menjadi khawatir, karena Rico selalu keluar bersama istrinya.


Tangannya segera merogoh ponsel di saku jas. Melakukan panggilan cepat pada ponsel istrinya. Akan tetapi, hanya nada sambung saja yang terdengar. Sama sekali tidak ada jawaban bahkan sampai nada sambung berakhir.


"Sial!" umpat Tiger kesal.


Erent terkejut, mencengkeram kuat sabuk pengaman membelit tubuhnya. "Ada apa, Tiger?" tanyanya pelan dengan perasaan was was.


Tiger sama sekali tidak mendengarkannya, ia juga mengabaikan pertanyaan dari Erent. Fokusnya hanyalah tersita untuk mengejar mobil Rico yang sudah semakin jauh.


Kini ia beralih menghubungi Rico. Satu tangannya sibuk menguasai setir mobil. Hampir saja ponselnya dibanting karena Rico tak jua menjawabnya. Namun saat di penghujung terdengar suara panik dari bawahannya itu ketika menjawab panggilannya.


"Rico! Pelankan mobilnya! Jangan membahayakan Jihan!" pekiknya memarahi Rico.


"Ta ... tapi, Tuan!"


"Aaaarrggghh!" jerit Jihan menangis karena merasakan sakit yang tak tertahankan.


Tiger melebarkan kedua matanya, jantungnya bahkan berpacu lebih cepat dari laju mobilnya. "Ada apa dengan Jihan?" pekiknya diselimuti kabut ketakutan dalam dirinya.

__ADS_1


"Rico! Sakit!" rintihnya lagi melihat cairan merah mulai mengalir di kakinya. Ia mencengkeram kuat tepian jok kursi kemudi.


"Hei! Rico! Apa yang terjadi, hah?!" teriak Tiger frustasi mendengar erangan kesakitan istrinya.


"Se ... sepertinya mau melahirkan, Tuan!" jawab Rico melirik Jihan dari kaca spion. Ia berusaha tenang meski panik pun merajai tubuhnya. Apalagi kini kulit putih Jihan sepenuhnya memerah karena menegang.


"Apa kamu bercanda?! Ini baru 7 bulan?!" teriak Tiger berhasil menyamai mobil Rico. "Hentikan mobilnya!" titah Tiger bermaksud untuk bertukar penumpang.


Perlahan, mobil Rico menepi. Jihan menyandarkan punggungnya, kepalanya mendongak dengan mata terpejam. Rintihan kesakitan masih menggumam dari bibirnya.


Namun, sebuah masalah besar terjadi. Mobil yang dikendarai oleh Tiger, tidak bisa diturunkan kecepatannya. Justru melaju dengan kecepatan yang lebih tinggi.


"Apa lagi ini?!" pekik Tiger dengan panik.


"Tuan! Ada apa?" tanya Rico kembali menginjak pedal gas. Sesekali melirik ke arah Jihan untuk melihat keadaannya.


"Aku tidak bisa menurunkan kecepatan. Rem dan gas tidak berfungsi!" pekik Tiger di seberang. Erent tidak berani bertanya, wajahnya sudah memucat.


Mobil yang dibawa Tiger, kecepatannya semakin tinggi. Berkali-kali Tiger menekan klakson dan terus memutar setir untuk mencari celah agar tidak berbenturan dengan mobil lainnya.


"Tuan! Ada yang mengikuti mobil Tuan dengan motor. Dia gerakin remot kontrol dan saya melihat ada sebuah alat yang ditempelkan di badan mobil. Sepertinya orang itu yang mengendalikannya!" lapor Rico usai mengamati.


"Oh shittt! Cepat bawa Jihan ke rumah sakit terdekat!" teriak Tiger melepas ponselnya lalu fokus berkendara.

__ADS_1


Tiger memicingkan mata, menatap tajam pengendara motor yang terus mengekorinya. Tiger berusaha untuk menghadangnya. Menggerakkan mobil hingga motor itu dalam keadaan terjepit. Ia sama sekali tidak memberikan kesempatan pada motor tersebut untuk untuk mengikutinya.


Hingga, ia bisa membuat jarak dengan motor itu dan mobilnya bisa dikendalikan lagi. Pedal rem dan gas kembali berfungsi. Kini ia mengerti, remote control itu hanya berfungsi dengan jarak yang dekat. Tiger berembus lega.


"Tiger, aku takut," gumam Erent dengan tubuh dan suara bergetar.


"Diamlah, jangan mengganggu konsentrasiku!" tegasnya terus menatap ke depan.


Tanpa diduga, motor tersebut berhasil memotong jalan melalui sebuah gang. Dan kali ini kembali menguasai kecepatan laju mobil Tiger, situasi jalan raya sedang tidak menguntungkan, karena kondisi sangat padat dan ramai.


Jantung Tiger hampir lepas, mengingat istrinya kesakitan ditambah mobilnya tidak bisa ia kendalikan. Ia pun pasrah, tidak ingin memperbanyak korban, Tiger membanting setir ke kanan. Di sana sedang ada perbaikan jalan, portal yang dipasang bahkan ditabrak olehnya.


"Maafkan aku Erent! Aku juga minta maaf gara-gara aku kamu harus menjadi sandera Zero. Aku tidak tahu. Sekali lagi aku minta maaf," gumam Tiger menatap wanita di sebelahnya.


Erent memejamkan mata dan hanya bisa mencengkeram kuat sabuk pengamannya. Tubuh keduanya terombang-ambing, semua material dlitabrak oleh mobil Tiger. Puluhan pekerja perbaikan jalan segera berhamburan agar tidak tertabrak.


Mobil terus menghantam segala sesuatu yang ada di hadapannya. Tiger memejamkan mata, "Maafkan aku, Jihan. I love you," gumam Tiger pelan.


Baru bisa terhenti ketika mobilnya menabrak truck mixer beton yang memang sedang beroperasi. Hantaman keras memekakkan telinga, mobil Tiger terpental lalu berguling beberapa kali hingga posisinya terbalik.


Cairan bahan bakarnya menetes, lama kelamaan semakin deras. Tidak ada yang berani mendekat untuk menolong. Mereka hanya langsung menelepon ambulance.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2