The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 74. MENCURIGAKAN


__ADS_3

Milano Sebastian, meletakkan cangkir dengan gaya elegan di meja ketika mendengar suara familiar di telinganya. Ia menoleh dan ternyata benar menemukan putranya berdampingan dengan sang istri.


"Hmm! Masih ingat sama ayah, kamu?" sindirnya dengan sinis.


Jihan semakin menunduk, karena belum terlalu mengenal karakter ayah mertuanya itu. Dulu memang ia mengidamkan menjadi istri seorang konglomerat. Tidak menyangka impiannya terwujud meski berawal dengan kejadian tragis.


"Maaf, Ayah. Tiger sangat sibuk akhir-akhir ini," ujarnya menghampiri pria tua itu.


Milano beranjak berdiri, lalu menatap tajam pasangan di hadapannya. Namun tak lama kemudian, Milano justru memeluk pria itu dengan erat. Juga menepuk bahu wanita yang kini menjadi menantunya.


Sejak Leon dan Khansa memulai kehidupan baru dan berhasil mengubur masa-masa tersulit mereka, Milano pun bisa menerima Tiger kembali. Bagaimana pun, anak itu ia besarkan sejak masih kecil. Meskipun hubungannya dengan Leon masih kurang baik karena sungkan untuk menghubungi putra kandungnya itu.


"Jihan, bagaimana kabarmu dan cucu Ayah? Hei, kenapa kamu menunduk terus?" tunjuk Milano pada perempuan itu yang semakin membuatnya takut.


"Ee kami baik, Ayah dan juga dalam keadaan sehat," jawab Jihan sedikit melirik dengan cengkeraman yang semakin kuat di lengan suaminya.


"Permisi, Tuan Besar. Sarapan sudah siap, silakan!" Seorang pelayan menyela perbincangan mereka.


"Hmm ... baiklah," ucap Milano menatap jam di pergelangan lengannya. "Ayo! Kalian pasti belum sarapan juga," lanjutnya.


Pria paruh baya itu memimpin jalan menuju ruang makan. Ruangan yang begitu mewah dan sangat luas. Tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kediaman ayah tirinya. Decakan kagum terus mengalir dari hatinya.


Tiger menarik sebuah kursi mempersilakan istrinya duduk. Lalu dia mendaratkan bokongnya di sebelah Jihan. Sedangkan ayahnya duduk sendirian berseberangan dengan mereka.


Suasana di meja makan itu sangat sunyi dari percakapan. Hanya denting sendok yang menggema karena bersinggungan dengan piring keramik mereka. Benar-benar membuat Jihan semakin merinding. Bahkan lelaki di sampingnya pun makan dengan tenang.

__ADS_1


"Kalian istirahatlah. Pasti lelah setelah perjalanan panjang. Ayah mau ke kantor dulu!" Milano mengusap bibirnya lalu beranjak bangun.


Jihan hanya menanggapinya dengan senyum dan sebuah anggukan saja. Ia melanjutkan makannya dengan pelan. Setelah dirasa sang ayah mertua semakin menjauh, barulah Jihan mengela napas lega.


"Tiger, apa Khansa sudah pernah ke sini?" Jihan langsung mengeluarkan suara setelah melalui masa menegangkan menurutnya.


Tiger menelan makanan sembari meneguk air putih, lalu berucap setelah meletakkannya. "Belum pernah sekalipun. Leon nggak pernah mengajaknya ke sini," sahutnya menoleh pada sang istri.


"Hah? Kenapa?" tanyanya penasaran.


"Aku dan Leon pernah bermasalah. Aku juga yang menyebabkan Khansa keguguran. Sejak saat itu, mereka memutuskan untuk pindah ke Korea. Yang aku dengar, Leon mengembangkan usaha di sana. Sedangkan Khansa melanjutkan pendidikan," ujar Tiger menjelaskan.


Jihan melebarkan kedua matanya. Ia menutup mulut tak percaya. "Jadi, kejadian di resort waktu itu, Khansa sudah hamil? Dan kamu ... kamu membuatnya keguguran?"


Jihan meletakkan alat makannya. Manik matanya kini mulai berkaca-kaca. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana berada di posisi Khansa waktu itu. "Bahkan setelah kamu jahat pada mereka, mereka tetap berbuat baik pada kita, ternyata sakit yang kau berikan padaku tidak apa-apanya dibandingkan sakit yang kau berikan pada mereka berdua," ujar Jihan mulai menangis.


Tiger diam membisu. Ia menunduk sembari memainkan sendok pada piringnya. Nafsu makannya sudah memudar. 'Kalau kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi, mungkin kamu bisa lebih membenciku,' gumamnya dalam hati.


"Aku akan meminta maaf setelah mereka kembali ke Indonesia," sahut Tiger.


"Jadi kamu belum pernah meminta maaf?"


"Belum sempat, aku terlambat ketika mereka terbang ke Korea," jawab Tiger tak berani menatap Jihan. Ia takut istrinya akan bertanya lebih dalam lagi.


"Kenapa tidak meminta maaf melalui telepon saja?" Jihan terus mencecarnya.

__ADS_1


Tiger menggeleng, matanya pun nampak berkaca-kaca. "Aku akan meminta maaf secara langsung. Setelah mereka pulang nanti. Kesalahanku sangat fatal. Tidak etis jika hanya meminta maaf melalui telepon," sahutnya tersimpan penyesalan terdalam.


Jawaban terakhir Tiger membuat Jihan membungkam. Tiger yang melihat istrinya sudah tidak selera makan, kini mengajaknya beristirahat.


"Ayo, ke kamar saja!" ajak Tiger beranjak sembari menarik lengan Jihan.


Wanita itu mengangguk. Kemudian mengikuti langkah kaki suaminya menuju kamar Tiger yang ada di lantai dua. Saat menyalakan lampu saklar, Jihan kembali terkagum-kagum. Kamar itu sangat luas dan setiap barang yang ada sangatlah mewah.


'Ini benar-benar seperti mimpi,' batin Jihan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


"Sini! Nanti siang kita periksa ke dokter. Aku ingin tahu bagaimana perkembangan anak kita," ucap Tiger merebahkan tubuhnya di ranjang besarnya setelah melepas setelan jas dan celana. Menyisakan kaos ketat dan celana pendek.


Rasa haru dan bahagia seketika menyeruak dari hatinya saat mendengar ucapan Tiger. Jihan tersenyum dan segera menyusul sang suami, menyusupkan tubuhnya ke dalam dekapan suaminya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, di apartemen Rico baru saja mengerjapkan matanya. Hal yang ia cari pertama kali saat membuka mata adalah laptopnya. Ia segera mengakses rekaman setelah pengawasan terakhirnya semalam.


Beberapa waktu berlalu, Rico membelalak dan segera bangkit dari rebahannya ketika melihat Bima datang membawa sebuah berkas di tangannya.


Rico duduk dengan tegap dan menajamkan pandangannya. Sesekali menghentikan rekaman tersebut untuk memperjelas gambarnya.


"Apa itu?" gumam Rico bertanya-tanya.


Sayangnya dia tidak dapat melihat berkas tersebut, karena Jihan menerimanya melalui celah pintu. Apalagi kamera pengawasnya hanya berada di lorong apartemen yang ditempati Jihan.

__ADS_1


"Gawat! Dia 'kan ceroboh dan berpikiran sempit!" gumam Rico bergegas menuju apartemen Jihan tanpa mandi terlebih dahulu untuk menanyakan berkas yang menurutnya mencurigakan.


Bersambung~


__ADS_2