The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 123. AKU MERINDUKANMU


__ADS_3

Jihan berdiri di belakang punggung Rico, bersebelahan dengan dokter yang berambut putih. Sejak kepindahan Tiger di markas, Rico diberi hak untuk mengakses membuka pintu berlapis dengan sidik jari maupun scan retina.


Tidak berani melihat sekelilingnya, Jihan hanya terus menatap lurus ke depan. Tidak peduli dengan ruangan dingin yang menyergapnya, lengkap dengan para anggota Black Stone yang sibuk dengan tugasnya masing-masing.


Hanya derap langkah tegas dan gemeletuk keyboard yang menyusup telinga Jihan. Sama sekali tidak mendengar percakapan apa pun. Jihan sendiri menekan semua pertanyaan dan ketakutan dalam benaknya. Tujuan utamanya hanyalah bertemu suaminya.


"Ruangan medis ada di lantai tujuh. Mari," ajak Rico setelah membuka pintu lift dengan sebuah kartu berwarna hitam. Karena tidak semua anggota bisa mengaksesnya.


Tiga orang itu masuk dan berjajar di dalam lift yang kemudian mengantarkan mereka ke lantai tujuh. Anehnya lift berjalan turun, karena ruang medis sebenarnya ada di ruang bawah tanah. Jihan dan dokter sedikit tersentak, memindai ruangan sempit yang terus bergerak itu. Namun enggan bertanya.


Setelah pintu terbuka, mereka harus melalui sebuah lorong cukup panjang, hingga menemukan pintu kaca yang otomatis terbuka saat terdeteksi ada yang hendak masuk.


"DEG!"


Setelah beberapa meter melangkah, mata Jihan langsung disuguhkan dengan Tiger yang terbaring di atas ranjang. Berada dalam satu ruangan full kaca dengan banyak layar monitor. Selimut menutup sebagian tubuhnya, berbagai alat medis menempel pada dadanya yang tanpa sehelai benang pun.


Sesuai prosedur, mereka harus masuk ke dalam ruangan kecil. Satu per satu masuk untuk disemprot yang sudah disetting, sebagai sterilisasi tubuh mereka.

__ADS_1


Setelahnya, Rico meletakkan kelima jarinya pada sensor, hingga terdengar bunyi 'klik', pertanda pintu telah terbuka.


"Dokter, silakan!" ujarnya mempersilakan.


Dokter itu membungkuk, lalu melenggang masuk. Langkah kaki Jihan begitu berat. Air matanya menyeruak hingga pandangannya memburam. Napasnya berembus pendek-pendek dan dadanya terasa sangat sesak.


"Ji!" panggil Rico mengedikkan kepala, memintanya untuk ikut masuk.


Jihan menoleh, menguatkan langkah kakinya yang terseok hingga berhasil mencapai perbatasan pintu. Rico membantunya masuk, pintu tertutup otomatis.


Rico mengantarnya menuju ruangan khusus penyimpanan rekam medis tuannya itu, meninggalkan Jihan berada di ruangan bersuhu rendah itu seorang diri bersama suaminya.


Berdiri beberapa saat, hanya memperhatikan dengan laju air mata yang semakin tidak bisa dikendalikan. Langkah demi langkah Jihan lakukan, hingga jaraknya semakin dekat.


Ia mendaratkan bokongnya perlahan di kursi yang ada di sebelah ranjang. Kedua tangannya terangkat untuk meraih jemari Tiger yang tertancap selang infus, menggenggamnya cukup kuat lalu menjatuhkan bibirnya pada punggung tangannya.


"Kenapa kamu belum bangun juga?! Aku sudah memberimu waktu cukup lama untuk beristirahat. Bahkan terlalu lama, Tiger," lirihnya menjatuhkan air mata pada punggung tangan pria itu.

__ADS_1


"Tidakkah kamu ingin bertemu dengan Cheryl? Dia sudah besar sekarang. Kalau suatu hari nanti dia bertanya di mana ayahnya, aku harus jawab apa, hah? Kamu enak-enakan tidur di sini!" cerocosnya di tengah isakan tangisnya.


Jihan berdiri, kini menatap lekat wajah pucat suaminya. Membelai lembut kedua pipi itu dengan tangan gemetar dan tangis yang semakin pecah.


"Bangun! Aku rindu kamu memarahiku! Aku rindu pelukan hangatmu! Aku rindu semua yang ada pada dirimu," jeritnya menyembunyikan wajah di ceruk leher suaminya. Memeluknya sangat erat. Menumpahkan semua tangisnya.


Setelah beberapa lama, Jihan sudah lebih tenang. Ia menopang kedua siku tepat di samping kepala Tiger, memainkan telunjuknya dari kening, hidung dan bibir Tiger.


"Tidakkah kamu ingin memberiku reward? Aku berhasil menjadi desainer loh. Bahkan menjadi juara satu waktu ikut kompetisi. Terus dikasih fasilitas belajar selama satu tahun di Paris. Dan dalam waktu dekat, ada peresmian butikku, sebagai hadiah utama dari perusahaan. Hei, aku bukan wanita manja lagi yang selalu menyusahkanmu! Ayo ucapkan selamat padaku!" Tangisnya kembali pecah tak kunjung mendapat respon dari suaminya.


Denting monitor detak jantung berbunyi lebih cepat. Sehingga membuat Jihan membelalak dan sedikit panik. Apalagi melihat bulir bening yang berjatuhan di kedua sudut matanya.


"Tiger?!" serunya menatap bingung. Ia mengedarkan pandangan lalu mencari tombol nurse call dan menekannya berkali-kali.


Hingga tak butuh waktu lama, satu rombongan tenaga medis berlarian masuk untuk memeriksa kondisi Tiger. Jihan meringkuk di sudut ruangan. Tidak berani menatap suaminya, takut sesuatu yang buruk terjadi.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2