The Devil Husband

The Devil Husband
BAB 103. BERJUANG BERSAMA


__ADS_3

Sebuah lengan kekar menjulur di hadapan Tiger. Pria itu menoleh ke sumber suara, matanya menyipit karena silaunya cahaya.


Tanpa menunggu lagi, dua orang pria yang sekujur tubuhnya basah, kini menariknya kuat hingga keluar dari mobil yang sudah tak berbentuk itu. Zero dan satu bawahannya mengangkat tubuh Tiger lalu meletakkannya di atas aspal.


"Zero," lirih Tiger memutar matanya pada Zero yang kembali berlari untuk menyelamatkan Erent.


Tubuhnya masuk ke dalam dan melepas kaitan seatbelt dengan cepat. Ia sudah mengguyur seluruh tubuhnya sebelum menyelamatkan Tiger. Api sudah semakin merambat hingga ke bagian depan.


Zero meraih tubuh wanita itu ke dalam dekapannya lalu menggendong ala brydal style. Ia mundur dengan cepat menghindari api yang mengamuk. Bahkan kulit Erent sedikit terbakar karena Zero lambat saat mengeluarkannya.


Setelah Zero berhasil menginjak tanah, seluruh bagian mobil berkobar dengan api yang membumbung tinggi, lalu terjadi ledakan hingga membuat mereka berdua terhempas beberapa meter. Semua orang memekik ketakutan.


"Tuan Zero!" seru anak buahnya serentak menutup wajah dan berbalik membelakangi ledakan itu.


Zero berguling masih dalam posisi memeluk Erent. Sedangkan Tiger juga terlempar beberapa langkah saja, karena jaraknya sudah cukup jauh dari titik api. Namun, mampu menghilangkan kesadarannya.


"Tigeeerr!!" pekik Jihan yang baru saja turun dari mobil.


Saat perjalanan tadi, Jihan terus meronta, memukul bahu Rico dan mengoyaknya hingga hampir kehilangan keseimbangan sewaktu menyetir.


Jihan tidak bisa membiarkan suaminya begitu saja. Feelingnya mengatakan, dia dan bayi nya akan baik-baik saja. Meski sakit di sekujur tubuhnya masih begitu terasa.


Mau tidak mau Rico menuruti kemauan Jihan. Ia sadar, stress dan tekanan yang tinggi justru akan memperburuk keadaan ibu hamil itu.

__ADS_1


Kedua kaki Jihan melemas, terhuyung lalu berpegangan badan mobil. Bian yang juga baru sampai segera berlari menangkap tubuh Jihan, lalu memapahnya bersama Rico.


"Tidak! Tiger!" jeritnya berurai air mata.


Dengan bantuan Bian dan Rico, langkah Jihan terhenti tepat di hadapan Tiger. Tubuh wanita itu luruh ke tanah. Memangku kepala Tiger yang dipenuhi darah. Padahal pahanya sendiri juga tengah dialiri cairan merah itu. Tangannya gemetar membelai kepala Tiger yang basah karena kucuran darah.


"Tiger, bangun, Sayang! Anak kita akan lahir. Apa kamu tidak ingin melihatnya? Apa kamu tidak ingin menemaniku untuk berjuang melahirkannya. Buka mata kamu, Tiger!" teriaknya dengan tangis yang memekik kuat sesekali meringis saat gelombang cinta di perutnya kembali terasa.


Jihan memeluk kepala itu, menekannya pada perutnya yang masih menegang dengan sangat kuat. "Ayo bangunlah! Anak kita sudah tidak sabar ingin bertemu kita! Bangun, Tiger! Jangan diam saja!" jeritnya lagi mengundang rasa iba orang-orang di sekitarnya.


Petugas ambulance yang datang buru-buru turun membawa brankar, mengangkat Tiger dan segera membawanya ke mobil. Jihan dan Rico ikut masuk ke dalam mobil bersirine kuat itu. Tiger segera mendapat pertolongan pertama.


Jihan masih menangis menggenggam jemari lebarnya. Sesekali ia memanggil-manggil pria itu, memaksanya untuk sekedar membuka mata. Sendirinya tengah melawan rasa sakit yang semakin kuat seolah ada sesuatu yang mendesak keluar melalui jalan lahirnya.


Namun Jihan terus mengatur napas, seperti yang ia pelajari selama ini. Banyak membaca, menonton segala hal berkaitan dengan kehamilan, juga mengikuti senam hamil membuatnya sedikit mengerti bagaimana menguasai rasa panik saat mengalami kontraksi.


Sepasang netra berwarna biru keabu-abuan itu mulai mengerjap dengan sangat pelan, alam bawah sadarnya terus memaksa untuk menyadarkannya. Tidak tahan mendengar isakan istri tercinta, sekuat tenaga Tiger berusaha untuk membuka mata. Bibirnya bergetar dan tampak hendak mengeluarkan kata-kata.


"Sa ... sayang!" panggil Tiger lemah dengan terbata-bata.


Samar-samar suara yang sangat ditunggu Jihan menelusup telinganya. Ia mengangkat kepala dengan cepat untuk menatap sang suami.


Jihan kembali menangis dan memeluknya erat. "Kamu harus bangun! Kamu harus menemaniku untuk berjuang, Tiger!" rintih Jihan mengarahkan tangannya pada perut buncitnya. "Lihatlah, dia sangat bersemangat ingin segera keluar. Kamu yang kuat ya, aku mohon!" serunya menatap sendu.

__ADS_1


Bibir pucat pria itu melebar membentuk senyuman. Ia mengangguk dan menggesek lembut telapak tangannya pada permukaan perut Jihan.


"Baby, kamu jangan bikin mama kesakitan. Jadilah anak yang baik, bantu mama ya, Nak. Anak papa kuat dan hebat," lirih Tiger dengan pelan, sesekali menghela napas panjang sembari memejamkan mata ketika nyeri di kepalanya semakin terasa.


"Semangat, Sayang. Kamu ... pasti bisa!" ucap Tiger mulai kesulitan berucap, menatap manik sendu istrinya.


Jihan mengangguk, menyeka air matanya dan juga mengurai senyum, "Kita akan berjuang bersama," gumam Jihan mencium telapak tangan Tiger.


Tak berapa lama, mereka sampai di rumah sakit. Rico segera memanggil petugas IGD menyiapkan brankar lagi untuk Jihan. Mereka masuk ke Instalasi Gawat Darurat bersamaan. Keduanya hanya dipisahkan oleh tirai saja.


Jihan mendesis bahkan sesekali mengejan kecil, karena dorongan alami dari bayinya. Seluruh tubuhnya terasa remuk redam. Ia bahkan tidak merasakan apa-apa saat ditusuk jarum infus dan diperiksa jalan lahirnya.


Setelah menjalani pemeriksaan oleh dokter kandungan, Jihan langsung dipindahkan ke ruang bersalin. Karena dokter menyatakan, wanita itu telah siap untuk melahirkan.


"Bawa ... saya ke samping Ji ... han!" ucap Tiger terbata mengangkat tangannya mengarah pada brankar Jihan.


"Tapi, Tuan! Anda harus segera ditangani!" elak dokter yang tengah memeriksanya.


"To ... long. Saya ingin menemaninya!" ucapnya di ambang batas kesadaran.


Dokter pun segera menemui Rico dan Bian sebagai penanggung jawab. Mereka yang mengurus semua berkas penanganan untuk tuan dan nyonya nya itu. Termasuk berkas terlambat penanganan pada Tiger.


Rico hanya saling pandang dengan Bian. Mereka tidak tahu harus berbuat apa. Ketakutan pun meliputi hati keduanya. Sebelum membubuhkan tanda tangan, Bian masuk menemui Tiger meminta izin untuk melakukannya.

__ADS_1


"La ... kukanlah! Cepat!" pinta Tiger mengedipkan mata sayunya.


Bersambung~


__ADS_2