
Setelah menghabiskan banyak waktu di taman istana, Yi Changyin kini menghabiskan waktunya di salah satu paviliun istana belakang. Paviliun Xiangguan, milik selir Yang.
Sedari tadi mereka hanya mengobrol hangat. Terutama Yang Qiujiu yang banyak menceritakan tentang masa kecil Xuan Chen. Mulai dari bawah sampai atas, ujung kiri sampai ujung kanan, badai sampai cerah.
Ya maksudnya wanita itu bercerita tentang senang sedihnya hidup bersama sang anak yang kekurangan di lingkungan kejam.
Awalnya sama dengan apa yang pernah diceritakan Xuan Yao bertahun-tahun lalu. Namun makin lama, haru, senang dan sedih datang silih berganti.
Namun percakapan terhenti ketika Yi Changyin memegangi tangan Yang Qiujiu. Saat jarinya tidak sengaja menyentuh cincin berwarna putih khas mutiara yang mengkilap.
"Ibu, dari mana kau mendapatkan cincin ini?" Tanya Yi Changyin merasa heran sambil menatap cincin cantik dengan satu batu permata di tengah-tengahnya.
Dan satu lagi, kini ia telah terbiasa memanggil selir kekaisaran itu dengan sebutan ibu. Karena Yang Qiujiu merasa tak nyaman dengan panggilan 'selir Yang' dari Yi Changyin.
Yang Qiujiu tersenyum menatap cincin yang tersemat di jari tengahnya. "Chen'er ku, siapa lagi?"
Membuat Yi Changyin mendongkak heran. Dari mana Xuan Chen bisa membawakan benda berharga ini untuk ibundanya?
"Kau pasti bingung kenapa dia bisa mendapatkan mutiara berharga yang sudah ditempa menjadi cincin ini bukan?" Tanya Yang Qiujiu seakan tahu yang ada di pikiran Yi Changyin. "Aku juga tidak tahu.."
"Apa ibu tidak tahu, betapa berharganya mutiara ini jika ditemukan di alam fana?" Ujar Yi Changyin masih menatap cincin itu.
Yang Qiujiu terlihat terkejut. "Benarkah? Lalu dimana Chen'er mendapatkan benda seperti ini?" Matanya berkilat panik.
Dan Yi Changyin menggenggam erat tangannya, berusaha menenangkan sang ibu mertua. "Ibu tenang saja, pangeran ketujuh tidak mungkin mencuri bukan?" Katanya berusaha meyakinkan.
"Karena menurut pengamatanku, mutiara bunga Peony ini tidak akan bisa ditemukan dengan mudah di alam fana." Tambahnya.
"Mutiara bunga Peony?" Yang Qiujiu bertambah heran.
Kemudian Yi Changyin berkata dalam hati, 'ya, jika Mu Dan menemukan ini di alam fana mungkin dia akan terkejut.' Namun di luar dia tersenyum manis.
"Lalu... Apakah di tempatmu terdapat banyak benda seperti ini?" Tanya Yang Qiujiu padanya.
Yi Changyin hanya menggeleng. "Mungkin alam langit tidak." Ia tak bisa membocorkan identitasnya sebagai Ratu alam peri untuk saat ini.
Karena jelas, mutiara bunga Peony hanya tumbuh di alam peri, tempat seribu dongeng. Tanaman itu akan tumbuh subur di bukit bunga. Dan akan mekar setiap lima tahun sekali beserta mutiara yang akan muncul tepat di atas mahkota bunganya.
"Ibu, kira-kira kapan Pangeran ketujuh memberikan hadiah ini padamu?" Yi Changyin akhirnya bertanya dengan harapan Yang Qiujiu dapat mengingatnya.
Wanita itu tampak berfikir sejenak. Sebelum akhirnya segera menjawab, "kurang lebih.. empat tahun lalu. Memangnya kenapa, Yin'er?"
Yi Changyin hanya menggeleng. "Tidak apa.. aku hanya memperkirakan kapan bunga itu akan mekar kembali. Karena itu hanya tumbuh bertahun-tahun sekali." Ia menjelaskan yang di angguki Yang Qiujiu.
'jika empat tahun lalu, maka satu tahun lagi entah kurang atau lebih bunga itu akan tumbuh kembali.' Pikir Yi Changyin.
Tak lama setelah itu, tiba-tiba seorang pelayan datang masuk ke dalam Paviliun. Dia memberi hormat singkat pada Yang Qiujiu dan Yi Changyin.
"Ada apa?" Tanya Yang Qiujiu pada pelayan itu.
"Jawab, nyonya. Pangeran ketujuh memanggil putri ketujuh untuk segera pulang ke rumahnya. Karena utusan alam langit telah datang."
'Apakah itu ayah Yi Wang?!' pikir Yi Changyin merasa terkejut.
.......
.......
.......
Yi Changyin pulang tergesa-gesa berlari ke rumah Xuan Chen. Setelah di antar oleh kereta kuda. Tapi untuk selanjutnya ia lebih memilih berlari untuk mempercepat perjalanan.
Namun baru saja setengah jalan, Xuan Chen sudah terlihat dan berlari ke arahnya.
__ADS_1
"Ada apa?!" Yi Changyin tampak panik ketika Xuan Chen memegangi pundaknya dengan ekspresi yang gelap.
"Xuan一!"
"Mengapa kau malah berlari?! Kau tidak ingat dengan apa yang ada dalam perutmu?!" Xuan Chen memarahinya.
Namun Yi Changyin hanya menghela nafas pasrah. "Baiklah, maafkan aku." Dengan kilat mata yang tidak sabaran, ia menatap Xuan Chen. "Apa yang terjadi?"
"Lain kali jangan berlari lagi, ya?" Xuan Chen malah memberinya nasihat.
Yi Changyin ingin marah karena pertanyaannya tidak terjawab langsung oleh Xuan Chen. Namun karena nasihat itu begitu lembut, Yi Changyin hanya bisa menahan nafasnya sambil tersenyum dan menganggukkan.
Setelah itu barulah Xuan Chen tersenyum dan menjawab pertanyaannya, "ayahmu mengutus seseorang untuk menjemput kita berdua. Setelah.. setelah.."
Kening Yi Changyin mengkerut karena Xuan Chen tampak ragu untuk melanjutkan kalimatnya. "Setelah?"
"Setelah aku menyuruh Yi Xuemei untuk jujur pada pihak klan rubah ekor sembilan."
Yi Changyin hanya terdiam. "Apakah ayah Yi Wang akan memarahi kita? Gumamnya.
Tapi Yi Changyin yang menyebut nama ayahnya secara langsung, membuat Xuan Chen memelototinya. "Kenapa kau menyebut nama ayahmu secara tidak langsung?!"
"Aku punya dua ayah dan takut tertukar saat menyebutnya." Salak Yi Changyin dengan cepat.
Xuan Chen menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Benar juga.."
Kemudian ia bertanya, "lalu.. apakah ayahmu yang pertama masih hidup?"
Benar, Xuan Chen tidak pernah tahu mengenai ayah Yi Changyin saat menjadi Bai Suyue. Sementara Yi Changyin tak pernah menceritakan hal itu sama sekali. Tidak pernah! Bahkan gadis itu baru mengingatnya sekarang.
Yi Changyin terdiam sesaat dengan ekspresi yang rumit. Sebelum akhirnya menjawab, "aku tidak tahu dimana dia."
Membuat kedua bola mata Xuan Chen membulat. "Apa?"
"Ayahku.. Shui Jifeng, adalah satu-satunya pendamping rahasia ibuku yang berasal dari klan Shui peri air, bercampur darah peri bunga ras mawar biru."
(Note : Wanghou secara istilah artinya Ratu. Dan pagoda Wanghou bisa di artikan "pagoda milik Ratu". Pagoda ini cuman karangan author kok)
"Tahu-tahu setelah ibu meninggal, ayahku pergi entah kemana. Yang kabarnya ayah dikirimkan ke suatu tempat untuk penyucian diri selama sisa hidupnya."
"Ada kabar lagi ayah sangatlah awet muda. Ia di berkahi hidup seperti itu dan menurun padaku." Tambahnya.
"Aku sangat ingin menemuinya, aku sangat merindukannya. Karena setiap kami bertemu di pagoda Ratu, ayahku selalu memanjakanku. Tidak seperti ibu yang selalu serius dalam hal apapun."
Kalimat-kalimat terakhir yang Yi Changyin ucapkan membuat Xuan Chen merasa sedih. Ternyata selama ini sosok terkuat di alam semesta ini sangat merindukan ayahnya.
"Pasti ayahmu bangga kau menjadi sosok terkuat di alam semesta."
Yi Changyin mengangguk-angguk sambil tersenyum. "Aku harap dia mendengarnya."
"Tapi.. apakah dia mendengar dirimu dan akan peri pernah musnah?"
Pertanyaannya membuat senyuman Yi Changyin menghilang. "Aku harap dia tidak mendengarnya."
Xuan Chen segera meraih tubuh Yi Changyin dan mendekapnya dalam kehangatan. Ia merasa tak tega karena kantung mata gadis itu sudah mulai memerah.
"Dia sangat menyukai warna biru." Jelas Yi Changyin sambil terisak. "Dia sangat menyukainya, karena memang itu adalah jenis ras aslinya."
"Dan sekarang, setelah kebangkitanku, Shen Lan yang selalu mengingatkan aku pada ayah. Dia mawar biru, sama seperti ayah.. tapi dia tidak tampan seperti ayah."
Entah kenapa Xuan Chen ingin tertawa. Namun di tahan sekuat mungkin karena ini bukan waktu yang tepat.
"Dia selalu memarahiku jika mendekati bahaya." Tiba-tiba tangisannya pecah. "Dia selalu melindungiku walaupun tak sering berjalan berdampingan."
__ADS_1
Xuan Chen semakin mengeratkan pelukannya ketika tangisan Yi Changyin semakin terdengar menyakitkan.
"Aku sangat merindukan ayah.. aku ingin menemuinya.."
"Maaf karena telah mengingatkanmu pada hal menyedihkan seperti ini." Gumam Xuan Chen lirih. Ia sendiri merasa bersalah dan ikut terlarut dalam kesedihan Yi Changyin.
Bai Suyue yang tidak bisa diremehkan oleh dunia, tidak ada bedanya dengan orang lain. Yang memiliki alasan untuk merenung, memiliki alasan untuk merindukan dan memiliki alasan untuk bersedih.
Nyatanya sekuat apapun dia, pasti akan memiliki latar belakang penuh air mata yang tak bisa ditebak. Entah itu dari keluarga, cinta atau persahabatan.
"Padahal.. ayahmu selama ini selalu berada di sisimu dan melindungimu, Bai Suyue."
Tanpa di sadari oleh mereka berdua, Shen Lan memperhatikan mereka dari kejauhan. Lalu menggumamkan kata-kata tadi dengan senyuman.
(Ada yang bisa menebak siapa ayah Bai Suyue?:v)
.......
.......
.......
"Xin'er, kau yakin?" Wajah Han Qiangshu tampak khawatir setelah mendengar pengajuan yang diinginkan Wen Yuexin.
Gadis itu mengangguk. "ini demi diriku sendiri dan rencana kita bersama, ibu."
'Dan dari rencana itu ada beberapa yang tidak bisa kujabarkan pada kalian berdua, ibu.. permaisuri.. maafkan aku.' Lanjutnya dalam hati.
"Aku yakin Wen Yuexin akan baik-baik saja, adik Han.." Jiang Jinwei berusaha meyakinkan Han Qiangshu.
Karena dia sangat setuju ketika Wen Yuexin mengatakan kalau gadis itu akan pergi berkultivasi terlebih dahulu sebelum melawan Yi Changyin. Dengan begitu, jika kekuatan mereka bertiga beserta pangeran mahkota dan pangeran ketiga disatukan, akan dahsyat bukan?
"Berapa bulan kau akan pergi?" Tanya Han Qiangshu pada Wen Yuexin.
Gadis itu tampak berfikir sesaat. Sebelum akhirnya menjawab, "sekitar lima bulan. Itu tidak akan lama, ibu." Wen Yuexin tersenyum.
Han Qiangshu akhirnya mengangguk-angguk sambil berusaha untuk bernafas lega. "Baiklah, aku mengizinkanmu."
"Terima kasih, ibu." Wen Yuexin masih tersenyum. Namun perlahan senyuman itu berubah menjadi jahat dan haus kemenangan.
.......
.......
.......
Setelah berlama-lama menenangkan diri akibat menangis, akhirnya Yi Changyin dan Xuan Chen pergi ke alam dengan penuh tekad dan keyakinan.
Pasalnya mereka tahu apa yang akan terjadi. Yang tak lain dan tak bukan adalah kemarahan Yi Wang.
Ketika mereka memasuki aula utama klan rubah, telah di sambut dengan wajah gelap Yi Wang yang duduk di kursi kepala keluarga. Dan Feng Chao yang berada di kursi sebelahnya. Kemudian Yi Xuemei dan Yi Huanfu yang berdiri di belakang ibunya. Lalu ada Qin Ruyi seorang yang duduk di salah satu kursi tamu berjejer.
(Masih ingatkan Feng Chao? Ibu tiri Yi Changyin. Ibu dari Yi Xuemei dan Yi Huanfu (anak tertua klan rubah). Feng Chao wanita yang tidak menyukai Yi Changyin dan ibunya (Qin Ruyi), harusnya masih ingat ya?)
Yi Changyin dan Xuan Chen memberi hormat singkat pada mereka semua, sebelum akhirnya Yi Wang telah angkat suara.
"Apakah kalian tahu apa perbuatan tak mendidik yang telah kalian lakukan?"
Begitu kata-kata Yi Wang menguar dengan dingin, Di atas sana Feng Chao terus menerus tersenyum miring. Berbanding terbalik dengan Qin Ruyi yang terlihat gelisah.
.......
.......
__ADS_1
.......
Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗