
Matahari sudah menyingsing ke arah barat dan Yi Changyin masih setia duduk di tepi kasur. Menatap kosong ke arah Xuan Chen yang masih pingsan. Yang sebenarnya telah ia beri obat tidur. Namun ada daun Qin menempel dileher sebelah kirinya.
"Dewa kegelapan kembali?" Shen Lan tiba-tiba datang dan bertanya dan mengambil kursi untuk didudukinya.
Yi Changyin tidak terkejut, dia masih menatap kosong tanpa menoleh. "Tapi kekuatannya belum kembali sepenuhnya." Dia tersenyum. "Masih ada kesempatan untuk menyingkirkannya."
Shen Lan hanya mengangguk-angguk. "Ada apa dengannya?" Dagunya mengarah pada Xuan Chen.
"Dewa kegelapan bilang, dia adalah Wu Yun." Jawabnya jujur. Tak menyembunyikan apapun.
Namun saat itu juga Wu Yun tertawa. "Apa? Aku tidak percaya!"
Yi Changyin ikut tersenyum. "Tapi itu mungkin saja."
Detik berikutnya Shen Lan menatap Yi Changyin dengan serius. "Bagaimana kalau benar? Apakah kau tetap akan menyembuhkannya?"
"Janji tidak bisa dilanggar." Jawabnya singkat.
"Kau masih menyayanginya?"
Pertanyaan Shen Lan kali ini membuat dia tertegun. Yi Changyin tertunduk dan merasa bingung dengan diri sendiri. Ketika bola racun tembus pandang di hatinya itu seperempatnya telah menghitam.
Yang artinya, perasaan benci, tidak suka, tidak rela dan kecewa perlahan muncul tanpa sadar. Dan dia tak berniat menjawab pertanyaan Shen Lan.
"Aku merasa masalah ini ada yang aneh." Ujar Yi Changyin mengalihkan topik.
"Apa itu?" Shen Lan merasa tertarik.
"Dewa kegelapan tidak mungkin bangkit semudah itu. Dan juga dia bilang tidak pernah pergi. Apa artinya itu? Apakah selama ini Wen Yuexin mengawasiku dengan ingatannya yang tak pernah hilang?"
"Bukan kau." Dagu Shen Lan kembali mengarah pada Xuan Chen. "Tapi dia."
Alis Yi Changyin merajut. "Kenapa dia?"
Shen Lan hanya terdiam, membiarkan Yi Changyin berfikir sendiri. Benar saja, dalam otaknya dia telah menemukan sesuatu.
"Apakah dari awal dia tidak pernah mati? Lalu mengetahui kalau Wu Yun adalah Xuan Chen?!"
Shen Lan mengangkat bahunya kurang mengerti dengan jelas.
"Tapi apa alasan dia membuntuti Wu Yun?" Gumam Yi Changyin. Otaknya mulai terasa panas.
Hening sesaat. Sebelum akhirnya Yi Changyin melanjutkan, "dan sepertinya.. seseorang telah membantu Dewa kegelapan bangkit. Kemudian pernikahan Gaoqing Dijun yang aneh, kabut di alam baka, tapi tidak terjadi apapun dengan formasinya."
"Feng'er pernah berkata formasi itu tidak akan terpasang jika tidak ada orang di dalamnya. Jadi tidak mungkin kalau Wei Qiao bisa kabur sedangkan formasi masih utuh." Dia masih bergumam. Kemudian mendesis.
"Apa yang mereka rencanakan? Semua ini seperti saling berhubungan"
Shen Lan juga berfikir. Merasa ini aneh. Tidak masuk akal. Seperti seseorang telah merencanakannya dengan apik. Dan tujuan mereka adalah hal besar.
Dalam pikiran Yi Changyin, hanya ada nama-nama orang terkait. Gaoqing Dijun.. Qi Xiangma.. Qi Zhongma.. Wei Qiao.. Wen Yuexin. Terus ia ulang-ulang dalam benaknya. Sampai ia menemukan titik terang.
"Tunggu!" Dia bahkan terperanjat kaget dengan pemikirannya sendiri. Shen Lan masih setia menunggunya kembali berbicara. "Apakah.."
"Ssss.." Tiba-tiba Xuan Chen mendesis, pertanda kesadarannya kembali bangun. Membuat Shen Lan cepat-cepat pamit kepada Yi Changyin dan pergi dari sana.
Suasana yang serius kini kembali berubah menjadi suram. Yi Changyin terdiam menatap Xuan Chen yang masih menggeliat kecil, seperti sedang bermimpi buruk.
Setelah menghilangkan jejak daun Qin di lehernya, ia berinisiatif untuk mengusap-usap kepala Xuan Chen dengan lembut. Dan Xuan Chen terbangun karenanya. Pria itu segera menggenggam erat tangan Yi Changyin dan berusaha terduduk.
"Apa yang terjadi?" Gumamnya dengan suara parau sambil memegangi perutnya. "Mengapa perutku sangat sakit seperti telah dihantam oleh sesuatu."
Kata-katanya itu membuat Yi Changyin tersenyum simpul. Karena bagaimanapun, dia lah yang menonjok perut Xuan hingga pingsan, demi kesejahteraan hatinya.
Namun senyuman itu menghilang ketika Xuan Chen mengangkat wajahnya untuk menatapnya. "Apakah kau baik-baik saja? Apakah Wen Yuexin melukaimu? Kenapa kau terlihat pucat?"
Yi Changyin berusaha tersenyum, walaupun terasa berat. "Aku baik-baik saja."
__ADS_1
Sejurus kemudian tubuh besar Xuan Chen mendekapnya. Membelai rambutnya lembut. Namun tak berhasil membuat hatinya melebur. Buktinya bola racun itu tak kunjung mengurangi warna hitam.
"Mulai sekarang jangan banyak memikirkan sesuatu, jangan membahayakan dirimu, beristirahat yang banyak. Ya?" Tutur Xuan Chen dengan lembut.
Yi Changyin hanya mengangguk lesu. Hal kecil yang membuat Xuan Chen tersenyum. Namun Yi Changyin masih memikirkan kejadian tadi.. di aula utama kediaman Adipati Zhaoyang.
Flashback On
Beberapa saat lalu di aula utama..
Tidak ada siapa-siapa di belakang, hanya ada Xuan Chen yang sedang terkapar di atas lantai. Jelas pria itu adalah sosok yang di maksud Dewa kegelapan dalam wujud Wen Yuexin.
Dia mungkin percaya. Namun belum bisa menerima kenyataan. Hingga hanya bisa mengatakan kalimat 'tidak mungkin' berkali-kali.
isi hati tak mungkin bisa membohongi. Buktinya bola racun yang tembus pandang itu sedikit menghitam.
Tawa Wen Yuexin kembali menggelegar. Wanita itu berdiri, melewati Yi Changyin yang masih mematung dengan perasaan yang campur aduk.
Yi Changyin melihatnya sendiri, Wen Yuexin berjongkok di hadapan Xuan Chen. Dan menepuk-nepuk punggungnya tiga kali.
"Bagaimana perasaanmu ketika kembali bertemu dengan musuh bebuyutanmu, Bai Suyue?" Ujar Wen Yuexin dengan nada yang arogan.
"Pergi dari sini!!" Hatinya menjadi emosional, Yi Changyin berteriak mengusir Wen Yuexin.
Namun wanita itu hanya tertawa nyaring, sambil mengusap-usap rambut Xuan Chen. Entah kenapa Yi Changyin tak menerima hal itu.
"Lepaskan dia dan pergi dari sini!" Teriaknya menggebu-gebu.
"Baiklah.. baiklah.. Ratu alam peri." Wen Yuexin berdiri. "Jaga Wu Yun baik-baik."
Yi Changyin hanya menatapnya tajam, ketika Wen Yuexin kembali melanjutkan, "Wu Yun, dia menolak melepaskanmu." Wen Yuexin tersenyum mengerikan. "Jadi jangan salahkan aku yang tidak akan pernah mundur."
Setelah itu dia menghilang dalam aura hitam.
Yi Changyin masih mematung di tempat. Pedang Bai Suyue masih berada di tangannya. Hatinya tiba-tiba terasa kosong, pikirannya terasa panas, tubuhnya terasa terjerembab masuk ke dalam jurang yang mengerikan. Ketika Xuan Chen sudah mulai sadar dan berdiri.
Ucapannya terpotong di udara ketika Yi Changyin mendorongnya ke belakang. Hingga punggungnya mencium tembok dengan keras.
Sejurus kemudian Xuan Chen terkejut ketika mendapati pedang ramping mengkilat itu berada di samping lehernya. Bahkan sampai menggores lehernya sedikit hingga menciptakan sungai darah yang kecil.
Dia menatap Yi Changyin dengan tatapan yang tidak percaya. "Yin'er?"
"Keluar kau!!" Teriaknya yang entah pada siapa. Xuan Chen tidak mengerti.
Tapi dia melihat jelas beban yang berada di pikiran Yi Changyin. Bahkan matanya sedang berkaca-kaca dan ekspresi yang penuh emosi.
"Jangan bersembunyi, keluarlah!" Kali ini suaranya terdengar lebih parau.
Berubah, aura di sana tiba-tiba berubah. Xuan Chen yang semula terdiam dengan ekspresi yang heran, kini tersenyum miring penuh minat.
"Siapa kau?" Tanyanya pada Yi Changyin. Namun saat melihat pedang yang masih berada di lehernya, dia kembali tersenyum.
"Bai Suyue, apa kabar?"
Yi Changyin masih menatapnya tajam. Ya, pria yang tersenyum simpul itu terlihat tampan. Namun dia bukan Xuan Chen... Tapi Wu Yun. Musuh bebuyutan yang paling dia benci.
Secepat kilat, Wu Yun menyingkirkan pedang yang berada di lehernya. Lalu menarik Yi Changyin ke dalam pelukannya, mendekap pinggangnya, menatapnya penuh minat. Meraih pipinya dan mengusapnya dengan lembut.
Yi Changyin hanya diam menatapnya tajam. Dia tak bisa menyerangnya, karena itu hanya akan melukai Xuan Chen.
Ya itulah Wu Yun. Prilakunya yang kadang seperti pria penggoda membuat sosok Bai Suyue semakin membencinya. Jika bertemu, kadang pria itu selalu bersikap tidak senonoh.
Menatap Bai Suyue seperti menatap pe la cur pribadinya. Memeluknya, bahkan pernah menciumnya paksa. Untung saja saat detik-detik terakhir berperang pria itu bersikap seperti petarung pada umumnya. Ya, mungkin demi kelangsungan hidup.
"Breng sek." Maki Yi Changyin dengan nada yang pelan.
Saat itu Wu Yun tertawa kecil. "Aku tidak pernah menyangka kalau kau akan akan menikah lalu mengandung anakku. Menyenangkan sekali." Nadanya terdengar mengejek.
__ADS_1
Yi Changyin mendengus. "Siapa bilang aku menikahi dan mengandung anakmu?"
Wu Yun mendecak. "Xuan Chen adalah aku, aku adalah Xuan Chen. Mengerti? Istriku?"
Yi Changyin menurunkan pandangannya. Apa yang di katakan Wu Yun mungkin benar. Tapi entah kenapa dia tidak bisa menyesal.
Namun sejurus kemudian ia dikejutkan dengan Wu Yun yang tiba-tiba merenggut bibirnya secara paksa. Menekannya dalam-dalam dan terus menjelajah tak bisa diam.
Sialnya lagi Yi Changyin tidak bisa melawan kekuatan sejati pria. Andai saja dia sudah mendapatkan kristal jiwa Bai Suyue yang terakhir. Mungkin jiwa Wu Yun sudah tercabik-cabik tanpa harus melukai Xuan Chen.
Yi Changyin hendak menyerangnya dengan energi spiritual. Namun Wu Yun menyadarinya dan segera menahannya. Pria itu terus menikmati tak peduli dengan Yi Changyin yang seperti cacing kepanasan.
Bahkan dia membalikan tubuh Yi Changyin, menyandarkannya pada tiang kemudian mendesak lagi. Kesempatan bagus, akhirnya Yi Changyin berhasil menghantam perut Wu Yun dengan tangannya. Hingga tubuhnya ambruk dan pingsan.
Kini kembali menjadi Xuan Chen. Yi Changyin menatapnya nanar. Dia mulai berjongkok di hadapan tubuh Xuan Chen dan menangis tersedu-sedu.
Hatinya sakit bak di robek-robek tanpa belas kasihan. Dia wanita yang tak bisa menahan tangisannya, dia lemah dalam hal perasaan. Menyaksikan takdir yang telah mempermainkannya, Yi Changyin teramat hancur.
Flashback Off
.......
.......
.......
Malam sudah menyapa, ia masih bersama Xuan Chen. Yang kini posisinya dalam keadaan berbaring. Mereka berdua tak tertidur, saling berkecamuk dengan pikiran masing-masing.
Wajah mereka saling berhadapan, begitu dekat. Tangan mereka saling menutupi pipi. Mata Xuan Chen menatap wajah Yi Changyin. Namun gadis itu menatap kebawah, tak menatapnya balik.
"Ada apa?" Tanya Xuan Chen ketika menyadari ekspresi Yi Changyin yang terlihat mendetita dan penuh beban.
Namun Yi Changyin hanya menggeleng sambil tersenyum manis. Ia berusaha melupakan kalau Xuan Chen dan Wu Yun adalah pria yang sama namun berbeda kehidupan.
Ia lebih memilih menenggelamkan wajahnya ke dalam dekapan Xuan Chen. Pria itu mencium puncak kepalanya dalam-dalam. Begitu lembut Xuan Chen. Membuat ia selalu ingin menangis jika mengingat kejadian siang tadi.
"Xuan Chen.." panggilnya.
"Jangan memanggilku dengan nama, baik?" Pinta Xuan Chen lembut tanpa pemaksaan.
Yang membuat Yi Changyin mengangguk. "Suamiku.." suaranya sangat pelan hingga membuat Xuan Chen terkekeh. Namun saat berbicara yang lain, suaranya tiba-tiba lebih tinggi, "beberapa Minggu lalu.. Yi Xuemei menemuiku dan mengatakan sesuatu tentang bayi kita."
"Apa itu?" Xuan Chen merasa tertarik.
"Yi Xuemei bilang.. anak kita adalah perempuan." Katanya dengan ekspresi yang mulai membaik.
"Dari mana dia tahu?" Tanya Xuan Chen merasa heran.
"Aku juga tidak tahu. Saat bertanya, dia hanya bilang itu adalah rahasia."
Nada Yi Changyin sangat lucu hingga membuat ia kembali tertawa.
"Tapi jika yang di lahirkan anak perempuan.. bolehkah aku yang menamainya?"
Xuan Chen mengangguk-angguk. "Terserah baiknya. Aku mengizikanmu. Nama apa yang kau pikirkan?"
"Aku ingin menamainya.. Xuan Jinmi." Jawab Yi Changyin sedikit malu-malu.
"Nama yang cantik." Pujinya. Sejurus kemudian, alis Xuan Chen berkedut, "tapi.. bukankah jika anak perempuan dari Ratu alam peri harus menggunakan marga ibunya?" Tanyanya heran. Karena memang itu adalah hukum alam peri yang hendak Yi Changyin langgar.
Yi Changyin tersenyum simpul. "Bagaimanapun kau adalah ayahnya. Sedangkan dalam waktu dekat aku akan memberikan tahtaku pada Yue Xingfei. Jadi, aku ingin semua anak perempuan yang kelak aku lahirkan, tetap diberi margamu sebagai ayahnya."
.......
.......
.......
__ADS_1
Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗