
Tak lama kemudian dia telah sampai menggunakan teleportasi. Berjalan sebentar hingga akhirnya sampai di depan gerbang akademi. Kedua penjaga disana tidak ada yang menyadari keberadaannya, dia tak terlihat.
Xuan Chen masuk dengan mudah dan tiba di halaman utama. Akademi tampak sepi, mungkin murid-murid sedang membaca di perpustakaan.
Dia berdiam sesaat di sana. Tubuhnya sudah di banjiri oleh keringat. Namun tiba-tiba dia terkejut melihat sosok berpakaian putih yang sama dengan tiga puluh tahun lalu.
Wanita itu tengah mengelap keringat di pelipisnya. Sambil memegang sapu dan menyapu halaman. Xuan Chen tertegun di tempat, dia melihat Yi Changyin lagi disini!
Saat Yi Changyin itu melihat ke arahnya, dia cemberut. "Xuan Chen! Mana makannya? Aku lapar!" Dia berkata dengan ketus sekaligus memelas.
Xuan Chen hanya tersenyum dengan mata yang memerah. Sekarang dia tak bisa menahan tubuhnya lagi untuk berlari dan memeluk Yi Changyin. Namun tiba-tiba pelukannya terasa kosong, dia tidak melihat Yi Changyin dimana-mana.
"Yin'er..." Panggilnya parau. Sambil memegangi dadanya yang berdenyut. Dia sadar kalau semua itu adalah palsu.
Namun tiba-tiba dia mengenyitkan dahinya saat merasakan sesuatu telah terinjak oleh kakinya. Xuan Chen segera menyingkir, dan tiba-tiba matanya terbelalak.
Sejurus kemudian dia tersenyum senang dan meraih benda yang penuh dengan aura Yi Changyin itu. Di tatapnya kristal jiwa Yi Changyin yang ketiga. Dia hampir menangis bahagia melihatnya.
Setelah pencarian selama tiga puluh tahun, akhirnya Xuan Chen menemukannya di sana. Walaupun hatinya sedikit bingung, merasa bertahun-tahun lalu dan berkali-kali dia pernah mengunjungi halaman ini tapi tidak ada apa-apa. Apakah... Kristal jiwa itu terbawa angin?
Sudahlah! Sekarang Xuan Chen lebih semangat lagi untuk mencari. Tidak ada waktu untuk memikirkan hal lain. Dia keluar akademi Tianjin dengan mudah. Kembali menyusuri hutan yang lebat, dia turun ke lembah.
Siapa tahu kristal jiwa itu terselip di antara bebatuan. Atau melihat bayangan Yi Changyin dan kristal jiwa itu ada.
Teringat beberapa bulan setelah kepergiannya, Yue Xingfei resmi menjadi Ratu alam peri. Beberapa tahun kemudian dia mendapati ayahnya, kaisar Xuan Zhen meninggal dunia.
Saat itu pula Xuan Yao menggantikan posisi ayahnya menjadi kaisar. Kabar baik lainnya, Xuan Rong kini berhasil menjadi jendral kultivator yang ditakuti musuh, gadis itu berkembang banyak.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, kabar ibunya yang meninggal pun terdengar. Dia hanya bisa menghadiri peristiwa itu sesaat, terkecuali pengangkatan Yue Xingfei menjadi Ratu. Ia tak mau saat melihat sikembar malah tak ingin pergi kemana-mana.
Dan sekarang, mungkin Xuan Yao sudah menjadi ayah dari banyak anak. Kabarnya dia tidak mengambil selir sama sekali. Hanya setia pada Yi Xuemei sekarang. Tapi di alam fana, Yi Xuemei dipanggil Permaisuri Wu Xuemei oleh semua orang.
Xuan Chen pernah melihatnya sekilas, adiknya itu sudah tua dan bertumbuh kumis. Umurnya mencapai kepala empat. Dia merasa konyol saat mendapati wajah sendiri yang jauh lebih muda dari adiknya sendiri.
Adapun sikembar, mereka belum tumbuh besar. Hanya sudah bisa duduk sendiri dan berbicara tak jelas. Hua Mu Dan sering datang mencarinya dan menceritakan tentang sikembar.
Memikirkan hal itu tak terasa bahwa kakinya telah membawa dia ke hutan bambu. Hutan itu masih sama seperti sebelumnya. Tanpa ragu Xuan Chen pun masuk ke dalam.
Kadang kali Xuan Chen menemukan binatang roh yang akan menyerangnya. Namun saat melihat pelototan Xuan Chen, mereka semua langsung kabur.
Tak lama kemudian, dia sampai di lapangan luas tengah-tengah hutan bambu. Keadaannya sedikit menyempit, mengingat banyak bambu liar yang bertumbuhan di sana.
Xuan Chen melamun sebentar. Ini adalah tempat pertama ia dan Yi Changyin menyembah langit dan bumi, resmi menjadi suami istri secara sembunyi-sembunyi. Mengingatnya membuat ia tersenyum-senyum sendiri.
Namun tiba-tiba dia melihat bayangan seseorang yang sedang berlatih pedang. Lagi-lagi Xuan Chen dibuat terkejut. Itu adalah Yi Changyin! Berpakaian seperti seorang pria dan sedang berlatih pedang.
Tiba-tiba saja gadis itu berhenti dan menyeka keringatnya. Dia menoleh ke arah Xuan Chen dan tersenyum. Xuan Chen hanya berfikir, ini bukan mimpi kan?
"A Chen aku haus, tolong bawahan aku minum!" Dia memberi perintah sambil mengipas-ngipas wajahnya.
Mata Xuan Chen berkaca-kaca. Tapi belum sempat senyumannya penuh, Yi Changyin sudah menghilang di sana. Membuat senyuman itu berubah menjadi kesedihan. Berkali-kali dia telah dipukul oleh kenyataan.
Dengan langkah yang agak berat, Xuan Chen menghampiri tempat dimana Yi Changyin tadi berdiri. Dia berjongkok dan mengusap-usap tanah yang dipijaki bayangan Yi Changyin.
Benar saja, ada benda mengkilau di sana. Xuan Chen segera meraihnya dengan senyuman. Dia berhasil lagi. Tak bisa menahan senyuman dengan air mata.
__ADS_1
Setelah itu ia terus mencari ke berbagai penjuru. Berkali-kali ke tempat yang sama, khawatir di sana ada yang berubah. Namun nyatanya Xuan Chen tak membuahkan hasil.
Hingga enam puluh tahun kemudian, Xuan Chen belum menemukan sisanya. Kini dia sedang beristirahat di kediaman Adipati Zhaoyang yang dulu. Setelah menghadiri pemakaman adiknya, Xuan Yao.
Waktu berjalan cepat, tak di sangka Xuan Yao sudah tua dan menjemput ajalnya dengan tenang, umurnya sudah seratus tahun lebih.
Beberapa sebelumnya, Xuan Rong yang terlebih dahulu meninggalkan dunia. Sungguh disayangkan, w anita itu tidak menikah sampai akhir hayatnya.
Sementara Yi Xuemei memilih untuk kembali ke alam langit. Seraya mengawasi anak-anaknya bersama Xuan Yao yang berada di alam fana secara sembunyi-sembunyi.
Saat sedang melamun, tiba-tiba dia menangkap bayangan seorang wanita lagi. Seseorang yang berpakaian serba putih tengah berlari di lorong sebrang. Wajahnya sangat dikenali oleh Xuan Chen, hingga dia langsung mengejarnya.
(Btw, kalo author ada di posisi kayak Xuan Chen. Ke rumah kosong terus liat bayangan berbaju putih kayaknya langsung kabur, bukan dikejar)
Wanita itu berbaju putih dan rambut panjang itu tak berhenti berlari. Sesekali dia melirik kebelakang dan tersenyum ke arah Xuan Chen. Ketika pria itu benar-benar melihat wajah Yi Changyin, larinya semakin bertambah cepat.
Saat mencapai jalan buntu, Yi Changyin berhenti dan berbalik ke arah Xuan Chen yang mengejarnya. Pria itu senang karena Yi Changyin tersudutkan. Namun saat hendak menyekapnya, Yi Changyin langsung menghilang dari sana.
Tubuh Xuan Chen kaku seketika. Dia baru sadar, kalau bayangan tadi hanyalah bayangan. Xuan Chen mundur beberapa langkah, tubuhnya merasa lemas.
Namun ketika melihat benda berkilau di lantai dekat tembok, Xuan Chen segera meraihnya dengan cepat, memeriksa auranya dengan benar, dan jelas bahwa itu adalah kristal jiwa Yi Changyin yang kelima.
Xuan Chen tersenyum senang, dia segera menempatkannya bersama yang lain. Sebelum pergi dari sana, dia pun sempat berfikir sesuatu. Jika ketiganya lagi ditemukan olehnya, bukankah pencarian Feng'er dan Heilong akan sia-sia? Tidak, setidaknya mereka sudah berusaha yang terbaik.
.......
.............
__ADS_1
.............
Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗