The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab LXXXV - Qiao Jirong dan Kembalinya Alam Peri


__ADS_3

Xuan Chen menunjuk dirinya sendiri dengan bangga. "Aku?"


Yue Xingfei mengangguk-angguk. "Benar sekali.."


Kemudian Xuan Chen melirik Hua Mu Dan. Pandangan wanita itu terlihat menerawang. "Saat itu Ratu berubah menjadi orang yang serius, harinya sangat suram. Namun jika sendiri berada di ruang kerjanya, akan terlihat seperti seseorang yang penuh beban."


Xuan Chen termenung sesaat. Kemudian memutuskan bertanya, "apakah kau tau apa yang dia pikirkan saat itu?"


"Sampai kapan kalian akan membicarakanku dari belakang? Kalian pikir aku tidak mendengarnya?"


Mereka semua terkejut ketika Yi Changyin tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Yi Changyin telah sukses memergoki mereka yang sedang membicarakannya.


"Bagaimana.. bibi bisa mendengarnya? Bukankah.. kemampuan itu hanya akan di dapat jika seluruh kekuatanmu sudah kembali?" Tanya Yue Xingfei terlihat heran.


Yi Changyin menghela nafas. "Aku bahkan bisa membangkitkan diriku kapan saja."


"Ayo kita pergi, waktu kita tidak banyak!" Tambahnya sambil menarik tangan Xuan Chen pergi dari mereka berlima.


Sementara itu Xuan Chen menoleh kebelakang dan berkata tanpa bersuara, "aku ingin mendengarnya lagi nanti."


Yang disambut anggukan cepat oleh kelimanya sambil tersenyum menahan tawa.


"Kau pikir aku tidak menyadarinya?" Tanya Yi Changyin dengan ketus dan membuat Xuan Chen terkejut.


"Tidak.. aku hanya mengucapkan selamat tinggal untuk mereka."


"Kau pikir aku percaya?"


"Tentu saja.. bukankah kau percaya padaku?"


"Kau?!"


.......


.......


.......


Seorang wanita terkapar lemah dalam keadaan menelungkup. Di atas semak-semak rumput tengah hutan yang setinggi lutut. Tubuhnya sangat kotor dengan rambut yang acak-acakan.


Seperti seseorang yang telah selamat dari bencana.


"Junzhu.. Junzhu.."


Sementara sebuah suara menggema memanggilnya dengan nada yang terdengar khawatir. Membuat kesadarannya sedikit tertarik dan tangannya perlahan-lahan tergerak.


"Junzhu.. Junzhu.."


Seseorang itu kembali bersuara seraya memohon gadis yang tak sadarkan diri itu segera bangun.


"Aku baik baik saja.." Tiba-tiba wanita itu bersuara serak. Bukan khas orang yang bangun tidur. Namun seperti seseorang yang sedang menahan lukanya.


"Junzhu, apa yang terjadi padamu?!" Tanya Xueqi lagi masih terdengar menggema. Ia sangat khawatir karena majikannya tak kunjung mengeluarkannya dari liontin spiritual.


Bahkan semalaman ia tidak bisa menghubungi majikannya, apalagi keluar dari sana. Terjebak semalaman menunggu sang majikan, membuat ia tak bisa tidur sama sekali.


Dan baru pagi ini ia mendapati suara Wen Yuexin yang seperti terbangun dari pingsan karena luka sehabis bertempur. Bagaimana ia tidak khawatir?!


"Sudah kubilang aku baik-baik saja.." Jawab Wen Yuexin yang suaranya lebih baik dari sebelumnya. Ia sedang berusaha mendudukan diri dengan susah payah.


"Junzhu.. sepertinya kau terluka?" Xueqi kembali berbicara. "Apakah kau sudah menemui pangeran ketujuh?"


Pertanyaan kali ini membuat ia mengangkat pandangannya. Wajahnya yang acak-acakan terlihat semakin jelas.


Namun karena pertanyaan Xueqi, matanya terlihat tajam dan diselubungi emosi.


"Junzhu?"


Nafas Wen Yuexin memburu. Ia sudah tak tahan dengan emosinya lagi.


"Jun一!"

__ADS_1


Wen Yuexin menebas udara kosong hingga komunikasi mereka terputus. Xueqi yang berada di dalam hanya bisa panik.


Sedangkan Wen Yuexin masih di selubungi emosi demi pikirannya terus mengingat apa yang terjadi semalam.


Dengan perasaan senang ia meninggalkan istana, daratan timur, demi bertemu dambaan hatinya. Namun ketika sampai di gunung Tianjin, dia malah menyaksikan sesuatu yang sama sekali tidak ingin dia lihat.


Melihat sang pangeran ketujuh dambaan hatinya menyentuh wanita lain dengan mesra dan penuh kasih sayang. Bahkan ternyata wanita itu bukan wanita lain.. melainkan sosok yang dia kenal sekaligus benci tiga tahun lalu.


"Kupikir rubah ja lang ini sudah menyerah pada pangeran ketujuh!" Teriaknya sambil memukul udara kosong, yang membuat gelombang hitam disekitarnya.


"Dasar ja lang!! Awas saja jika masih berani menampakkan wajah burukmu di kekaisaran Xuan!!" Wen Yuexin terus menggila.


"Aku akan membunuhmu!!"


"AAAAAA!!!" Wen Yuexin menangis namun dipenuhi emosi. "Kakak Xuan Chen mengapa kau minat dengan wanita yang semacam itu?!'


"Tidak ada gunanya membunuh Yi Changyin.." Tiba-tiba suara lain menyahuti. Suara itu sangat lembut seperti seseorang cantik tengah berbicara.


Membuat Wen Yuexin waspada. Dia menoleh kesana kemari demi melihat siapapun yang terlihat. Namun tidak ada apa-apa. Hanya pohon-pohon tinggi saja yang terlihat.


"Kau mencari siapa? Aku disini.."


Wanita itu kembali bersuara. Membuat Wen Yuexin menoleh ke arah depan. Nampaklah seorang wanita cantik dan anggun berdiri di hadapannya. Dengan pakaian khas alam langit lengkap dengan aura sucinya.


"Siapa kau?!" Tanya Wen Yuexin dengan tatapan nyalang. Dia tak mempercayai siapapun saat ini.


"Aku Qiao Jirong, calon permaisuri Gaoqing Dijun.." aku wanita itu dengan bangga.


(Ingat Qiao Jirong di chapter sebelum ini? Ya, yang pernah dibahas Gaoqing Dijun di hadapan kakek bulan dan di dengar oleh Hua Mu Dan)


Mata Wen Yuexin membulat. Dia menundukkan kepalanya. Memang benar, aura ini tidak biasa. Setelah berfikir sesaat, akhirnya ia mendongkak.


"Apakah kau bisa menyingkirkannya?" Tanyanya tanpa malu dengan secercah harapan.


"Tentu saja bisa.." Sahut Qiao Jirong bangga.


Tapi membuat kening Wen Yuexin mengkerut. "Tapi kau adalah calon Permaisuri Gaoqing Dijun. Atas dasar apa kau ingin membantuku? Apa maumu?" Tanyanya dengan tatapan yang menyelidik.


Tapi membuat wanita yang cantik untuk kalangan orang dewasa itu tertawa. "Ternyata kau cukup pintar."


"Sebenarnya aku juga punya dendam besar pada gadis itu."


Kata-katanya menarik Wen Yuexin untuk mendongkak dengan ekspresi yang sumringah.


"Jadi.. beritahu aku mengapa dia bisa mendapatkan luka cambukan siluman. Maka dengan ini.. dia akan mudah dihancurkan." Jelasnya dengan kilatan jahat dalam mata Qiao Jirong.


Hal itu membuat Wen Yuexin tersenyum miring. "Aku percaya padamu.. karena aura yang ada padamu tidak biasa. Jadi, aku akan memberi tahu semuanya.'


.......


.......


.......


Rombongan Yi Changyin memasuki gua yang pernah dia datangi sebelumnya. Ketika mengejar kakak Xiaobai saat masih menjadi siluman.


Ketika berada di dalam gua yang gelap, Yi Changyin tersenyum karena dapat merasakan aura dari alam peri. Kemudian memegang tangan Xuan Chen.


"Pejamkan matamu."


Xuan Chen menurut. Namun ketika ia kembali membuka matanya. Pandangan gelap gua misterius itu berubah menjadi pemandangan tanah kering tanpa rumput. Yang membentang tanpa cembung dan cekung. Dengan langit merah seperti berdarah, juga matahari yang terasa sangat terik. Padahal ini musim semi.


"Seperti yang di gambarkan nona Xiaoxuan." Gumam Xuan Chen.


Namun sejurus kemudian ia terkejut demi merasakan Feng'er dan Heilong keluar secara tiba-tiba. Hal itu tentu saja sukses membuat ia seperti berputar-putar.


"Ibunda, apakah butuh bantuanku?" Tanya mereka dengan riang.


Namun malah mendapatkan pukulan di kepala mereka berdua oleh Yi Changyin. Membuat mereka mengaduh sakit dan kelima peri di belakang Yi Changyin tersenyum menahan tawanya.


"Jika hendak keluar beri aba-aba dulu padanya!" Yi Changyin menunjuk pada Xuan Chen yang masih merasakan pusing. "Lihat dia? Karena ulah kalian! Dasar!" Yi Changyin hendak memukul kepalanya lagi, namun mereka keburu menghindar.

__ADS_1


Namun saat itu, Hua Mu Dan menghampiri mereka dengan wajah yang penuh tanda tanya. "Kenapa mereka.."


Jelas Hua Mu Dan heran melihat Feng'er dan Heilong keluar dari tubuh Xuan Chen.


"Ceritanya panjang." Ujar Yi Changyin, Feng'er dan Heilong secara bersamaan.


Membuat Hua Mu Dan menghela nafas pasrah.


"Baiklah, sekarang kita hanya perlu mengembalikan alam peri. Kekuatanku yang terpendam lama tidak akan bisa mengembalikannya dengan benar." Yi Changyin memberi intruksi.


""Yue Xingfei, Feng'er dan Heilong lindungi Xuan Chen dari perubahan sesaat aura yang akan sangat menekan ini." Tambahnya yang disetujui oleh ketika orang itu.


Sementara Yue Xingfei dan kedua binatang ilahi membentuk perisai pelindung, Yi Changyin dan yang lainnya membentuk barisan formasi.


Dengan Yi Changyin yang berada paling depan, barisan kedua Hua Mu Dan dan Shui Ning, lalu barisan belakang Hu Diejing dan Lian Qingran. Mereka berbaris membentuk piramid.


Hu Diejing dan Lian Qingran mulai menyuntikkan energi spiritual pada masing-masing yang berada di depan mereka. Sementara Hua Mu Dan dan Shui Ning menyuntikkan energi spiritual putih perak itu ke arah Yi Changyin.


Membuat gadis itu sedikit melayang ke udara dengan cahaya putih yang menyelubunginya. Membuat hembusan angin kencang disekitarnya, hingga tanah ikut beterbangan.


Terkecuali yang berada di dalam perisai tidak terkena apapun.


Yang berada di luar, harus fokus sambil menahan badai yang datang tiba-tiba. Karena jika lengah, energi spiritual yang mereka suntikan akan terputus. Hal itu bisa saja membuat Yi Changyin terluka.


Setelah banyak energi spiritual yang terkumpul di tubuhnya. Tangan mungil Yi Changyin mulai bergerak apik dan teratur. Kemudian ia arahkan pada matahari yang bersinar terik di atas mereka.


Cahaya matahari itu semakin bersinar terang membuat semua orang harus menghalangi pandangannya. Terutama yang berada dalam susunan formasi, harus tetap fokus.


Setelah kembali meredup, perubahan tiba-tiba terjadi di sekitarnya. Tanah yang kering dan tandus tiba-tiba berubah menjadi padang rumput yang hijau. Di kelilingi oleh bukit-bukit indah yang menjulang.


Cahaya matahari tetap bersinar namun tidak terlalu terik. Bahkan nyaris hanya menghangatkan karena udaranya sangat sejuk.


Banyak kupu-kupu dan capung yang beterbangan di sekitarnya. Bunga-bunga kecil yang tumbuh juga kolam-kolam kecil. Ladang kecil yang dikelilingi bukit itu tampak hidup.


Xuan Chen masih melihat-lihat sekitar ketika tangan Yi Changyin menariknya. "Ayo! Ku perlihatkan lima bagian alam peri!"


.......


.......


.......


Pemandangan yang pertama kali lihat setelah memejamkan mata sangat menakjubkan. Dimana air terjun besar yang mengalir deras dari tebing tinggi.


Di sisi kanan dan kiri, masih ada air terjun yang keluar dari batu berbentuk mulut naga. Dan saat ini, Yi Changyin dan Xuan Chen sedang berada di atas awan.


Sungainya mengalir deras di bawah jurang yang tak terlalu dalam. Yang disisinya masih terdapat Paviliun-paviliun tempat tinggal dan juga pagoda.


Lalu ada jembatan melengkung dimana-mana yang menghubungkan dua tempat yang terpisah sungai itu.


Di tempat yang lebih tinggi, terdapat dua pagoda yang bersebrangan. Dan di hubungkan oleh jembatan melengkung. Terlihat sangat indah.


"Pagoda yang di atas itu adalah istana bulan." Ujar Yi Changyin menunjuk pada Pagoda dalam posisi tertinggi dan terbesar yang dia lihat.


Sementara di bawahnya, masih ada sederetan rumah-rumah kecil yang dipenuhi dengan lalu lalang orang-orang. Persis seperti pasar.


"Itu memang pasar, kau mau melihat-lihat?" Tanya Yi Changyin padanya.


Xuan Chen hendak menoleh dan menjawab. Namun tiba-tiba terhenti karena teriakan Yi Changyin.


"Eh! Awas!!"


.......


.......


.......


Visual Qiao Jirong👇


__ADS_1


Kenapa di kasih visual? Ya karena orang ini adalah penting bagi dunia antagonis. Hehe:v


Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉


__ADS_2