The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab XCII - Upacara Penghormatan Terakhir


__ADS_3

"Mengapa kau malah tertawa?!" Xuan Chen bertanya dengan kesal.


Yi Changyin menghela nafas secara memotong tawanya. "Aku hanya menertawakan kau yang bertingkah seperti kucing."


"Apa katamu?" Xuan Chen menatapnya tidak mengerti. Semakin kesini, gadis itu semakin sering mempermainkannya.


"Kau seperti kucing yang selalu bertingkah penasaran. Bukankah kucing adalah hewan yang paling penasaran di dunia ini?" Jeda Yi Changyin sambil berdecak berkali-kali.


"Apa salahnya bertanya? Aku hanya ingin tahu yang terjadi hari itu!" Xuan Chen terus mendesak. "Apakah kau menyembuhkan sesuatu dariku, Yi Changyin?"


Yi Changyin hanya terdiam dan berkutik.


"Yin'er.." Panggil Xuan Chen lagi.


"Xuan Chen.. entah kenapa aku ingin memakan buah anggur." Gerutu Yi Changyin dengan wajah yang memelas.


Namun kini giliran Xuan Chen yang diam tak berkutik. Hanya menatap Yi Changyin dengan ekspresi yang sungguh tidak bisa di deskripsikan.


"Hei.." Yi Changyin menyenggol tangannya. Namun Xuan Chen tetap diam menatapnya.


"Xuan Chen.."


Karena Xuan Chen terus terdiam, Yi Changyin berinisiatif untuk mendekatkan wajahnya sambil tersenyum manis. "Suamiku tersayang..." Godanya.


Namun Xuan Chen masih bergeming. Membuat senyumannya hilang. Yi Changyin memberenggut kesal.


"Ada hantu di belakangmu!!" Teriak Yi Changyin tiba-tiba. Yang sukses membuat Xuan Chen terperanjat kaget dan mulai bersembunyi di belakang punggungnya. Namun nyatanya tidak ada hantu disana.


Yi Changyin tersenyum penuh kemenangan sambil berbalik untuk menatapnya. "Ambilkan aku anggur."


"Tidak! Ini adalah alasanmu untuk mengalihkan topik. Setiap aku bertanya kau selalu meminta sesuatu dariku. Benar bukan?! Mulai dari ingin mangga, buah persik, bakpao, dimsum, mie, pangsit daaaaan sebagainya." Gerutu Xuan Chen panjang lebar.


Namun sejurus kemudian ia menatap Yi Changyin iba, karena kini gadis itu tengah berkaca-kaca. Membuat ia memijit keningnya frustasi. Setelah itu menatap Yi Changyin dengan senyuman terpaksa.


"Baiklah.. aku akan mengambilkanmu buah anggur setelah kembali ke akademi."


Akhirnya Xuan Chen menyerah dan membuat Yi Changyin berseru riang. Dia segera mengeluarkan liontin spiritual di tangannya.


"Masuk kemari, aku akan membawamu kembali."


Xuan Chen mengelus pipinya sambil tersenyum simpul. "Baiklah.."


Setelah Xuan Chen memasuki liontin spiritual. Yi Changyin tidak langsung mengepakan sayapnya dan pergi dari sana. Ia masih termenung dengan ekspresi yang rumit.


'Entahlah Xuan Chen, akupun tidak tahu mengapa begitu menginginkan itu semua.' pikirnya merasa heran sendiri


Kemudian ingatannya singgah pada waktu tiga bulan lalu. Waktu yang selalu Xuan Chen pertanyakan tanpa lelah. Ketika ia melemparkan topeng hitam hingga terbakar oleh api murninya.


Dia sungguh tak menyangka, bayangan Wu Yun akan ada pada wajah Xuan Chen saat mengenakan topeng. Dan saat itu pula racun yang ditanam seseorang mulai bereaksi.


Ia mencoba melupakan hal itu secara perlahan agar kejadian tiga bulan lalu tidak terulang lagi. Ya, ketika ia racunnya kambuh di hadapan Xuan Chen.


Yi Changyin pun harus merahasiakan perbuatannya pada Xuan Chen. Karena racun alam peri telah ia hisap dari tubuhnya sampai habis. Jika Xuan Chen tahu, dia takut pria itu akan merebut kembali racunnya.


Sudahlah, Yi Changyin segera menepis ingatan itu. Ia mulai melesat dengan wujud elang putihnya. Kembali menuju akademi untuk pesta perpisahan. Sebelum akhirnya besok berpulang ke daerah masing-masing.


.......


.......


.......


Keesokan harinya semua orang berkumpul tepat di depan gerbang akademi Tianjin. Seragam serba putih rata tak ada warna lain. Membawa masing-masing pedang yang pernah diberikan para guru sebagai hadiah.


Ya terkecuali Yi Changyin yang dengan bangganya membawa pedang pusaka Bai Suyue. Karena bagaimanapun pedang itu ia dapatkan kembali di gunung Tianjin.


Mereka semua bak titik-titik putih yang berbaris rapi jika terlihat dari atas. Yang di barisan terdepan terdapat Shen Lan dan Yi Xuemei untuk memimpin.

__ADS_1


Lalu para jajaran para guru dan tetua di hadapannya mereka semua.


Shen Lan dan Yi Xuemei yang pertama kali memegang pedangnya tepat di depan dada.


Saat itu terlebih dahulu Shen Lan yang membuka suara mewakili semuanya, "Guru dan tetua, kami ucapkan terimakasih karena telah membuat kami pulang dengan segudang ilmu. Yang membuat perjalanan kami kemari tidaklah sia-sia."


Kemudian Yi Xuemei melanjutkan. "Kami terima ilmu dan senjata yang pernah kalian berikan. Berjanji akan menggunakannya untuk kebaikan dan membantu setiap orang yang membutuhkan."


Kemudian mereka semua memberikan salam penghormatan yang terakhir. Dengan pedang yang masih di tangan mereka, namun diletakkan di sampingnya.


Setelah upacara penghormatan terakhir, semua orang bebas melakukan apapun di sana. Entah itu langsung memulangkan diri atau berbincang terlebih dahulu sebelum berpisah yang mungkin tidak akan bertemu kembali.


Termasuk Yi Changyin yang secara khusus dipanggil oleh guru muda Yu Qinghan. Dengan Xuan Chen yang terus menghalangi jalannya, Yi Changyin akhirnya bisa menemui guru muda itu. Dengan alasan kalau ini hanyalah pertemuan biasa.


Memang benar. Sejak kapan Yi Changyin berniat untuk bertingkah macam-macam?


Yu Qinghan tampak sedang menunggunya sambil menatap perkebunan akademi Tianjin yang menghampar luas. Pria itu menoleh ketika Yi Changyin tiba di sana.


Dan entah kenapa gadis itu tidak mau bersikap sungkan dan malah menghampirinya dengan wajah yang acuh.


"Ada apa kau memanggilku kemari?" Tanya Yi Changyin sedikit menunjukkan aura seorang Ratu.


"Mungkin ini terakhir kalinya aku bertemu denganmu. Jadi..."


Ucapannya terpotong di udara ketika Yi Changyin kembali berbicara.


"Bisakah langsung pada intinya? Aku.. sedang terburu-buru." Yi Changyin masih terlihat sopan walaupun sebenarnya kata-kata itu tidaklah sopan.


"Oh, baiklah.."


Sejurus kemudian Yu Qinghan merogoh sesuatu di dalam kantung jubahnya. Lalu menyodorkan benda itu pada Yi Changyin.


Itu hanyalah token yang terbuat dari kayu. Dengan ukiran matahari di tengahnya. Kayu itu berbentuk oval dan begitu sederhana. Tidak begitu mencolok ataupun menarik perhatian.


Yi Changyin mengangkat sebelah alisnya. "Token elemen?"


Yu Qinghan mengangguk-angguk senang. "Benar, Ratu sepertimu memang tau banyak."


Tanpa basa basi Yi Changyin segera merebut token elemen itu dari tangan Yu Qinghan. "Baiklah. Bagaimanapun juga aku tidak pernah menyia-nyiakan kebaikan orang lain." Yi Changyin tersenyum. "Aku terima ini, terima kasih.."


"Sama-sama.." Jawabnya dengan senyuman, bersamaan dengan Yi Changyin yang melesat pergi dalam wujud cahaya.


Sementara Yu Qinghan hanya terdiam sambil tersenyum menatap kepergiannya. Seakan tidak peduli dengan sikap acuh Yi Changyin kepadanya.


.......


.......


.......


Begitu Yi Changyin sampai di tempat dimana Xuan Chen berada, ia dikejutkan dengan tangan yang tiba-tiba menyeret telinganya.


Pria itu membawanya ke bawah pohon dan menghalangi jalan pergi dengan kedua tangannya. Sementara mata mereka berdua masih bertautan.


"Apa yang dia katakan?" Tanya Xuan Chen dengan ketus. Dan sepertinya sedari tadi pria itu masih setia menunggunya kembali.


"Tidak ada.." Jawab Yi Changyin seadanya.


"Apa dia menyentuhmu?"


"Tidak."


Tiba-tiba wajahnya mendekat. "Apa dia bertingkah macam-macam?"


"Tidak juga."


"Apa yang dia berikan?"

__ADS_1


Yi Changyin menunjukan token kayu di tangannya. "Hanya ini."


"Biar aku yang pegang." Xuan Chen merebut token itu dari tangannya.


Membuat Yi Changyin terbelalak dan berusaha merebutnya kembali. Namun token yang berada di tangan Xuan Chen itu begitu jauh dari jangkauan Yi Changyin. Hingga ia harus berjinjit demi meraihnya.


Akhirnya Yi Changyin menyerah dan memukul dadanya. "Itu untukku, dan artinya token itu milikku!" Salak Yi Changyin tidak terima.


"Biar aku yang simpan." Xuan Chen tetap kukuh pada keinginannya. Lalu melemparkan token itu ke dalam ruang dimensi spiritual.


Yi Changyin hanya memberenggut kesal sambil menyedekapkan kedua tangannya di dada. Dia menatap Xuan Chen dengan kesal, sementara Xuan Chen menatapnya dengan senyuman.


Lama sekali mereka saling bersitatap dengan ekspresi yang bertolak belakang.


Namun pada akhirnya Yi Changyin mendecih dan bergegas pergi. Namun tangan Xuan Chen membentuk palang di depan dadanya, hingga terpaksa Yi Changyin menghentikan langkahnya.


"Mau kemana?" Tanya Xuan Chen bagai tak rela gadis itu kembali pergi.


Yi Changyin hanya tersenyum kemudian menoleh ke arahnya. "Ada seseorang yang harus kutemui."


"Siapa?" Tatapan Xuan Chen tampak menyelidik. "Laki-laki atau perempuan? Ada keperluan apa kau menemuinya?"


"Dia laki-laki, sangat tampan." Jawabnya dengan nada yang memancing keributan. "Lebih tampan darimu, sangat mempesona. Dan aku menemuinya untuk sesuatu yang rahasia."


Sejurus kemudian Yi Changyin menjulurkan lidahnya dan melangkah pergi. Sebelum akhirnya terhenti kembali karena cengkraman tangan Xuan Chen yang menariknya kembali.


Tidak semudah itu untuk tertangkap, dengan sigap Yi Changyin menampar Xuan Chen hingga terpelanting. Kemudian setelah itu ia kabur dengan langkah yang tergesa-gesa.


Xuan Chen hanya tergelak sambil memegangi sebelah pipinya yang memerah dan menatap punggung Yi Changyin yang semakin menjauh.


.......


.......


.......


Dengan wajah yang serius, Yi Changyin menemui seorang wanita yang sedang menatap dataran rendah yang dilihat dari ketinggian puncak gunung Tianjin.


Pemandangan itu memang indah. Melihat hamparan hutan dan rumah-rumah yang terlihat kecil. Ladang-ladang juga bukit-bukit.


"Pemandangan yang indah." Ujar Yi Changyin yang mengejutkan wanita disana.


Dia menoleh dan tersenyum begitu mendapati Yi Changyin yang kini mensejajarkan berdirinya dengannya.


"Ratu.." Sapa wanita yang ternyata adalah Aoyi Jinqi.


"Jangan terlalu sungkan. Kau dan aku hampir memiliki umur yang sama. Benar bukan, Ratu iblis?" Yi Changyin menatap Aoyi Jinqi dengan kilatan yang misterius.


Aoyi Jinqi tidak terkejut. Ia balik tersenyum khas ratu iblis. "Ratu alam peri sangat cepat mengenaliku." Bahkan nada bicaranya berubah sembilan puluh derajat.


"Dan.. apa maksud Ratu alam peri menemuiku saat ini?"


"Aku hanya ingin memastikan sesuatu. Apakah kau kemari untuk mengikutiku?" Tanyanya langsung pada inti.


Aoyi Jinqi masih menatapnya dengan senyuman. "Ada beberapa hal yang tidak seharusnya aku ungkapkan. Termasuk maksud kedatanganku kemari, Ratu."


Yi Changyin mengangguk memaklumi, sambil menatap daratan luas yang terhampar itu.


"Apakah selanjutnya kau akan mencari Wu Yun?" Tanya Yi Changyin pada akhirnya.


"Maaf, aku tidak bisa menjawabnya."


Yi Changyin mengangguk kembali. Ia tidak ingin mempermasalahkan hal ini. Kemudian ia kembali bertanya, "apakah kabut alam baka ada hubungannya denganmu?"


.......


.......

__ADS_1


.......


Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉


__ADS_2