
Setelah mengatakan itu, Xuan Chen tak menunggu lama lagi dan segera merenggut bibirnya dengan rakus. Yi Changyin hanya pasrah dan tak bisa melawan, karena selama ini dia selalu menurut jika diminta melayani.
Tak berselang lama tiba-tiba Xuan Chen mengaduh. Dia mengusap-usap bokongnya yang terasa menyengat. Yi Changyin hanya mengerutkan kening, pakaiannya sudah berantakan.
Saat menegakkan tubuhnya, tiba-tiba dia melihat sosok kecil yang memakai baju mandi di ambang pintu sambil tersenyum tidak bersalah. Itu adalah Xingyue!
Sekarang Xuan Chen bisa mengingat kalau anaknya yang satu itu lahir dengan elemen petir. Jadi yang menyengat di bokongnya tadi adalah perbuatan Xingyue!
"Beraninya kau pada ayah!!"
Namun nyatanya gadis kecil itu tak takut pada kemarahan sang ayah. Dia malah cekikikan dan mengacungkan jempolnya. Xuan Chen sempat bingung. Namun saat melihat ke samping, ada Yi Changyin yang sedang memberikan jempol pada Xingyue.
"Kalian..." Xuan Chen tak bisa berkata-kata lagi. Saking bungkamnya dia bahkan membiarkan Yi Changyin merapikan baju dan keluar kamar. Wanita itu masih harus mengurus Lan Jian.
Setelah Yi Changyin menghilang, Xingyue masih ada di ambang pintu dan menatap ayahnya. Dia ingin memarahinya tapi terlambat, Sijiu sudah membawa pergi setan kecil itu.
Akhirnya dia hanya bisa mengacak-acak rambutnya frustasi. Nafsunya tak terpenuhi, dia menjadi tak waras. Bersamaan dengan itu tiba-tiba Sifeng yang masih memakai jubah mandi melewati kamarnya.
Ayah dan anaknya itu terdiam sesaat sambil saling menatap. Mungkin Sifeng bingung ketika melihat ayahnya dalam keadaan tidak baik. Tapi hanya satu alasan yang dia ketahui, keinginan menyentuh ibunya terhalang oleh adik-adiknya yang nakal.
"Ayah, kau harus bersabar." Ujar Sifeng memecah keheningan, ada sedikit nada ejekan di dalam kalimatnya.
Xuan Chen yang menyadari kalau anaknya sendiri sedang mengejeknya, dia segera mengambil benda dan melemparkannya ke arah Sifeng. Pemuda itu tertawa dan segera kabur menghindar.
"Sialan!" Makinya kesal.
.......
.......
__ADS_1
.......
Setelah sarapan dan anak-anak Yi Changyin memberi hormat pada para mendiang, mereka akhirnya bersiap-siap menuju alam peri. Hari ini adalah ulang tahun Yue Xingfei, sang Ratu muda alam peri.
Mereka berangkat menggunakan tiga kereta sekaligus. Itu adalah suruhan Yue Xingfei untuk menjemput. Yi Changyin, Xuan Chen dan Xingyue berada di kereta pertama.
Lalu di kereta kedua ada Lan Yin, Lan Jian dan Fengzhou. Dan terakhir di kereta ketiga ada Sifeng dan Sijiu. Para penghuni ruang dimensi spiritual pun ikut, namun mereka berada di tempatnya. Termasuk Kalajengking es dan singa roh api.
Setelah sampai mereka di sambut dengan baik, bahkan diperlakukan istimewa. Keempat ketua alam peri yang secara langsung menuntun keluarga kecil yang punya banyak anak itu.
Selain para pejabat penting di alam peri, ada juga perwakilan dari alam langit dan alam iblis. Saat itu putra dari Aoyi Jinqi yang mewakilkan. Di alam langit, ada Yun Fulei dan Permaisuri langit.
Racun alam peri telah hilangkan dua tahun lalu. Namun tetap saja akan sangat sulit untuk mencapai alam itu tanpa persetujuan terkait atau undangan tertentu.
Perjamuan di sana sangat mewah dan megah. Penuh dengan kehangatan dimana-mana. Xuan Sijiu tampaknya tidak nyaman dengan keramaian dan meninggalkan perjamuan setelah meminta izin.
Gadis itu berjalan-jalan disekitar taman istana bulan yang dipenuhi bunga-bunga unik. Yang pastinya hanya bisa dilihat saat berkunjung ke alam peri.
Di tatapnya pria itu, seketika pipi Sijiu memerah. Pria itu sangat tampan dan mendominasi. Memiliki aura alam langit yang kental. Melihat pria itu seperti menyaksikan kesempurnaan surgawi.
"Tampaknya kau adalah putri ketiga dari tetua alam peri." Pria itu mulai berbicara dan berhasil menyentakkan lamunannya. "Perkenalkan, aku adalah pangeran bungsu alam langit, Yun Fulei."
Xuan Sijiu bertingkah canggung, dia tidak tahu harus berbuat apa-apa lagi selain mengangguk. Sementara pangeran Yun Fulei hanya tersenyum menatapnya.
"Jiu Jiu! Ayo kemari! Kita tangkap ikan di sungai istana bulan!" Itu adalah teriakan Sifeng dari kejauhan. Sijiu merasa kakaknya adalah penyelamat sejati.
Dia menatap Yun Fulei, dengan hati-hati ia berkata, "kakakku memanggil. Aku pergi dulu." Kemudian dia menekuk lututnya sesaat sebagai formalitas. Dia tampak kaku karena canggung. "Selamat tinggal, yang mulia." Setelah mengatakan itu Sijiu segera kabur dari sana.
Yun Fulei yang menatap punggung Sijiu yang menjauh dengan senyuman. "Yang kutunggu-tunggu." Gumamnya.
__ADS_1
.......
.......
.......
Sementara di sisi lain, di sungai istana bulan. Tampak anak-anak Yi Changyin sedang berada di bawah sungai dan menangkap ikan. Mereka bukan hanya sekedar mencari, tapi bermain air.
Ada Feng'er, Heilong dan penghuni ruang dimensi spiritual yang lainnya. Mereka saling menyemburkan air dan saling membasahi. Mereka diliputi dengan aura kebersamaan yang kental. Penuh tawa dan gembira.
Jauh di jembatan melengkung, Yi Changyin dan Xuan Chen menatap mereka di sana, tepat di tengah-tengah jembatan. Walaupun agak jauh, tapi apa yang mereka lakukan terlihat jelas.
Yi Changyin tersenyum bahagia melihat mereka. Tak ada yang lebih membuatnya tersenyum dari pada melihat anak-anak kandungnya yang bahagia.
Xuan Chen melihat istrinya dari samping. Tampak cantik dan sederhana, sama seperti ratusan tahun sebelumnya. Sebagian rambut hitamnya berkibar indah. Membuat pria itu tak sabar untuk memeluknya erat.
Wanita itu awalnya terkejut, tapi segera tersenyum bahagia. Selain karena anak-anaknya, dia juga memiliki suami yang merupakan separuh hatinya selama ini. Pria yang paling dicintai tak ada bandingannya.
"Yin'er, takdir kita telah terwujud. Wu Yun dan Bai Suyue akan hidup bahagia dan memiliki banyak anak." Tutur Xuan Chen lembut.
Yi Changyin melebarkan senyumnya. "Aku sangat bahagia, bersamamu. Aku sangat senang."
Xuan Chen segera mengecup keningnya sesaat. Kemudian dia berbisik, "jangan lupa malam ini untuk membuat anak kedelapan."
Mendengar hal itu membuat Yi Changyin memerah dan segera memukul dadanya sedikit keras. Xuan Chen malah tersenyum bahagia dan semakin mengeratkan pelukannya.
Kedua masih menyaksikan keenam buah hati mereka sambil berpelukan dengan erat. Sesekali tertawa dengan kekonyolan mereka di bawah sana.
Kenyamanan bersamanya adalah yang paling diinginkan. Yi Changyin dan Xuan Chen telah menjadi takdir selama puluhan ribu tahun lamanya.
__ADS_1
Tidak akan ada yang bisa memisahkan. Di masa lalu... Ataupun di masa depan. Selamanya mencintai, selamanya takkan terpisahkan.
...~THE END~...