
"Jangan lupa ingat pesanku tadi. Baik?" Shen Lan kembali mengingatkan.
"Jangan pergi.. Shen Lan."
Shen Lan tersenyum gentir. "Jika punya kesempatan.. temui aku.. di kehidupan selanjutnya." Nafasnya semakin tercekat, diiringi dengan suara tangisan Yi Changyin. "Selamat.. tinggal.."
Yi Changyin tertegun, hatinya sudah hancur. Tangan Shen Lan yang memegangi tangannya melemas. Mata pria itu menutup dan tak akan terbuka lagi untuk selamanya.
Yi Changyin berteriak, menangis sekeras-kerasnya, ketika tujuh inti roh dan dua belas jiwa mulai beterbangan. Tubuh Shen Lan mulai memudar, dia terus menangis.
"Shen Lan!! Jangan pergi!"
Dia berteriak memanggilnya sambil diiringi tangisan, namun tetap tak berguna. Shen Lan sudah pergi, dia sungguh tak menyangka. Hanya bisa menangisi dalam kesepian.
Dia hangat hancur. Mengingat-ingat Shen Lan yang selalu menemaninya. Memarahinya, menasihatinya. Mengapa langit sangat tidak adil? Mengapa harus Shen Lan yang pergi?
Kini sudah tidak ada lagi pria serba biru yang menemani hari-hariny. Sekarang yang tersisa hanyalah gelembung spiritual berwarna biru tua beserta abu milik Shen Lan.
Benarkah yang dia lihat? Semoga ini hanya mimpi. Langit, tolong bangunkan Yi Changyin sekarang juga. Lalu setelah terbangun, dia akan melihat Shen Lan yang sedang memberikan secangkir air putih padanya.
Dia ingin melihat itu, langit.
Dengan tangisan penuh penderitaan. Yi Changyin mengumpulkan semua abu Shen Lan. Meraih satu kristal yang berada di cincin ruangannya.
Dengan energi spiritual, dia mengubah kristal itu menjadi liontin yang serupa dengan liontin yang menyimpan abu Jinmi. Setelah itu bubuk-bubuk abu Shen Lan memasukinya secara perlahan.
Yi Changyin memeluk liontin spiritual itu. Dia kembali menangis tersedu-sedu. Dia belum bisa merelakan kepergian Shen Lan. Ini masih mendadak, dan kemarin.. mereka berdua masih menikmati waktu sambil tertawa-tawa.
Yi Changyin berusaha menenangkan diri. Namun hatinya sangat sakit, perih dan hancur. Bagaikan di tusuk-tusuk ribuan jarum, di tembus oleh tombak dan di himpit batu sampai hancur.
Yi Changyin menyandarkan punggungnya ke batang pohon yang besar. Masih melamun karena terkesiap dengan kejadian mengejutkan tadi.
Andai saja dia tidak mengambil ulat jamur Lingzhi dan ganggang terlebih dahulu. Mungkin dia tidak akan terjebak oleh kabut danau dan menyelamatkan Shen Lan tepat waktu. Keegoisannya telah merenggut nyawa Shen Lan.
Namun ia tak bisa terus-menerus menyalahkan diri sendiri.
Kini ia teringat dengan gelembung spiritual berwarna biru tua. Dia menatapnya bingung. Katanya itu adalah tugas terakhir Shen Lan.
Dia berdiri bersiap-siap untuk pergi mengikuti gelembung spiritual, yang menjadi pesan terakhir Shen Lan. Gelembung cantik itu ia terbangkan, dan berjalan teratur.
Yi Changyin berubah menjadi elang putih dengan ukuran yang sedang. Kemudian mengikuti gelembung itu pergi. Dengan leher yang menggantung tiga kalung sekaligus.
Liontin spiritual, abu Jinmi dan abu Shen Lan. Lalu di pergelangan cakarnya, terdapat gelang mutiara bunga Peony.
Yi Changyin terus mengikuti arah gelembung itu sampai jauh dari tempat dia pergi. Namun masih di alam baka, nyatanya melaju ke tempat hutan Diaoshi.
Gelembung spiritual itu semakin terbang rendah, membuat ia ikut turun mengikuti kemana perginya. Dan ternyata adalah perbatasan hutan Diaoshi.
Gelembung spiritual itu memasuki gua yang tak cukup dalam. Ada seseorang di sana, Yi Changyin memilih untuk bersinggah di dahan pohon dengan wujud elangnya.
Namun seseorang yang berada di dalam gua itu terlihat jelas. Sangat jelas, hingga membuat pupil matanya membesar. Sosok pria yang sama persis dengan pria dalam lukisan bersama ibunya.
Ini kah tugas terakhir Shen Lan? Membuat rasa ingin menangis sambil berteriak-teriak semakin kuat.
Pria berpakaian biru tua, rambut putih dan sangat tampan. Namun bibirnya terlihat begitu pucat. Dia sedang bersila lotus di atas batu. Matanya tertutup dengan posisi tangan sedang bersemedi.
Namun matanya terbuka ketika menyadari ada bola biru tua yang menghampirinya. Menyanggahnya dengan tangan dan tersenyum. Terdengar dia bergumam, "tugas dariku sudah berakhir, kelopak?"
__ADS_1
Yi Changyin dalam wujud elang putih masih tertegun. Suara itu yang telah lama ia rindukan, sangat lembut. Sampai ketika pria itu menoleh ke arahnya.
Pria muda nan tampan itu tersenyum ke arahnya. Mungkin jika ia sedang berwujud manusia, Yi Changyin akan menangis sesegukan.
Kemudian pria itu menyodorkan jari jemarinya ke udara. Seraya mempersilahkan elang yang sedari mengawasinya di atas ranting untuk singgah ke atas tangannya.
Tanpa ragu lagi, Yi Changyin mengepakkan sayapnya. Terbang menuju pria yang dirindukannya itu. Saat telah sampai, dia mengubah wujudnya menjadi manusia, hingga bisa langsung memeluk pria itu sambil berseru penuh haru.
"Ayah!!" Ternyata tugas terakhir Shen Lan adalah membawa Yi Changyin pada Shui Jifeng, ayah tercintanya saat menjadi Bai Suyue.
Dia tertegun, ketika elang itu berubah menjadi wanita yang memanggilnya ayah. Awalnya dia mengira elang itu adalah salah satu peri dari alam asalnya. Namun nyatanya.. elang itu adalah putrinya?
Sejurus kemudian air matanya turun. Dia balik memeluk tubuh putrinya dengan erat. Pantas saja dengan melihat elang itu hatinya terasa menghangat. Ada perasaan rindu yang tiba-tiba muncul.
Yi Changyin melepaskan pelukannya, dia memegangi wajah Shui Jifeng sambil menangis. "Akhirnya aku menemukanmu." Ia berkata dengan lirih.
"Kau sudah mendapatkan ingatanmu kembali, putriku?" Tutur Shui Jifeng dengan lembut.
"Benar, ayah.." ia tak henti-hentinya menatap wajah yang paling dirindukan itu.
Namun Shui Jifeng sejurus kemudian terpaku dengan pakaian yang putrinya pakai. Dia menatap Yi Changyin tak percaya. "Yue'er, kau sudah menikah?"
(Ayahnya manggil Yue'er dari nama Bai Suyue ya guys)
Yi Changyin tertawa sambil menyusut air matanya. "Benar.." katanya dengan malu.
"Siapa suamimu?"
"Wu Yun.." Yi Changyin tergelak, merasa konyol mengatakan hal itu.
"Tapi sekarang namanya bukan Wu Yun, melainkan Xuan Chen. Ayah jangan panggil dia dengan nama Wu Yun lagi." Yi Changyin mulai bercerita. "Dia bereinkarnasi menjadi manusia berkali-kali, sampai bertemu denganku."
"Sebelum saling mengetahui masa lalu, kami saling mencintai. Menikah sampai memiliki anak. Ketika mengetahui kalau dia adalah Wu Yun, aku sempat membencinya."
"Tapi Xuan Chen tidak, membuatku sadar kalau rasa cinta yang di dapat selama bertahun-tahun lebih besar di bandingkan rasa benci selama ribuan tahun."
"Karena membenci itu tidak ada gunanya." Ujar Shui Jifeng sambil menyentuh ujung hidung putrinya.
Yi Changyin terkekeh pelan karenanya.
"Tunggu, ayah punya cucu?" Shui Jifeng tampak terkejut begitu menyadari hal itu. Matanya sedikit berbinar.
Yi Changyin hanya tersenyum simpul, menatap ke arah lain. "Benar, aku selalu membawanya kemanapun aku pergi. Tidak pernah meninggalkannya."
Shui Jifeng mengkerut. Putrinya itu menghindari tatapan, seperti ada sesuatu yang tidak mau terbaca olehnya. Namun sejurus kemudian dia tersenyum.
"Boleh aku melihat cucu ayah?"
Tanpa berkata, Yi Changyin menunjukan liontin yang berisi abu Jinmi pada Shui Jifeng. Dengan alis yang menurun, kembali merasakan kesedihan.
Shui Jifeng tertegun karenanya. Jadi cucunya itu sudah meninggal? Putri tercintanya pasti menderita.
"Namanya Xuan Jinmi." Gumam Yi Changyin terdengar menyakitkan.
Shui Jifeng meraih Yi Changyin ke dalam pelukannya, gadis itu kembali menitikkan air mata. Sakit rasanya, namun ia bahagia dapat meluapkan tangis di pelukan sang ayah.
"Relakan yang sudah pergi.."
__ADS_1
Yi Changyin hanya menganggukkan kepalanya pelan.
"Kau bilang sudah menikah sampai memiliki anak. Mengapa baju pengantinnya masih kau pakai sampai sekarang?" Shui Jifeng bertanya dengan heran.
Yi Changyin melepaskan pelukannya. "Ini pernikahan resmi kami."
Kerutan di keningnya semakin dalam. "Pernikahan resmi? Artinya kalian..."
"Ah ayah... Itu panjang ceritanya."
Kemudian Yi Changyin menceritakan semua yang terjadi dari awal sampai akhir. Tidak ada yang terlewat bahkan satu kejadianpun.
Shui Jifeng hanya bisa mengangguk, meng-iya kan dan sedikit memberikan nasihat kecil.
"Oh ngomong-ngomong, itu.." telunjuknya mengarah pada gelembung biru yang membawanya kesini.
"Kau menamainya Shen Lan kan?" Tanya Shui Jifeng.
Yi Changyin mengangguk.
"Shen Lan itu ayah yang membuatnya."
Hal itu membuat Yi Changyin terkejut bukan main. Apa tadi dia bilang? Manamungkin ayahnya bisa membuat makhluk roh seperti Shen Lan, yang memiliki kekuatan misterius.
"Seperti apa yang di buat kaisar langit pada leluhur kita dahulu."
Kemudian Shui Jifeng bercerita kalau Shen Lan dahulunya adalah seorang kultivator alam fana yang berhasil mencapai tingkat dewa di usianya yang muda. Nama aslinya adalah Xu Nian.
Namun di kampung halaman Shen Lan kebanyakan orang-orang aliran sesat. Hingga mereka selalu memusuhi Shen Lan yang mendapat kekuatan Dewa. Bahkan pria itu hampir di bunuh.
Menjadikan sosok Xu Nian sebagai pria yang tidak mempunyai hati atau perasaan, semuanya telah beku karena perlakuan orang-orang disekitarnya.
Sepeninggal Ratu Bai Jiyuan, Ia pergi ke daerah itu dan menyelamatkan Shen Lan. Membawanya menjadi pengikut pribadi, mereka berdua sangat akrab dan melakukan banyak hal.
Shui Jifeng tahu kalau putri semata wayangnya telah meninggal, dan menjadi pukulan terbesar baginya. Dan saat itu teman sedihnya hanya ada Shen Lan.
Dan saat itu pula, Shui Jifeng mengetahui kalau Bai Suyue bereinkarnasi menjadi Yi Changyin, putri ketiga ketua klan rubah ekor sembilan alam langit. Selain itu dia pun sedikit mengetahui apa yang terjadi pada alam peri.
Demi ingin melindungi putrinya, Shui Jifeng menugaskan Shen Lan untuk melindunginya. Dengan menyamar sebagai roh bunga.
Menggunakan kelopak jiwa Shui Jifeng yang merupakan mawar biru. Karena peri ras berbagai bunga, dua belas jiwa mereka merupakan kelopak bunga dari perwujudan asli mereka. Ya walaupun Shui Jifeng memiliki campuran peri air.
Shen Lan tidak menolak, bahkan bersumpah akan melindunginya putri sang majikan sampai mati. Mengingat pria itu telah menyelamatkannya, ia harus membalaskan budi. Maka dari itu, ketika Shen Lan meninggal, kelopak jiwa Shui Jifeng akan kembali.
Yi Changyin berlinang air mata ketika mendengarkan cerita mengagumkan ayahnya. Dia tak menyangka, walaupun putrinya sudah mati lalu bereinkarnasi menjadi orang lain, Shui Jifeng sebagai ayahnya tak pernah lupa untuk melindungi. Memang ayah terbaik.
Pantas saja kekuatan Shen Lan begitu misterius. Karena dia menyamar menggunakan kelopak jiwa milik ayahnya. Pantas saja Shen Lan memiliki hati dan perasaan yang beku. Ternyata pria itu punya masa lalu yang kelam.
"Ayah selalu ingin melihat dirimu aman sentosa." Tutur Shui Jifeng tiba-tiba sambil mengelus-elus rambut panjang Yi Changyin. Namun masih membuat gadis itu terus menitikkan air mata.
.......
.......
.......
Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗
__ADS_1