
Selain itu, ada kabar baik untuk Xuan Chen. Ibunya, Yang Qiujiu kini dinaikan peringkat selirnya. Dari Guiren (selir terendah), menjadi selir Shu.
(Note : Selir Shu / Shufei adalah salah satu gelar untuk selir utama di Harem. Shuifei memiliki arti selir yang suci. Ibu Xuan Yao (selir De) dan Xuan Rong (selir Xian) termasuk selir utama)
Setelah perjamuan kecil dan hendak ke paviliun tamu, tiba-tiba Xuan Rong mengejarnya. Dengan malu-malu dia bertanya tentang Shen Lan. Hati Yi Changyin sedikit mencelos. Dia mengajak gadis itu ketempat sepi, gazebo kecil belakang taman menjadi pilihannya.
"Rong'er, sepertinya... Kau harus mencari pria lain." Ujar Yi Changyin hati-hati.
Xuan Rong tentu saja menatapnya tak percaya. Dan menyangka kalau Yi Changyin tak menyetujui cintanya. Gadis itu menekuk lututnya di hadapan Yi Changyin, dia terkejut.
Xuan Rong berkata penuh permohonan. "Aku tahu Shen Lan adalah bunga roh, sedangkan aku manusia. Secara hukum kami tidak bisa bersatu, tapi... Cinta tak bisa memandang bulu, kakak ipar, kumohon..."
Yi Changyin menghela nafas. Gadis itu mengira kalau dirinya tidak menyetujui hubungan. Percayalah, jika Shen Lan masih ada, dia akan dengan senang hati membawa Shen Lan ke istana kekaisaran Xuan untuk melamar Xuan Rong.
Dia tidak tahu harus memulai penjelasan dari mana, menatap Xuan Rong yang masih bertingkah cemas. Yi Changyin sedikit tidak tega.
Namun, sampai kapan dia harus menyembunyikan ini darinya? Berkata jujur akan lebih baik dan melegakan hati. Xuan Rong pun tidak akan mengharapkan Shen Lan lagi walaupun harus melewati lautan kesedihan terlebih dahulu.
Akhirnya Yi Changyin menguatkan diri. Mengeluarkan kalung dengan liontin kaca yang berisi abu penuh dengan titik-titik biru. Dia memberikan itu pada Xuan Rong.
Putri kekaisaran itu menerimanya dengan kerutan dalam. Menatapnya tak mengerti. Kemudian menatap Yi Changyin dengan takut, "apa... Ini?"
Yi Changyin ingin menangis ketika akan menjelaskannya. Dia mengusap-usap kepala Xuan Rong. "Sudah kubilang... Lupakan dia. Jika kau tidak selalu mengharapkannya, mungkin dia akan tenang ketika melakukan pengembangan jiwa baru, Rong'er."
Mendengar hal itu pikiran Xuan Rong menjadi kosong. Dia menatap liontin kaca berisi abu di depannya. Ada perasaan hangat yang menusuk-nusuk hatinya. Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi langitnya sudah terlebih dahulu hancur.
"Tidak mungkin..." Katanya dengan suara yang tercekat. Yi Changyin hanya menatapnya prihatin. Gadis itu cepat-cepat memberikan abu Shen Lan kepada Yi Changyin, tangannya merasa panas ketika memegang benda itu.
Semasa hidupnya dia telah menjadi kultivator dan seorang putri kekaisaran. Fokus dengan kesenangan yang lain, merawat kakaknya tanpa memikirkan cinta.
Namun ketika bertemu pria serba biru di rumah kakak ketujuhnya, hatinya sedikit tersentuh. Menjadi rapuh dan siap lapuk kapan saja.
Setiap hari dia mendambakan kebersamaan dengan pria itu. Yang tak disangka, pria itu membalas cintanya. Xuan Rong bahagia, hatinya berbunga-bunga.
Namun cinta kadang berujung tragis. Tak memihak apakah perasaan mereka begitu dalam atau tidak. Sekarang hatinya yang rapuh benar-benar hancur. Hanya bisa menangisi tanpa bisa berbuat apa-apa.
Yi Changyin memeluknya erat. Dia tau apa yang dirasakan gadis itu pasti sangat menyakitkan. Dia sendiri pernah merasakan bagaimana bencana cinta. Bahkan takdir kejam itu mungkin masih berlangsung.
Setelah jam itu, semenjak Xuan Rong mengetahui kematian Shen Lan yang tragis, Yi Changyin tidak melihat Xuan Rong menampakkan diri lagi. Bahkan selama tiga hari menginap di kekaisaran Xuan. Gadis itu mengurung diri dikamar.
Kaisar Xuan Zhen, ibunya—selir Xian dan dua kakaknya merasa khawatir. Tapi sedikit memaklumi, mereka tahu bagaimana rasanya takdir memberikan kisah cinta yang tragis.
Bahkan karena hal itu, Yi Changyin terus menerus meminta maaf. Tapi semua orang bilang jujur itu lebih baik. Jika Yi Changyin menyembunyikannya dari Xuan Rong lebih lama, maka keadaannya akan lebih buruk lagi.
Bahkan ketika dia sudah satu minggu pulang ke alam peri, masih mendapat kabar Xuan Rong yang mengurung diri. Mengenai kabar ini, Xuan Chen yang bulak-balik untuk mengecek keadaan adiknya.
__ADS_1
Sekarang dia tengah beristirahat di kamar Yi Changyin menjaga Sifeng dan Sijiu setelah melihat Xuan Rong. Yi Changyin berada di meja belajar dalam kamar dan memeriksa berkas-berkas persiapan perang.
"Bagaimana dengan Xuan Rong?" Tanya Yi Changyin masih fokus dengan gulungan di tangannya.
Xuan Chen menghela nafas. "Seperti dua hari lalu." Katanya singkat, fokus bermain dengan putra putrinya.
"Tenang saja, dia akan pulih dengan sendirinya."
"Aku tahu."
Yi Changyin hanya tersenyum, pria itu tidak memperhatikannya berbicara, hanya bermain dengan anak-anaknya sambil tersenyum. Bayi kembar yang baru berusia dua Minggu itu tampak antusias menyambut ayahnya.
Ketika Yi Changyin hendak fokus lagi, tiba-tiba Xuan Chen berbicara.
"Yin'er, lihat! Jiu'er kita sudah bisa berbicara Aaa!" Dia senang sendiri, Yi Changyin hanya mengulum senyum. "Feng'er, Jiu'er, cepat katakan aaayah."
Yi Changyin yang mendengar hal itu berwajah konyol. "Mereka belum satu bulan, dan kau ingin mereka berkata ayah?" Protesnya.
""Tidak apa-apa, aku sedang mengajarinya." Jawab Xuan Chen polos.
Yi Changyin hanya menepuk jidatnya. Terserah saja, terserah Xuan Chen. Pria itu tidak mau mengalah. Namun melihat Xuan Chen yang ingin dipanggil ayah, dia jadi mengingat Jinmi.
Pikirannya tiba-tiba kosong, dia terdiam. Hatinya tiba-tiba sedih dan menginginkan kehadiran seseorang. Jika Jinmi ada, usianya sudah dua tahun. Pasti sudah bisa berlari-lari dan bermain. Memanggil ibu dan ayah tanpa terbata-bata.
Jinmi masih memiliki darah manusia alam fana. Karena saat melakukan hubungan Xuan Chen masih seorang manusia, darah Wu Yun belum bangkit.
Memikirkan hal itu, tanpa sadar Yi Changyin meloloskan air mata. Dia menenggelamkan wajah di dalam dua tangannya yang melipat. Mengapa takdir membawanya menjadi seperti ini?
"Yin'er?" Tanpa sadar, Xuan Chen sudah berada di depannya sambil mengelus-elus kepala.
Yi Changyin mendongkak, memperhatikan matanya yang sembab dan pipinya yang basah. Pria itu segera bergegas ke samping dan memeluknya.
"Apakah kau marah padaku?" Tanya Xuan Chen lembut. "Maafkan aku, aku tahu anak kembar kita tidak akan bisa berkata 'ayah'. Jangan sedih."
Yi Changyin yang bersedih pun merasa ingin tertawa. Untuk apa dia marah dan menangis karena hal itu? Entah pria itu memang konyol atau sengaja ingin menghiburnya. Kini Yi Changyin memukul punggungnya.
"Bukan itu!"
Xuan Chen terkekeh, "apa itu?"
"Aku..." Tiba-tiba Yi Changyin terisak lagi. "Aku hanya teringat putri tertua kita, Mi'er."
Kelopak mata Xuan Chen menurun. Dia tidak menjawab, hanya memeluk Yi Changyin dengan erat. Kadang kali, jika Yi Changyin mengunjungi nisan Jinmi yang juga berada di alam peri, selalu memanggilnya dengan panggilan sayang, Mi'er.
Kemudian Yi Changyin melanjutkan dengan suara yang tercekat, "mungkin... Jika Mi'er masih hidup, mungkin dia sudah bisa memanggilmu ayah tanpa terbata-bata."
__ADS_1
"Sudah-sudah..." Xuan Chen menyela dan mengusap-usap punggungnya. "Jangan bersedih lagi." Dia mencium puncak kepala Yi Changyin. "Ada aku, Feng'er dan Jiu'er..."
(Note : Sekarang jangan salah artikan siapa Feng'er ya. Jika Feng'er nya dibarengi dengan Jiu'er, berarti itu Sifeng. Kalo Feng'er nya dibarengi dengan Heilong, berarti dia si Phoenix)
Yi Changyin mengangguk-angguk tak berdaya. Seharusnya dia tidak bersedih lagi, mungkin Jinmi saat ini sedang beristirahat di surga dan melakukan pengembangan jiwa.
Ia masih betah di pelukan Xuan Chen. Namun tangisan Sifeng dan Sijiu menarik mereka untuk bangun. Dua bayi kembar itu mungkin kesal karena diabaikan sebentar oleh ibu dan ayahnya.
.......
.......
.......
Berminggu-minggu kemudian, dan hari perang telah tiba. Yi Changyin membuat perisai seperti enam belas ribu tahun lalu. Membuat alam peri tetap aman, menutupinya dengan tanah tandus tanpa batas dan langit yang merah bagaikan berdarah.
Pasukan alam peri yang sudah dikembangkan telah berbaris rapi. Keempat ketua alam peri telah siap dengan baju perang masing-masing, berada di barisan kedua terdepan. Mereka terlihat cantik dan berwarna.
Sementara itu barisan terdepan adalah Yi Changyin dan Xuan Chen. Mereka berdua telah siap dengan zirah putih keperakannya. Yi Changyin dan Xuan Chen memakai setelan kembar.
Gadis itu tampak begitu cantik sederhana. Rambutnya diikat ekor kuda dengan hiasan kepala khas jendral. Juga jubah putih berkibar di belakang punggungnya.
Para prajuritpun sedikit terpesona dan hampir mimisan dengan kecantikan Ratu mereka. Melihatny Xuan Chen berwajah gelap dan memberikan mereka tatapan yang membunuh. Membuat punggung terasa dingin dan bulu-bulu meremang. Barulah para prajurit itu terbatuk dan memalingkan pandangannya ke arah lain.
Setelah aura Dewa kegelapan dan Raja iblis menguar, mereka sudah bersiap. Xuan Chen segera memeluk Yi Changyin dan mencium bibirnya sekilas.
Keempat ketua alam peri dan para prajurit ingin memuntahkan darah mereka. Bahkan saat hampir perang, sang Ratu dan suaminya masih sempat-sempatnya bermesraan!
Segerombolan muncul dari udara kosong, perlahan mendarat ke tanah. Para prajurit dengan senjata yang beragam itu serempak memakai pakaian serba hitam. Bertolak belakang dengan alam peri yang serba putih. Pasukan mereka sama banyaknya.
Pasukan itu dipimpin oleh tiga orang. Yang tak lain dan tak bukan adalah Wen Yuexin sendiri, Raja iblis Zhang Bixuan dan yang paling mengejutkan adalah Qi Xiangma. Wanita itu pasti dengan mudahnya dibawa oleh Wen Yuexin.
Kedua pasukan hitam putih ini saling berhadapan. Mengingatkan Yi Changyin pada perang enam belas ribu tahun lalu melawan Wu Yun. Hatinya bergetar, kini Wu Yun berada disampingnya bahkan mendukungnya.
Tanpa banyak basa-basi lagi, terompet perang dari alam peri bergema. Begitupula dengan terompet dari pasukan Wen Yuexin. Hitam putih saling bertabrakan dan menyerang. Mereka menyampur seperti semut.
Hua Mu Dan, Shui Ning dan Lian Qingran melawan Zhang Bixuan dan Qi Xiangma. Sementara Hu Diejing membantu para prajurit untuk membasmi lawan.
Lautan semut hitam putih yang menyatu itu penuh dengan suara pedang. Sangat mengerikan dan berdarah. Tak sedikit korban yang berjatuhan dalam waktu singkat. Percayalah, dunia yang lain tak mengetahui peperangan ini.
Sementara itu Yi Changyin, Xuan Chen dan Wen Yuexin naik ke atas. Mereka bertiga akan bertarung terpisah dari prajurit. Sama seperti puluhan ribu tahun lalu saat Bai Suyue dan Wu Yun mengalahkan Dewa kegelapan untuk pertama kali. Dua lawan satu, Wen Yuexin tak masalah.
.......
.......
__ADS_1
.......
Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗