
"Yin'er.." Pria itu mendekati bibir danau dengan hati-hati. Dia mengulurkan tangannya ke arah Yi Changyin, "Yin'er, kemari."
Tapi Yi Changyin malah melebarkan senyumnya dan berbalik pergi. Menjauhinya, menuju danau yang paling dalam. Sebelum melangkah, wanita itu menatap jembatan reinkarnasi dengan senyuman.
Xuan Chen yang melihatnya menatap jembatan segera cemas. Dia berdiri tepat di bibir danau, ""Yin'er, jangan kesana!"
Namun Yi Changyin tak mendengarnya sama sekali. Wanita itu terus memunggunginya dan berjalan menjauh. Xuan Chen semakin cemas dan berteriak memanggilnya. Dia tidak mau jiwa Yi Changyin pergi secepat itu ke jembatan reinkarnasi.
Karena puluhan tahun lalu Xuan Chen mengambil salah satu kepingan jiwanya, Yi Changyin yang merasakannya secara tidak langsung menjadi tak ingin melakukan pengembangan jiwa. Dia hanya menjadi jiwa yang bergentayangan tak jelas dengan pikiran yang kosong.
Namun jelas dalam pikirannya hanya ada satu, mencari Xuan Chen. Tapi jika dia ingin pergi menyebrangi jembatan reinkarnasi, maka itu bebas. Hanya saja tanpa pengembangan jiwa dia mungkin akan menjadi manusia cacat, lebih parah akan menjadi binatang biasa.
Saat ini Xuan Chen menatap air danau dengan ekspresi ngeri. Sementara Yi Changyin sudah semakin menjauh. Dia menghela nafas frustasi. Jujur saja pria itu takut dengan air yang menyimpan banyak jebakan.
Berkabut, menyerap energi spiritual sampai kering dan kadang menggerogoti daging. Memikirkannya saja Xuan Chen yang berjiwa Wu Yun merasa ketakutan. Tapi itu jiwa Yi Changyin, dia harus mengejarnya untuk mendapatkan kristal.
Akhirnya dia pun menggeram dan menuruni danau itu dengan hati-hati. Sementara Yi Changyin hampir tenggelam oleh gulungan kabut.
"Yin'er, tunggu aku!" Entah kenapa dia yakin bisa meraih Yi Changyin seperti tadi. Yang jelas-jelas dia tersihir oleh cintanya yang paling dalam.
Namun semakin masuk ke dalam, energi spiritual semakin terkuras. "Yin'er, jangan pergi ke sana!" Dia terus berusaha berlari, tapi air ini seperti memiliki daya tarik dan menahannya. Sementara bayangan Yi Changyin telah menghilang.
Dia ingin menangis tanpa air mata, wajahnya sudah pucat seperti tak berdarah. Tiba-tiba kakinya tersandung sesuatu, dia jatuh dan menciptakan cipratan air yang besar. Dia ingin memaki tapi ini bukan waktunya.
Di dalam air tangannya meraih sesuatu, saat Xuan Chen melihatnya ada sedikit kejutan. Bongkahan kristal yang penuh dengan aura Yi Changyin...
Xuan Chen tak bisa menahan senyumannya, dia segera memasukan berlian itu ke tempat yang aman. Saat dia berusaha bangkit, tiba-tiba air ini menahannya. Semakin memberontak, air itu semakin menariknya masuk.
Alam baka selalu penuh misteri, bahkan alam peri pun akan sedikit kesulitan. Termasuk Xuan Chen, sekarang energi spiritualnya hampir habis, dan air itu perlahan menariknya ke dalam.
__ADS_1
"Yin'er, tunggu aku..." Itu yang dia ucapkan terakhir kali sebelum akhirnya jatuh pingsan.
Entah berapa lama Xuan Chen tertidur, kini dia membuka matanya lebar-lebar. Langit-langit ruangan mewah adalah yang pertama kali dia lihat. Bukan alam peri, alam langit apalagi alam fana. Lalu... Dimana dia?
Xuan Chen segera terduduk, pandangannya menyapu sekitar. Namun dia benar-benar tidak mengenali tempat ini. Kemudian dia mengeluarkan delapan kristal jiwa Yi Changyin. Tangannya mengusap mereka dengan senyuman.
"Yin'er..." Gumamnya.
Tak lama kemudian pintu terbuka lebar, diiringi dengan teriakan manja dua makhluk yang menghambur ke arahnya.
"Tuan!!" Seru mereka berdua dan segera menekuk lututnya di depan kasur.
"Apa yang terjadi? Dimana aku? Mengapa kita bisa ada di sini? Bagaimana kalian menemukanku? Dan mengapa energi spiritualku kembali pulih?" Ya, dia baru ingat kalau energi spiritual masih berlimpah setelah danau itu menghisapnya sampai setengah habis.
"...." Kedua makhluk ilahi itu hanya bisa terdiam karena diserbu oleh pertanyaan.
"Mengapa kalian hanya diam?" Xuan Chen bertanya lagi.
"Tuan agung alam peri, anda baru saja tenggelam di danau alam baka." Sosok wanita anggun masuk ke dalam ruangan itu. Wajahnya sangat agung dan berkharisma, tidak menunjukkan kefanaan karena sisi keabadiannya.
"Jika bukan karena hewan kontrakmu yang meminta tolong, kau tidak akan bisa selamat." Tambahnya ketika berhenti di tengah-tengah ruangan, tak jauh dari kasur yang Xuan Chen duduki.
Pria itu sempat tertegun sebelum akhirnya menebak, "Dewi Yuan Ji?"
Wanita itu tersenyum manis. "Benar." Dia mulai mengambil duduk di atas kursi. "Puluhan tahun lalu istrimu pernah datang kemari."
"Aku tahu." Jawab Xuan Chen singkat. Mendengar hal itu telah mengingatkannya pada pengorbanan Yi Changyin. Wajahnya menjadi sedikit murung.
"Lalu, berapa lama aku pingsan?" Xuan Chen bertanya.
__ADS_1
"Semalaman, sekarang baru pagi." Jawab Dewi Yuan Ji seadanya.
Mendengar hal itu Xuan Chen terperanjat dari kasurnya. Dia segera izin pamit untuk melakukan sesuatu. Mengucapkan banyak terima kasih pada sang Dewi lalu menyeret Feng'er dan Heilong keluar dari sana. Besok sudah tidak akan kesempatan lagi!
Pria itu langsung berteleportasi ke alam peri. Karena terlalu terburu-buru, mereka tersungkur tepat di lantai istana utama. Yue Xingfei dan keempat ketua alam peri yang sedang merundingkan sesuatu amat terkejut.
Feng'er dan Heilong bangun terlebih dahulu, kemudian membantu tuannya. Yue Xingfei dan yang lainnya segera menghampiri Xuan Chen.
Belum mereka semua bertanya, Xuan Chen sudah menjawab keinginan tahuan mereka, "aku sudah menemukan semua potongan jiwa Yi Changyin dan tidak punya banyak waktu lagi."
Akhirnya Hua Mu Dan mengerti dan membawa Xuan Chen kesatu tempat di alam fana. Terletak di daratan Zhongjian (tengah) dan tidak diketahui banyak orang.
Dia dihadapkan dengan rumah kayu yang nyaman dan besar. Halamannya sangat luas, sebagian berada di atas danau jernih penuh dengan ikan. Di kelilingi oleh hutan luas yang asri.
Halaman yang berada di atas danau itu terdapat gazebo kecil yang terlihat nyaman. Lalu ada ladang luas yang bisa di gunakan untuk berkebun.
Hua Mu Dan bilang ini adalah rumah milik Dewa tanah. Kakek tua itu sering tinggal di dalam tanah menjaga alam fana dan tidak pernah keluar. Dia membangun rumah ini hanya karena ingin saja.
Karena tidak terpakai sama sekali, Dewa tanah tidak keberatan untuk membuat pasangan alam peri itu tinggal. Tapi dengan syarat meteka memberinya makan setiap hari. Xuan Chen merasa itu bukan masalah, dia bisa memasak.
Letaknya tidak jauh dari perkotaan, tapi tempat ini tidak akan diketahui oleh banyak orang. Kultivator yang belum mencapai tingkat Dewa pun tidak akan mampu melihatnya. Mereka bisa ke pasar manusia tapi manusia tidak bisa ketempatnya.
Xuan Chen merasa ini adalah kenyamanan surgawi. Cepat-cepat dia menyetujuinya, ini akan menjadi tempat tinggal yang bagus.
Tak menunggu lama lagi, Xuan Chen kembali ke alam peri hanya untuk menjemput sikembar dan penghuni ruang dimensi spiritual lainnya. Nantinya mereka dibiarkan untuk tetap berada di dalam. Dan dikeluarkan di waktu-waktu tertentu saat Xuan Chen membutuhkan mereka.
.......
.......
__ADS_1
.......
Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗