
Yi Changyin tersenyum penuh haru dan segera menyembunyikan dua teratai kehidupan itu di dalam perutnya. Dia tidak ingin melegakannya dimana-mana, hanya ingin di tubuhnya.
Walaupun begitu, luka atau bahaya apapun tidak akan mempengaruhi kelangsungan kerja teratai kehidupan. Bahkan tanpa Yi Changyin, teratai itu masih bisa melahirkan bayi walaupun harus disertai energi spiritual yang cukup banyak.
Setelah selesai tiba-tiba wajah keempat ketua alam peri muram. Dia tahu apa yang akan di lakukan Yi Changyin selanjutnya. Ratunya yang satu ini terlalu nekat untuk melakukan sesuatu.
Masih berdiri di tengah-tengah ruangan, Yi Changyin kembali membentuk formasi kecil di tangannya. Di udara kosong, Yi Changyin mulai memposisikan dirinya bersila lotus. Dengan posisi tangan sedang bertapa.
Tiba-tiba saja cahaya keemasan keluar dengan deras ke atas. Yi Changyin sedikit tertekan di dalam. Ada sensasi terbakar dalam tubuh, tersayat dan tercabik-cabik. Dia berusaha mengeluarkan inti rohnya dengan kekuatan batin. Dia tetap berusaha untuk sadar.
Angin di sekitarnya berhembus kencang. Membuat rambut Yi Changyin sedikit beterbangan. Sedikit indah dilihat, namun yang dirasakan Yi Changyin tidak indah, tapi sangat menyakitkan.
Perlahan dari mulutnya keluar cahaya putih penuh dengan bintang-bintang kecil. Mengalir dengan lembut kedepan dan membentuk bola kecil secara berkala.
Semakin dikeluarkan, sakit yang dirasakan semakin kuat. Sungai darah perlahan keluar dari mulutnya. Ketika cahaya putih penuh dengan bintang-bintang itu berhenti mengalir, Yi Changyin memuntahkan seteguk darah.
Cahaya keemasan mulai hilang. Bola kecil itu semakin sempurna. Penuh dengan aura suci yang menenangkan. Sementara itu kondisi Yi Changyin sangat lemah, bibirnya pucat dan penuh darah.
Ketika tubuhnya perlahan turun ke bawah, ada perubahan dalam rambutnya. Dari pangkal sampai ujung, perlahan berubah menjadi putih. Tidak ada lagi rambut hitam. Yi Changyin yang cantik namun pucat kini berambut putih bersih.
Saat mencapai lantai, ketiga ketua alam peri meraih tubuh lemahnya. Sementara itu Hua Mu Dan membawa bunga di tangannya. Inti roh Yi Changyin di bungkus oleh kelopak bunga yang menguncup itu.
"Rahasiakan ini dari siapapun." Ujar Yi Changyin dengan suara yang lemah. "Kembangkan inti roh itu sesempurna mungkin. Jangan sampai Xuan Chen curiga nanti."
.......
.......
.......
Cahaya bulan menyinari gelembung air yang sedikit berwarna. Xuan Chen berdiri tak jauh dari gerbang, menunggu seseorang. Walaupun udara terasa dingin karena udara masih mampu untuk menembus gelembung air.
Pikirannya terus teringat dengan kejadian pagi tadi. Sangat mengejutkan dan membuatnya ingin mengutuk diri sendiri.
Yi Changyin marah, ini sudah lewat dari waktu berkunjungnya. Biasanya saat matahari mulai tenggelam pun wajah Yi Changyin akan berseri di depan matanya.
Sekarang Xuan Chen hanya bisa merindukan kedatangannya. Ingin mencium keningnya, memeluknya, menyuapinya makan. Lalu mengelus-elus perut dan mengajak ngobrol bayi dalam kandungan Yi Changyin.
Membayangkan hal itu membuat ia semakin merindukannya. Tapi mungkin saat ini Yi Changyin marah padanya. Dia hanya bisa menghela nafas berkali-kali. Mungkin malam ini Yi Changyin tidak akan menemuinya walaupun sesaat.
Dari kejauhan di balik tiang, tanpa di sadari sosok berambut putih dengan pakaian senada, berdiri melihat punggung Xuan Chen yang memasuki ruangan.
Dia adalah Yi Changyin, wajahnya sudah tidak sepucat tadi. Merasa sedih ketika melihat raut letih Xuan Chen. Pria itu pasti menelan kekecewaan karena menunggunya kembali.
Bisa saja Yi Changyin menemuinya dan membuat ilusi pada rambutnya untuk kembali hitam. Namun jika ingin bertahan lama, itu harus menghabiskan sejumlah energi spiritual yang besar. Belum lagi Xuan Chen pasti akan menyadarinya jika itu hanya ilusi tingkat rendah. Jadi Yi Changyin harus menghemat energi.
Dia pun tak bisa melakukan apa-apa sekarang. Hanya menarik nafas dalam-dalam dan pergi ke tempat lain.
__ADS_1
.......
.......
.......
(Satu bulan kemudian)
Satu bulan dilalui Xuan Chen tanpa Yi Changyin lagi. Ia menunggu gadis itu datang setiap malam namun tak kunjung muncul walaupun hanya sebatang hidung. Setiap hari, hanya keempat ketua alam peri yang bergantian memasuki gelembung air untuk mengantarkan makanan.
Ketika ia menanyakan tentang Yi Changyin, keempatnya langsung kabur. Seperti ada sesuatu yang disembunyikannya. Sekarang dia merasa dirinya tak berguna, hingga satu bulan lamanya dia habiskan dengan minum arak.
Siang ini matahari bersinar menghangatkan istananya. Terlebih ini adalah awal musim panas. Tapi Xuan Chen sengaja membanjiri tubuhnya dengan terik matahari sambil meminum arak.
Wajahnya sudah memerah karena mabuk yang tak pernah berhenti. Banyak kendi yang telah ia kosongkan. Feng'er dan Heilong pun sudah tidak bisa mencegahnya lagi. Yang ada, makhluk-makhluk yang berada di ruang dimensi spiritual disibukkan untuk membuat arak.
Matanya menyipit ketika melihat ke arah gerbang. Seseorang berpakaian serba biru datang ke arahnya. Walaupun dia mabuk, tapi instingnya masih bisa mengatakan kalau yang datang adalah peri dari ras Air, Shui Ning.
"Bukankah tadi sudah mengirimkan makan siang?" Tanyanya heran dengan suara yang berat, khas orang mabuk. Namun ia segera mengangkat bahu tak peduli dan kembali meneguk araknya.
Shui Ning hanya menggeleng-gelengkan kepalanya ketika melihat tingkah sang tuan agung yang mabuk-mabukan. Bisakah dia bersikap normal walaupun Yi Changyin tak berada di sisinya?
Tapi melihat makan siang habis di atas meja dalam ruangan, setidaknya ada kelegaan dalam hatinya. Walaupun suka mabuk, Xuan Chen sering menghabiskan makanannya. Karena ketua alam peri bilang itu masakan Yi Changyin.
"Ada apa?" Tanya Xuan Chen dengan suara yang berat. Tingkahnya benar-benar aneh karena mabuk.
Xuan Chen mengerutkan keningnya tidak senang. Dengan mata yang terlihat berat, dia berusaha memelototi Shui Ning dan menunjuknya. "Kau berani!" Walaupun mengancam, tapi nadanya sangat berat.
Shui Ning menarik nafas dan membuangnya perlahan. Dia air, seharusnya bisa untuk selalu tenang dan sabar bukan? Tapi kenapa kali ini sungguh kesal.
Dan akhirnya dia berkata dengan nada yang tenang, "Ratu membutuhkanmu."
Kata-kata itu sukses untuk menarik paksa kesadarannya. Dia segera merebut botol eliksir dan meminumnya sampai habis. Padahal satu tegukan saja cukup. Shui Ning hanya bisa menghela nafas lagi melihatnya.
Setelah beberapa saat memulihkan kesadaran, akhirnya Xuan Chen bertanya dengan suara jelas ke arah Shui Ning, "apa yang terjadi dengan Yin'er?" Sambil meraih saku dan menelan pil merah.
"Dia akan melahirkan."
Mendengar kata-kata itu Xuan Chen hampir tersedak pil merah. Tapi jelas-jelas pil itu seperti tersangkut di tenggorokannya. Dia buru-buru masuk ke dalam dan minum air putih.
Setelah itu berlari keluar dan hendak menerobos gelembung air. Mungkin Xuan Chen lupa jika Yi Changyin telah memperkuat lapisan gelembung itu. Jadi ketika menerobos, kepalanya malah terbentur dengan keras dan mundur beberapa langkah.
Kepalanya terasa berputar-putar di tempat. Dan bintang-bintang seperti sedang mengelilingi kepalannya. Pandangannya sedikit buram, namun ia masih sadar. Bahkan ia tak bisa berdiri dengan benar.
Melihat kekonyolan itu Shui Ning tak bisa menahan lagi untuk kesal. Dia segera menarik Xuan Chen dan keluar dari gelembung itu dengan mudah. Tak peduli jika pria itu masih merasa berputar-putar di tempat.
Namun nyatanya Xuan Chen bisa memulihkan tubuh dengan cepat. Selain karena kekuatannya sendiri, tapi karena mengingat kata-kata Shui Ning 'Ratu akan melahirkan', itu cukup untuk membangkitkan apapun.
__ADS_1
Setelah Shui Ning melepaskannya, tiba-tiba Xuan Chen berlari secepat kilat. Seperti satu bulan lalu, bahkan kakinya hampir tidak menapak. Lalu menimbulkan angin besar.
"...."
Shui Ning tidak tahu harus berbuat apalagi. Namun mengingat Ratunya yang akan melahirkan, dengan perasaan sedikit linglung dia berjalan menyusul Xuan Chen.
Saat mencapai kamar Yi Changyin, dia membuka pintu dengan tergesa-gesa. Kemudian melihat kamar tidur yang diberi tirai tertutup. Ada bayangan tiga orang di dalam, dan satu orang di luar.
Satu orang yang di luar adalah Yue Xingfei. Gadis itu menoleh ketika melihat Xuan Chen yang terdiam saja di ambang pintu. Tiga orang di dalam adalah ketua alam peri.
Yue Xingfei tersenyum sumringah dan menghampiri Xuan Chen. Menarik tangannya menuju kasur. Pria itu hanya menurut.
Tirai dibukakan, Xuan Chen dapat melihat Yi Changyin yang terpejam. Rambut hitamnya menyebar di atas bantal. Mungkin Xuan Chen tidak tahu kalau rambut hitam itu hanyalah ilusi.
Di atas perutnya yang datar, terdapat teratai kehidupan besar berwarna biru muda yang menguncup. Bersinar kemerahan dan melayang-layang. Dia sedikit tertegun, ternyata Yi Changyin mengambil langkah ini untuk melahirkan. Entah apa yang terjadi padanya.
Tiba-tiba saja cahaya sedikit menyilaukan keluar dari celah-celah kelopak bunga teratai. Yi Changyin sedikit mengenyitkan dahinya. Untuk membuka teratai pun ia harus menyalurkan energi spiritual yang cukup tanpa menggerakkan tangan.
Kelopak bunga teratai perlahan mekar, Xuan Chen sedikit terpana melihat hal itu. Tiba-tiba saja tangisan bayi mulai menggema, Xuan Chen merasa haru di hatinya. Itu adalah bayinya yang kedua bersama Yi Changyin.
'Jinmi, kau telah memiliki adik.' Pikirnya sambil tersenyum.
Teratai benar-benar mekar sepenuhnya. Cahaya meredup, dan bayi yang masih menangis itu mulai terlihat terbaring bergerak-gerak di atas mahkota bunga.
Hua Mu Dan segera meraihnya, dan bunga teratai biru muda itu menghilang perlahan. Yang lainnya segera menyiapkan kain berwarna putih, yang di atasnya terdapat satu lain lagi yang berwarna biru muda.
Yi Changyin masih terpejam untuk mengeluarkan satu teratai kehidupan lagi. Sementara itu Shui Ning baru datang menyusul.
Dengan hati-hati, Hua Mu Dan meletakkan bayi itu di atas kain dan membungkus badannya. Setelah itu dia mengangkatnya, dan memberikan bayi mungil yang masih menangis itu kepada Xuan Chen.
Xuan Chen menerimanya dengan senang hati. Saat berada di pangkuan sang ayah, bayi itu patuh dan berhenti menangis.
"Dia anak laki-laki. Berjiwa Peri Phoenix, mewarisimu. Dia lahir dengan empat elemen untuk dikuasai, api, angin, cahaya dan petir. Sungguh bayi yang istimewa." Jelas Hua Mu Dan secara merinci.
"Selamat kepada Ratu dan Tuan agung atas kelahiran pangeran kedua!" Kelimanya memberi selamat. Xuan Chen tak henti-hentinya untuk tersenyum senang.
Mengingat Jinmi adalah anak pertama mereka, anak laki-laki ini mendapatkan julukan pangeran kedua. Walaupun Jinmi sudah meninggalkan dunia ini sekitar dua tahun lalu, tapi dia mendapatkan pengakuan di alam peri sebagai putri tertua.
Yi Changyin kembali menunjukkan pergerakan, memalingkan pandangan semua orang. Satu teratai kehidupan lagi muncul dari dalam perut Yi Changyin dan mulai membesar.
.......
.......
.......
Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗
__ADS_1