
Penjelasan Yi Changyin membuat hati Xuan Chen menghangat. Dia kembali mencium puncak kepala Yi Changyin dalam-dalam. "Terima kasih, aku mencintaimu.."
Yi Changyin menggigit bibir bawahnya. Kata-kata Xuan Chen sukses untuk menghangatkan hatinya. Membuat warna hitam dalam bola racun tembus pandang itu perlahan menghilang dan tak menimbulkan sakit yang berlebihan.
Ya walaupun tak sesakit yang terakhir kali, tapi reaksi racun itu tetap terasa menyengat. Sehingga ia berkeringat dingin demi menahan rasa sakit.
Xuan Chen tak mengetahui hal itu, dia hanya menutup matanya untuk merasakan kehangatan saat memeluk Yi Changyin.
Sudah lama mereka tak membuka hubungan kontrak menjadi terlihat. Jadi mereka lupa akan hal itu. Hingga sampai saat ini keduanya tidak pernah membuka hubungan batin dan menyembunyikan segalanya. Itu lebih baik.
Tak berselang lama, tiba-tiba Xuan Chen beranjak bangun. Membuat Yi Changyin ikut terduduk dan mengenyit heran.
"Ada apa?"
Xuan Chen tersenyum. "Aku lupa dengan ramuannya." Kemudian dia menggenggam erat tangan Yi Changyin. "Tunggu sebentar, aku akan kembali."
"Tapi.." Yi Changyin kembali menarik tangan Xuan Chen yang hendak pergi. "Pakai jeruk, ya?" Gadis itu membujuk dengan tatapan menggodanya.
Hal itu membuat Xuan Chen tersenyum sampai terlihat gigi. Kemudian mengusap puncak kepala Yi Changyin. "Baiklah, istriku.."
"Terima kasih!" Seru Yi Changyin sambil memeluk tangannya dengan erat.
Tak lama kemudian dia kembali melepaskannya. Xuan Chen melambai-lambai tangannya kemudian pergi ke ruang dimensi spiritual.
Karena di sanalah tempat dia membuat ramuan. Demi meminimalisir orang-orang jahat yang mengincar Yi Changyin lewat racun.
Di dalam keadaannya masih sepi. Mungkin karena mereka semua masih sibuk berkultivasi. Xuan Chen fokus pada apa yang akan di lakukannya.
Di meja gazebo sudah tersedia semua alat-alatnya. Itu berkat Xiaoxuan yang selalu tepat waktu mempersiapkan.
Sedangkan ia masih memetik bahan-bahan yang di butuhkan. Karena resep dari tabib, hanya dia yang tahu. Bahkan Feng'er dan Heilong pun tidak pernah dia beri lihat.
Semua alat terbuat dari perak, hingga ia tak perlu khawatir tentang racun. Lagipula ini di dalam ruang dimensi spiritual, racun sekuat apapun tidak akan bisa berpengaruh.
Setelah menyatukan semua bahan, dia mulai menumbuknya sampai hancur. Selepas itu Xuan Chen pindahkan ke dalam wadah lain dan mencampurnya dengan dengan air hangat yang matang, bukan air spiritual.
Mengaduknya perlahan, kemudian disaring kembali ke dalam mangkuk makan berbahan keramik. Setelah itu di beri perasan jeruk ke dalamnya menggunakan energi spiritual. Karena jika manual, hasilnya tidak akan sesuai ekspektasi.
Semua ini dia pelajari di akademi Tianjin.
Setelah selesai Xuan Chen kembali membawanya keluar ruang dimensi spiritual. Langsung menuju kamar Yi Changyin dan dirinya.
Saat itu Yi Changyin masih menunggu sambil merebahkan dirinya dalam posisi miring. Namun segera beranjak bangun ketika melihat Xuan Chen datang.
Karena manis dan harum, Yi Changyin tak perlu disuapi. Namun saat hendak meminum ramuan itu, ia sedikit ragu. Menatap cairan kecoklatan dengan wangi jeruk itu dengan ekspresi yang rumit.
"Ada apa?" Tanya Xuan Chen ketika melihat Yi Changyin yang diam saja.
Yi Changyin sendiri tidak tahu mengapa bisa termenung. Ada perasaan aneh yang mengganjal namun tak bisa dijelaskan.
Namun ketika tersadar kembali Xuan Chen terlanjur mengetahuinya. Hingga ia harus membelokkannya ke topik lain.
"Apakah ini manis?" Tanyanya terlihat polos.
"Tentu saja ini manis." Xuan Chen mengedipkan matanya jahil. "Semanis dirimu."
Membuat Yi Changyin mencibir dan segera mengangkat mangkuknya untuk meminum isinya. Namun Xuan Chen kembali menghentikannya.
"Tunggu!"
"Apa lagi?" Tanya Yi Changyin sedikit jengkel.
"Kau belum makan sesuatu." Kemudian Xuan Chen mengeluarkan satu buah bakpao di tangannya. Yang mungkin dari ruang dimensi spiritual. Lalu menyodorkannya kepada Yi Changyin. "Makan dulu."
Yi Changyin hanya menghela nafas. Namun dia tetap menurut untuk memakan bakpao itu. Xuan Chen hanya memperhatikannya makan sambil tersenyum manis. Memperhatikan pipi Yi Changyin yang mengembung.
__ADS_1
Yi Changyin merasa terganggu dan segera menoleh ke arah Xuan Chen dengan cepat, lengkap dengan tatapan yang tajam menyalang.
"Apa tidak boleh?" Tanya Xuan Chen tak memperdulikan tatapannya.
Yi Changyin memberenggut kesal sambil memakan makanannya kembali sampai habis. Saat masih mengunyah dengan ekspresi yang dongkol, Xuan Chen mengambil secangkir air putih yang tersedia di meja terdekat.
Belum Xuan Chen menyodorkannya, Yi Changyin lebih dahulu merebutnya, lalu meminumnya dengan cepat dan memberikannya kembali pada Xuan Chen.
Pria itu hanya tersenyum sambil meletakkan kembali cangkir di tempat semula. Selagi Yi Changyin meminum habis ramuan yang tadi Xuan Chen buat. Masih dengan ekspresi yang dongkol.
.......
.......
.......
Petir saling bersahutan menyambar langit-langit malam kekaisaran Xuan. Awan hitam berkumpul di atas sana sampai bergulung-gulung. Bulan tak nampak, bintang tak menggantung.
Keadaannya sungguh gelap, sepi dan dingin. Seperti akan turun hujan deras. Padahal dunia alam fana sedang masuk dalam fase bulan akhir dari musim gugur.
Petir kembali menggelegar dengan kencang di atas atap istana. Membuat Xueqi yang sedang menyalakan lilin terlonjak kaget. Hampir saja lilin di tangannya terjatuh dan membakar habis kamar Wen Yuexin.
"Hati-hati Xueqi." Ujar Wen Yuexin memberi peringatan sambil memainkan benda yang berada di tangannya. "Kalau lilin itu jatuh kau bisa membunuh kita berdua."
Saat itu Xueqi langsung bersujud takut. "Maafkan kelalaian hamba, Junzhu."
"Tidak apa, lagi pula itu salah petir." Katanya dengan santai sambil melihat ke arah jendela. Hujan deras sudah mulai turun mengguyur setiap celah di daratan Dongfang.
"Berdirilah dan kemari.." katanya sambil tersenyum ke arah Xueqi.
Pelayan itu mengangguk dalam keadaan masih bersujud. "Terima kasih, Junzhu." Kemudian Xueqi menghampiri Wen Yuexin.
Pandangannya langsung tertuju pada kotak kayu bertutup kaca. Di dalamnya terdapat aura hitam seperti asap yang bergerak-gerak rapi. Namun aura itu tidak keluar, seperti tertahan oleh formasi penutup kaca itu.
"Bagaimana pendapatmu?" Tanya Wen Yuexin tiba-tiba.
"Tentu saja. Siapapun tidak akan ada yang bisa melihat, merasakan bahkan mendeteksi racun ini." Tutur Wen Yuexin dengan bangga.
'Bahkan jika seseorang itu Bai Suyue.' lanjutnya dalam hati.
Xueqi terbelalak karenanya. "Racun? Racun.. racun apa yang sehebat itu?"
Wen Yuexin tersenyum. Mengusap-usap tutup kaca yang tampak bersinar itu. "Racun ini, sudah diberikan pada orang lain."
Xueqi tambah terkejut. "Siapa.. itu, Junzhu?"
"Musuh terbesarku sepanjang masa." Kemudian dia tertawa kecil. Namun Terdengar begitu jahat dan mengerikan. "Kita lihat malam ini juga dan besok.. akan ada keributan di kediaman Adipati Zhaoyang."
.......
.......
.......
Di tengah-tengah Padang rumput yang luas, seseorang berjalan. Memakai pakaian serba putih dengan seorang bayi mungil dalam gendongannya.
Cahaya matahari bersinar hangat menyinari keceriaan wanita itu. Yang tak lain adalah Yi Changyin. Berjalan tanpa beban penuh kebahagiaan, dengan sosok mungil yang di gendongnya.
Bayi itu terus tersenyum kepadanya, membuat Yi Changyin semakin betah untuk menatapnya. Dia tampak begitu bahagia.
"Apakah Jinmi senang melihat ibu?" Tanya Yi Changyin dengan riang, yang langsung di sambut oleh kekehan kecil bayi mungil itu.
Namun saat mendongkak, langkah Yi Changyin berhenti. Wajah cerianya luntur tak bersisa. Awalnya merasa heran, namun tiba-tiba matanya menyiratkan rasa takut.
Entah kenapa dia tidak bisa mundur atau lari, hanya bisa menatap takut sosok wanita berpakaian hitam yang berdiri di hadapannya. Wajahnya begitu samar namun terasa menyeramkan.
__ADS_1
Yi Changyin memeluk erat bayi yang dia panggil Jinmi itu. "Jangan rebut anakku." Ucapannya dengan nafas yang memburu.
Namun sejurus kemudian tangan wanita itu terulur dengan cepat. Lalu merebut Jinmi dalam pangkuannya dengan paksa.
"Tidak!!!" Ia berusaha mempertahankan pelukannya, namun Jinmi tetap saja masih bisa direbut oleh wanita itu.
Yi Changyin tidak bisa melangkahkan kakinya. Berusaha merebut kembali Jinmi walaupun tak bisa. Ditambah bayi kecil itu menangis kencang hingga membuat Yi Changyin ikut-ikutan menangis.
"Jangan ambil Jinmi, kembalikan padaku! Jangan merebut kebahagiaanku! Kembalikan dia!" Teriaknya menggebu-gebu. Dengan tangan yang berusaha menggapai Jinmi yang menangis kencang.
Wanita itu hanya tersenyum miring. Kemudian berbalik pergi tanpa memperdulikan derita Yi Changyin ketika melihat anaknya direbut, langsung di depan matanya.
"Kembalikan Jinmi.. jangan bawa dia!" Dia berteriak, berusaha menggapai, berlari, namun tak bisa. Badannya ambruk ke atas tanah dengan tangisan.
Perlahan langit cerah berubah menjadi badai. Gemuruh petir menyertai tangisan bayi kecil itu. Ketika hujan mulai turun menemani tangisan Yi Changyin, wanita itu melebur bersama Jinmi, bayi miliknya.
Membuat Yi Changyin semakin ketar ketir dan berusaha meraih bayinya. Yang kini berubah menjadi abu bersama wanita itu, seperti air hujan badai ini telah menghancurkan keduanya.
"Jinmi!!"
Badannya terkejut tiba-tiba. Bersamaan dengan menyambarnya petir di atas atap paviliun. Yi Changyin terbangun dari mimpi buruknya dengan wajah yang pucat pasi.
Yi Changyin dapat merasakan kalau saat ini ia masih ada di kamar, bersama Xuan Chen yang sedang merengkuhnya. Tangannya bergerak memeriksa perut, dia tertegun karena keadaannya masih seperti semula. Bayinya belum lahir, namun.. apa arti dari mimpi buruknya itu?
Tiba-tiba keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Yi Changyin mencengkram erat pakaian Xuan Chen ketika rasa sakit tiba-tiba menyerang perutnya.
Dia mulai bergerak liar, banjir keringat dan sesekali memekik seperti wanita yang hendak melahirkan. Karena suara itulah Xuan Chen tiba-tiba terbangun.
Pria itu langsung mendudukan dirinya karena terkejut melihat Yi Changyin yang terlihat kesakitan.
"Apa yang terjadi?! Mana yang sakit?!" Tanyanya setengah berteriak sambil mencengkram erat tangan Yi Changyin.
"Perutku, sakiit.. aahh!" Pekik Yi Changyin terdengar sangat tidak tahan. Sementara itu petir terus menyambar, badai tak pernah berhenti.
"Pelayan!! Pelayan!!" Tak menunggu lama lagi dia memanggil seseorang sekeras mungkin. Sambil terus menenangkan Yi Changyin yang mulai gelisah.
Tak lama kemudian dua orang pelayan wanita berlari tergopoh-gopoh ke arahnya. Belum Xuan Chen memberikan perintah, mereka berdua sudah paham apa yang terjadi.
"Aku akan panggil tabib segera!" Salah satu dari mereka langsung berlari keluar. Sementara yang satunya lagi masih bertingkah ketar ketir, sebelum akhirnya memutuskan sendiri, "aku akan menyiapkan persalinan." Setelah itu dia melesat pergi.
Xuan Chen tertegun dengan kata-kata salah satu dari mereka. "Persalinan?" Gumamnya.
"Apakah kau akan melahirkan, Yin'er?" Tanya Xuan Chen dengan jantung yang berdebar sambil meletakkan Yi Changyin dalam pangkuannya.
"Aku tidak tahu.." jawabnya dengan suara yang tertahan.
"Sabar sebentar.." Xuan Chen mencium puncak kepalanya. "Tabib akan segera tiba. Aku akan tetap berada di sisimu."
Yi Changyin mendengar kata-katanya. Namun ia tak bisa sepenuhnya mencerna. Rasa sakit di perutnya terlalu kuat dan aneh. Hingga tak tanggung-tanggung tangannya mencengkram apapun yang teraba.
Sejurus kemudian pandangannya tiba-tiba sedikit buyar. Ketika ia merasakan Xuan Chen telah menidurkannya ke atas kasur dan di kerumuni banyak orang.
Nafasnya masih tersengal-sengal, ketika seseorang berkata. "Permaisuri Adipati.." lalu seseorang itu berbicara sangat tidak jelas di telinganya.
Kesadarannya bagaikan ingin terbang namun tertahan oleh rasa sakit. Ia sendiri tak yakin apa yang sedang dia lakukan dan apa yang terjadi di sekitarnya. Hidupnya bak sudah melayang-layang di atas jurang kematian.
"Permaisuri Adipati, kau pasti bisa!"
Kata-kata itu yang terakhir dia dengar. Dari wanita yang sepertinya seorang paruh baya. Setelah itu kesadaran telah jatuh, semuanya gelap.
.......
.......
.......
__ADS_1
Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗