
Xuan Chen meremas pakaiannya ketika kata-kata itu menusuk telinganya. Dia menghela nafas sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bicara. "Sudah kubilang sebelumnya, aku terjebak dan aku tidak tahu mengapa bisa terjebak dalam situasi seperti ini.."
Shen Lan menghela nafas. "Kita bicarakan ini nanti." Kemudian dia membelai puncak kepala Yi Changyin. "Kau pergi dulu.."
Yi Changyin mengangguk pelan. Dia berdiri perlahan, seperti ingin mengulur waktu. Namun tiba-tiba dia berlari secepat kilat ketika hendak melewati Xuan Chen. Namun sayangnya pria itu berhasil menangkap tangannya.
"Lepaskan aku!" Teriaknya sambil meronta dan berusaha melepaskan cengkraman erat tangan Xuan Chen.
"Lepaskan dia atau dia akan terluka!" Teriak Shen Lan tidak terima. Namun hanya dilirik sesaat oleh Xuan Chen.
Tiba-tiba Yi Changyin berinisiatif untuk mencium bibirnya cepat. Membuat Shen Lan yang menjadi saksinya mengutuk sambil menutupi matanya, "ah sial!"
Benar saja, pegangan tangan Xuan Chen melonggar ketika mendapatkan sentuhan menyengat itu. Mereka saling menatap dalam waktu lama, sebelum akhirnya Yi Changyin menunduk.
"Biarkan aku sendiri dahulu. Biarkan aku menenangkan diri.. setelah itu, aku berjanji akan menemuimu dan memecahkan masalah ini bersama-sama." Yi Changyin tersenyum -terpaksa- di akhir kalimatnya.
Tapi mampu membuat Xuan Chen mengalah, "baiklah.. jaga dirimu."
Setelah itu Yi Changyin berlari menjauhinya menuju arah keluar asrama laki-laki. Xuan Chen hanya menatap punggungnya tanpa berkata-kata, memastikan gadis itu sampai menghilang dari pandangannya.
"Jelaskan apa yang terjadi dengan benar atau kau akan mencicipi ini lagi." Ujar Shen Lan sambil menunjukkan cambuk hijau berdurinya.
Tapi tak membuat Xuan Chen takut. Dia menatap Shen Lan dengan yakin sambil mengangguk, "baik.."
.......
.......
.......
Yi Changyin kembali menatap lamat area luas yang berada di tengah-tengah hutan bambu. Membayangkan apa yang pernah terjadi di sana beberapa bulan lalu. Lantas dia tersenyum.
Namun ingatannya kembali mundur pada malam dimana ia mimpi. Bukan mimpi, jelas sebuah kabar yang kemungkinan akan terjadi di masa depan.
"Seberapapun usahamu untuk mencoba menghindari, bencana cinta lambat laun akan segera menghampiri. Dan bencana ini akan berakhir dengan kematian salah satu dari kalian. Tapi ingat! Jika salah satu dari kalian mati sebelum waktunya, bencana ini akan mengejarmu jika bertemu kembali di kehidupan selanjutnya.'
Ucapnya seorang pria dengan jubah hitam itu terus mengiang di telinganya. Mendorong ia untuk memaksa Xuan Chen tetap hidup. Dan jika mati sebelum waktunya, jiwa nya akan ikut hancur. Ini bukan sumpah, karena Yi Changyin sendiri yang akan sadar lalu menghancurkannya.
"Siapa yang mencoba memberikan mimpi ini padaku?" Tanyanya pada diri sendiri.
Yi Changyin menghela nafas. Pikirannya terus bergelut dengan segala kemungkinan. Namun ia pernah mendapati Xuan Chen yang bangun dengan ketakutan. Mungkinkah mimpinya saling berkaitan dan di kirim oleh orang yang sama? Mungkin..
"Apa aku harus menemui Dewa malam?" Gumamnya walau tak yakin. "Tapi istana langit bukan tempat yang sembarang untuk di masuki." Dia tampak putus asa.
Mengesampingkan masalah yang membuat dadanya sesak, Yi Changyin hanya fokus memikirkan segala kemungkinan dari mimpi yang dia dapatkan. Berbeda dengan mimpi lainnya yang penuh dengan fantasi dan khayalan aneh. Mimpi kali ini tampak nyata dan seperti di buat-buat oleh seseorang.
Namun arah pikirannya malah berbelok pada kejadian tadi siang. Terpaksa membuat pikirannya memikirkan masalah itu dalam waktu yang lama.
"Pertama iblis hati, lalu sugesti dan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya?" Gumamnya dengan wajah yang miris.
"Tapi siapa mereka?" Dia bertanya frustasi.
Saat ia menatap kosong kedepan, tiba-tiba matanya menangkap sekelebat bayangan hitam yang menarik perhatiannya. Bayangan hitam itu tampaknya memasuki hutan bambu yang paling dalam. Dan Yi Changyin mulai mengikutinya diam-diam.
Melewati padatnya pohon-pohon bambu yang berjejer rapi teratur. Namun semakin lama, keadaan semakin berkabut dan gelap. Yi Changyin menghentikan pengejarannya dan mendarat di tempat. Dia melihat-lihat sekitar yang dipenuhi kabut dan gelap karena hari menjelang malam.
Setelah berfikir lama, akhirnya dia menyadari sesuatu yang membuat ia terbelalak. "Gawat! Ternyata dia yang sengaja memancingku!" Gumamnya waspada.
Kemudian ia merasakan aura yang kuat di belakang punggungnya. Membuat bulu roma di sana berdiri. Perlahan dia menoleh kebelakang, lalu berbalik dengan cepat.
Awalnya dia terkejut mendapati sesosok berpakaian hitam berdiri di hadapannya. Dengan wajah yang di tutupi topeng menyeramkan penuh aura iblis.
"Raja iblis?" Gumam Yi Changyin yang hampir tak terdengar oleh siapapun. Hanya ada suara desiran angin di sana.
__ADS_1
Dan pria yang di panggil raja iblis itu tersenyum mengerikan. Matanya menatap Yi Changyin membuat gadis itu sedikit terintimidasi.
Namun tiba-tiba Yi Changyin mengembangkan senyumannya. Membuat sang Raja iblis heran karena keberaniannya. Dan Gadis itu menelungkupkan kedua tangannya di depan dada, sedikit membungkuk.
"Changyin memberi salam pada yang mulia Raja Iblis."
Membuat Zhang Bixuan mendengus. "Aku kira kau akan takut padaku."
"Anda raja penguasa alam bawah. Aku tidak takut, tapi menyeganimu." Jawab Yi Changyin se-sopan mungkin.
Zhang Bixuan tertawa kecil. "Keberanianmu memang sama denganmu yang lalu."
Membuat Yi Changyin berkerut heran. Yang lalu katanya? Kapan terakhir kali dia bertemu dengan raja iblis Zhang Bixuan? Rasanya tidak pernah.
Belum Yi Changyin bertanya hal itu, Zhang Bixuan melanjutkan kata-katanya. "Walaupun wilayah pemerintahanku masih memiliki konflik dengan alam langit, saat itu kau tetap memberi salam padaku. Sungguh luar biasa."
Yi Changyin mengangkat pandangannya. "Tapi, kapan terakhir kali Raja bertemu denganku? Aku kira.. hari ini adalah kali pertamaku bertemu denganmu."
Zhang Bixuan tertawa menanggapinya. "Tentu saja kau tidak akan mengetahuinya. Karena kala itu kita bertemu di kehidupan lalumu."
Membuat Yi Changyin menatap Zhang Bixuan dengan curiga. Apakah pria ini tahu perihal kehidupan lalunya? Tapi seperti apa dia di kehidupan lalunya hingga raja iblis yang arogan ini mengetahuinya?
"Maksud Raja iblis, kau mengetahui seluk beluk kehidupan laluku?" Tanya Yi Changyin memberanikan diri.
Zhang Bixuan mengangguk sambil tersenyum.
Menarik Yi Changyin untuk semakin mendekat dan semakin berani untuk bertanya dengan wajah yang penasaran, "bisakah.. kau menceritakannya padaku?"
Tanpa di duga, Zhang Bixuan malah menariknya ke dalam dekapan. Pria itu memegangi pinggang rampingnya sambil tersenyum menggoda. Yi Changyin berusaha melepaskan tapi aura dari raja iblis sengaja menekannya untuk tetap diam.
Tangan Zhang Bixuan terulur, menunjukkan dua bongkah berlian yang membuat Yi Changyin terbelalak. Jelas sama persis seperti yang dia temui di kedai mie, lalu di halaman luas kekaisaran Xuan dan terakhir di tempat pelatihan akademi.
"Ambilah hadiah dariku. Kau tahukan cara menggunakannya? Walaupun ini belum semua, tapi dapat menjawab sedikit-sedikit dari rasa penasaranmu." Ujar Zhang Bixuan terdengar meyakinkan.
"Raja?!"
Zhang Bixuan mendekatkan wajahnya membuat deru nafas terasa menyapu pori-pori wajahnya. Ia semakin panik, jantungnya berdebar kencang seperti ingin melompat. Jika saja pria ini bukan raja iblis yang memiliki aura tak terkalahkan, ia mungkin sudah kabur sedari tadi.
"Kita akan bertemu lagi nanti.." Bisiknya dengan halus yang membuat Yi Changyin semakin tidak nyaman.
Tak lama sosok Zhang Bixuan melebur menjadi abu dan menghilang tanpa sisa. Yi Changyin kini dapat bernafas dengan lega sembari memegangi dadanya yang jantungnya baru selesai melompat-lompat.
"Tak ku sangka penguasa alam bawah adalah bajingan!" Umpatnya dengan wajah yang memerah. Namun hilang ketika mengingat berlian yang berada di tangannya. Yi Changyin menatapnya lamat.
"Apakah benar ini?" Tanyanya ragu.
"Raja iblis Zhang Bixuan tidak mungkin salah. Dan tidak ada yang bisa menyamakan kekuatannya kecuali kaisar dan permaisuri langit."
Yi Changyin menggidikkan bahunya berusaha tak peduli dengan kemungkinan kalau pria itu Zhang Bixuan palsu. Tapi kenyataan terus mendorongnya hingga ia harus percaya.
Akhirnya Yi Changyin melukai ujung jari tengahnya, meneteskannya pada salah satu bongkahan berlian untuk mengetahui apa yang ada di dalamnya. Siapa tau itu adalah petunjuk penting yang bisa menjadi pemuas rasa penasarannya
Dan seperti yang terjadi sebelumnya, Yi Changyin serasa di seret paksa ketempat yang asing dengan penglihatan yang buram. Lalu matanya kembali terbuka di tempat yang begitu mengerikan.
Dimana dua hitam putih saling berhadapan dengan barisan prajurit yang sudah lengkap dengan senjatanya. Bukan jutaan lagi, bahkan ratusan juta orang. Dari mulai yang berkuda, terbang dan berjalan mulai maju. Hitam dan putih itu bercampur menjadi satu.
Saling menebas, menikam dan menusuk. Hujan panah dan hujan batu berapi tak terhindarkan lagi di sana. Baru beberapa menit mungkin, sudah banyak mayat yang mati menggenaskan terkapar di mana-mana. Peperangan itu terjadi di atas tanah tandus yang luas dan langit yang merah bagaikan berdarah. Tapi dimana tempat itu berada?!
Lalu sosok yang begitu mencolok dan menarik perhatian Yi Changyin. Dua orang bertarung jauh di atas mereka. Dengan pisau pisau angin yang di lepaskan saat dentingan pedang terdengar. Terdengar begitu mengerikan. Dan Yi Changyin dapat menebak perang apa ini.
"Perang alam peri!" Serunya ketika sadar dari dunia yang mungkin saja masa lalunya.
Sempat terdiam, bergelut dengan pikirannya. Yi Changyin kembali mengeluarkan satu bongkahan berlian lagi. Memberikan satu tetes darah dan kejadian tadi terulang.
__ADS_1
Tapi kali ini dia melihat tanah tandus itu di penuhi dengan mayat-mayat yang bersimbangan darah. Mereka mati dengan cara yang berbeda namun pastinya mengenaskan. Hitam dan putih bersatu di sana tanpa tersisa. Tanpa satupun yang sedang bertarung.
Namun ada seorang wanita bertopeng yang berjalan di antara mereka. Menyeret pedang penuh darah dengan langkah yang lunglai. Wanita itu kentara terlihat sedih melihat mereka semua mati.
'Itu Ratu Bai Suyue.' Pikir Yi Changyin.
Namun tiba-tiba Bai Suyue terkejut ketika pisau angin menghampirinya secepat kilat. Beruntung dia dapat mencegah kecelakaan pada tubuhnya dengan menghadang serangan itu.
Yi Changyin menoleh ke arah dimana serangan datang. Dia bergumam, "Raja Wu Yun."
"Beberapa orang tak bersalah mati hanya karena keegoisanmu."
Tutur Bai Suyue sambil menatap Wu Yun dengan dongkol. Namun pria bertopeng hitam itu tertawa kencang.
"Apakah aku terlihat perduli pada mereka?" Tanyanya di sela-sela tertawa.
"Sungguh iblis yang tidak punya hati nurani!" Cercanya dengan segudang emosi.
Terlihat Bai Suyue sangat menyesali kematian mereka yang ikut berperang. Tanpa tersisa satupun yang hidup, mereka semua mati.
Bahkan Yi Changyin ikut jengkel ketika melihat Wu Yun yang bersikap acuh tak acuh pada mereka.
"Aku tinggal mencari kelima bawahan tercintamu itu."
Membuat Bai Suyue mendongkak. Tapi sedetik kemudian dia tersenyum miring. "Kau tidak akan menemukan mereka. Tidak akan bisa!" Katanya dengan bangga.
"Aku punya seribu satu cara untuk menemukan mereka. Jangan terlalu berharap kalau semua akan baik-baik saja." Sahut Wu Yun berusaha memfrovokasi emosi Bai Suyue.
Namun Bai Suyue tertawa kecil. "Tidak ada waktu untuk itu." Dia berkata dengan dingin. "Karena.. waktumu tidak banyak."
Setelah mengatakan hal itu Bai Suyue langsung menyerang Wu Yun tanpa ampun. Dan di situlah mungkin terjadi pertarungan hebat antara dua pesohor alam langit yang bisa saja menghancurkan semua dunia terkecuali alam iblis.
Mereka beradu kekuatan tanpa adanya lelah. Saling menahan, memberikan dorongan, menyodorkan pedang dan saling menyerang. Sesuai yang dikatakan kebanyakan orang, pertarungan keduanya memang bisa menghancurkan dunia.
Bukti oleh mata kepala Yi Changyin, setiap dentingan pedang yang mereka adu membuat tanah bergetar, guntur menggelegar. Sungguh menakjubkan sekaligus mengerikan.
Namun Yi Changyin tidak bisa berlama-lama di sana. Dia kembali terseret paksa ke alam sadar yang berada di tengah-tengah hutan bambu. Tapi saat itu Yi Changyin merasakan sakit di seluruh tubuhnya.
Dia berteriak tak tahan. Tubuhnya terasa panas terbakar oleh cahaya putih yang mulai menyelubunginya. Yi Changyin terus berteriak sekencang mungkin, rasa sakit yang tiba-tiba datang ini tak mampu lagi dia sembunyikan.
Tiba-tiba cahaya itu semakin kuat dan besar. Menyamarkan tubuhnya yang mungil di dalam sana. Namun teriakan kesakitan itu berhenti. Yi Changyin terdiam di dalam selubungan cahaya yang kini semakin besar. Menimbulkan hembusan angin yang membuat pohon-pohon di sana hampir berjatuhan.
Yi Changyin yang berada di sana terpejam. Namun tiba-tiba membuka mata dengan pupil yang berwarna biru terang. Pergerakan kuat mulai terasa.
Tiba-tiba suara pekikan elang terdengar hingga ke akademi. Sosok elang berwarna putih berekor panjang keluar dari tubuh Yi Changyin. Terbang tinggi melampaui awan-awan oranye sore hari. Yang tentu saja pemandangan itu terlihat sampai ke akademi Tianjin. Termasuk Xuan Chen juga melihatnya dan kini merasakan firasat buruk.
"Elang aneh itu berasal dari hutan bambu!" Teriak salah satu murid yang menyadarkan Xuan Chen akan sesuatu.
Yi Changyin?!!!!
Di sisi lain elang itu kembali masuk ke hutan bambu. Kembali memasuki tubuh Yi Changyin secara paksa. Dan setelah itu cahaya beserta angin kencang segera menghilang. Meninggalkan jejak yang kentara di antara rentetan pohon bambu yang sudah acak-acakan.
Tatapan Yi Changyin menjadi kosong dan berbeda. Pelan-pelan dia mengangkat tangannya dan menatap lamat-lamat.
"Tak ku sangka aku bisa kembali.." Gumamnya dengan ekspresi yang rumit. Antara sedih dan senang, bercampur aduk menjadi tidak terbaca.
.......
.......
.......
Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉
__ADS_1