The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab XXVI - Akademi Tianjin


__ADS_3

Semilir angin menerbangkan setiap helai rambut yang hitam tergerai. Rambutnya terlihat polos tak berhias dan tak terikat seutas pita. Membuat angin malam yang begitu dingin semakin senang bermain-main dengan rambutnya.


Tangan dengan kulit sehalus giok itu mendekap tubuhnya yang di baluti hanfu putih polos yang menjadi ciri khasnya. Malam terasa dingin walaupun alam fana ini sudah masuk kedalam fase musim panas. Bahkan angin lembut juga membelai kulit wajahnya yang putih dan mulus tanpa cacat.


Matanya yang jernih bak mutiara berkilau menatap bulan yang menemaninya malam itu. Bintang-bintang bertaburan di sekitarnya dan menambah kesan tersendiri. Keindahan malam itu yang kuat telah menyingkirkan awan-awan hitam yang menghalanginya.


Sementara sebelah kiri adalah pemandangan gunung menjulang tinggi yang hampir menembus awan. Terlihat gelap menghitam karena sinar rembulan yang tidak terlalu terang.


Malam ini Yi Changyin tidak bisa tertidur, juga tidak bisa fokus berkultivasi. Masih ada satu hal yang terus mengganjal di hatinya, yang terus dia pikirkan. Memandang bulan di atas atap mungkin keputusan terbaik untuk menenangkan sedikit ketidak nyamanannya.


Seorang pria serba biru muncul di udara kosong, di belakang punggung Yi Changyin. Pria itu mengambil duduk di sebelahnya. "Mengapa masih belum tidur?" Tanya Shen Lan.


Yi Changyin sempat tersentak dengan kedatangan Shen Lan yang tiba-tiba, sebelum akhirnya dia tersenyum. "Aku hanya tidak bisa tidur. Kau tenang saja, aku bisa beristirahat sebanyak mungkin di ruang dimensi spiritual."


Shen Lan melihat wajah Yi Changyin yang mengungkapkan ketidak nyamanan. Dia sedikit mengerti, "apakah mungkin ada sesuatu yang ingin kau tanyakan?"


Yi Changyin menoleh ke arah Shen Lan. Benar, dia telah melupakan sesuatu yang penting, yang tentunya harus di tanyakan pada Shen Lan. "Benar, mengenai kaki Xuan Chen. Bisakah kau menjelaskannya padaku?"


Shen Lan memalingkan wajahnya, menatap bulan. "Sebenarnya aku tidak mau mengatakannya. Tapi, sepertinya memang harus di beritahu."


"Mengapa kau menyembunyikannya?"


"Pertapaanku lebih lama darimu. Melakukan hal itu akan membuatmu lelah dan terluka. Jadi, biar aku saja." Shen Lan menasihati.


"Aku tidak peduli."


*Note : Lamanya berkultivasi bisa juga di sebut dengan pertapaan. Karena tanaman dan hewan roh / ilahi di novel ini tidak memiliki kultivasi, jadi kekuatannya di hitung berdasarkan jumlah waktu saat bertapa. Misalnya pertapaan Shen Lan yang menggunakan puluhan ribu tahun lebih untuk fokus bertapa dan mendapatkan wujud manusia.


Shen Lan menatap Yi Changyin tidak percaya. Dia mendesah kasar, "kau ini.. sungguh keras kepala. Untuk membuat seseorang yang tersegel berdiri harus memakai ilusi yang menguras energi spiritual. Setiap seratus hari sekali seseorang harus menata ulang ilusi itu. Kau tidak akan pernah kuat." Jelasnya sambil bergrutu.


"Memangnya kenapa?" Yi Changyin menatap bulan sambil tersenyum, membuat cahaya remang-remang itu menyelimuti wajahnya hingga tampak pucat. "Entah kenapa aku merasa.. apa yang ku miliki akan sia-sia jika tidak memberikannya pada orang lain."


"Bahkan nyawamu?"


"Selama aku tidak keberatan, aku akan memberikannya."


Shen Lan menatap Yi Changyin dengan raut wajah yang rumit. Benarkah yang di katakan gadis itu? Sepertinya dia harus membuktikannya. Jika sudah tertulis dalam batu takdir, Shen Lan pun tidak akan bisa mencegahnya. Kalaupun gadis itu di takdirkan mati muda, dia tidak bisa mencegahnya. Mungkin Xuan Chen yang akan gila.


"Kau ini.." Shen Lan kembali mendesah, dia tak tahu harus berkata apa-apa lagi. "Sebenarnya, apa masalahmu dikehidupan masa lalu sampai seperti ini di kehidupan sekarang?" Dia tampak tersenyum picik.


"Kau bercanda? Aku yakin hal ini tidak ada hubungannya dengan masa lalu." Jawab Yi Changyin yakin. "Aku hanya ingin merasakan bagaimana berkorban untuk seseorang."


Shen Lan mendengus. "Bilang saja kau mencintainya."


Yi Changyin menunduk, menyembunyikan wajah meronanya. "Jatuh cinta apa? Aku hanya menjalankan tugasku sebagai bawahan kontraknya."


Shen Lan terkekeh pelan, dia tidak mempermasalahkan hal itu lagi. "Ingat, jangan menunjukkan jati dirimu besok."


"Aku mengerti."


Shen Lan berdiri, hendak meninggalkan gadis itu. "Jangan lupa untuk beristirahat."


Saat hendak menghilang, tiba-tiba pria itu merasakan sesuatu yang tidak biasa. Begitupula dengan Yi Changyin. Aura di sekitarnya tampak suram, begitu menekan. Seperti kedatangan seorang iblis. Tapi manamungkin!


Yi Changyin menoleh ke bawah, dia dapat melihat seorang gadis berpakaian warna biru berjalan sendirian menuju penginapan. Gadis itu tidak mencurigakan, bahkan di sambut oleh senior yang berjaga di depan tadi. Manamungkin dia pemilik aura itu. Bahkan senior yang masih berjaga itu tidak bersikap curiga ataupun waspada.


"Apa ada sesuatu?" Tanya Shen Lan sambil melihat kebawah.


"Aneh, dia hanya kultivator wanita biasa. Tidak mungkin memiliki aura yang sebesar itu."


Shen Lan tampak berfikir sebentar. "Sudahlah, sebaiknya kau kembali ke ruang spiritual. istirahat dengan baik."


Yi Changyin mengangguk patuh. "Baik."

__ADS_1


Sementara Shen Lan kembali ke kamar penginapan, Yi Changyin masuk ke ruang dimensi spiritual. Dia bisa melihat Feng'er yang sedang memetik buah-buahan berharga itu. Heilong yang sedang memancing ikan dan Xiaobai yang sedang bermeditasi. Yi Changyin hanya tersenyum saat mereka berdua menyapanya.


Di ruang dimensi spiritual ini tidak akan pernah gelap, selamanya terang. Bukan ilusi juga, dan ini semua adalah nyata. Tapi saat waktunya untuk tertidur, manusia atau apapun yang tinggal di sana akan merasa mengantuk.


Yi Changyin berjalan dengan wajah ngantuknya. Setelah di terpa dengan angin-angin malam yang dingin, dia merasa suntuk. Yi Changyin dapat melihat Xuan Chen yang masih tertidur pulas di sana. Sepertinya dia baru selesai berkultivasi, auranya dirasakan berbeda. Pria itu sudah naik menjadi level tujuh, pasti auranya terlihat emas dan elegan.


Tidak mungkin untuk tidur berdua di sana dengan wujud manusia. Yi Changyin cepat-cepat mengubah wujudnya menjadi seekor rubah. Dia segera tidur dengan tangan Xuan Chen yang di jadikan bantalan. Sangat nyaman, dia pun terlelap. Tanpa sadar, Xuan Chen pun memeluk tubuh mungil berbulu dan berekor sembilan itu. Bulunya yang tebal dan lembut, menghantarkan kenyamanan tersendiri padanya.


.......


.......


.......


Matahari hadir kembali menghantarkan kehangatan setelah di terjang kedinginan malam. Calon murid akademi dengan semangatnya pergi ke aula yang di tentukan. Dua saudari Yi, Xuan Chen dan Shen Lan pergi beriringan. Mereka adalah satu kelompok yang tak dapat terpisahkan.


Calon murid ini jumlahnya sangat banyak. Bahkan memenuhi jalanan kecil desa kaki gunung walaupun berjarak agak renggang. Ada yang perorangan, dua orang dan berkelompok. Sayang sekali, sebagian besar dari mereka harus pulang esok hari dengan kabar kegagalan.


Saat santai-santainya berjalan sambil melihat-lihat sekitar, tiba-tiba saja nenek lampir yang di takuti Xuan Chen baru-baru ini menghadang mereka. Siapa lagi kalau bukan Wei Qiao. Masih dengan pakaiannya yang penuh dengan mutiara emas dan riasan yang tebal. Wajahnya memang cantik bersinar, tapi sebagian besar tidak alami atau memakai bahan riasan.


Saat melihat wajah Yi Changyin yang cantik natural dan perhiasan seadanya, dia mendengus. Sangat iri, mengapa orang lain bisa begitu cantik bahkan tanpa pakaian dan perhiasan yang mahal?


"Ada perlu apa nona Wei?" Tanya Shen Lan terdengar sedikit mengejek. Bahkan Yi Xuemei pun tersenyum miring padannya, membuat gadis itu sedikit mengerucutkan bibirnya dengan wajah yang tidak bersahabat.


"Itu benar, untuk apa nona bangsawan menghadang kami yang biasa-biasa saja? Apakah ingin memeras kami?"


Wajah Wei Qiao terlihat tidak senang. "Lihatlah betapa tidak sopan nya orang kampung. Aku datang untuk menyapa kalian, sungguh tidak punya etika. Beginikah sikap kalian sebagai calon murid akademi Tianjin?" Katanya mencemooh.


Semua orang hanya mengangkat bahunya acuh. Sementara Yi Xuemei tersenyum miring sambil menyedekapkan kedua tangannya. "Bukankah kau juga datang hanya untuk menyapa calon adik ipar ku? Apakah itu terbilang sopan padaku dan tuan Shen yang lebih tua darimu.


Semua orang terkejut terutama Xuan Chen. Bisa-bisanya gadis itu dengan jelas menyebutkannya secara tidak langsung. Ya, perihal kalau Xuan Chen akan menikahi Yi Changyin suatu saat.


"Kakak, ini.."


"Rencananya setelah lulus di akademi Tianjin, mereka akan menikah. Tenang saja, aku akan turut mengundangmu." Tambah Yi Xuemei yang membuat Wei Qiao semakin memanas, dia telah berhasil mengomporinya.


"Apa gunanya aku berbohong?"


Saat Yi Xuemei berbicara, Xuan Chen menangkap pergerakan lain di belakang. Dia ingat siapa pria yang hendak menuju ke arahnya itu. Ya dia! Dia yang menatap dan menyentuh Yi Changyin seenaknya. Walaupun dia tidak bisa mengungkapkan, jelas-jelas hati Xuan Chen merasa cemburu.


Terburu-buru, dia pun berpamitan. "Aku tidak punya banyak waktu. Aku harus pergi.." Katanya sambil menarik Yi Changyin pergi dari sana, tanpa memperdulikan semua orang.


"Eehh! Tuan Ji.." Panggil Wei Qiao yang terabaikan.


Yi Xuemei tersenyum, dia semakin merasa senang. "Nona Wei apakah kau tahu, mereka tidak sabar untuk melakukan sesuatu di bawah pohon. Kau tidak boleh mencegah mereka. Atau kau akan mendapatkan batunya."


"Kau一?!


"Shen Lan, ayo pergi!" Ujar Yi Xuemei sambil bergegas pergi, tidak memperdulikan gadis dengan amarah memuncak itu. Shen Lan pun memberikan senyuman miring sebelum akhirnya pergi.


"Kalian!! DASAR ORANG MISKIN TAK TAHU ETIKA!!"


Teriakan itu begitu keras, memekakakan telinga pelayan di sampingnya. Bahkan mengundang banyak mata untuk melihat ke arahnya, dengan tatapan yang mengejek. Bagaimanapun Wei Qiao cukup terkenal, tapi mereka sekarang melihat sisi buruknya.


"Nona.. jangan mengundang perhatian banyak orang." Pelayan itu memberi nasihat dengan hati-hati.


Wei Qiao menghentakkan kakinya kesal. Mungkin jika sedikit lebih kuat, jalanan tanah tanah akan bergetar. Wajahnya memerah malu seperti kepiting rebus, bahkan sudah tidak memperdulikan reputasinya sebagai nona muda dari keluarga yang tak biasa.


.......


.......


.......

__ADS_1


Aula di kaki gunung itu sudah ramai dengan calon murid dari berbagai daerah. Jumlahnya cukup banyak, tapi tidak sampai pada angka seratus. Mereka di sediakan tempat duduk dengan posisi tersusun meningkat, kiri kanan. Di tengah terdapat lingkaran yang cukup besar, di batasi pelindung spiritual agar tidak membahayakan siapapun saat di adakan kompetisi.


Di bagian utama, beberapa guru dan tetua sudah berkumpul dengan tempat duduk sesuai tingkatan mereka. Kebanyakan dari guru-guru memiliki tingkat kultivasi dari kristal level lima sampai bintang. Mereka memakai pakaian sama rata, berwarna putih polos, memberikan kesan agung dan suci.


Bahkan Yi Changyin dapat melihat yang lebih istimewa di sana. Ada tetua yang sudah mencapai Dewa tahap awal! Umurnya tidak muda, janggut yang sepinggang dan rambutnya sudah putih. Memakai pakaian serba putih dengan aura mendominasi tanpa menekankan siapapun. Entah sudah berapa ratus tahun umurnya.


Setelah mendengarkan basa basi cukup lama, akhirnya Yi Changyin tahu banyak tentang akademi di alam fana ini. Aturan di sini jelas sangat tidak cocok untuk nona dan tuan muda bangsawan seperti Wei Qiao. Kerena menggunakan sistem menghormati yang lebih tua, tidak memandang derajat atau latar belakang keluarga. Jika seumur, maka bisa dilihat dari tingkat kultivasinya.


Pelajaran di sini hanya berjumlah lima, namun semuanya harus di selesaikan dan dikuasai selama tiga tahun. Setiap pelajaran memiliki dua guru tentunya, laki-laki dan perempuan. Usia mereka tidak kurang dari tiga puluh tahun sampai empat puluh tahun. Jika para tetua, tentu saja lebih dari lima puluh tahun. Biasanya para guru di sini kebanyakan terlahir dari murid unggul yang pernah belajar di akademi Tianjin.


Beladiri adalah yang terpenting di sini. Terdiri dari ilmu senjata dan tenaga dalam, masing-masing di ajarkan dua kali dalam tujuh hari. Ilmu yang di ajarkan akan sangat langka dan berbeda dengan akademi lainnya, maka dari itu akademi ini menjadi terpopuler walaupun tertutup.


Para murid akan di ajarkan penggunaan setiap senjata yang ada di dunia ini. Sampai mungkin menguasai salah satu bahkan lebih baik seluruhnya. Sementara untuk tenaga dalam adalah belajar mengendalikan elemen masing-masing dan ilmu energi spiritual.


Ketiga dari yang terpenting adalah formasi. Lalu ilmu Alchemist dan terakhir sastra. Selain ilmu beladiri dan ilmu Alchemist, akademi Tianjin juga mengajarkan kesenian.


Menguasai atau tidak, semua murid harus belajar. Agar menjadikan mereka lulus sebagai bibit unggul perkembangan manusia. Bahkan jika mereka tidak bisa, para guru tidak akan memaksanya secara berlebihan. Mereka akan di ajari secara halus.


Kompetisi di mulai, para siswa harus mempunyai kemauan sendiri untuk maju kedepan. Mereka akan melawan hewan roh yang setara dengan tingkat kultivasinya. Lalu terakhir mereka akan melawan monster dari alam baka, dan harus di bantu oleh masing-masing hewan kontrak mereka. Jikalau sendiri, tidak akan ada yang mampu melawannya.


Para guru beladiri dan tetua menilai para calon dari kelihaiannya bermain pedang, harus menang juga tentunya. Di lihat dari wajah-wajahnya, guru dan tetua di sini tidak sombong dan arogan. Mereka berwajah sangat berwibawa dan ramah, pasti akan bermain adil.


Seorang calon murid laki-laki yang lebih dulu mengajukan diri. Kultivasinya berada di tingkat emas level tujuh, aura yang di keluarkan berwarna emas elegan. Sama seperti Xuan Chen. Senjata yang dia gunakan adalah cambuk. Persis dengan cambukan siluman, membuat Yi Changyin ingin tertawa karena bernostalgia. Dia mengingat-ingat kejadian di istana besar kekaisaran Xuan.


Binatang roh yang di keluarkan tidak terlalu kuat. Jika untuk tingkat emas, akan melawan binatang roh dengan pertapaan selama sembilan ratus tahun lebih. Itu pasti sangat kuat walaupun tak sebanding dengan yang kristal yang harus melawan binatang roh dengan pertapaan seribu tahun.


Pertarungan itu terjadi sangat sengit, Cambukan terus melayang pada binatang roh berbentuk aneh itu. Semua orang memperhatikannya dengan serius. Terkecuali Wei Qiao yang terus melirik Xuan Chen yang bersebrangan dengannya. Kadang dia merasa geram saat melihat Yi Changyin menempel pada pria itu.


Yi Changyin yang menyadari tatapan Wei Qiao, hanya tersenyum picik. Dia semakin menjadi lem yang menempel di tubuh Xuan Chen. Bahkan pria itu tidak mempermasalahkannya. Justru dia sedikit memerah walaupun di tahan.


Tatapan kedua gadis itu bertemu, Yi Changyin tersenyum pada Wei Qiao. Senyuman itu seperti mengejek baginya. Jadi dia hanya mendengus dan memalingkan wajah.


Tiba-tiba seorang gadis berpakaian biru muda datang ke arah Yi Changyin. Kebetulan di samping gadis itu adalah kursi kosong. Yi Changyin yang menyadari kehadirannya hanya menatap dengan heran. Sepertinya dia mengenali wanita itu. Dia adalah gadis yang dia liat semalam, bersamaan dengan aura aneh itu datang. Anehnya, keluatan gadis itu sangat tersembunyi.


Tapi terkecuali bila para ras iblis yang melihatnya, mereka akan langsung mengenali dan menunduk hormat. Dia adalah Aoyi Jinqi! Untuk apa dia kemari? Ah mungkin, dia datang untuk Yi Changyin. Mengingat janjinya pada sang raja iblis, Zhang Bixuan untuk melindungi gadis yang di kira reinkarnasi Bai Suyue dari orang-orang Gaoqing Dijun.


"Nona, bolehkah aku duduk di sebelahmu." Katanya dengan ramah.


Yi Changyin tersenyum, "tentu saja."


Aoyi Jinqi duduk dengan anggun. Dia tidak terlihat seperti Ratu iblis saat berada di alam penuh kebencian itu. Bahkan senyumannya tidak sedingin dan seangkuh mereka.


Yi Changyin terus memperhatikan wanita itu dari samping. Entah kenapa dia merasa sangat familiar. Tapi dia tidak tahu siapa yang di maksud oleh bayang-bayang pikirannya. Seakan wanita itu adalah seseorang yang pernah hadir dikehidupan lalunya.


Tiba-tiba Aoyi Jinqi menoleh, Yi Changyin tersentak dan segera memalingkan pandangannya. Dia tentunya sangat malu!


Aoyi Jinqi masih tersenyum. "Nona, sepertinya kita cocok. Bolehkan berkenalan?" Tanyanya yang membuat Yi Changyin kembali menoleh ke arahnya, terkejut. Cocok di sini adalah cocok untuk berteman? Pastinya. Bahkan Xuan Chen dan yang lainnya pun terkejut mendengar gadis itu mengajukan diri untuk berkenalan.


Tanpa menunggu Yi Changyin yang masih bergelut dengan pikirannya yang kacau 一karena merasa familiar一, Aoyi Jinqi menarik tangan gadis itu untuk bersalaman. Dia tersenyum ramah, "aku Xiang Jinqi, boleh kah aku tahu nama kalian?"


Yi Changyin tersenyum canggung, dia juga mulai memperkenalkan semuanya. Tidak ada salahnya untuk berteman bukan? "Aku Yi Changyin. Ini temanku, Ji Xuan Chen, yang ini adalah kakakku, Yi Xuemei. Dan yang di ujung adalah teman kami juga, Shen Lanxiu."


Yi Changyin memperkenalkan mereka dengan nama samaran..Tentu saja Aoyi Jinqi tahu itu. Bahkan dia bisa melihat sembilan ekor di tubuh Yi Changyin dan Yi Xuemei. Lalu bayang-bayang bunga mawar biru di punggung Shen Lan.


Setelah beberapa patah kata mereka berbasa-basi, Yi Changyin dapat langsung akrab. Dia mengobrol hangat dengan Aoyi Jinqi, bahkan melupakan Xuan Chen dan pertandingan di sana. Walaupun hati Yi Changyin tetap saja tidak nyaman saat melihat sepasang mutiara hitam itu, dia tetap bersikap biasa saja.


Wanita itu, seakan banyak misteri yang dia sembunyikan rapat-rapat. Sekali lagi, Yi Changyin merasa familiar!


.......


.......


.......

__ADS_1


Maaf kalau penulisannya agak kacau, ntar author revisi lagi😊


Jangan lupa like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉


__ADS_2