The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab XC - Pil Jamur Lingzhi


__ADS_3

"Jadi pangeran ketujuh sudah memiliki seorang permaisuri adipati?" Tanya salah satu pengawal dengan wajah yang sumringah. Dan pengawal itu bermarga Lin.


(Permaisuri adipati biasannya julukan untuk istri pangeran / Wangfei. Jika pangeran itu sendiri bergelar Duke/Adipati. Walaupun Xuan Chen tidak diakui oleh pihak permaisuri, tapi setiap pangeran pernah menyandang gelar Duke/Adipati. Dan karena permaisuri, Xuan Chen tidak pernah menerima gelar tersebut)


"Siapa yang memberi tahu kalian kalau aku adalah pangeran ketujuh?" Tanya Xuan Chen tak memperdulikan ocehan salah satu dari mereka tadi.


"Itu... murid pertama dan kedua yang memberi tahu kami semua." Jawab rekan pengawal Lin, yang bermarga Jin.


"Apa?!" Xuan Chen terbelalak. "Shen Lan.. Yi Xuemei.." Gumamnya menyebutkan nama kedua orang itu.


Mungkin mereka sedang tersenyum bangga karena dipuji-puji telah berteman dengan seorang pangeran dan Ratu alam peri.


"Yang mulia pangeran, anda sedang terluka. Sebaiknya aku mencari bantuan untuk membawa permaisuri adipati ini.." Ujar pengawal Lin masih tak menyerah ingin membantunya.


"Jangan! Biar aku yang menggendongnya." Sergah Xuan Chen sambil berlalu pergi.


Namun betapa terkejutnya Lin dan Jin saat melihat wajah pucat gadis yang berada di punggung Xuan Chen.


"Bukannya itu Ratu?!" Seru mereka berdua yang membuat langkah Xuan Chen terhenti.


"Jadi istri pangeran adalah Ratu alam peri?" Ujar Lin dengan wajah yang tidak menyangka.


"Benar! Jadi kita harus memanggil dia Ratu atau Putri ketujuh?" Sahut Jin terlihat kebingungan.


Xuan Chen hanya menghela nafas pasrah dan segera bergegas pergi. Tak memperdulikan lagi ocehan mereka berdua lagi yang begitu memekakan telinga.


Saat hendak mencapai gerbang, tiba-tiba Shen Lan dan Yi Xuemei muncul di hadapannya. Kedua orang itu terkejut begitu melihat dirinya yang berpakaian acak-acakan juga penuh darah.


"Apa yang terjadi padamu?!" Tanya Shen Lan lebih dahulu.


"Bukan aku yang terluka. Yi..."


"Yi Changyin terluka?!" Potong Yi Xuemei. Gadis itu segera tergopoh-gopoh menghampiri Xuan Chen.


Melihat Yi Changyin yang tak sadarkan diri dengan wajah yang pucat bak mayat hidup, ia semakin merasa khawatir. "Xuan Chen, apa yang terjadi?!" Tanyanya tidak sabaran. Dengan berbagai praduga di pikirannya.


"Mungkin kalian sudah mengetahuinya, bahwa ada sejenis racun di tubuh Yi Changyin. Itu..."


Ucapannya kembali terpotong di udara karena Yi Xuemei.


"Apakah racunnya kembali bereaksi?!"


Xuan Chen hanya mengangguk lesu. Yi Xuemei menggigit bibirnya sambil memutar otak untuk mencari sesuatu. Sedangkan Shen Lan memijit pangkal hidungnya, mencari sesuatu.


"Kalian tidak perlu khawatir. Ada jamur Lingzhi yang dapat meredakan racunnya untuk sementara." Jeda Xuan Chen.


"Aku tidak punya waktu lagi, harus segera menuju paviliun Hua Tao dan membuat pil."


(Note: Hua Tao diambil dari nama tabib legendaris dan terkenal asal Tiongkok. Hua Tuo yang lahir di Kabupaten Qiao adalah seorang tabib yang sangat terkenal pada penghujung Dinasti Han dan Zaman Tiga Negara. Ia bernama lengkap Hua Yuanhua. Sumber : Wikipedia)


"Darimana kau mendapatkan jamur Lingzhi?!" Seru Shen Lan sedikit tidak percaya.


"Ada beberapa yang tumbuh di ruang dimensi spiritual, kalian tidak perlu khawatir. Semuanya akan beres."


Penjelasannya kali ini membuat Yi Xuemei dan Shen Lan menghela nafas lega.


"Apakah perlu bantuan?" Tawar Shen Lan dan Yi Xuemei secara bersamaan.


"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri." Jawab Xuan Chen dengan yakin sambil berlalu pergi. Dan menghilang di udara pertanda ia sudah memasuki akademi.


Yi Xuemei hendak menyusul, namun Shen Lan segera mencekal tangannya.


"Biarkan saja dia. Anggap saja Xuan Chen sedang membalas apa yang pernah Yi Changyin korbankan padanya."


.......


.......


.......


Xuan Chen kini telah sampai di paviliun Hua Tao. Tanpa halangan atau berpapasan dengan orang-orang di akademi. Karena jika itu terjadi urusannya akan menjadi lebih repot lagi.

__ADS_1


Namun ketika sampai di pintu paviliun kayu tersebut, Xuan Chen merasa kebingungan. Kedua tangannya sedang memegangi tubuh Yi Changyin agar tidak terjatuh. Lalu bagaimana cara ia membuka pintu?!


Bisa saja Xuan Chen membukanya menggunakan kaki. Namun ia selalu ingat pesan tetua Ling Zhao pada murid-muridnya.


"Ingat, jangan membuka paksa pintu paviliun Hua Tao. Karena engselnya sudah rusak. Jika kalian membukanya secara paksa, maka pintu itu akan roboh. Bukalah secara hati-hati.."


Membuat ia gelisah karena tak sabar ingin membuka pintu paviliun Hua Tao.


Sialan! Bukankah dia bisa menurunkan Yi Changyin terlebih dahulu?! Mengapa ia bisa lupa hal itu?!


Akhirnya Xuan Chen menurunkan Yi Changyin terlebih dahulu. Menyandarkan tubuh Yi Changyin di atas kursi teras yang tersedia dengan susah payah. Kemudian membuka pintu.


Sial!


Ternyata pintu paviliun Hua Tao terkunci!


Manamungkin ia merusak pintunya bukan?


"Apakah pangeran ketujuh butuh bantuan?" Tiba-tiba suara gadis yang familiar muncul di samping telinganya.


Dia adalah Fu Lianbing yang menenteng kunci paviliun Hua Tao di tangannya.


Akhirnya berkat bantuan Fu Lianbing, ia dapat masuk ke dalam. Membaringkan Yi Changyin di atas matras yang tersedia untuk orang sakit.


Paviliun Hua Tao begitu luas. Di sisi tengah terdapat barisan lima rak yang berisi buku kitab dan gulungan tentang pil dan obat-obatan. Di sisi kiri terdapat tiga matras berbaris. Berguna untuk murid atau siapa saja yang ingin mendapatkan pertolongan pertama.


Di sisi yang berhadapan dengan pintu, terdapat rak terbuka yang penuh dengan berbagai jenis tungku untuk membuat pil. Xuan Chen mengambil salah satu yang lebih besar berwarna perak.


"Sepertinya.. pangeran ketujuh akan membuat pil yang tidak biasa." Ujar Di Lianbing sambil terus membuntuti Xuan Chen yang kini menuju sisi kanan. Yang terdapat meja pembuatan pil dan obat.


Begitu banyak alat-alat seperti penggiling, pelebur, penghalus, cetakan dan sebagainya.


Xuan Chen terdiam di tempat, semenjak Fu Lianbing sudah berdiri di sampingnya dengan wajah yang penasaran. Manamungkin ia mengeluarkan jamur Lingzhi dan Feng'er di hadapannya.


"Ah, nona Fu.. bisakah aku meminta bantuan?" Katanya dengan sungkan.


Tak di sangka Fu Lianbing membungkuk di hadapannya. "Dengan senang hati, yang mulia.."


"Apa yang bisa ku bantu?"


Namun pada akhirnya ia menghela nafas. Membuat gadis itu pergi adakah yang terpenting sekarang. "Tolong ambilkan pakaianku dan Yi Changyin."


Gadis itu kembali membungkuk. "Akan kulakukan, yang mulia.."


Membuat Xuan Chen akan menyatakan protes kembali, namun lagi-lagi tak jadi karena kali ini Fu Lianbing sudah melesat pergi.


Setelah mengumpulkan niat, akhirnya Xuan Chen sudah menyalakan tungku dengan bantuan elemen api Phoenix legendaris, Feng'er.


Setelah itu ia membawa masuk jamur Lingzhi berserta sejumlah energi spiritual yang banyak. Sementara Feng'er sudah diizinkan kembali masuk. Ia tak ingin diganggu.


Bahkan ketika jamur Lingzhi sudah terbakar di dalam, ia masih harus menyalurkan energi spiritual agar tidak gosong. Bahkan sampai berkeringat, dan mengeluarkan sungai darah di ujung bibirnya.


Ketika bau harum khas obat sudah menguar di udara, Xuan Chen menderaskan aliran energi spiritualnya demi menarik kembali jamur Lingzhi dengan hati-hati.


Ajaib, kini jamur dengan piring yang lebar itu sudah berubah menjadi bola kecil berwarna coklat.


Saat itu Xuan Chen menariknya perlahan sampai mendarat tepat di atas telapak tangannya. Bersamaan dengan seteguk darah ia muntah kan.


Membuat pil jamur Lingzhi memang melelahkan. Menghabiskan banyak energi spiritual. Namun berkhasiat sangat baik. Hingga ia harus terdiam beberapa saat untuk mengumpulkan tenaga dan mengelap sisa darah di bibir.


Setelah itu ia kembali ke sisi kiri ruangan, yang terhalang oleh rak-rak buku dan gulungan tentang obat dan medis.


Terlihat olehnya Yi Changyin sudah tersadar, namun masih terlihat menggeliat kesakitan. Membuat ia segera melebarkan langkahnya. Kemudian duduk di tepi kasur dan meraih tubuh Yi Changyin. Ia sandarkan pada dadanya.


Xuan Chen menatap sebentar wajah Yi Changyin yang pucat. Keningnya mengkerut menahan sakit. Membuat ia tak bisa menundanya lagi untuk memasukkan pil jamur Lingzhi ke dalam mulutnya sendiri. Lalu menyatukannya dengan bibir Yi Changyin.


Jika jamur Lingzhi dan perlakuan hangat dapat mencegah racun itu untuk membunuh, bukankah jika keduanya digabungkan akan lebih baik?


Setelah dirasa pil jamur Lingzhi yang melebur sudah masuk ke dalam mulut Yi Changyin secara keseluruhan, Xuan Chen melepaskannya. Dan kembali meletakan Yi Changyin ke atas matras.


Benar saja, begitu ajaibnya jamur Lingzhi yang di buat penuh perjuangan dan diberikan penuh kasih sayang. Dalam sekejap wajah Yi Changyin kembali memerah dipenuhi darah. Tidak seperti tadi yang bagai mayat hidup.

__ADS_1


Wajahnya sudah normal seperti tak pernah merasa kesakitan yang luar biasa.


Perlahan ia membuka matanya, dan beranjak bangun di bantu oleh Xuan Chen. Bersamaan dengan datangnya Fu Lianbing dengan setumpuk pakaian di tangannya.


"Ratu, kau sudah bangun?" Sapanya sambil meletakkan setumpuk pakaian di ujung matras.


"Pangeran ketujuh, Lianbing sudah membawakannya untukmu. Lianbing pamit undur diri." Tanpa menunggu jawaban lagi, gadis itu melesat pergi.


Namun membuat Yi Changyin tertegun karena panggilannya pada Xuan Chen. "Pangeran ketujuh? Bagaimana dia一?!"


"Yi Xuemei dan Shen Lan yang memberitahu mereka." Jawab Xuan Chen yang membuat Yi Changyin memberenggut.


"Mereka!!"


"Sudah.. sudah.. mari kita ganti pakaian dahulu." Xuan Chen berusaha menenangkan sambil memegangi pundaknya.


Namun Yi Changyin menepisnya masih dengan wajah yang kesal. "Aku tahu!" Teriaknya sambil mengambil pakaian berwarna putih dan berlalu pergi dengan kaki yang di hentak-hentakkan.


Namun tak lama kemudian ia kembali sambil menunjuk pangkal hidung Xuan Chen. Memberi peringatan dengan ketus, "jangan mengintip!"


Setelah itupun ia pergi masih dengan wajah yang kesal.


Xuan Chen hanya tergelak. Ia senang Yi Changyin kembali pada pengaturan awal.


.......


.......


.......


Setelah berganti pakaian, mereka hanya duduk di atas matras dengan ekspresi yang malas. Tak disangka Fu Lianbing membawakan pakaian khas ratu kepadanya. Juga pakaian mewah yang di pakai Xuan Chen, sebagaimana pangeran terkenal pada umumnya.


Juga segunung perhiasan yang terselip dalam lipatan pakaian itu.


"Oh tidak, aku tidak suka kerah yang seperti ini." Keluh Yi Changyin sambil menarik-narik kerah baju yang keras di pundaknya.


"Jubah ini juga terlalu tebal." Sahut Xuan Chen sambil merentangkan sebelah tangannya.


"Sebaiknya kita lepas saja jubah ini!" Gerutunya sambil melepas jubah besar khas Ratu itu. Hingga tersisa pakaian dasarnya yang polos dan berlengan lebar. Xuan Chen pun mengikuti apa yang dia lakukan.


"Sepertinya mereka telah berkolusi!" Geram Yi Changyin dengan wajah yang dongkol. Kemudian menarik tangan Xuan Chen untuk segera pergi dari sana.


Saat membuka pintu, betapa terkejutnya mereka berdua saat mendapatkan sambutan tak terduga.


"Salam Ratu alam peri dan Pangeran ketujuh."


Hampir semua orang di akademi berkumpul disana. Bahkan guru dan tetua ikut memberi hormat padanya.


Yi Changyin sangat kesal! Dia tidak nyaman!


"Aku tahu aku Ratu alam peri!" Yi Changyin mulai mengeluarkan unek-uneknya sambil berteriak.


"Aku tahu aku puluhan ribu tahun lebih tua dari kalian! Aku tahu Xuan Chen adalah pangeran ketujuh!"


"Tapi disini aku adalah murid kalian! Teman kalian! Kalian dengar kan?!"


"Mulai sekarang, jangan ada yang memberi hormat lagi! Awas saja akan ku hancurkan ladang akademi jika bersikap sungkan pada kami berdua!" Gadis itu bahkan sudah mulai mengancam.


Semua orang hanya terdiam. Tak terkecuali Yi Xuemei, Shen Lan dan tetua Ling Zhao yang tersenyum menahan tawanya. Dan pemandangan itu telah terlihat oleh Yi Changyin.


"Diam kalian bertiga!" Teriaknya ketus sambil berlalu pergi meninggalkan semua orang.


Di susul dengan Xuan Chen yang masih sempat membungkuk pada semua orang dengan ekspresi yang malu.


.......


.......


.......


Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉

__ADS_1


__ADS_2