The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab XXX


__ADS_3

Yi Changyin berkedip dua kali karena ucapannya sendiri yang tiba-tiba keluar. Bahkan dia sendiri merasa malu dengan hal itu, apalagi semua orang yang berada di bawah mendengarnya dengan jelas. Dia menunduk sambil menggigit bibir bawahnya, menyembunyikan wajahnya yang memerah.


Tiba-tiba Feng'er tertawa keras. "Nona Yi, kuingatkan sekali padamu. Kau dan tuan Xuan itu sudah terjalin konfrak. Kau tidak bisa mencintainya apalagi menikahi一."


"Feng'er!!" Potong Yi Xuemei sambil menyikut tangan pria itu.


Yi Xuemei tahu kalau itu sangat menyinggung perasaan adiknya dan Feng'er malah kebingungan. Jelas wajah Yi Changyin pun merasa tidak enak saat Feng'er mengatakan hal itu, begitupula dengan Xuan Chen. Walaupun Yi Changyin sendiri tidak tahu kenapa hatinya merasa tidak enak.


"Aku.. aku hanya bercanda." Yi Changyin tersenyum dipaksakan. "Aku tentu tahu semuanya. Kalian tahu kan kalau aku dan Xuan Chen selalu bercanda?" Dia menggoyang-goyangkan tangan Xuan Chen, wajahnya masih terlihat kaku. "Xuan Chen, benarkan?"


Pria itu terlihat tidak tega, dia membelai pipi Yi Changyin, "yaa, itu benar."


"Ohh!" Feng'er mengangguk sambil tertawa, sementara yang lainnya hanya tertawa garing. Hanya upaya untuk mengalihkan Feng'er dari topik itu, dia tidak tahu kebenarannya.


"Sudahlah, sekarang kalian bantu aku untuk menyiapkan makanan!" Seru Yi Xuemei mencairkan suasana. Tentu saja semua orang siap untuk membantunya, terkecuali dua orang yang berada di atas pohon itu.


Disisi lain, Yi Changyin kembali merangkul tangan Xuan Chen. Wajah pria itu kembali memerah, canggung dan bahkan sampai berkeringat. Seperti ada sesuatu yang akan diledakkan.


Yi Changyin menatap Xuan Chen sambil tersenyum manis. "Xuan Chen, maafkan aku soal tadi.." Katanya dengan lembut.


Pria itu menoleh, sejak tadi suasana hatinya seperti roda berputar. Terkadang ingin meledak dan terkadang terasa tenang. Sedangkan gadis yang menjadi pelakunya tidak menunjukkan apapun selain senyuman polos dan wajah tak berdosa.


"Tidak apa-apa, aku mengerti.." Dia berusaha untuk bersikap normal.


Yi Changyin semakin melebarkan senyumnya, dia kembali membaringkan tubuhnya diatas dahan pohon yang agak besar. Kepalannya dia sandarkan pada paha Xuan Chen yang menjadi sandaran.


Keseruan didekat danau itu terlihat hidup, dua orang misterius memperhatikan mereka dalam kegelapan. Mereka adalah orang sama seperti yang menyerang Yi Changyin malam itu. Berbaju zirah putih dan topeng yang membuat wajahnya tidak dikenali.


Wanita itu berkata, "tak kusangka, ternyata dia berani merendahkan dirinya didepan manusia biasa itu. Bahkan rela memanggilnya dengan majikan." Dia mendengus. "Aku tidak tahu bagaimana reaksi ketua Yi Wang dan seluruh alam langit jika mengetahuinya."


"Kau benar.." Si pria menyahuti. "Ras hewan suci alam langit sangat enggan untuk melakukan kontrak dengan siapapun. Mereka lebih suka hidup bebas. Tapi kali ini manusia itu sangat beruntung. Mungkin hanya dia yang mendapatkan Ras hewan suci alam langit sebagai binatang kontraknya. Bahkan kedua binatang ilahi alam peri itu."


Wanita itu terkekeh pelan, matanya masih menatap mereka dari kejauhan. "Tetap saja tuannya itu lebih lemah berkali-kali lipat dari hewan-hewan kontraknya. Itu bukan masalah, malah sangat menarik." Dia menoleh pada rekan prianya. "Haruskah kita mengacaukan mereka sekarang?" Dia tersenyum mengerikan.


Pria itu tersenyum miring. "Disana ada Phoenix dan Naga legendaris yang menjaga. Kita tidak bisa bertindak gegabah." Dia memberi nasihat. "Lagipula Gaoqing Dijun tidak pernah mengajarkan kita untuk mengganggu seseorang yang sedang makan."


"Kau benar juga, terakhir kali kedua binatang ilahi itu menakuti kita." Cibir si wanita sambil menatap benci pada Feng'er dan Heilong.


"Kita tidak bisa melawan mereka jika menggunakan fisik dan tenaga dalam." Nada bicara pria itu terdengar sinis, senyuman miringnya menandakan kelicikan dan penuh siasat. "Sepertinya, kita harus menjalankan otak sebagai senjata.."


.......


.......


.......


Keesokan harinya, dua puluh orang murid dan para guru bersiap-siap berangkat menuju puncak gunung. Para guru menghimbau agar menggunakan senjata masing-masing untuk terbang melewati jalur yang ditentukan. Dan pastinya tidak akan berbahaya.


Jika berjalan kaki, akan menempuh waktu selama satu minggu. Karena susah dan jauhnya jarak dari kaki kepuncak gunung. Semua murid harus tetap stabil, tidak boleh menggunakan banyak energi fisik. Karena perjalanan ke puncak gunung bukan bagian dari materi pelajaran.


Pada umumnya, senjata pribadi dapat di tunggangi oleh pemiliknya. Jika dia belum bisa menggunakan teknik meringankan badan atau terbang seperti yang makhluk abadi lakukan, bisa menggunakan senjata masing-masing.


Jika ingin menunggangi senjata masing-masing, tentu ada tekniknya dan menggunakan energi spiritual. Walaupun akan menguras jika digunakan untuk naik ke puncak gunung, itu akan lebih baik daripada menggunakan tenaga fisik selama satu minggu.


Semua orang sudah bersiap-siap beberapa menit sebelum berangkat, sementara Yi Changyin masih bersantai di ruang dimensi spiritual. Dia sedang sibuk memakan buah spiritual hingga Dantiannya terisi banyak. Bertapa dalam waktu yang sikat, dia akan segera naik level.


"Rubah kecil, para murid sudah berkumpul.." Tiba-tiba saja Xuan Chen datang mengganggu. "Ayo pergi.." Dia menarik-narik tangan gadis itu secara paksa.


Yi Changyin mengerutkan kening sangat dalam, dia tidak terima. Dia menepiskan tangan Xuan Chen, "Masih ada beberapa jam lagi, mengapa begitu memaksa." Cibirnya. Pipinya mengembung karena cemberut, membuat Xuan Chen merasa gemas sendiri.


Tangannya beralih menarik pipi Yi Changyin, gadis itu menjerit kesakitan. "Ayo pergi!!"


Yi Changyin mulai bergerak, dia mendorong Xuan Chen menggunakan energi spiritualnya. Tapi tak sampai membuat pria itu terjatuh, hanya terdorong beberapa senti kebelakang. Yi Changyin balik menarik kedua pipi pria itu. Bahkan lebih kencang seperti menarik karet sampai merenggang.


"Yi Changyin lepaskan!!" Dia berusaha melepaskan tangan mungil yang semakin mengencang itu. Bahkan wajahnya tidak menunjukkan belas kasihan sedikitpun.

__ADS_1


"Rubah kecil!!"


Yi Changyin tidak menggubris. Setelah puas, barulah dia melepaskannya dengan senyuman miring. Dia menjulurkan lidahnya sekilas lalu berlari keluar dari ruang dimensi spiritual. Meninggalkan Xuan Chen yang pipinya mulai memerah. Untung saja tidak sampai membengkak.


Yi Changyin bergabung dengan beberapa murid yang hendak pergi ke sekolah baru mereka. Pakaiannya masih bebas, tapi diikat pinggang mereka terdapat gantungan giok dengan pelakat tanda murid akademinya.


Gadis itu mengibas-ngibaskan kipas Yin Zhenjie-nya yang berwarna merah muda. Bukan untuk pamer, tapi entah kenapa dia merasa gerah. Dia sendiri berjalan di tengah keramaian, kepalanya celingak-celinguk melihat-lihat sekitar. Cahaya matahari yang mengenainya membuat kulit putih bersih itu semakin terlihat cerah.


Matanya tampak bersinar-sinar. Bibirnya sangat mungil dan merah ranum. Leher jenjangnya sangat putih bersih menggoda nafsu laki-laki. Rambutnya lurus, hitam mengkilap dan tergerai panjang sampai lewat dari bokong.


Tentu saja dia sangat menarik perhatian banyak orang, terutama laki-laki. Walaupun dia sendiri tidak menyadari hal itu. Jati dirinya adalah seekor rubah, tentu saja punya pesona yang tinggi. Bahkan tanpa mengeluarkan ilmu penggoda, kecantikannya akan mampu menghancurkan dunia.


Wei Qiao menatap tajam Yi Changyin dari jauh. "Dasar penggoda! Tidak tahu malu!" Kutuknya.


Yi Changyin tidak mendengar ucapannya, tapi dapat merasakan keberadaan Wei Qiao. Dia berhenti dan menoleh ke arahnya. Tentu Wei Qiao merasa terkejut. Dia sangat geram saat Yi Changyin memberi senyuman manis padanya. Dia merasa senyuman itu sangat merendahkan harga diri.


Gadis itu tidak memperdulikannya lagi. Dia lanjut berjalan sampai keperbatasan antara desa dan hutan, hendak menyusul Yi Xuemei dan Shen Lan. Kipas Yin Zhenjie masih setia memberikan angin-angin sejuk yang menyapu wajahnya.


Tiba-tiba saja seseorang menyerangnya dari belakang. Pria itu dengan cepat memasangkan cadar putih yang menutupi setengah wajahnya. Yi Changyin terkejut bukan main, dia tidak dapat membaca kedatangan pria itu. Apalagi untuk menghindar.


Yi Changyin berbalik, kini wajahnya sudah tertutupi setengah oleh cadar. Tampak Xuan Chen sedang menatapnya dengan senyuman puas. Pipinya masih terlihat memerah dan sedikit bengkak. Membuat Yi Changyin yang tadinya ingin marah, malah tersenyum menahan tawanya.


Kening Xuan Chen merajut, "apa yang lucu?"


Yi Changyin terbatuk, menghentikan rasa geli yang membuatnya ingin terus tertawa. "Tidak apa... Tapi kenapa aku memakai cadar?" Tanyanya ambigu.


Xuan Chen mengajak Yi Changyin untuk berjalan sebelum akhirnya menjawab, "kau sangat menarik perhatian. Banyak pria yang melihatmu dengan tatapan yang tidak biasa. Aku tidak suka itu." Kata-katanya terdengar ketus, membuat Yi Changyin terkekeh pelan.


Gadis itu merangkul tangan Xuan Chen. Dia berbisik, "apakah kau takut ada yang akan merebut rubah kecilmu?" Godanya.


"Tentu aku一"


"Ahhh!!"


Entah kapan ada batu sandungan, Yi Changyin tersungkur ke tanah. Banyak pasang mata yang melihatnya, membuat rasa sakit itu lebih besar dari rasa malu. Untung Xuan Chen memakaikannya cadar. Jelas, Wei Qiao tertawa melihatnya.


Yi Changyin membalikkan tangannya perlahan, tangannya terluka! Bahkan sampai robek dan berdarah. Pria disampingnya semakin cemas. Dia meraih tangan Yi Changyin, melepaskan cadar yang dipasangnya untuk membalut luka.


Banyak orang yang memperhatikan, tatapan mereka semua jelas berbeda tanggapan. Termasuk We Qiao yang kini mulai bergerak untuk menghampiri mereka.


Ketika hendak dibalut, tiba-tiba sebagian darah Yi Changyin melayang ke udara, seperti seutas tali yang terbawa angin. Tidak ada yang menyadari, hanya Yi Changyin dan Xuan Chen sendiri. Mereka berdua pun terdiam dengan ekspresi yang heran.


Bola mata mereka bergerak mengikuti arah darah yang mengambang itu, benda aneh itu melaju menuju puncak gunung Tianjin. Semakin jauh, semakin mengecil lalu menghilang.


"Nona Yi begitu senang mencari perhatian! Hanya jatuh tersandung batu dan luka sedikit, begitu menginginkan perhatiannya." Makinya yang membuat semua pasang mata beralih kepadanya.


Yi Changyin dan Xuan Chen tersadar akan lamunannya. Akankah darah melayang tadi hanya halusinasi mereka? Sudahlah, mungkin benar seperti itu. Mereka tidak memperdulikan Wei Qiao, malah Xuan Chen kembali membalut telapak tangan rubah kecilnya yang terluka.


Bak ditimpa batu besar, kepala Wei Qiao terhantam karena tidak dipedulikan oleh keduanya. Yang dia inginkan adalah Yi Changyin maju dan marah-marah padanya, lalu dia akan menghancurkan reputasinya. Tapi keadaan berbalik dari apa yang dia inginkan.


Setelah selesai, mereka berdua berdiri. Wei Qiao masih berdiri di belakang mereka dengan rasa malu yang besar. Keduanya menoleh, ekspresinya jelas-jelas sedang mengejek.


"Aiyo, sejak kapan nona Wei ada dibelakang kami?" Tanya Yi Changyin pura-pura bodoh.


"Kau?!"


"Apakah ada sesuatu yang diperlukan oleh nona besar?" Tanya Yi Changyin lagi yang terdengar sarkartis.


"Kau ini sangat tidak tahu etika! Sebenarnya apa yang diajarkan oleh keluargamu sampai berani membentak nona muda dari mentri kiri kekaisaran Yunnan!!"


Xuan Chen tidak nyaman saat membicarakan kedudukan, lantas dia menarik Yi Changyin untuk pergi dari sana. "Changyin, ayo pergi."


Dengan cepat Yi Changyin menangkisnya, pria itu sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Yi Changyin maju satu langkah dengan raut wajah yang sedikit menantang.


"Apa nona Wei tidak tahu kita sedang berada dimana? Ini adalah gunung Tianjin, masih bagian dari kekaisaran Guan, bukan kekaisaran Yunnan."

__ADS_1


"Kau?!"


"Jadi.. sekeras apapun kau meneriakkan latar belakang keluargamu sebagai mentri kiri kekaisaran Yunnan, tidak akan ada yang peduli. Malah kau sangat memalukan mengagungkan latar belakang di daerah orang."


"Beraninya kau?!"


"Orang yang sombong tidak bertuhan, orang yang iri tidak bertetangga, orang yang marah tidak memiliki dirinya sendiri. Dan kau sedang marah, sombong dan iri. Berarti sama saja kau tidak memiliki apapun yang bisa diraih dari dalam, luar, atas, bawah, kiri dan kanan. Karena.. kau selalu merasa bahwa wanita paling sempurna adalah dirimu."


"YI CHANGYIN!!!"


"Bukannya orang yang sempurna tidak membutuhkan apapun?" Yi Changyin tersenyum miring. "Xuan Chen, ayo pergi.." Yi Changyin menarik tangan Xuan Chen untuk pergi, dia tidak memperdulikan Wei Qiao lagi. Lagipula apa yang dikatakannya adalah kebenaran, orang-orang disekitarnya pun mengangguk setuju.


Hati Wei Qiao sudah dipenuhi dengan emosi yang berapi-api. Dia tak mampu menahan amarahnya lagi. Aura hijau muncul ditangannya, dia berlari hendak menyerang Yi Changyin dari belakang.


Serangan recehan seperti itu? Manamungkin orang alam langit yang sudah mencapai tingkat Dewi bisa langsung terkalahkan?


Yi Changyin menyadari serangan sembunyi-sembunyi itu. Dia berhenti dan mengibaskan kipas Yin Zhenjie-nya kebelakang. Alhasil Wei Qiao terpental dan serangannya itu hangus sia-sia. Yi Changyin tidak peduli, dia kembali menarik Xuan Chen untuk berjalan. Pria itu hanya tersenyum bangga.


Seseorang menahannya, Wei Qiao tidak jadi untuk bersentuhan dengan tanah. Masih terkejut, tapi dia sadar dengan seseorang yang menangkapnya dan pria itu masih diam menatapnya.


Perlahan Wei Qiao menaikkan pandangannya, dia menatap sepasang bola mata yang juga sedang menatap lekat wajahnya. Pria itu memiliki perawakan sempurna dan wajah yang tampan tanpa cacat. Bahkan dilihat dari pakainya, dia adalah seorang bangsawan.


Setampan apapun dia, Wei Qiao tetap tertarik pada Xuan Chen. Dia segera mendorong pria itu menjauh darinya. "Lancang!!"


Pria tampan itu tidak marah, dia malah tersenyum. "Salam nona Wei dari hamba, tuan muda kedua keluarga mentri kanan Yu, Yu Qinghan."


Wei Qiao hampir muntah darah ketika mengetahui identitas pria itu. Dia tahu siapa itu keluarga Yu, keluarga Mentri kanan Dinasti Guan. Dan gunung Tianjin adalah bagian dari kekaisaran Guan. Walaupun begitu, mata Wei Qiao tetap tidak menunjukkan ketertarikan.


Dia menelisik wajah Yu Qinghan. 'Lebih tampan Ji Xuan Chen!' Ketusnya dalam hati.


"Jadi begitu. Sudahlah, aku tidak punya waktu." Dia membungkuk. "Hamba pamit."Yui


Yu Qinghan menatap punggung Wei Qiao yang semakin menjauh, kemudian beralih pada punggung Yi Changyin dan Xuan Chen. Dia tersenyum tipis, "sepertinya.. tiga tahun ini akan banyak terjadi drama."


.......


.......


.......


Jauh dari penglihatan orang-orang, jauh dari daerah yang penuh kepadatan manusia. Pohon-pohon berjejer bak lukisan dengan kabut awan yang menghiasi atasnya. Begitu indah.


Seutas pita merah terbang melewati pemandangan itu. Tidak, itu bukan pita, tapi cairan darah yang melayang-layang. Seperti kekuatan sihir telah membawanya pergi dari pemilik aslinya, Yi Changyin.


Darah itu melesat menuju puncak gunung Tianjin. Melewati beberapa ladang sayuran dan buah, lalu bangunan-bangunan serupa yang berjejer. Sampai aula terbuka yang besar, tampaklah sebuah batu berbentuk oval yang berdiri tegak.


Permukaannya tampak tidak rata dengan bolong-bolong dan benjolan yang tidak beraturan, sangat kasar. Tapi dari auranya terasa keramat dan berbeda dari batu lainnya. Walaupun berwarna hitam dan memiliki permukaan yang tidak rata, batu itu dilindungi oleh perisai spiritual yang kuat dan tidak dapat di pecahkan.


Darah itu masih melaju, merobek bagian atas perisai spiritual dengan mudahnya dan masuk kedalam permukaan batu. Walaupun masih siang dan terang, tidak akan menipu mata seseorang dengan sinar yang perlahan keluar dari sela-sela batu. Putih dan terang menyilaukan mata. Lalu kembali memudar, keadaan batu itu kembali seperti semula. Tapi, terdapat retakan kecil di bagian atas yang menjalar sedikit kesekelilingnya.


Seseorang membuka matanya, dia telah melihat kejadian itu walaupun dari jauh. Wajahnya yang sudah tua keriput dan matanya yang sayu itu kentara terlihat sedang terkejut.


Dia membelai janggut putihnya yang panjang sampai mengenai dada. Bahkan alis dan kumisnya pun berwarna putih. Selain itu dia juga memiliki rambut putih yang sebagian di ikat oleh gelung berwarna biru keabuan, yang dihiasi permata biru terang yang mencolok. Pakaian pria itu pun senada dengan ikat rambutnya.


Lingkungan yang dia pijaki sangat berbeda dan asing. Tempat itu seperti ruang hampa yang tiada batasnya. Setiap kakek itu melangkah, maka udara kosong itu akan bergerak seperti permukaan air tenang yang tersentuh.


Keadaan di sekelilingnya terdapat cahaya-cahaya putih seperti bintang yang bertaburan di langit malam. Namun terlihat lebih dekat dan jelas. Ada bintang yang saling terpisah, dan terhubung oleh tali-tali bercahaya. Juga pemandangan galaksi-galaksi berbagai warna dapat terlihat.


Kakek tua itu menatap perbintangan yang berada dihadapannya. Dia bergumam dengan ekspresi wajah yang serius, "tampaknya, takdir itu tidak akan pernah terhindarkan. Apapun yang para dewa pilih, mereka akan tetap kembali.."


.......


.......


.......

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉


__ADS_2