The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab C - Adipati Zhaoyang


__ADS_3

Lebih dari dua puluh ribu tahun ia tak melihat bunga itu mekar. Semua gara-gara Wu Yun!


Tak lama kemudian mereka sampai di area tertuju. Pemandangan air yang terjun dengan jelas begitu segar di pandang mata. Suara guruh air terdengar berirama.


Dengan tebing yang subur akan tanaman hijau. Juga pohon-pohon besar yang membuat sekitarnya menjadi asri.


Namun karena tinggal sebulan lagi memasuki musim dingin, udara disana dirasa lebih menusuk-nusuk dari biasanya. Namun tampaknya Yi Changyin hanya nyaman-nyaman saja dengan jubah istimewa itu.


Xuan Chen menariknya menuju belakang air terjun. Masih dengan langkah yang penuh dengan kehati-hatian. Xuan Chen masih setia memapahnya di setiap langkah.


Melewati aliran kecil sungai, menapak pada batu-batu. Dengan sedikit dihujani titik-titik air terjun. Mereka memasuki lubang kecil di belakang air terjun yang cukup untuk satu orang.


Tak jauh, hanya beberapa langkah saja mereka sudah menemukan ujung. Gua indah dengan dinding depan air yang sedang terjun deras.


Terdapat genangan air yang membentuk danau kecil penuh bebatuan. Sangat jernih hingga di dasar sana terlihat beberapa batu yang mengkristal cantik. Juga beberapa ikan hias yang berenang-renang bebas.


Dan yang lebih penting adalah bunga Peony yang tumbuh di sekitar danau kecil itu. Mahkotanya masih tampak kuncup pertanda mutiara di dalamnya masih bersembunyi.


Membuat mulut Yi Changyin sedikit mengerucut. Ia merasa kecewa karena belum bisa melihat keindahan bunga Peony mutiara lagi.


"Mutiaranya akan muncul enam bulan lagi." Ujar Xuan Chen yang membuat Yi Changyin terkejut.


Ternyata masih lama!! Ingin sekali dia menggertak pria yang sedang memunggunginya itu. Namun urung ketika Xuan Chen berbalik ke arahnya.


"Mungkin di alam peri bunga Peony ini banyak tumbuh. Namun percayalah, jika tumbuh di sini itu akan lebih indah."


Yi Changyin menatapnya tak percaya. Jadi selama ini Xuan Chen tahu kalau bunga Peony ini tumbuh di alam peri?! Sia-sia dia berakting kagum.


Tapi memang benar, jika tumbuh di sini bunga itu akan jauh lebih indah. Selain karena lingkungannya, juga ada Xuan Chen. Memikirkan hal itu membuat Yi Changyin tersipu sendiri.


"Tempat ini adalah tempat berdiam kesukaanku. Setiap merasa jenuh, penuh beban atau sedih, aku selalu berdiam disini bahkan sampai menginap." Xuan Chen mulai bercerita.


"Sendirian?" Tanya Yi Changyin.


Xuan Chen mengangguk. "Tentu saja."


"Kau kemari tanpa bantuan orang lain?!" Tanya Yi Changyin dengan intonasi lebih tinggi.


Xuan Chen mengangguk lagi.


"Dengan kursi roda?!" Suaranya bertambah tinggi.


"Memangnya kenapa? Saat itu aku sudah terbiasa." Ujarnya sambil menarik tangan Yi Changyin menuju suatu tempat. "Kemari.."


Tampaknya Xuan Chen mengajaknya untuk menduduki salah satu batu besar di sana. Pria itu membantunya untuk duduk dengan hati-hati. Lantas dia pun duduk disebelahnya.


"Tempat ini sangat indah. Sangat cocok untuk berteduh di musim panas." Ujar Yi Changyin sambil menatap langit-langit gua penuh dengan tumbuh-tumbuhan merambat.


"Jika membuat rumah disini tidak ada salahnya juga." Tambahnya.


"Kau mau tinggal disini?" Tanya Xuan Chen.


Namun Yi Changyin menggeleng. "Suara air terjun tidak akan bisa membuatku tertidur." Ia mengerucutkan bibirnya. Merasa sesal.


"Apakah berendam di sini tidak apa-apa?"


Pertanyaan itu membuat Xuan Chen membolakan matanya. Dan mulai berfikir pada satu hal, "kau akan mandi disini?!"


Yi Changyin segera melayangkan pukulan di lengannya. Membuat pria itu mengaduh dan menatapnya dengan heran. Dan tatapan membunuh Yi Changyin membuat ia segera mengerti apa yang dipikirkan Yi Changyin.


Xuan Chen mengangguk-angguk. "Ohh.. jadi kau menanyakan tentang kandungan air disini? Apakah mengandung energi spiritual atau tidak?"

__ADS_1


"Das一!"


"Air disini murni, tidak ada kandungan energi spiritual." Potong Xuan Chen sambil tersenyum jahil padanya. Jelas hal itu disengaja.


Kesal, Yi Changyin segera memukul dada Xuan Chen dengan keras. Dua kali.. tiga kali.. namun untuk yang keempat kalinya, tangan Yi Changyin tercengkran erat oleh tangannya.


Hingga sangat sulit digerakan walaupun Yi Changyin sudah mencoba melepaskan berkali-kali. Namun sejurus kemudian badannya tertarik hingga jarak antara dirinya dan Xuan Chen semakin dekat.


Dia tertegun, saat menatap mata bersinar di depannya. Membiarkan wajah itu semakin mendekat. Kemudian turun, dan sentuhan hangat di bibirnya mulai menyengat kesadarannya hingga terbang.


Semakin mendesak dan semakin hangat. Membuat tangan Yi Changyin bergerak dan saling bertautan di belakang tengkuk Xuan Chen. Sama sepertinya, tangan Xuan Chen bergerak dan memegangi tengkuknya. Sementara tangan satu lagi mengusap-usap perut dengan lembut.


"Apakah nyalimu begitu besar hingga berani mengotori putriku?!"


Tiba-tiba kata-kata Yi Wang terlintas di pikirannya. Melesatkan panah-panah yang menusuk ulu hatinya. Membuat ia menghentikan aksinya, menatap Yi Changyin dalam diam.


Namun gadis itu kembali menarik tengkuknya, kembali saling memberikan sentuhan lembut. Yi Changyin sepertinya masih belum puas.


Namun Xuan Chen nyatanya menolak. Dia mendorong Yi Changyin hingga membuat gadis itu mengkerut.


"Ada apa?" Tanya Yi Changyin merasa heran.


hening sesaat. "Maafkan aku, telah membuatmu seperti ini." Xuan Chen berkata dengan lirih.


Yi Changyin tersenyum simpul. "Aku tidak tahu letak salahmu dimana."


"Malam itu seharusnya..."


Kata-katanya terpotong ketika Yi Changyin kembali berbicara. "Malam itu kau juga terkena dupa penguat, kan?"


Xuan Chen tidak menjawab. Menunggu Yi Changyin untuk kembali berbicara.


"Dupa itu masih menyala ketika kau masuk ruangan. Namun segera padam ketika Yi Xuemei dan Shen Lan datang menyusul." Tambahnya. "Wajar saja jika kau melakukan sesuatu malam itu. Dupa itu mengandung kekuatan aneh, dan merangsangmu. Aku mengetahuinya karena kesadaranku masih belum senyap."


"Aku saja yang kuat bisa terangsang apalagi kau." Tiba-tiba saja Yi Changyin berkata dengan arogan.


"Kamu?!" Xuan Chen menunjuk hidungnya. Tapi gadis itu malah tersenyum penuh ejekan. Yi Changyin kembali ke mode sombong.


Sejurus kemudian dia menjepit hidungnya dengan gemas, kemudian pipinya. Sementara Yi Changyin hanya tertawa-tawa geli.


.......


.......


.......


Aura hitam mengalir deras dari segala penjuru. Menuju castil hitam penuh kelelawar. Menembus jendela, menuju seorang wanita yang sedang bersila lotus di atas dudukan bercakram.


Aura hitam yang datang dari seluruh penjuru itu mengalir deras ke dalam dantiannya tanpa henti. Membuat aura hitam di dalam tubuhnya semakin menguat.


Tanda dahi yang berbentuk kelopak mawar berwarna hitam turut mengeluarkan aura hitam. Memberi pengaruh pada tubuh Wen Yuexin.


Tiba-tiba saja dia berubah penampilan. Pakaiannya semakin besar dan lebar, berwarna hitam mengkilap bak Dewa kegelapan. Rambutnya menjadi lebih panjang selutut. Bertahtakan mahkota yang menandakan kebesaran kekuasaannya. Kuku-kuku merahnya perlahan bergradasi, kemudian benar-benar menjadi hitam legam.


Matanya terbuka lebar, dengan ujung yang mengibarkan aura hitam. Bibirnya yang merah kehitaman tersenyum miring. Perlahan terangkat untuk mengatakan sesuatu.


"Aku kembali.." perlahan tangannya mengangkat lima buah bongkahan kristal yang gelap tak bersinar. Senyumannya semakin mengembang dan menyeramkan.


"Kita akan bertemu lagi.. Wu Yun, Bai Suyue." Selepas mengatakan itu dia tertawa menggelegar. Suaranya memenuhi ruangan besar bahkan sampai keluar. Membuat kelelawar disana beterbangan untuk pergi sejauh mungkin.


.......

__ADS_1


.......


.......


Keesokan siangnya Yi Changyin dan Xuan Chen dikejutkan dengan kedatangan Kasim Li kepercayaan kaisar Xuan Zhen. Beserta delapan pengawal yang mengiringinya. Terlebih saat itu dirumah hanya ada mereka berdua.


"Dekrit kaisar untuk Pangeran dan Putri ketujuh!!"


Ketika kasim Li berseru, mereka berdua bersujud untuk menerima dekrit dari kaisar. Entah apa itu, mereka sangat penasaran.


"Karena prestasi yang di dapatkan pangeran dan putri ketujuh, Xuan Chen dan Yi Changyin di akademi Tianjin, daratan tengah Zhongjian, membawa harum nama kekaisaran dan keluarga."


"Dengan ini saya (kaisar) akan memberi penghargaan untuk pangeran ketujuh Xuan Chen yaitu gelar Adipati Zhaoyang dan putri ketujuh Yi Changyin sebagai permaisuri Adipati Zhaoyang beserta kediaman Adipati di pusat kota, emas lima ribu tail, perak sepuluh ribu tail dan kain sutra 20 gulung. juga diberikan pesta pernikahan resmi di istana utama kekaisaran Xuan dan dititahkan untuk segera menentukan tanggal jadi. Dekrit berakhir!"


'Oh aku tidak sabar melihat ekspresi Jiang Jinwei dan anak-anaknya.' pikir Yi Changyin nakal.


"Adipati Zhaoyang, permaisuri Adipati, silahkan terima dekrit dari kaisar."


Lantas Xuan Chen mengangkat tangannya untuk menerima hadiah mengejutkan itu. Tangannya sedikit bergetar. Lalu mereka berdua berkata, "kami menerima dekrit kaisar."


Walaupun dekrit pernikahan telah diterima pada bulan pertama mereka tiba, nyatanya kaisar ingin menyempurnakan dekrit itu. Mungkin.. setelah beradu panjang dengan Permaisuri.


Tapi pihak selir Yang menang kali ini.


.......


.......


.......


Kediaman Adipati Zhaoyang. Sangat mencolok karena berada di tengah-tengah pusat ekonomi daratan timur. Tidak jauh dari pasar hingga banyak orang yang menyaksikan resminya kediaman mewah ini di buka.


Entah kapan kaisar membuat kediaman ini untuk mereka. Karena menurut Xuan Chen, dahulunya tempat ini adalah lahan kosong.


Kediaman Adipati yang di bangun sangat luas. Begitu banyak ruangan yang berguna bahkan perpustakaan pribadi. Disediakan pelayan dan pengawal. Yang masih Yi Changyin waspadai karena takut itu adalah utusan Permaisuri semata.


Di halaman yang luas, mereka berkumpul. Sialnya, selain Xuan Yao dan Xuan Rong, di sana ada Xuan Ye dan Xuan Hua. Yang katanya ingin memberi selamat.


Ingin sekali Yi Changyin muntah-muntah. Di tambah saat itu mereka berdua mengusir Xuan Yao dan Xuan Rong. Jadi, hanya mereka berempat sekarang.


"Selamat kepada Adipati yang baru." Xuan Ye tampak ramah saat itu.


Wajahnya seperti seorang penjilat, itu yang berada di pikiran Yi Changyin.


"Terima kasih, kakak pertama." Xuan Chen pun tidak melupakan rasa hormatnya.


Melihat Yi Changyin hanya terdiam tanpa etika permaisuri Adipati, membuat Xuan Ye mendengus. Dia hendak mengkritik tapi Yi Changyin berbicara terlebih dahulu.


"Apa? Apakah kau tidak suka dengan sikapku?" Yi Changyin mendengus kemudian tertawa kecil. "Aku adalah sosok bebas yang tidak pantas jika bersikap sopan di hadapanmu."


"Kau?!" Xuan Ye menunjuk hidungnya dengan kesal. Kata-kata gadis itu sungguh menguras emosinya.


"Wanita tanpa etika sepertimu tidak pantas disebut permaisuri Adipati, kau tau?!" Xuan Hua ikut menimpali.


.......


.......


.......


udh bab 100 aja nih hehe. C itu angka Romawi yang berarti 100 ya guys. btw niatnya novel ini mau tamat sebelum bab 100 eh kebablasan wkwkkw. Dan kemarin gak up gara-gara gada kuota huhu🤧

__ADS_1


Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗


__ADS_2