The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab CXX - Dikacaukan


__ADS_3

Xuan Chen terus menerus termenung, merasa tak percaya dengan apa yang didengarnya. Bahkan ketika Yi Changyin kembali melanjutkan kata-katanya.


"Sejak lahir ayah keracunan, tapi dia selalu menyembunyikan ini dari siapapun. Racun bawaan dari lahir memang sulit dihilangkan, bahkan dengan bantuan ibuku sekalipun. Anehnya racun ini akan bereaksi jika terkena aura alam baka."


"Tapi kemarin, Wen Yuexin telah menempatkan ayah di alam baka, hingga... dia.." tenggorokan Yi Changyin mulai tercekat. Sepertinya ia tak mampu lagi untuk mengatakan hal itu.


Namun di sisi lain Xuan Chen mulai berwajah gelap. Tiba-tiba ia menggebrak meja hendak pergi sambil berseru, "akan ku bunuh dia sekarang juga!!"


Cekalan tangan Yi Changyin kembali menghentikannya. Gadis itu memperingatkan, "Xuan Chen.. jangan gegabah."


Xuan Chen terlihat tak biasanya, ia begitu garang dan ganas. Sikap Wu Yun telah menguasainya. "Dia juga telah menjebakku! Mana mungkin aku bisa diam?!"


Kening Yi Changyin merajut ketika mendengar kalimat terakhirnya. "Menjebak?"


Xuan Chen menghela nafas untuk menenangkan pikirannya. Kemudian dia menceritakan apa yang terjadi sambil memeluk erat tubuh Yi Changyin, merasa bersalah.


Sementara Yi Changyin dia mendengus, merasa miris dengan Wen Yuexin yang rela berhubungan dengan Xuan Ye demi menjebak Xuan Chen.


Namun jawaban yang keluar dari mulut Yi Changyin adalah, "lakukan saja pernikahannya besok." Yi Changyin melepaskan pelukannya dan menatap Xuan Chen dengan senyuman misterius. "Aku punya rencana."


.......


.......


.......


Esok harinya menjadi hari yang meriah. Yakni pernikahan kedua kalinya Adipati Zhaoyang, yang di rumorkan sang istri utama telah meninggal dunia tiga bulan lalu. Bahkan tentang kehamilan Wen Yuexin, tak luput dari pembicaraan mereka.


Saat tandu pengantin tiba, semua orang tertuju padanya. Semalam Yi Changyin mewanti-wanti Xuan Chen untuk tetap bersikap ceria sebagaimana saat hari pernikahan mereka.


Namun nyata tak pernah palsu, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan. Alisnya terus merajut seakan menemukan hal yang menjengkelkan sepanjang masa. Matanya menatap setajam elang dan bersikap kaku.


Lebih parahnya lagi, pria itu tak menjemput Wen Yuexin dengan lembut. Yakni menariknya dengan kasar, sampai terjungkal. Untung saja para pelayan menahannya.


"Pangeran?" Protes Wen Yuexin dengan alis yang berkerut.


Dengan jengkel Xuan Chen berkata, "jangan banyak berbicara, jangan membuang waktu!" Sambil memberikan pita bunga berwarna merah pada wanita itu.


Wen Yuexin menerimanya dengan senyuman, kemudian saling berjalan beriringan. Xuan Chen masih dengan ekspresi yang mengenakkan untuk di lihat. Sementara di balik kerudung merahnya, Wen Yuexin terus-menerus tersenyum.


Saat hampir memasuki Paviliun, tiba-tiba suara pekikan elang terdengar dari atas langit. Mengecoh perhatian semua orang. Wen Yuexin dan Xuan Chen berhenti, melihat ke arah langit.


Wen Yuexin berkerut tidak senang karena bisa merasakan aura Bai Suyue dari sana. Sementara Xuan Chen terus menerus tersenyum sumringah.


Beberapa orang yang berada di dalam ruangan keluar. Beberapa pejabat penting dan keluarga kekaisaran. Semuanya menyaksikan elang yang memekik di langit sana itu. Terlihat kecil dan mungil.


Namun lama kelamaan burung elang itu semakin mendekat. Warnanya tak biasa, yaitu putih bersih tanpa corak apapun.


Di bawah Wen Yuexin hendak menggerakkannya jarinya untuk menjatuhkan wujud asli Bai Suyue, ia merasa jengkel dengan penganggu acaranya.


Namun tiba-tiba sesuatu yang dingin menembus dadanya. Itu tidak sakit tapi sukses menahan seluruh kekuatannya tanpa ampun. Dia menoleh ke arah Xuan Chen yang sedang tersenyum penuh kemenangan, ternyata pria itu yang menusuknya dengan benda aneh ini.


"Sayangnya gigi paus terbang alam peri ini tidak akan pernah membuatmu bisa melukai Yi Changyin sampai beberapa hari." Ujar Xuan Chen dengan nada yang paling mengejek.

__ADS_1


"Kau?!" Wen Yuexin menggeram rendah. Gigi sialan itu sudah masuk dan menyerap ke dalam tubuhnya bersama aliran darah secara acak.


Jika di keluarkan secara paksa, maka Wen Yuexin akan kehilangan selurus kekuatannya. Baik miliknya sebagai Wen Yuexin, maupun miliknya sebagai Dewa kegelapan.


Xuan Chen terus menerus tersenyum sambil memperhatikan wujud elang Yi Changyin yang semakin membesar dan mendekat.


Semalam ketua peri ras air Shui Ning melaporkan kalau ada salah satu paus terbang yang meninggal karena sakit jantung. Tepat ketika Yi Changyin dan dirinya membicarakan masalah dan rencana untuk hari sekarang.


Kesempatan bagi Yi Changyin dan dirinya. Sebagai Wu Yun, pasti dia sudah mengetahui hal ini bukan? Maka dari itu Yi Changyin memerintahkan Shui Ning untuk membawa gigi paus terbang yang sudah mati.


Ukurannya sangat besar, namun Yi Changyin kecilkan. Tapi kekuatan aslinya tidak pernah pudar. Karena gigitan paus terbang mampu membuat kekuatan seseorang lumpuh, walaupun gigi itu telah di copot atau paus itu sendiri sudah mati.


Yi Changyin tak pernah memberi tahu Xuan Chen tentang hal ini sebelumnya. Menghindari pria itu akan tambah ketakutan jika melihat paus terbang. Lebih tepatnya takut kehilangan kekuatan. Pasti akan merengek, "aku tak bisa melindungimu lagi.."


Terlebih saat pertama kali datang, paus itu sudah mengenal aura samarnya sebagai Wu Yun. Mungkin karena itu paus terbang menabraknya sampai terjatuh.


"Wu Yun.. beraninya kau!" Suara tertahan Wen Yuexin mendengung di telinganya. Yang di latar belakangi suara pekikan elang yang semakin mendekat.


Xuan Chen hanya mendelik dengan senyuman mengejeknya. "Jangan berharap untuk menang." Cibirnya sombong.


Wen Yuexin hanya bisa menggeram rendah, dia tak bisa menggunakan kekuatannya untuk saat ini.


Orang-orang yang semula kagum dengan kedatangan elang putih, kini semakin waspada. Lantaran elang itu semakin mendekat, ukurannya semakin besar.


Bahkan sampai menutupi seluruh kediaman Adipati Zhaoyang yang amat luas. Kepakan sayapnya menimbulkan angin besar, mengacak-acak hiasan dan ornamen pernikahan.


Sebagian warga kabur, sebagian lagi yang penasaran masih bertahan. Keluarga kerajaan dan pejabat berlindung di dalam rumah namun tetap saja masih kemasukan debu yang di bawa angin itu.


Bahkan penutup kepala Wen Yuexin terbang entah kemana. Gadis itu geram, tapi tak punya waktu untuk marah. Riasan pengantin dan pakaiannya acak-acakan.


Yi Changyin berhenti mengepakkan sayapnya. Dia mendarat di halaman hingga membuat tanah retak diiringi gempa. Lalu mengubah wujudnya menjadi Yi Changyin, namun dengan pakaian khas ratu alam peri.


Luka di kepalanya hilang tak berbekas berkat daun Qin dan perawatan baik dari Xuan Chen.


"Bukankah itu Yi Changyin?!" Teriak Permaisuri Jiang Jinwei beserta kompolotannya. Yang disusul dengan bisikan para warga yang masih penasaran untuk melihat


"Itu permaisuri Adipati?"


"Apakah dia seorang Dewi?"


"Aku tak menyangka hal itu."


"Benar, pangeran ketujuh beruntung mendapatkan wanita dari alam langit."


"Bukankah itu sangat hebat?"


Ya, karena hal itu timbul kompor di hati para anggota keluarga kerajaan, terutama Xuan Ye dan Xuan Hua. Yang terkecuali sang kaisar, putri kesepuluh, pangeran kedelapan dan selir Yang.


Para warga itu masih mengoceh ketika Feng'er dan Heilong membawakan kursi panjang dan membuat Yi Changyin terduduk dengan nyaman. Lalu mereka berdua memayungi Yi Changyin hingga tidak kepanasan. Mengingat musim dingin berlalu dan matahari kembali terasa terik.


Dan dengan bangganya, Xuan Chen menghampiri Yi Changyin. Gadis itu hanya berfikir bahwa mode Wu Yun telah kembali, dalam hati dia mendesah pasrah.


Namun tiba-tiba Xuan Chen kembali mundur kebelakang. karena Wen Yuexin telah menarik pita berbentuk bunga yang masih mereka pegang.

__ADS_1


"Yang mulia, kau tidak boleh mendekatinya!" Gadis itu memelas dengan suara yang lembut. Namun Yi Changyin merasa jijik dengan hal itu.


Xuan Chen mendengus kasar. Dia menarik pita itu hingga terlepas dari tangan Wen Yuexin. Kemudian melemparkannya tepat ke wajah gadis itu.


"Pangeran cacat, beraninya kau!!" Han Qiangshu merasa kesal melihat perlakuan Xuan Chen pada putri angkatnya.


Namun Xuan Chen hanya mengangkat bahu tak peduli. Membuat Han Qiangshu terus mengoceh yang tak ia dengarkan. Baru saja satu langkah, tiba-tiba tangan Wen Yuexin kembali menariknya. Sialan!


"Yang mulia! Dia bukan manusia! Kita tidak bisa tinggal bersama orang-orang alam langit. Kenapa kau tidak mengerti hukum seperti itu? Apakah kau tidak takut hukuman?" Kata-katanya jelas ingin memanipulasi semua orang. Dan tahu kalau Yi Changyin tak akan mungkin mengatakan kalau Xuan Chen adalah Wu Yun.


Namun...


"Xuan Chen juga bukan manusia.. kau juga." Jawabnya dengan santai. Namun sukses membuat semua orang terbelalak. Termasuk kaisar Xuan Zhen dan selir Yang.


Kesempatan ini digunakan Xuan Chen untuk menepis tangan Wen Yuexin dan berjalan ke arah Yi Changyin.


"Permaisuri Adipati, apa maksudmu?" Kaisar Xuan Zhen masih memanggilnya formal.


Yi Changyin hanya tersenyum. Dalam sekali jentikan jari keluarlah satu gelembung kecil. Semua orang makin penasaran. Gelembung itu mengenai kening Xuan Chen. Dan tiba-tiba saja sayap Phoenix yang penuh api mengepak di belakang punggung Xuan Chen.


Semua orang tidak menyangka, dia bisa berkata-kata lagi. Selir Yang yang pernah melahirkan Xuan Chen hanya bisa ternganga. Mana mungkin!


"Tapi kaisar daratan Dongfang, kau tidak boleh salah sangka terhadap anak dan selirmu." Yi Changyin berkata bahkan sebelum kaisar Xuan Zhen berfikiran seperti itu.


Maksudnya takut jikalau kaisar Xuan Zhen akan berprasangka buruk tentang dia bukanlah ayah kandung Xuan Chen.


"Dahulunya dia memang seekor Phoenix dari alam peri." Tambahnya sambil berdiri.


Xuan Chen hanya menyedekapkan tangannya, merasa bangga. Membuat hati Yi Changyin sedikit geli. Kemudian sayapnya di punggung telah hilang, selagi Yi Changyin berada sejajar dengannya.


"Memangnya siapa kau?! Apa kekuasaanmu? Sehingga berani membuat onar di alam manusia!" Permaisuri Jiang Jinwei mulai menantang.


"Aku?" Yi Changyin menunjuk dirinya sendiri. Dia maju beberapa langkah. Sementara Feng'er di belakang masih memayunginya. Padahal hari sama sekali tidak terik.


"Aku satu-satunya orang yang dapat membuka pengadilan langit. Memangnya kenapa?" Yi Changyin mengaku tanpa ragu.


Sampai saat ini, Xuan Rong dan Xuan Yao pun masih tak percaya dengan apa yang dia lihat.


Jiang Jinwei mendengus. "Kau pikir aku percaya dengan kata-katamu itu hah? Mengaku saja sepuasmu! Bahkan kau boleh mengaku sebagai kaisar langit!"


"Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan padaku dan Xuan Chen tiga tahun lalu?" Sahut Yi Changyin cepat.


Sukses membuat Jiang Jinwei beserta kedua anaknya, Han Qiangshu, Wen Yuexin, terbelalak. Mereka mulai merasa takut, cemas dan berkeringat. Yi Changyin telah mengungkit hal itu!


Kemudian Yi Changyin kembali berbicara dengan sorot mata yang dingin, "Jiang Jinwei.. Han Qiangshu.. Wen Yuexin.. Xuan Ye.. Xuan Hua.. aku menuntut kalian karena telah menggunakan barang terlarang buatan mendiang Baiyun Dijun untuk mencelakakan kami."


.......


.......


.......


Pengumuman nih, mungkin besok nyampe lebaran author libur dulu. Selain karena mau lebaran, ada acara nikahan saudara, ditambah kuota author menipis wkwk. Tapi tenang aja kok, insyaallah author bakal tamatkan novel ini sebelum Hiatus. Masih banyak waktu di rumah dan segala persiapan.

__ADS_1


Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗


__ADS_2