The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab XXVII


__ADS_3

Matahari semakin beranjak naik, memanaskan sudut bumi yang di penuhi kepadatan. Walaupun hari ini sangat panas, kaki gunung akademi Tianjin tetap terasa dingin. Seperti awan-awan melindungi mereka dari atas. Mungkin juga karena pengaruh alam sekitar yang penuh pepohonan hijau dan segar.


Para calon murid sudah banyak yang selesai bertarung. Kebanyakan dari mereka menyerah karena monster alam baka itu terlalu sulit di kalahkan, apalagi hewan roh mereka belum sepenuhnya kuat. Dan tidak satupun yang mengeluarkan binatang ilahi.


Di antara para calon murid, bahkan ada yang sampai terluka parah karena memaksakan diri. Tapi bagi para kultivator sejati, luka ini bukanlah apa-apa. Hanya butuh pemulihan dalam jangka waktu tertentu.


Tapi tetap saja, aturan di sini harus mengalahkan monster jelek yang mirip dengan orang utan itu dan memiliki taring yang lebih besar. Serta duri-duri hitam di punggung yang mengkilap dan tajam. Kuku-kuku nya lebih tebal seperti lempengan besi. Bulunya kasar dan tajam seperti landak. Dan tentunya memiliki wajah yang menyeramkan.


Tidak harus membunuh, karena bagaimanapun mereka adalah makhluk hidup yang patut di beri kesempatan. Akademi melakukan hal seperti dengan tujuan lain untuk menjinakkan mereka. Setelah hewan roh atau monster itu di kalahkan manusia, dia tidak akan bersikap buas seperti biasanya. Mereka akan takut pada yang namanya manusia.


Hewan roh dan monster alam baka di sini adalah bukan yang di lindungi. Biasanya yang digunakan adalah yang paling membahayakan jika di liarkan di alam bebas, tapi tidak termasuk langka.


Yi Changyin dan yang lainnya memutuskan untuk maju paling akhir. Mereka membawa hewan ilahi, tidak mau di tunjukan lebih awal. Sebenarnya Yi Changyin tidak mau mengeluarkan Feng'er karena akan menarik banyak perhatian. Tapi untuk saat ini, tidak ada pilihan lain lagi. Lagipula kedua binatang ilahi itu berjanji tidak akan menunjukkan keistimewaannya.


Sekarang giliran Yi Xuemei untuk maju. Gadis itu membungkuk pada tetua dan para guru sebelum akhirnya berbalik, menunggu lawannya datang. Semua guru berdecak kagum melihat tingkat kultivasi Yi Xuemei, yaitu kristal level enam. Setara dengan para guru di sana. Sayangnya mereka tidak tahu tingkat kultivasi Yi Xuemei yang sebenarnya. Jika tahu, mereka pasti akan muntah darah.


Beberapa saat sebelum berangkat, keempatnya menggunakan ilusi alam langit untuk menyembunyikan tingkat kultivasi dan di ganti dengan yang lebih rendah. Orang-orang alam fana, tidak akan mungkin untuk mengetahuinya.


Tapi pria serba putih dari jajaran tetua hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, melihat sembilan ekor yang tampak tembus pandang di bokong Yi Xuemei. Dia dapat membaca identitas asli Yi Xuemei yang di sembunyikan. Mungkin hanya dia yang dapat melihatnya.


Pria tua itu adalah Ling Zhao, tetua akademi yang sempat di kagumi Yi Changyin karena dia sudah mencapai Dewa tahap awal.


Hewan roh yang mirip dengan macan tutul itu muncul di udara kosong. Bulunya berwarna ungu gelap dengan bercak-bercak hitam, jelas seperti macan tutul yang hanya berbeda warna. Taringnya terlihat sangat kuat dan tajam, siap mengkoyak daging mangsanya tanpa ampun. Matanya menatap ganas Yi Xuemei, seperti ingin segera menerkamnya. Tinggi macan itu sama dengan tinggi manusia pada umumnya . Ini pasti sangat kuat, mengingat Yi Xuemei berada di tingkat kristal dimata para guru.


Yi Xuemei tidak ketakutan. Dia berasal dari alam langit, untuk apa takut pada hewan roh yang tinggal di dunia fana?


Gadis itu segera mengeluarkan senjata kebanggaannya. Gulungan spiritual di tangannya berubah menjadi pedang dengan ujung yang berwarna merah muda. Ketajamannya sangat kuat, ramping dan mengkilap seperti baru.


Tanpa menunggu basa basi lainnya lagi, hewan roh itu langsung menyerang Yi Xuemei. Melompat tinggi dan hendak menangkapnya. Yi Xuemei buru-buru menghindar ke samping, mengibaskan pedangnya yang membuat gelombang spiritual. Macan roh itu terpental menabrak dinding spiritual, menimbulkan pergerakan seperti permukaan air tenang yang tersentuh disana.


Yi Xuemei kembali maju, dia melompat tinggi. Macan itu tak tinggal diam, dia juga ikut melompat ke arah Yi Xuemei. Tepat beberapa senti sebelum beradu, Yi Xuemei menghindar dan berputar-putar di tubuhnya, menyayat kulit-kulit tebal itu dengan mudah hingga membuat raungan keras. Hal itu membuat respon positif dari para tetua dan guru. Dia sangat hebat katanya.


Macan tutul ungu itu ambruk ke bawah, menimbulkan debu-debu berterbangan di sekitarnya. Walaupun sudah penuh luka, dia tak mudah di taklukkan, macan itu kembali menyerang Yi Xuemei dengan cepat, namun di tahan oleh pedang ramping itu. Adu kekuatan fisik mereka membuat angin besar di sekitarnya. Hanya saja tidak terasa sampai keluar, karena terhalang dinding spiritual.


Macan itu mempunyai kekuatan fisik yang lebih kuat dari Yi Xuemei, sementara gadis itu kurang kuat untuk mempertahankan dirinya, dia kesulitan dan sedikit terdorong mundur. Macan tutul itu semakin kuat menerjang pedang dengan cakar-cakarnya.


Yi Xuemei tersenyum miring, otak rubahnya mulai mengeluarkan sebuah ide. Gadis itu menatap mata ganas si macan tanpa takut. Tanpa di ketahui semua orang, dia merubah warna matanya menjadi hijau yang menjadi ciri khasnya. Siapa saja yang melihat iris hijau itu akan merasakan aura sebenarnya dari seekor rubah ekor sembilan, mungkin akan ketakutan.


Macan tutul itu melihatnya, ketahanannya menjadi sedikit goyah. Dia hanya binatang roh, tidak mampu menahan aura alam langit yang hanya di rasakan olehnya. Itu hanya sekilas, macan itu sudah ketakutan. Tekanan dari aura orang-orang alam langit sangatlah kuat.


Dengan mudahnya Yi Xuemei mendorong macan itu hingga terpental ke belakang, menimbulkan gelombang spiritual yang lebih besar lagi. Pelan-pelan dia menghampiri macan yang sedang meringkuk ketakutan itu.


Saat melihat wajah Yi Xuemei yang sedang tersenyum kepadanya, dia semakin bersembunyi dan gemetaran. Semua orang heran mengapa macan itu begitu takut. Kecuali Ling Zhao yang sudah mengetahui kebenarannya, dia hanya tersenyum tipis. Tapi hanya ada satu yang terlintas di benak mereka, gadis itu sangat kuat.

__ADS_1


"Bagus sekali!!" Seorang pria berseru di barisan para tetua. Dia adalah Fu Jingyun, pemilik akademi Tianjin.


Seseorang yang di puji olehnya, adalah suatu keberuntungan yang langka. Fu Jingyun adalah pemimpin dari mereka semua. Tidak memandang bulu, tapi dia sangat menyukai anak-anak yang kuat dan berbakat bahkan belum memasuki akademinya.


Penampilan Fu Jingyun sangat sederhana namun terlihat tegas dan berwibawa di usianya yang kepala tiga. Aura agung dari tingkat kultivasinya yang bintang, membuat dia begitu di kagumi. Yang di sebelahnya adalah Zhen Yang, istri tercintanya.


Aksi Yi Xuemei belum selesai, dia masih harus melawan monster alam baka yang bentuknya sama semua. Seperti yang terdahulu melawan calon murid. Merpati biru mengepak terbang keluar dari cincin ruangnya, lagi-lagi membuat semua orang ternganga.


Mungkin di alam langit merpati roh biru adalah hal yang biasa. Tapi di alam fana itu adalah luar biasa. Merpati biru masuk ke dalam jajaran hewan roh yang langka. Bahkan jarang para manusia yang bisa melihat sehelai pun bulunya. Dan kini mereka semua dapat melihatnya secara langsung.


Xiaolan, si merpati biru itu terbang mengitari majikannya. Itu adalah tekniknya untuk memperbesar ukuran. Bersamaan dengan datangnya monster itu, merpati biru sudah tumbuh menjadi raksasa. Bahkan sama ukurannya dengan monster alam baka itu.


Sangat ganas dan haus darah, monster itu segera menyerang keduanya. Pertarungan berjalan dengan sengit. Monster itu tak henti-hentinya mendaratkan cakaran yang tidak tepat sasaran, Xiaolan menghindarinya dengan gesit.


Yi Xuemei berdiri menunggangi Xiaolan, melemparkan serangan-serangan spiritual yang kuat. Alhasil monster alam baka itu meraung karena merasakan sakit. Semua orang menatap pertempuran itu dengan serius. Seperti tidak mau terlewat satu detik pun.


Wei Qiao cemberut melihat pemandangan di depannya. Dia tak menyangka kalau kakak dari wanita itu sangat kuat dan memiliki sesuatu yang langka. Wajahnya tampak jelek karena iri. Dia menghela nafas, menatap pergelangan tangannya yang di lilit oleh ular hijau.


'Lushi, jangan kecewakan aku..' Batinnya.


Disisi lain, Aoyi Jinqi menatap kecemburuan Wei Qiao dengan senyuman miring. Manusia-manusia ini iri hanya karena hal kecil, membuatnya ingin terus tertawa.


Aoyi Jinqi sering melihat pertempuran seperti itu di alamnya. Dia tidak begitu tertarik, sangat membosankan. Jadi dia hanya memanfaatkan kebosanannya untuk melihat wajah-wajah para calon murid itu. Pandangannya berpindah ke objek lain, senyumannya memudar. Menjadi sangat dingin dan penuh kebencian.


Tepat bersebrangan dengannya, adalah tepat Qi Zhongma dan Qi Xiangma berada. Mereka adalah milik Gaoqing Dijun dan sang Ratu sangat membencinya. Sekarang dia bisa berspekulasi bahwa mereka di utus untuk membunuh Yi Changyin yang di duga sebagai reinkarnasi Ratu peri Bai Suyue.


Tidak terbayang jika perang Bai Suyue dan Wu Yun kembali terjadi, alam langit dan tiga dunia lainnya akan benar-benar hancur. Hanya alam iblis yang tidak akan terkena imbasnya.


Enam belas ribu tahun lalu, tepat di hari kematian mereka berdua. Entah apa yang terjadi sebenarnya, tidak ada yang tahu siapa yang meledakkan cahaya spiritual di sana. Hal ini masih menjadi tanda tanya besar di alam langit. Tak sedikit Dewa Dewi yang suka rela menyelidikinya.


Tapi sayangnya baik dari alam langit maupun alam iblis, belum menemukan seseorang yang menjadi reinkarnasi Wu Yun. Ini sudah enam belas ribu tahun yang lalu. Hanya ada dua kemungkinan, Wu Yun sudah bereinkarnasi selama enam belas kali atau jiwanya hancur di dasar danau. Tidak ada yang tahu.


Terlalu lama dengan lamunannya, Aoyi Jinqi baru sadar setelah mendengar tepukan meriah. Tak di sangka Yi Xuemei dapat menaklukkan monster jelek itu. Dia kembali tanpa luka. Membuat semua orang menatapnya dengan kagum, tak sedikit juga yang iri. Gadis itu di sambut dengan teriakkan bangga adiknya yang lucu.


"Kakak! Kau berhasil!!" Seru Yi Changyin sambil memeluk kakaknya.


"Tentu saja, aku tidak boleh mengecewakan kalian." Katanya bersemangat. Xuan Chen, Shen Lan dan Aoyi Jinqi pun turut memberikan selamat. Tidak di ragukan lagi kalau Yi Xuemei benar-benar di terima di sana.


"Giliran siapa sekarang?" Tanya Yi Changyin.


Yi Xuemei melihat ke arah lapangan, melihat seorang gadis muda terjun ke tengah lapangan. Juga nyonya Zhen Yang tengah menyemangatinya.


"Kurasa dia adalah Fu Lianbing, putri satu-satunya tuan besar Fu dan nyonya Zhen Yang." Ujar Yi Xuemei memberi tahu.

__ADS_1


"Jadi, tuan besar Fu Jingyun hanya memiliki satu putri?" gumam Yi Changyin.


"Yaa, memangnya kenapa?"


Yi Changyin mendekatkan mulutnya ke telinga Yi Xuemei. "Aku berharap dia tidak sombong seperti Wei Qiao."


Yi Xuemei terkekeh pelan, matanya sesekali melirik Wei Qiao yang juga sedang menatapnya dari kejauhan. Mata gadis itu terlihat menatap tajam hingga kedua alisnya merajut. Dia menyadari kedua gadis itu sedang membicarakannya.


"Awas saja!" Kutuknya pelan.


Pertarungan itu di mulai, Yi Changyin menontonnya dengan datar. Sedari tadi dia hanya duduk di sana dan menonton. Sesekali pergi ke ruang dimensi spiritual untuk makan dan istirahat. Membosankan.


Aoyi Jinqi menggunakan kesempatan ini untuk kembali berbincang dengan gadis itu. "Nona Yi, kau pernah mendengar alam peri?" Tanyanya. Jelas-jelas dia sedang memancing apakah ada reaksi atau tidak dari gadis itu.


Yi Changyin berbalik menatap Aoyi Jinqi. "Aku pernah mendengarnya. Mereka punah enam belas ribu tahun lalu. Di alam fana ini, banyak yang tidak yakin akan keberadaannya."


Aoyi Jinqi mengangguk setuju. Memang selama enam belas ribu tahun manusia tak mungkin hanya itu-itu saja. Mereka sudah berganti turun temurun dan menghasilkan generasi yang baru yang tak terhingga jumlahnya. Tak bisa di pungkiri kalau cerita tentang alam peri hanya di anggap dongeng oleh sebagian besar manusia fana.


Tidak terkecuali oleh beberapa orang yang abadi. Enam belas ribu tahun hanya segelintir waktu baginya. Kejadian itu jelas terjadi dahulu, dan mereka mempercayainya. Apalagi tentang misteri gunung Tianjin. Tidak ada yang akan percaya kalau gunung itu terbentuk dengan sendirinya enam belas ribu tahun silam.


"Apakah kau pernah mendengar Ratu Bai Suyue?" Tanya Aoyi Jinqi lagi.


Yi Changyin tersenyum canggung, dia merasa aneh saat mendengar nama itu. "Tentu saja aku mengetahuinya. Dia adalah ratu dari klan peri putih. Kekuatannya sangat besar dan tidak tertandingi. Bahkan konon, dia memiliki keistimewaan lain yang tidak di miliki orang lain."


'Kenapa aku merasa tidak enak saat memujinya?' Pikir Yi Changyin heran.


Aoyi Jinqi yang bisa membaca pikiran, dia tersenyum. 'Orang rendah hati mana yang tidak enak saat memuji dirinya sendiri.'


"Itu benar. Sosoknya juga begitu misterius di balik topeng dengan kemilau perak itu." Ujar Aoyi Jinqi. "Oh ya, apakah kau tahu juga tentang Raja Wu Yun?" Wanita itu bertanya lagi.


Hati Yi Changyin kembali merasa tidak enak. Entah kenapa saat mendengar nama itu dia ingin meledak-ledak. "Yaa, dia adalah lawan dari ratu Bai Suyue. Padahal dahulunya mereka bersama. Alasan dia bisa terpengaruh energi kegelapan juga masih menjadi misteri di alam langit."


"Tapi.. aku punya satu pemahaman yang masuk akal." Ujar Aoyi Jinqi tampak menerawang.


Entah kenapa Yi Changyin merasa tertarik, "apa itu?"


"Aku pernah mendengar kalau Raja Wu Yun memiliki sayap emas juga. Mungkin dia keturunan siluman Phoenix, jadi bisa terpengaruh oleh energi kegelapan itu."


Yi Changyin tersentak. "Sayap emas?" Dia tampak menerawang, mengingat-ingat kejadian saat di rumah Xuan Chen. Jiwanya saat itu sedang di kendalikan oleh sosok lain. Bayangan sayap emas itulah yang membingungkannya. Mungkinkah.. 'Tidak mungkin.. Xuan Chen, tidak mungkin!' Pikir Yi Changyin keras. Saat itu Yi Changyin sedang terluka, semoga saja saat itu dia sedang berhalusinasi.


.......


.......

__ADS_1


.......


Jangan lupa Vote, like dan tanggapannya tentang bab ini dolom komentar ya😉


__ADS_2