
Tubuhnya perlahan melebur menjadi abu. Hancur, selamanya tidak bisa bereinkarnasi. Wei Qiao tidak sekalipun menyesal, setidaknya dia telah menyelamatkan Xuan Chen untuk yang pertama dan terakhir kalinya.
Barulah ketika tubuhnya hancur, Xuan Chen bisa menatap abu Wei Qiao. Ekspresinya tidak terbaca, hatinya masih menyimpan rasa kasihan. Gadis itu seperti ini karenanya. Namun mengingat apa yang telah dia lakukan, Xuan Chen menjadi pria yang sama sekali tak peduli dengannya.
Dia terbangun dengan ekspresi yang gelap. Menatap Gaoqing Dijun dengan tajam. Pria itu sangat jahat, berkedok kesucian sebagai Dewa alam langit. Berniat mencelakai kekasih hatinya bahkan mengorbankan yang tidak bersalah.
Melihat tatapan itu, Gaoqing Dijun sedikit merinding.
"Kaisar langit, waktunya..."
Gaoqing Dijun terbelalak mendengar kata-katanya. Xuan Chen memanggil kaisar langit? Kakinya bergemetar tak karuan.
Benar saja, tak lama kemudian aura menusuk-nusuk muncul. Mengintimidasi pendirian Gaoqing Dijun. Prajurit langit lengkap dengan jenderalnya muncul dari balik awan. Lalu sosok mendominasi dengan pakaiannya yang putih berseling emas dan mahkota khas kaisar bertahtakan di atas kepala.
Masih dengan gemetar, dia memberi hormat pada kaisar langit. Xuan Chen hanya menyedekapkan dadanya dengan wajah yang senang.
"Gaoqing Dijun, sepertinya kita harus membicarakan ini di pengadilan surga." Ujar kaisar langit dengan dingin. Kemudian dua prajurit langit maju, menggiring Gaoqing Dijun pergi dan menghadap pengadilan. Lengkap dengan jendral langit yang memimpin.
Kaisar langit menoleh ke arah Wu Yun, dia mengangguk segan. Berterima kasih kepada Wu Yun yang telah membantu alam langit. Pria itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, merasa bangga pada diri sendiri.
Ya, ini adalah alasan kenapa langit menyetujui keinginannya. Xuan Chen telah berjanji akan membongkar kejahatan Gaoqing Dijun. Sekarang, di depan mata sang kaisar sendiri, pria itu menunjukkan kekejamannya.
Namun sejurus kemudian Kaisar langit bersama prajuritnya yang tersisa terkejut melihat Xuan Chen yang pingsan tiba-tiba. Tidak ada aba-aba sebelumnya.
"Yang mulia?!" Salah satu prajurit berteriak tidak mengerti sekaligus cemas. Dua lagi membantu untuk membopong tubuh Xuan Chen.
"Tidak apa-apa, masa kegunaan eliksir itu telah habis." Kaisar langit tampak menenangkan. Menyuruh dua prajurit tadi untuk mengirim pesan pada ketua Hua-Hua Mu Dan untuk mengambil alih Xuan Chen.
.......
.......
.......
Sebulan kemudian...
Semilir angin menerbangkan rambut hitam lembut yang indah. Berkibar bebas tanpa pengikat atau hiasan emas. Rambut-rambut itu seperti gembira ketika pemiliknya membiarkan tergerai bebas.
Semilir angin juga menerbangkan pakaian putihnya, sedikit berkibar. Berdiri di depan pagar menyaksikan pemandangan alam tak biasa di hadapannya. Dia seperti seorang Dewi murni yang sedang mengamati dunia miliknya.
Semilir angin telah menyapu permukaan kulitnya yang halus putih bagaikan giok. Matanya terpejam menikmati, bulu matanya panjang dan indah seperti kipas.
"Ratu, Tuan agung telah menunjukkan kesadaran."
Seorang pelayan yang patuh menghampirinya dan memberi laporan. Bulu mata itu bergetar, matanya terbuka, bergerak lembut seperti kipas.
Bibirnya yang ranum dan tipis tersenyum senang. Yi Changyin segera berbalik dan melangkah perlahan menuju pintu ruangan.
"Cepat, siapkan semuanya." Katanya dengan tidak sabar.
Yi Changyin dengan bahagia pergi ke istana rahasia. Sudah sebulan Xuan Chen tak sadarkan diri untuk memulihkan luka. Menerima dua ratus cambukan petir Dewa sangatlah tidak mudah.
Setiap hari dia hanya bisa melihat pria itu terpejam, rasanya sangat hambar. Mendengar dari pelayan Xuan Chen telah menunjukkan tanda-tanda kesadaran, rasa manis kembali muncul. Keempat ketua merawatnya dengan baik, dia harus memberikan hadiah.
Perihal sebulan lalu dia telah mengetahui semuanya. Merasa bersalah dan selalu ingin mengurung diri bersamanya. Dia juga tahu Wei Qiao telah mati demi menyelamatkan Xuan Chen dari kemungkinan terbunuh oleh panah itu.
Gaoqing Dijun telah dicopot dari kekuasaannya. Kekuatan Dewanya di ambil dan dikirim untuk menjadi penghuni neraka selamanya.
Semuanya selesai, dia sedikit tenang. Ya, sedikit... Masih ada satu yang dia khawatir. Dewa kegelapan...
__ADS_1
Sekarang dia melihat pria itu masih terbaring. Tidak sepucat saat pertama kali dia melihatnya. Di atas Xuan Chen, banyak tumbuhan dan benda spiritual penyembuh dalam gelembung, menyalurkan benang-benang emas secara halus ke dalam tubuhnya.
Shui Ning yang sedang mengambil alih tugas ini menghampiri Yi Changyin dan memberi hormat. Wanita itu menjelaskan perkembangan baiknya, lukanya hampir sembuh. Setelah itu Yi Changyin menyuruhnya untuk pergi. Hanya tinggal dirinya sendiri di sana.
Yi Changyin duduk ditepian kasur, tangan pria itu sedikit memiliki pergerakan. Yi Changyin segera menyingkirkan benda-benda spiritual di atas tubuhnya.
Dia tersenyum, menggenggam erat tangan Xuan Chen. "Bangunlah, aku akan memberi tahu sesuatu. Kau pasti bahagia mendengarnya." Dia berbisik antusias, tak sabar akan sesuatu.
Menemukan Xuan Chen yang tak kunjung sadar, dia menghela nafas. Bergerak pergi berniat untuk duduk saja di meja dan menunggu. Namun baru satu langkah...
"Yin'er..."
Panggilan itu menariknya kembali untuk duduk di atas kasur. Mata Xuan Chen sudah hampir terbuka lebar namun kesadarannya belum kembali.
"Bangunlah..." Bisiknya.
Tiba-tiba saja mata Xuan Chen terbuka sepenuhnya, kesadarannya telah kembali. Wajah bulat berseri Yi Changyin adalah yang pertama kali dia lihat. Ia ingin bangun, Yi Changyin membantunya.
Kepalanya masih terasa pusing, hingga Xuan Chen memutuskan untuk menyandarkan kepalanya pada pelukan Yi Changyin. Gadis itu membiarkannya nyaman.
"Berapa lama aku pingsan?" Tanya Xuan Chen dengan suara yang berat, nadanya sangat lemah.
"Satu bulan."
"Kau pasti merindukanku." Godanya sambil tersenyum. Matanya masih terpejam, berada di pelukan Yi Changyin sangatlah nyaman.
Yi Changyin mencibir walaupun pipinya memerah. "Kau selalu ada di depan mataku, untuk apa merindukanmu?"
Xuan Chen terkekeh pelan. "Sangat bohong!" Elaknya tidak percaya.
"Terserah." Jawab Yi Changyin ketus, singkat, padat dan jelas.
"Ada yang ingin kau katakan?" Tanya Xuan Chen memastikan.
Yi Changyin sempat tertegun. Kemudian tersenyum dan menundukkan kepalanya. Pria itu menatapnya dengan heran sekaligus terpesona.
"Aku..." Yi Changyin sengaja menghentikan kata-katanya, dia terlihat gugup.
Karena hal itu semakin penasaran. Baru saja ia ingin bertanya lagi tapi Yi Changyin memotongnya dengan cepat dengan nada yang malu-malu.
"Aku hamil lagi."
Xuan Chen tertegun mendengar hal itu. Dia berkedip-kedip untuk beberapa saat, sampai akhirnya tersenyum bahagia. Nafasnya memburu senang.
Tiba-tiba saja dia memeluk Yi Changyin erat, sangat kencang hingga gadis itu sampai terjatuh ke atas kasur. Belum sampai disitu, pria itu mengecupnya berkali-kali. Ia berhenti saat Yi Changyin mendorong dadanya.
"Apa kau lakukan?" Tanya Yi Changyin gugup. Pipinya memerah panas.
"Aku hanya bahagia, apakah tidak boleh?" Xuan Chen balik bertanya dengan tatapan yang menggoda.
"Aku... Aku... Aku sudah menyiapkan makanan, sebaiknya kau makan untuk memulihkan energi." Tiba-tiba saja Yi Changyin mengalihkan topik, tapi sukses membuat pria itu menatapnya tak percaya.
"Kau memasak?"
"Tentu saja!"
"Hah? Apakah Yin'er ku ada yang salah?"
"Apakah memasak adalah hal yang salah?"
__ADS_1
"...."
Xuan Chen terkekeh pelan. Mungkin dahulu Yi Changyin pernah memasak untuknya. Namun ketika menjadi Bai Suyue, dia sedikit tidak yakin. Gadis tua itu lebih mementingkan yang lain dari pada memasak.
"Apakah kau meragukan masakanku?! Kau pikir itu tidak enak?!"
"Aku..."
"Para koki istana sudah mencicipinya dan itu enak!" Potong Yi Changyin lagi seperti tak mau kehabisan ruang untuk berbicara.
"Benar, benar, aku harus mencicipinya." Ujar Xuan Chen terdengar menjengkelkan. Dia membantu Yi Changyin untuk terbangun, wajah gadis itu masih memberenggut kesal.
Xuan Chen mendekatinya kembali, mengelus perutnya yang berisi bayi namun masih datar. "Berapa usia kandunganmu?"
Yi Changyin kembali menunjukkan senyuman malu. "Mu Dan bilang, baru satu bulan."
Xuan Chen tampak berfikir sesaat. "Artinya... Saat aku memberimu obat tidur, kau sudah mengandung?" Tiba-tiba dia mencengkram erat tangan Yi Changyin. Wajahnya sedikit cemas. "Tidak terjadi sesuatu kan?"
Mengingat hal itu Yi Changyin berwajah gelap. Bagaimana kalau obat tidur itu bisa mempengaruhi kandungannya? Untung saja saat itu Hua Mu Dan mengatakan kalau itu baik-baik saja.
Dia menepiskan tangan Xuan Chen dan bergegas menuju meja makan. Belum pria itu mengeluarkan suara Yi Changyin menunjuknya tajam. "Jangan bicara lagi, cepat makan!"
Xuan Chen tergelak melihatnya. Yi Changyin segera pergi dari sana sambil mendengus.
Sementara di sisi lain, jauh dari tempat hangat mereka, suatu tempat begitu panas dengan api berkobar yang membumbung tinggi. Langitnya suram bak hendak mendatangkan badai kapan saja. Terdapat banyak petir-petir kecil yang menyambar dalam gulungan awan.
Kadang kali ada mata petir besar yang menyambar. Menciptakan kilat cahaya yang menyeramkan, suaranya menggelegar. Di saat seperti itu, teriakan pilu seorang wanita terdengar.
Di tengah-tengah kobaran api yang panas, di bawah langit yang seperti tak sabar mendatangkan badai, seorang wanita berpakaian serba putih tengah menderita.
Satu mata petir lagi di turunkan, dia berteriak kencang. Kekuatannya hilang karena benda tajam itu tak bisa dilepaskan. Yang sebenarnya mampu untuk keluar dari sana dan melawan petir-petir yang menyerang tubuhnya itu.
"Sialan Bai Suyue!! Aku akan membalasmu nanti!" Geramnya dengan suara yang tercekik, setelah udh petir kembali menyambar tubuhnya.
Wen Yuexin sangat kesal karena tidak bisa menggunakan kekuatannya di saat-saat seperti ini. Dia juga harus menahan semua serangan menyakitkan dari petir itu. Belum lagi panas api yang terasa membakar tubuhnya.
Sungguh menyiksa! Dia terus menerus mencaci Yi Changyin dalam hatinya. Menyemburkan sumpah akan membalaskan dendam jika kekuatannya sudah kembali nanti.
Namun sejurus kemudian dia terkejut ketika merasakan sesuatu yang bangkit di tubuhnya. Dia tersenyum penuh kemenangan, merasakan hal baik. Efek dari gigi paus terbang itu menghilang, dan kekuatannya akan kembali. Dia sangat senang hingga tertawa menggelegar, namun berhenti ketika petir kembali menyambarnya.
"Sialan!"
Di sisi lain penjaga neraka yang merasakan energi tak biasa mengerutkan keningnya. Dia melihat ke tempat hukuman Wen Yuexin berada. Dengan helaan nafas, dia melihat gigi besar paus terbang dengan datar.
Sambil mengingat sebulan lalu, sang Ratu alam peri yang datang dengan aura membunuh. Lalu memberikan tugas ini padanya. Bahkan beberapa ancaman keluar dari mulut cantiknya.
Memikirkan itu dia mulai merinding. Mau tak mau ia segera melangkahkan pergi menuju area hukuman Wen Yuexin berada. Dari kejauhan, dia sudah mendengar jeritan wanita itu.
Jeritan memilukan ini tidak seberapa dengan ancaman Yi Changyin. Gadis cantik bergelar Ratu itu tahu dia seekor burung elang neraka. Lalu dengan entengnya mengancam, jika gagal atau menolak tugas, sang Ratu akan mencabuti bulunya sampai habis, lalu memanggangnya.
Memikirkan hal itu bulu kuduknya semakin meremang. Itu adalah hal yang paling di takuti oleh burung sepertinya. Kemudian otaknya segera bekerja untuk melupakan kejadian itu dan fokus pada pekerjaan.
.......
.......
.......
Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗
__ADS_1