
"Wajar saja kau tidak tahu. Bunga itu ada di dalam baka, bisa untuk memutuskan ikatan kontrak." Jelas Shen Lan sambil menuangkan tehnya.
Yi Changyin mengangguk-angguk. "Aku akan meninggalkannya setelah pernikahan." Ujarnya dengan yakin tanpa sedikitpun kilat keraguan.
"Astaga aku merasakan firasat buruk." Gumam Shen Lan yang tentu saja terdengar olehnya.
"Seburuk apapun aku akan menghadapinya." Sahut Yi Changyin terdengar jauh lebih serius.
Shen Lan hanya menatapnya datar. "Aku akan tetap berada di sisimu."
"Aku tahu karena itu adakah sudah menjadi sumpahmu dahulu."
Shen Lan hanya terkekeh menanggapi kata-kata datar Yi Changyin.
"Kau yakin akan meninggalkannya?" Shen Lan kembali memastikan. Ia tampak tidak yakin.
Yi Changyin mengangguk. "Itu akan aman untuknya. Dan aku pergi hanya sebentar."
"Lalu anakmu?"
"Kau pikir aku akan membawanya ke alam baka?!" Tiba-tiba Yi Changyin berkata penuh dengan emosi.
Shen Lan hanya tertegun. Sekarang gadis itu selalu merubah emosinya terus menerus bagaikan tak bisa terkontrol lagi.
Sejurus kemudian, raut Yi Changyin terlihat penuh beban. "Aku akan meninggalkannya juga."
"Kau bisa?"
"Kau meremehkanku?" Yi Changyin balik menantang Shen Lan. Membuat pria itu menghela nafas pasrah.
"Baiklah terserah padamu, aku akan berharap semuanya baik-baik saja." Sejurus kemudian pria itu beranjak pergi keluar rumah. Entah kemana. Dan Yi Changyin membiarkannya.
Dia masih terdiam di atas kursi dengan ekspresi yang rumit. Dalam hatinya ia selalu bertanya, akankah sanggup meninggalkan keluarga kecilnya disini?
Dia menghela nafas, kemudian beranjak bangun dan menghampiri pohon persik yang sudah tidak berbuah. Ia melompat tinggi dan menaiki salah satu dahannya yang besar.
Menyandarkan punggungnya dan menyelonjorkan kakinya dengan nyaman. Setelah itu terlelap tidur tanpa gangguan.
Entah berapa lama ia tertidur, namun Yi Changyin begitu terkejut saat bangun mendapati dirinya sudah berada di atas kasur. Lengkap dengan selimut yang menyelubungi tubuhnya. Bukan di atas pohon seperti tadi lagi.
Begitu terbangun dan melihat kesekitar, ia langsung di sambut dengan Xuan Chen yang sepertinya baru tiba di kamar. Dengan mangkuk kayu di tangannya.
Pria itu tersenyum sambil mengangkat mangkuk itu dengan kedua tangannya. "Saatnya minum ramuan, istriku." Serunya terlihat antusias.
Yi Changyin hanya mencibir sambil mendudukan dirinya di atas kasur, tanpa menyibakkan selimut.
Xuan Chen mulai menyendok ramuan itu dan meniupnya perlahan. Lalu menyodorkannya pada Yi Changyin.
Dan seketika bau rempah-rempah dan herbal yang disatu padukan menjadi bau aneh mulai menusuk-nusuk hidung Yi Changyin.
"Baunya aneh!" Gerutu Yi Changyin sambil menjepit hidungnya. Namun ia masih saja meminumnya. Walaupun rasa pahit yang menyengat begitu membuatnya mengenyit tebal.
Setelah menelannya susah payah. Dia menatap Xuan Chen dengan tajam. "Kenapa sangat pahit?!"
"Aku tidak tahu, aku hanya mengikuti apa yang dikatakan tabib." Jawab Xuan Chen seadanya.
Membuat Yi Changyin memberenggut kesal sambil merebut mangkuk itu dari Xuan Chen. Dengan wajah yang dongkol dia kembali menjepit hidungnya dan meminum semua dalam mangkuk sekaligus.
"Hati-hati, nanti kau tersedak." Xuan Chen tampak mewanti-wanti.
Namun Yi Changyin telah selesai meminumnya. Gadis itu terbatuk-batuk dan memberikan mangkuk kosong itu pada Xuan Chen.
Lalu dengan cekatan Xuan Chen memberikan segelas air putih padanya, dan sepiring jeruk yang telah di kupas. Yang langsung di sambar oleh tangan Yi Changyin. Gadis itu tidak sabar untuk memakannya demi menghilangkan rasa pahit.
"Apakah sangat pahit?" Tanya Xuan Chen sambil mengelus-elus rambutnya. Dia menyimpan kembali cangkir yang tidak tersentuh.
"Yha! Sanguat pahith!" Serunya sambil mengunyah jeruk, hingga susunan eja-nya tak teratur dengan jelas.
Sejurus kemudian ia tertegun ketika satu kecupan tiba-tiba mendarat di bibirnya.
"Apakah yang ini manis?"
__ADS_1
Yi Changyin masih tertegun tak bisa berkata-kata. Ia kembali di bungkam oleh sengatan halus di bibirnya. Setelah menelan jeruk di mulutnya, Yi Changyin memukul dada Xuan Chen.
"Jangan bertindak tidak sopan di depan bayi!"
Membuat Xuan Chen menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia bingung apakah bayi yang masih berbentuk gumpalan daging bisa melihatnya?
"Aku tidak yakin bayinya akan mendengar atau melihat." Katanya.
"Aku tidak peduli! Yang penting jangan usil.." Yi Changyin mengacungkan jari telunjuknya di depan hidung Xuan Chen. "Baik?"
Xuan Chen tersenyum dan menggenggam erat jari jemari yang berada di depan hidungnya itu. "Sesuai yang kau mau.."
.......
.......
.......
Dengan niat yang kuat dan tekad yang bulat, Wen Yuexin pergi ke tempat terdalam dunia. Alam iblis. Dan dia masih ingat dengan kata-kata Qiao Jirong satu hari lalu.
"Datanglah ke alam iblis, istana Dewa kegelapan. Di sana kau akan mendapatkan kejutan yang tak biasa."
Dengan helaan nafas, ia melangkahkan kakinya di alam iblis. Dengan pakaian yang semula bagai putri dari dunia kultivator, kini berubah menjadi hitam gelap seperti kebanyakan iblis disini.
Keadaannya sama seperti kota-kota pada umumnya. Namun yang membedakan disini penghuninya adalah iblis, bukan manusia.
Membuat ia terpaksa harus menelan ludah berkali-kali ketika berpapasan dengan wajah menyeramkan dari prajurit iblis yang tak sengaja lewat.
Terakhir kali ia kemari tidak pernah bertemu dengan prajurit iblis yang berjaga. Apa mungkin ada yang sedang terjadi?
Benar juga, tak lama kemudian seseorang berteriak menggema. "Beri jalan!! Ratu akan lewat kemari!!" Yang membuat semua orang menyingkir ke pinggir jalan, termasuk dirinya.
Tak berselang lama, barisan prajurit iblis membentuk formasi dua baris bergerak rapi di depan matanya.
Lalu barisan para pelayan wanita berpakaian serba hitam dan penampilan aneh mengiringi tandu tertutup. Yang jelas di dalamnya terdapat seseorang yang penting, Ratu alam iblis. Yang entah baru kembali dari mana.
Di belakangnya sama seperti barisan formasi prajurit iblis di posisi depan. Ada yang berkuda, ada juga yang berjalan.
Pesan Qiao Jirong kembali menggema, membuat ia tersenyum miring. Bersamaan dengan munculnya tiga kelopak mawar hitam di keningnya.
Tak ada aura, tak ada yang mencurigainya. Bahkan Ratu iblis pun tak menyadari kalau kini Wen Yuexin diam di permata anting-antingnya.
Entah kekuatan apa yang Wen Yuexin miliki.
.......
.......
.......
Lima bulan kemudian.
Hari yang begitu dingin dirasa. Daun-daun sudah berguguran ketika aba-aba musim dingin telah tiba. Hari itu tampak cerah namun tak semenyengat musim panas.
Matahari yang menerangi seluruh pelosok ini tak membuat keadaannya menjadi lebih hangat. Terlebih sang mentari masih berada di ufuk timur, belum beranjak ke tengah-tengah.
Karena cuaca yang dingin, Yi Changyin menyelubungi tubuhnya dengan selimut tebal. Seluruh tubuhnya tak terlihat bak tertelan kain yang menghangatkan itu.
Hanya kepala yang terlihat. Bahkan mulutnya pun ikut-ikutan tenggelam. Dengan keadaan tubuh yang sedikit melengkung demi mendapatkan rasa hangat ternyaman.
"Ini sudah hampir siang, ayo keluar." Ajak Xuan Chen sambil mendudukan dirinya di tepi kasur.
"Tidak mau!" Yi Changyin berkata dengan ketus, masih menutup matanya.
"Jangan terlalu banyak berbaring. Kau harus banyak bergerak, ayo.." Ajaknya lagi tidak pernah menyerah.
Yi Changyin hanya menggeram rendah pertanda tak setuju. Matanya terpejam rapat-rapat seakan tak mau dibuka.
"Ke pasar?"
"Ke restoran?"
__ADS_1
"Ke toko baju?"
"Ke istana?"
Xuan Chen menawari semua tempat yang terlintas di benaknya. Namun Yi Changyin sama sekali tak menggubrisnya.
Hening sesaat. Xuan Chen masih berfikir apa yang sekiranya menarik perhatian Yi Changyin.
Ting!
Satu ide terlintas di kepalanya yang membuat ia tersenyum sendiri. Mencium puncak kepala Yi Changyin yang membuat gadis itu membuka matanya. Wajah Xuan Chen sangat terlihat begitu dekat.
"Bagaimana kalau kita pergi ke air terjun?"
"Di alam peri banyak, aku sudah bosan." Tolaknya sambil kembali memejamkan mata.
"Tapi air terjun kali ini sangat berbeda. Ada bunga Peony yang..."
"Baik! Aku ikut!" Seru Yi Changyin antusias. Wanita itu terbangun tiba-tiba dan cepat membuat Xuan Chen terbelalak marah.
"Yin'er! Jangan terbangun tiba-tiba! Bagaimana kalau perutmu terasa sakit?!" Xuan Chen menunjuk pada perut yang sudah membesar itu. Sementara Yi Changyin hanya menatapnya datar.
"Tabib memperkirakan waktunya tiga sampai lima minggu lagi, jangan sembarangan bergerak!" Pria itu terus mengoceh yang membuat Yi Changyin menghela nafas.
"Tapi buktinya aku baik-baik saja, bukan?" Dia tersenyum. "Jangan remehkan aku."
Lagi-lagi Yi Changyin mengatakan itu dengan bangganya. Membuat Xuan Chen memijit pangkal hidungnya dengan frustasi.
Kemudian berkata dengan jengkel, "bukan masalah一!"
"Sudah-sudah! Jangan berceramah lagi atau aku akan memanjat pohon persik dan berlari-lari!" Ancamnya dengan keji.
Tak ingin berdebat lagi, akhirnya Xuan Chen mengakhirinya dengan memakaikan jubah hangat dari alam peri yang di kirim lima bulan lalu.
"Ayo pergi!"
Xuan Chen hendak menarik tangan Yi Changyin untuk menuntunnya. Namun tiba-tiba tenaga wanita itu menjadi besar. Malah balik menarik Xuan Chen untuk duduk di atas kasur.
"Lihat dia! Lihat!" Serunya antusias sambil menunjuk pada perut yang buncit.
"Sepertinya putriku senang akan pergi keluar, dia terlihat tidak sabar!"
Merasa gemas, Xuan Chen hanya mencium puncak kepalanya. Kemudian beralih mencium perutnya yang buncit sambil membisikan sesuatu.
"Ayah berjanji akan senantiasa membuatmu dan ibumu bahagia setiap saat. Menjaga kalian dan menyayangi kalian. Ayah berjanji, tolong pegang janji ayah.."
Kata-kata itu sukses membuat hati Yi Changyin menghangat. Dia mengelus-elus punggung Xuan Chen sambil tersenyum manis.
"Tunggu.. kau tadi menyembutnya putri?" Tanya Xuan Chen mengangkat kepalanya, ia merasa heran.
Sementara Yi Changyin hanya mengangguk antusias.
"Dari mana kau tau?"
Dan dengan polosnya Yi Changyin menjawab, "itu hanya firasatku."
.......
.......
.......
Setelah berjalan lama dan penuh kehati-hatian menyusuri hutan, akhirnya suara gemericik air terjun yang deras menyapa telinga Yi Changyin.
"Apakah ada yang istimewa di dalam sana?" Tanyanya penasaran.
Xuan Chen mengangguk setuju. "Sangat istimewa."
Dalam hati, Yi Changyin dapat menebak kalau hal istimewa itu adalah bunga Peony bermutiara. Dan mungkin sekarang, perkiraan bunga itu sudah mekar. Makanya Xuan Chen mengajaknya kemari.
Sudah lama matanya tak melihat bunga indah itu. Mungkin ia akan merindukannya. Walaupun banyak yang lebih istimewa dari ini, Yi Changyin hanya bisa mengatakan kalau bunga Peony yang satu ini sangat cantik.
__ADS_1