
Wei Qiao berwajah masam saat mendengar sentakan tak bermoral itu. Jelas-jelas tadi Xuan Chen membelanya di hadapan Yu Qinghan yang galak. Tapi kali dia bersikap seolah hal itu tidak pernah terjadi, atau dilupakan begitu saja tanpa niat untuk mengingatnya kembali.
"Tuan Ji jelas-jelas membelaku tadi. Aku sangat senang.." Katanya dengan wajah yang merayu.
Xuan Chen tidak menanggapinya, dia menghela nafas. "Sebenarnya, aku melihat apa yang terjadi.."
Wajah Wei Qiao menegang. Xuan Chen, walaupun tidak mengeluarkan aura apapun, Wei Qiao merasakan penekanan yang besar. Kilat ancaman menyambar di tengah bola matanya yang menatap tajam itu.
"Apakah kau ingin aku memberitahu kebenarannya pada para tetua dan guru?"
"Aku.." Tiba-tiba Wei Qiao menekuk lututnya dengan wajah yang meminta ampunan. "Tuan Ji, mohon jangan beritahu hal ini pada tetua dan guru! Aku dan seluruh keluarga Wei akan menanggung malu. Banyak rahasia di dalamnya. Kumohon.."
"Aku bukan siapa-siapanya kamu. Untuk apa melakukan hal besar ini dan menyembunyikan hal tabu?" Sindir Xuan Chen sinis.
"Tuan Ji! Aku akan melakukan apapun untukmu. Tapi kumohon jangan beritahukan hal ini pada tetua dan guru akademi. Terutama keluarga Fu!" Rengeknya.
Xuan Chen tersenyum miring, ini adalah kata-kata yang paling dia harapkan. "Benarkah.. kau akan melakukan apa yang aku inginkan?"
Wei Qiao merasakan firasat buruk. Tapi dia sudah berjanji pada pria idamannya. Dia sangat gelisah, karena takut keinginan Xuan Chen itu hanya untuk Yi Changyin! "Itu.."
"Kau hanya perlu mengakui kesalahanmu dua hari lalu. Mengaku salah karena menjebak Yi Changyin, demi memenuhi kepuasan hati hitammu yang membencinya."
Benar dugaannya!
"Walaupun aku tidak bisa membukanya secara langsung, tapi ingatlah Naga dan Phoenix ada padaku, ada juga pada Yi Changyin. Kau tidak akan bisa kabur." Jelas Xuan Chen menakut-nakuti.
Wei Qiao meneguk slivanya susah payah. Saat ini dia tidak punya pilihan lain. Lagi-lagi hatinya merasa tidak nyaman saat mendengar kata-kata,
'Naga dan Phoenix ada padaku. Ada juga pada Yi changyin.'
Tidak, tidak ada pilihan lain. Wei Qiao bahkan mengutuk dirinya sendiri. 'Sial! Sial! Sial!'
Tidak ada jawaban, Xuan Chen kembali angkat bicara. "Kenapa aku tidak mendengar jawaban? Apakah kau tidak mau?"
Wei Qiao masih terdiam dalam kekhawatirannya. Xuan Chen tersenyum lalu berjalan melewatinya. "Baiklah, aku akan segera melaporkan hal ini lagi pada guru Yu.."
"Tuan Ji, tunggu!!" Teriakan halus dan berirama itu menghentikan langkahnya. Xuan Chen semakin tertarik karena dia tahu apa yang akan gadis itu bicarakan.
Xuan Chen berbalik, "ada apa?"
"Baik.. baik.. aku akan mengakui kesalahanku besok pada semua guru dan tetua." Tubuhnya bergetar. Dia tidak rela, tapi harus melakukannya. Seakan takdir langit memberi tahu Xuan Chen untuk tidak memberinya pilihan.
"Aku.. aku.." Lidahnya terasa kelu. Sesekali dia melirik Xuan Chen. Yang menatapnya biasa-biasa saja, tapi Wei Qiao merasa itu sangat tajam. Seperti tatapan Phoenix api yang marah padanya, lalu hendak menerkamnya. Seperti sesuatu menekannya lewat Xuan Chen, tapi entah siapa itu.
Sementara Feng'er yang berada di ruang Dimensi spiritual tertawa sendiri. Dialah yang melakukan hal ini. Membuat Wei Qiao tertekan lewat Xuan Chen, sangat mnyenangkan baginya. Bagaimanapun gadis itu telah menjahili gadis yang dia mirip dengan ibundanya dahulu.
Feng'er pribadi tidak terima!
Xuan Chen yang mengetahuinya hanya menghela nafas pasrah. Tapi boleh juga Feng'er, dia sangat membantu. Kembali fokus pada Wei Qiao, "apa?"
Walaupun kelu, dia tetap berusaha untuk bicara. "Aku.. aku akan.. akan membuktikan.. Yi.. maksudku kakak seperguruan kesembilan tidak bersalah."
Xuan Chen tersenyum puas. "Bagus!"
Tidak ingin berurusan lagi, Xuan Chen segera pergi meninggalkan Wei Qiao. Menuju tempat yang seharusnya dia tuju dari tadi. Gadis itu masih menekuk lututnya di tengah-tengah jembatan dengan tubuh yang bergemetaran menahan emosi.
Tangannya terkepal membawa pakaiannya yang harus kusut karena ulahnya. Wei Qiao mengeraskan rahangnya. Berusaha berbicara di tengah-tengah luapan emosinya, "Gadis busuk itu.. sangat beruntung!"
.......
.......
.......
Yi Changyin menatap pria dihadapannya dengan tatapan yang tidak percaya. Setelah makan berdua tadi, tiba-tiba Xuan Chen berinisiatif untuk membantunya. Padahal Lao Jun melarang siapapun untuk membantu Yi Changyin. Semua guru dan tetua tentu saja setuju.
Yi Changyin sudah memperingatkannya, tapi dengan santainya Xuan Chen malah menjawab,
"Aku tidak takut. Yang penting aku sudah membantu rubah kecilku." Katanya sambil terus menyapu bersih halaman yang penuh dengan dedaunan kering.
"Aku bisa melakukan ini sendiri.." Pinta Yi Changyin memberi tanda agar pria itu pergi, secara tidak langsung. Dan Xuan Chen malah menyadarinya.
"Apakah kau menginginkan aku pergi sekarang?"
Terdiam, Yi Changyin akhirnya mencibir dan memilih pergi menyapu bagian lain. Dari pada harus bermain kata yang berujung pekerjaannya tidak akan pernah selesai.
Ruangan-ruangan di dalam seperti biasa, dia sudah membersihkannya terlebih dahulu dari pada bagian yang lain. Tampak sudah mengkilap, membuat siapapun yang melihat kerja kerasnya akan tersenyum puas.
Brukk!!
Suara orang terjatuh diiringi suara erangan, berhasil membuat Yi Changyin 一yang sedang fokus-fokusnya一 berbalik. Dia terbelalak melihat Xuan Chen yang terjatuh, sebelum akhirnya dia berlari dan merengkuh tangan pria itu.
"Apa yang terjadi? Apakah kau baik-baik saja?"
Pertanyaan itu hanya angin lalu bagi Xuan Chen yang sedang memikirkan sesuatu. 'Gawat! Sepertinya sudah lewat dari seratus hari. Aku harus menemui Shen Lan..'
"Xuan Chen.. apa yang terjadi?"
__ADS_1
Xuan Chen menoleh ke arah Yi Changyin, belum menjawab satupun ucapannya. 'Dan gadis ini.. ada di sini..' Pekiknya dalam hati, dia khawatir.
"Xuan Chen!!" Panggil Yi Changyin, kini dia berteriak. Tapi Xuan Chen malah menunduk.
Ilusi yang tertanam di dalam kakinya, telah habis. Dia butuh Shen Lan yang sedang sibuk-sibuknya di suruh ini itu oleh guru. Xuan Chen tidak mau Yi Changyin yang menggantikannya. Gadis itu sudah banyak terluka karenanya. Dia tidak mau! Pokoknya tidak mau!
"Aku baik-baik saja.. aku hanya tergelincir.." Xuan Chen akhirnya menjawab. Walaupun menurutnya ini sangat bodoh. Jika begini lambat laun Yi Changyin pun akan mengetahui apa yang terjadi. Tidak! Secepat mungkin dia akan mengetahuinya.
Yi Changyin menunduk memikirkan sesuatu. Membuat Xuan Chen semakin cemas akan hal ini. Dia mengenal Yi Changyin, gadis cerdas alam langit yang tidak mungkin terbodohi karena hal kecil yang gampang dikorek. Bisa saja Yi Changyin memeriksanya dengan aura spiritual. Dan.. terbongkar sudah!
"Mungkin ini sudah seratus hari.." Gumam Yi Changyin. Tapi bagaikan suara ledakan di telinga Xuan Chen.
"Benar.." Sahut Xuan Chen lesu.
"Aku akan一"
"Jangan!"
".... Mengapa?"
"Biarkan Shen Lan yang melakukannya." Xuan Chen memegangi tangan Yi Changyin. "Kau sudah banyak terluka saat berlatih dan sering kelelahan. Juga.. luka dari cambukan siluman belum pulih sepenuhnya. Aku khawatir..."
"Apa yang kau khawatirkan?" Yi Changyin memberi senyuman yakin. "Percayalah padaku. Aku akan baik-baik saja.."
"Kau pikir itu hal yang mudah?!" Bentak Xuan Chen, dengan tatapan yang dibuat-buat tajam supaya mengintimidasi gadis itu.
Tapi apa yang terjadi, Yi Changyin malah melebarkan senyumnya. Xuan Chen mendesah pasrah. Tidak ada yang biasa dia lakukan lagi. Ingatlah, Yi Changyin memang seperti ini dari dulu!
"Cepat, kita pergi ke ruang dimensi spiritual.." Pinta Yi Changyin yang dibalas dengan tatapan ragu pria itu.
"Kenapa masih ragu?" Tanya Yi Changyin seolah bisa membaca apa yang di rasakan Xuan Chen.
Tiba-tiba raut wajah Xuan Chen berubah menjadi menyedihkan. Matanya menatap nanar wajah cantik alami dari alam langit itu. "Jangan berjuang untukku, itu tidak penting. Kumohon.."
Yi Changyin tidak menjawab. Dia masih setia menatap dalam-dalam dua iris hitam itu. Begitupun dengan Xuan Chen, yang masih dengan tatapan nanarnya.
Seolah mereka saling mengobrol walaupun tak mendengar apapun yang dibicarakan masing-masing. Seolah saling berdebat tentang pendapat dan argumen kedua belah pihak yang bertentangan.
Tiba-tiba angin berhembus menyapu helaian rambut yang menghalangi wajahnya. Tatapan gadis itu menjadi berbeda, sedikit mendominasi. Lebih tepatnya seperti sedang melakukan sugesti.
Seperti debu memasuki matanya, Xuan Chen merasa tak kuat menahan kelopaknya untuk terbuka. Dia seperti disihir sesuatu yang tidak dapat dilihat. Jelas berasal dari matanya. Mata berkilau gadis kesayangannya itu.
"Yi Changyin.. jangan.." Suara Xuan Chen tampak lemah. Matanya sudah tak sanggup untuk terbuka. Namun dia masih berusaha untuk mempertahankan kesadarannya. Bayangan wajah tak berekspresi di hadapannya perlahan memudar, "jangan.. jangan lakukan itu.. jangan.."
Seketika pandangannya buram. Entah kemana kesadarannya melayang. Entah apa yang terjadi di luar. Xuan Chen tidak bisa merasakannya.
'Ruang dimensi spiritual?'
Setelah terdiam beberapa lama, mengumpulkan kesadaran yang sedari tadi melayang-layang. Masih dengan posisi tidur, Xuan Chen menoleh ke arah kiri. Sontak matanya langsung membola. Sisa-sisa kesadaran yang masih melayang-layang di paksa masuk kembali kedalam alam sadarnya.
"Rubah kecil!" Sambarnya sambil memiringkan posisi badan, setengah bangun. Tangannya menyentuh pipi halus yang putih dan halus. Bibirnya sedikit pucat dan wajahnya yang terlihat kelelahan. Membuat Xuan Chen terisak.
"Apakah benar kau melakukan itu? Rubah kecil.." Katanya dengan cemas.
Xuan Chen adalah manusia biasa yang kekurangan, bahkan cacat. Terbiasa hidup menyendiri, tersisih oleh keluarganya yang penuh kekuasaan dan kemewahan. Terbiasa hidup mandiri di tengah kekurangannya dan tidak pernah menyerah apapun yang terjadi.
Dahulu dia hanya berharap ingin menjalani kehidupan ini dengan tenang. Walaupun sering mendapatkan perundungan dari kedua kakak tiri dan adik dari selir agung -Han Jishang-, tapi dia ingin hanya dia sendiri yang merasakan. Tidak perlu keterlibatan orang lain.
Tiba-tiba seseorang datang mengubah hidupnya. Berkorban untuknya. Memberikan apapun yang dia punya. Membuat dia merasa kalau diri ini adalah yang paling tidak berguna dan pengecut. Seperti apa yang dia rasakan saat ini.
Xuan Chen menatap wajah cantik dengan mata terpejam itu dengan. tatapan yang serius, "kau tenang saja.. aku yang tidak berguna akan mengubah diriku sendiri dan membalaskan budimu.." Gumamnya lembut.
Bagaimanapun dia seorang pria, akan sangat memalukan jika terus-menerus bergantung pada gadis lemah yang memiliki kekuatan tidak sebanyak Dewa Dewi tinggi alam langit. Bagaimanapun dia seorang pria, bisa juga terpesona oleh kecantikan bak lukisan di depannya.
Baru saja dia mengatakan akan membalas budi dengan sungguh-sungguh, kini dia telah jatuh ke lautan pesona yang paling dalam. Dia bahkan tidak bisa menemukan permukaan yang membuatnya akan tersadar dengan apa yang akan dia lakukan, mendekatkan wajahnya. Hendak merasakan bibir lembut dan ranum yang sedikit pucat itu.
Deg!
Terkejut, kini kesadarannya telah di tarik secara paksa setelah tenggelam kedasar paling dalam lautan. Untung saja! Xuan Chen langsung terduduk dan menenangkan nafasnya.
"Bodoh!" Dia memaki diri sendiri.
.......
.......
.......
Keesokan harinya adalah sebuah hiburan bagi Xuan Chen. Pagi-pagi sekali dia meminta para tetua dan guru untuk membuka kembali pengadilan akademi. Dia ingin memecahkan kesalahan pahaman semua orang pada Yi Changyin. Tentu saja dengan Wei Qiao di sampingnya. Seperti seorang pengawal yang sedang membawa tahanannya.
Lucunya lagi, saat Wei Qiao mengakui kesalahannya dan membenarkan apa yang terjadi dan meminta maaf pada Yi Changyin. Walaupun kentara jelas wajahnya amat tidak sudi dengan paksaan yang membuatnya tidak bisa pilih-pilih kembali.
Terutama wajahnya yang kentara memerah malu. Karena semua murid hadir untuk melihat apa yang terjadi. Memang tadi pagi Xuan Chen sengaja membuat kegaduhan. Agar gadis itu merasa lebih jera. Tapi sepertinya akan susah untuk benar-benar jera.
Memuakan! Bajingan! Dasar bajingan! Jal*ng! Awas saja kau sialan Yi Changyin!!
Kira-kira seperti itulah cacian Wei Qiao dalam hati. Yang ingin dia luapkan sekeras dan sebanyak mungkin di depan wajah yang kini.. sedang tersenyum manis padanya. Tapi dia malah merasa senyuman ini sedang menjatuhkan martabat dan harga dirinya.
__ADS_1
Sialan!!
"Kesalah pahaman sudah di luruskan. Sebaiknya kita menjatuhkan hukuman yang tepat pada murid keempat belas." Ujar tetua Ling Zhao, sangat berwibawa.
"Guru! Mereka pasti一"
"Eh!" Tetua Ling Zhao memotong protesan Lao Jun.
Tentu saja pria itu tidak terima gadis idamannya telah disalahkan balik oleh pihak lawan. Walaupun dia juga menyadari kalau semua itu masuk akal. Setelah sang tetua yang berkuasa menghentikan kata-katanya, dia menjadi bungkam dan mendesis kesal.
Sementara Yu Qinghan merasa menang atas hal ini. "Seperti guru Lao menghukum murid kesembilan. Sepertinya.. murid keempat belas juga harus dihukum sama dengan murid kesembilan. Bedanya.. murid keempat belas harus menjalaninya selama empat belas hari."
Penjelasan Yu Qinghan membuat Wei Qiao terbelalak, terkejut, berdebar, kemudian kepalanya sakit seperti tertimpa batu besar. Membersihkan?! Itu adalah pekerjaan yang paling dia hindari!
"Guru Yu一."
"Ini adalah masalah kau menjebak orang lain sampai dihukum sedemikian rupa!" Yu Qinghan memotongnya sekaligus membentaknya. "Apakah kau tidak malu?!"
"Aku.."
"Eh.. sudah-sudah.." Tetua Ling Zhao menengahi. "Apa yang di katakan Han'er sangat benar. Aku setuju dengan itu.."
Mata Wei Qiao memanas, "tetua..."
"Jangan melawan tetua!" Bentak Yu Qinghan yang membuatnya semakin bungkam. Dia hanya bisa meredam amarahnya, rasa sakit hatinya, rasa dendamnya dan rasa ingin mencabik-cabik Yi Changyin, dalam balutan wajah lugu yang patut dikasihani.
Bagi orang seperti Xuan Chen dan Yu Qinghan, wajah seperti itu sangat memuakkan!
"Karena semua murid ada di sini.. aku akan mengumumkan sesuatu." Tetua Ling Zhao berdiri dari duduknya.
"Kemarin, ada hal yang mengejutkan datang kemari, utusan alam langit."
Semua merasa terkejut sekaligus kagum dengan sekolahnya. Terkecuali beberapa murid yang sudah mengetahuinya kemarin. Contohnya Yi Changyin, Xuan Chen dan Wei Qiao. Walaupun mereka tidak tahu apa tujuan dari utusan alam langit itu.
"Tujuh hari lagi, akan ada acara besar di istana langit. Yaitu ulang tahun permaisuri langit, dan dia secara pribadi mengundangku untuk menghadiri acaranya."
"itu karena tetua sudah berstatus Dewa, wajar saja permaisuri langit berinisiatif mengundangmu ke acara perjamuannya." Sahut Yu Qinghan dengan senyum sumringah.
Tetua Ling Zhao hanya mengangguk-ngangguk. "Selain itu, dalam undangan disebutkan untuk membawa dua orang murid, siapapun itu agar aku tidak kesepian di sana. Karena sejujurnya, ini adalah pertama kali aku di undang."
Saat itu pula, pikiran semua orang tertuju pada Yi Xuemei dan Shen Lan. Kedua orang yang berdiri di barisan para murid itu langsung menegang. Bagaimanapun Yi Xuemei terkenal dengan putri pertama di keluarga Yi dan anak perempuan dari Feng Chao dari klan Phoenix. Wajahnya sangat dikenali di alam langit atas!
Shen Lan, dia pernah berkeliaran di alam langit. Mungkin putri agung Feng Lian akan mengenalnya sebagai utusan Yi Xuemei. Tapi kenapa sekarang malah jadi murid akademi di alam fana?!
Tidak.. tidak.. keduanya tidak bisa pergi. Yi Xuemei dan Shen Lan saling melirik dan menggeleng. Pertanda mereka memikirkan hal yang sama. Dan menyediakan jawaban yang sama saat seorang guru menunjuk mereka berdua.
"Menurut peraturan.. seharusnya murid pertama dan kedua lah yang ikut." saran Yu Qinghan yang langsung disambut oleh keduanya.
"Tidak!"
Kening tetua Ling Zhao mengkerut. "Kenapa?" Walaupun dia tahu kalau Yi Xuemei dan Shen Lan berasal dari alam langit, tapi dia tidak tahu asal muasal keluarga mereka. Apakah mungkin mereka dari keluarga terkenal? Mungkin saja!
"Tidak.. tidak apa. Aku.. aku.." Yi Xuemei tampak gagu. Dia tidak tahu untuk menjawab apa.
Di saat seperti inilah, Shen Lan datang menyelamatkannya. Pria itu menengkupkan kedua tangannya di depan dada. "Tetua Ling, masih banyak yang harus kami selesaikan dalam dua Minggu ini. Tidak ada waktu untuk bersenang-senang di alam langit."
"Itu benar.. tetua." Sahut Yi Xuemei sambil tersenyum garing.
Tetua Ling Zhao hanya menghela nafas panjang. Yi Xuemei dan Shen Lan memang banyak bertanggung jawab kali ini. Banyak juga yang harus di selesaikan secepat mungkin.
Lalu Shen Lan kembali membuka suara. "Tetua.. aku memberi saran agar membawa adik seperguruan ketujuh dan kesembilan saja."
Ujar Shen Lan yang membuat Yi Changyin dan Xuan Chen tersedak. Apa-apaan ini!! Bahkan Wei Qiao melotot karena tidak setuju. Dia akan sangat iri nantinya!!
Selagi tetua Ling Zhao berfikir, Yi Changyin mendekati Xuan Chen. "Tidak apa.. sebaiknya kita pergi. Tidak ada yang perlu di khawatirkan."
Wajah Xuan Chen menunjukkan kalau dia tidak setuju, "tapi.."
"Ini juga untuk menambah pengetahuan juga. Siapa tahu bertemu dengan Dewa atau Dewi yang ramah, benarkan?"
Xuan Chen hanya menghela nafas. Yi Changyin cemberut dan menggoyang-goyangkan tangan Xuan Chen. Pria itu tak tahan dengan keimutannya. Sesekali menatap, sesekali buang muka. Sangat membingungkan dan membuat dirinya gugup!
Dia menghela nafas untuk kedua kalinya. "Baiklah.." Katanya dengan pasrah
Yi Changyin tersenyum senang. Belum dia melebarkan senyuman yang gembira itu, Xuan Chen kembali berbicara.
"Dengan satu syarat!" Yang membuat senyumannya hilang kembali.
Sial!
.......
.......
.......
Jangan lupa vote, like dan tanggapannya tentang bab ini di kolom komentar ya😉
__ADS_1