The Fox Goddes Love Struggle

The Fox Goddes Love Struggle
Bab CXVIII - Diguncang Sampai Karam


__ADS_3

"Yue'er, kau sudah berumur seratus dua puluh enam ribu lima ratus tiga tahun (126.503 tahun) lebih dan penguasa alam peri yang tak terkalahkan. Mengapa begitu cengeng?" Pria itu tampak menggodanya.


(Author ngitung umur Bai Suyue+Yi Changyin pusing sendiri 😌)


Yi Changyin terkekeh pelan sambil menyusut ujung matanya. "Apa arti semua itu, ayah. Aku juga memiliki hati yang rapuh. Apa ayah lupa aku pernah menangis hanya karena kepalaku terbentur tiang? Saat umurku genap delapan puluh ribu tahun?"


Shui Jifeng tertawa ketika Yi Changyin bercerita tentang kejadian hari itu. Ya, putrinya Bai Suyue memang sedikit cengeng. Tergantung emosi.


Yi Changyin memberenggut kesal, seperti anak kecil. Dia kurang sadar dengan umur. "Saat itu ibu malah memarahiku karena menangis."


"Itu karena kau sudah berumur panjang dan bergelar putri mahkota agung. Tentu saja ibumu akan merasa kesal dan memarahimu."


Yi Changyin semakin memberenggut. Dia kesal saat ayahnya tiba-tiba menggoda tentang semua aib yang dia dapatkan di alam peri. Terbentur, tersandung, mengigau, salah panggil, semua ditertawakan sang ayah.


Memang kenangan yang memalukan. Tapi sangat manis.


Namun sejurus kemudian dia terkejut dengan Shui Jifeng yang tiba-tiba memuntahkan seteguk darah. Dia berteriak histeris sambil memegangi ayahnya.


"Ayah?! Apa yang terjadi padamu?!"


Yi Changyin sangat cemas. Tadi suasananya cerah ceria, mengapa harus ada kejadian seperti ini?!


Shui Jifeng tidak menjawab. Pria itu malah semakin memuntahkan banyak darah yang membuat Yi Changyin ketar ketir.


Saat ia akan menyalurkan energi spiritualnya, namun Shui Jifeng segera menghentikan. "Jangan lakukan, itu tidak akan berguna." Suaranya sangat serak dan lemah, membuat Yi Changyin ingin menangis.


"Apa yang terjadi denganmu?" Tanya Yi Changyin dengan suara yang lemah.


Namun Shui Jifeng tidak menjawab, pria itu malah jatuh ke dalam pelukannya. "Ayah!!" Teriak Yi Changyin setengah panik.


Dia merasakan tubuh ayahnya sangat lemah, bahkan sampai saat itu Shui Jifeng tak membuka mata. Yi Changyin terus menggoyang-goyangkan tubuhnya ayahnya.


Tak lama kemudian, mata itu kembali terbuka walaupun tak sepenuhnya. Menatap Yi Changyin, bibirnya yang pucat tersenyum, tangannya menyentuh pipinya. Semua yang ayahnya lakukan menjadi sengatan yang menyakitkan bagi hatinya.


"Impian ayah... Adalah kembali bertemu denganmu sebelum menjemput ajal." Tutur sang ayah dengan suara yang tercekat.


"Katakan siapa yang melakukan ini padamu!!" Teriak Yi Changyin sambil terus menangis.


Tidak mungkin kan?! Semoga saja ini hanya mimpi! Kemudian terbangun dalam pelukan ayahnya.


"Ingatlah.. kau harus berhati-hati pada Dewa kegelapan. Dia sudah kembali.." Sang ayah masih memberi nasihat, walaupun nafasnya sudah tersengal-sengal.


Tiba-tiba wajah Yi Changyin mengeras. Dia mencengkram erat rerumputan sekenanya. Bahkan tanah-tanah itu tak bisa kabur dari remasannya.


"Yue'er..." Namun panggilan lembut ayahnya membuat otot Yi Changyin melemas. Dia kembali menangis dan memeluk tubuh ayahnya.


"Aku akan menyelamatkanmu..." Katanya dengan suara yang parau. Walaupun tahu itu tidak akan mungkin.


"Ayah sangat bahagia, bisa kembali memelukmu.."


"Ayah, kau tidak boleh pergi kemanapun! Cukup Shen Lan yang pergi! Aku tidak mau kehilanganmu lagi.." Ia terus tersedu-sedu.


"Maafkan ayahmu ini, putriku." Nafasnya mulai tercekat, yang memancing tangisan Yi Changyin. Wajah gadis itu semakin memucat.

__ADS_1


Shui Jifeng berusaha menyusut air mata Yi Changyin. Dengan sentuhan tangan yang lembut.


"Yue'er, aku selalu menyayangimu..."


Yi Changyin hanya tertegun, namun matanya masih saja meloloskan puluhan tetes air mata. Ketika tangan Shui Jifeng tak lagi berada di pipinya, perlahan turun sampai mencapai akhir.


Matanya menutup dengan satu tetes air mata, dan Yi Changyin tidak mau melihat itu. Namun dia bisa merasakan kepergian ayahnya.


Derita yang menimpanya bertubi-tubi, kebahagiaannya yang diguncang sampai karam, mendorong ia untuk berteriak sekencang-kencangnya. Sampai jiwa elang aslinya mengeluarkan sayap yang begitu besar. Menghancurkannya gua kecil itu sampai menjadi debu dan menghujani sekitarnya.


Tubuh Shui Jifeng memudar di atas pangkuannya. Perlahan dua belas kelopak mawar biru yang merupakan jiwanya beterbangan ke atas, juga tujuh inti roh, menyisakan abu yang suci.


"Ayah..." Sambil terus menggumamkan kata itu, mau tak mau Yi Changyin mengumpulkan serpihan abu dari pria yang selalu di rindukannya.


Kemudian Yi Changyin memasukannya ke dalam liontin kaca. Ya sebenarnya dia memiliki stok banyak untuk liontin seperti ini. Selain untuk menyimpan bubuk obat, itu juga bisa di gunakan untuk menyimpan abu orang-orang tersayangnya yang telah pergi.


Setelah selesai, dia menatap tiga liontin kaca di tangannya. Satu abu berwarna agak putih, dia adalah Jinmi. Satu lagi putih yang terdapat beberapa titik-titik biru, dia adalah Shen Lan. Sedangkan yang terakhir, abu itu berwarna putih bersih dan penuh dengan kelopak mawar yang amat kecil.


Yi Changyin terisak. Ia memasukan ketiga kalung itu ke dalam liontin spiritualnya. Kemudian berdiri, wajahnya berkabut emosi. Ia sudah tak menangis lagi, air matanya sudah kering.


Terkuras habis karena kepergian orang yang sangat dia sayangi sekaligus yang dia rindukan. Kepergian dua orang itu membuat wajah kejamnya bangkit. Sama seperti saat menghadapi Wu Yun ribuan tahun lalu. Kebahagiaannya benar-benar telah ditenggelamkan!


Dia mengangkat pedang Bai Suyue nya. Dan bergumam penuh emosi, "Wen Yuexin... Kau telah membunuh Jinmi!!" Teriaknya sambil menebas pohon yang berada di depannya. Hingga tumbang di bagian atas.


"Kau telah membunuh ayahku!!" Tak berhenti sampai di situ, Yi Changyin kembali menebas batang pohon itu sambil berteriak hingga ukurannya menjadi lebih pendek.


"Dan berusaha untuk merebut kekasihku!!" Satu tebasan lagi tak terhindarkan. Pohon itu terpotong menjadi empat, satu beserta akarnya masih menempel di tanah.


Hidupnya berasa tak pernah adil, ingin dia melampiaskan hal ini pada seluruh dunia! Oh ya, jangan lupa dengan bola racun yang di tanam wanita sialan itu. Entah kapan, dia bahkan tidak menyadari.


Hanya karena bergerak seperti itu saja, kini Yi Changyin telah memuntahkan seteguk darah. Ia ingat kata-kata Dewi Yuan Ji, bahwa ia tidak boleh bertarung atau sejenisnya. Apalagi sampai mengeluarkan energi spiritual lagi.


Yi Changyin merasa dirinya sangat lemah. Meskipun begitu dia tidak bisa menyerah, dia harus kembali ke daratan Dongfang sekarang juga. Yi Changyin mencoba mengepakkan sayapnya walaupun terasa letih.


Butuh dua hari dari perbatasan hutan Diaoshi menuju jalan keluar alam baka. Kini dia telah mencapai luar dan beristirahat di atas awan. Ternyata alam luar sedang malam hari. Sangat dingin hingga membuat ia menggigil.


Namun tiba-tiba seseorang datang dan menghunuskan pedang padanya. Yi Changyin mendongkak, melihat wajah Qi Xiangma yang tersenyum penuh kemenangan. Sialan, mengapa ada dia di saat-saat seperti ini?


Yi Changyin berusaha bangkit, pedang itu masih menodong padanya. Dia pun turut mengeluarkan pedang Bai Suyue. Terpaksa bertarung dalam kelemahannya.


Yi Changyin terus berusaha untuk kuat menahan serangan bertubi-tubi dari Qi Xiangma, yang tak pernah jeda ataupun memberi waktu untuk bernafas.


Baru saja sebentar, wajahnya sudah penuh dengan keringat. Yi Changyin mundur beberapa meter kebelakang, menancapkan pedangnya pada awan dengan nafas yang berderu.


Namun Qi Xiangma kembali melaju dengan kecepatan tinggi. Yi Changyin terpaksa bangun kembali dan melawannya sekuat tenaga. Baru saja satu tebasan, Yi Changyin sudah kembali mundur dan memuntahkan seteguk darah.


Mengambil kesempatan itu, apa yang di lakukan Qi Xiangma membuat Yi Changyin tersentak. Pedang ramping milik gadis itu tiba-tiba saja sudah bersarang di dada kanannya.


Itu sangat sakit dan menyengat. Energi spiritual Yi Changyin semakin terkuras. Qi Xiangma mendorongnya ke bawah, menuju tanah, masih dengan pedang yang menancap.


Dengan kekuatan yang tersisa, Yi Changyin mendorong Qi Xiangma hingga ia terjatuh terlebih dahulu, masuk ke dalam sungai yang mengalir deras. Sungai itu tak beku walaupun sedang musim dingin. Namun rasanya sangat dingin.


Yi Changyin terbawa arus sampai menuju air terjun. Qi Xiangma melihat sekilas tubuh Yi Changyin yang terbawa air itu, dia tersenyum miring dan hendak menyusulnya.

__ADS_1


Sementara itu ketika Yi Changyin sudah berada di bawah, kepalanya membentur batu hingga terluka sampai berdarah. Darah itu sampai mengenai separuh wajahnya.


Meskipun begitu, ia tak menyerah. Sambil memegangi dadanya, dengan darah yang mengucur, Yi Changyin berusaha berdiri dan mencari perlindungan. Karena tahu Qi Xiangma akan menyusulnya.


'Aku harus selamat, harus ada yang menyembuhkan Xuan Chen..' batinnya dengan gentir.


Benar saja, Qi Xiangma ikut terjun dengan menerbangkan dirinya. Namun saat ia berada di bawah, alisnya merajut. Tidak menemukan Yi Changyin dimanapun. Di dalam air, bahkan di semak-semak.


Namun tak lama dia melihat darah yang berceceran. Pusatnya berada di atas batu. Membuat ia tertawa licik dan mengira bahwa Yi Changyin sudah mati.


Tak menunggu lagi, dengan perasaan yang gembira, Qi Xiangma menerbangkan dirinya menuju langit. Tak berniat mencari keberadaan Yi Changyin lebih jauh.


Namun tiba-tiba, dinding batu yang berada di belakang air terjun memudar. Memperlihatkan Yi Changyin yang basah kuyup, pucat pasi, dada dan kening berdarah, telah selesai memasang ilusi.


Dia tersenyum, melihat ke arah bunga Peony yang berada di belakangnya. Bunga dengan mutiara dalam mahkotanya itu telah membantu menyalurkan energi.


Yi Changyin bahagia, ternyata tempat dia jatuh yang tak lain dan tak bukan adalah air terjun di daratan Dongfang, dekat dengan rumah Xuan Chen.


Namun kebahagiaan itu tak membuat ia menjadi lebih kuat. Lemah tetap lemah, luka dalam tetap luka dalam, luka berdarah tetap luka yang menyakitkan. Membuat dia memuntahkan darah yang begitu banyak.


Sambil memegangi dada kanannya yang sakit, Yi Changyin perlahan berlutut. Alisnya terus merajut, merasakan sakit dan pening. Wajahnya sudah tak kentara akibat darah yang terus menerus keluar.


Akhirnya dia pun ambruk, matanya terpejam. Setengah tubuhnya berada di atas air.


.......


.......


.......


Esok harinya yang cerah namun bersalju, tiga orang berjalan menembus hutan yang tampak putih. Ketiganya memakai jubah tebal, sama-sama pria. Namun satu di antara mereka berambut pirang.


"Tuan, benarkah mutiara bunga Peony itu sudah mekar?" Tanya si rambut pirang yang ternyata adalah Feng'er. Dua yang lainnya adalah Xuan Chen dan Heilong.


Xuan Chen tersenyum sambil mengangguk antusias. "Benar, sudah diperkirakan. Aku akan memanennya dan membuat hadiah untuk Yin'er jika ia kembali nanti."


"Ahh.. tuan.." Heilong tampak mendekati Xuan Chen dengan wajah yang seperti ada maunya. "Bolehkah aku meminta mutiara itu?"


Tidak perlu malu-malu, itu tumbuh liar, bukan di tanam olehku. Jadi kau..."


"Tuan yang terbaik!!" Ucapan Xuan Chen terhenti ketika Feng'er dan Heilong berseru secara bersamaan. Sambil memeluknya dengan erat dari kedua arah. Membuat langkahnya turut berhenti.


Xuan Chen sempat tertegun, namun sejurus kemudian dia tertawa dengan tingkah dua makhluk lucu yang memanggil istrinya dengan sebutan manja 'ibunda' itu.


Namun saat sampai di gua kecil belakang air terjun dituju, betapa terkejutnya mereka bertiga demi melihat seorang wanita berpakaian serba merah yang terkapar di dekat danau kecil belakang air terjun.


.......


.......


.......


Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗

__ADS_1


__ADS_2