
Xuan Chen tak menyerah, ia kembali menghampiri Yi Changyin yang sedang menggila. Gadis itu terus menggali tanah demi mendapatkan apa yang diinginkannya. Bahkan tak peduli jika kuku-kukunya menghitam akibat tanah.
Xuan Chen tak berdaya, gadis itu terlalu jauh untuk di sentuh. Kini dia hanya bisa memperhatikan dengan linangan air mata dan emosi yang bergejolak.
"Siapa yang berani menguburmu, ibu tau kau belum mati.." Yi Changyin terus menerus mengatakan hal itu.
"Aku tahu perasaan seorang ibu ketika di tinggal pergi anaknya untuk selamanya." Ujar Xuan Chen yang membuat aksinya berhenti.
Pria itu menepuk pundaknya, "Yin'er.. kau sudah terlambat. Jadi kumohon ikhlaskanlah Jinmi, biarkan dia beristirahat dengan tenang." Dia terus berusaha membujuk dengan nada yang halus.
Namun tiba-tiba Yi Changyin berdiri dan mencengkram erat kerah bajunya. "Kau pikir aku akan melepaskannya begitu saja?!" Dia menatapnya nyalang tanpa belas kasihan.
"Apakah.. kau yang membunuhnya?" Tuduh Yi Changyin dengan tenggorokan yang tercekat.
Xuan Chen menatapnya tak percaya. Sekarang apa? Yi Changyin menuduhnya? Dia tak bisa berkata-kata lagi. Hanya bisa menggerakkan bibir tanpa bersuara. Dengan berani terus menatap mata yang tajam ke arahnya.
"Kau pikir aku setega itu, Yin'er?" Jawab Xuan Chen dengan suara yang parau.
Yi Changyin mendengus. Tentu yang dia pikirkan adalah Wu Yun. Tapi sekarang Wu Yun dan Xuan Chen adalah orang yang sama.
"Siapa lagi yang bisa memasuki ruang dimensi spiritual? Siapa lagi yang mengetahui resep dari tabib?!" Suaranya tambah meninggi. "Siapa lagi yang bisa membuat ramuan itu? Bukankah kau sendiri yang membuatnya?!"
Xuan Chen tersudutkan. "Memang benar hanya aku." Jawabnya dengan suara yang tercekat. "Tapi.. aku tidak mungkin... Setiap malam aku selalu memimpikan Jinmi, selalu mendambakannya untuk hadir, apakah setega itu aku bisa membunuhnya?"
Tiba-tiba nadanya mulai meninggi. "Memangnya aku ini ayah seperti apa?! Kenapa kau menuduhku seperti itu?!" Dia sendiri sudah kehabisan kesabaran.
"Karena kau adalah Wu Yun!!" Yi Changyin mendorong Xuan Chen hingga menjauh. "Siapa lagi pria yang menginginkan kehancuranku selain dirimu!!"
Xuan Chen mengenyit tak mengerti. "Wu Yun? Aku?" Dia menunjuk dirinya sendiri. "Bukankah itu tidak mungkin?"
"Pergi!" Teriak Yi Changyin mengusirnya.
"Aku tidak mau!" Kukuh Xuan Chen.
"Terserah, asal jangan menggangguku!" Sahutnya dengan ketus. Sambil berbalik dan kembali melempar-lemparkan tanah dengan tangisan.
Walaupun matanya sedang mencari sesuatu. Batinnya selalu berkata, 'maafkan aku Xuan Chen maafkan aku... Aku sungguh terpaksa, aku punya alasan..'
Sementara Xuan Chen hanya mematung di tempat. Kata-kata Yi Changyin telah menyerangnya bertubi-tubi hingga membungkam segalanya di tengah-tengah rasa sakit.
Sementara itu Yi Changyin telah menemukan sebuah kotak besar. Di ambilnya dengan hati-hati dan membukanya. Mengharapkan ada sosok bayi yang dilihatnya dalam mimpi.
Namun saat membuka kotak itu. Yang terlihat hanyalah botol kaca yang penuh dengan abu suci milik Jinmi. Dengan perasaan yang menyesal, Yi Changyin kembali merapikan sisa yang dia kacaukan.
Ya, walaupun tak menempatkan abu itu di tempat semula. Ia ingin membawanya kemanapun. Sambil berkhayal kalau Jinmi sedang ada dalam pangkuannya.
Sambil merapikan, tangisan Yi Changyin semakin meledak. Membuat Xuan Chen menatapnya tidak tega. Walaupun hatinya sakit, tapi entah kenapa dia terus memaklumi kata-kata Yi Changyin.
Dia berjongkok di belakang Yi Changyin. Yang kini tengah mengubah botol kaca itu menjadi liontin berbentuk kendi kaca kecil lengkap dengan kalungnya.
Yi Changyin akan mengalungkannya sendiri. Namun tangan Xuan Chen meraihnya terlebih dahulu. Memasangkan kalung itu pada Yi Changyin dengan hati-hati.
Sedangkan Yi Changyin yang sempat tertegun kini terdiam. Membiarkan Xuan Chen yang memasangkan kalung kecil buatan dadakan itu.
Tiba-tiba hatinya terasa sakit. Saat memikirkan bagaimana perasaan Xuan Chen ketika dihantam kata-katanya tadi.
'Maafkan aku.. aku hanya ingin kau melupakanku jika nanti aku pergi tak kembali lagi.' Pikir Yi Changyin amat membatin. Dia kembali meledakkan tangisannya. Duka ini datang silih berganti, amat menyakitkan.
Namun tak di sangka Xuan Chen merengkuhnya dengan hangat dari samping. Mengusap-usap lengannya dan mencium puncak kepalanya dalam-dalam.
"Aku mengerti mengapa kau menuduhku tadi. Aku mengerti karena tahu rasanya kehilangan." Dia mengeratkan pelukannya. "Yin'er, kita sama-sama kehilangan. Tolong tenangkan pikiranmu. Karena bukan hanya kau yang merasakan sakit."
Yi Changyin masih menangis. Hatinya bertambah sakit. Salahkah ia jika nanti meninggalkannya? Mengapa ia tidak rela? Namun misi kali ini jelas-jelas untuk janjinya pada Xuan Chen.
__ADS_1
Saat itu Xuan Chen melanjutkan. "Namun tentang Wu Yun..."
"Kau memang dia." Sahut Yi Changyin.
"Apakah kau membenciku?"
"Aku sudah bersumpah untuk membenci Wu Yun bahkan jika bertemu di kehidupan berikutnya." Sahut Yi Changyin lagi dengan cepat.
"Tapi aku tidak akan pernah membencimu."
"Karena kau belum sepenuhnya mendapatkan ingatan Wu Yun."
"Bahkan jika menjadi Wu Yun, tidak ada kebencian di hatiku."
Yi Changyin terdiam. Ini semakin menyakitkan. Soal membenci Wu Yun, dia tidak berbohong. Tapi mengapa takdir begitu kejam? Mengapa harus Xuan Chen? Mengapa tidak Xuan Ye saja agar dia lebih mudah untuk membantainya?
Apa yang harus dia lakukan?
Racun yang kiranya diberikan Dewa kegelapan ini akan kambuh jika ia menemukan kebencian dan kekecewaan dalam hati.
Racun ini juga meracuni hati dan pikiran Yi Changyin untuk membenci seseorang, yang pernah dia katakan cinta dan suka.
Jikalau pun dia tidak membenci Wu Yun nantinya, tapi racun ini akan terus membuat dia dimanipulasi tanpa sadar.
Oh langit, dengan apa dewa kegelapan membuat benda semacam ini?
Dia yakin, jika sepenuhnya menghitam.. maka kehangatan tidak akan bisa menyembuhkannya lagi, bahkan dengan jamur Lingzhi. Lalu apa obatnya?
Usapan hangat Xuan Chen di tangannya tiba-tiba berubah menjadi tepukan. Membuat ia tersadar dari lamunannya.
"Aku turut berduka."
Suara Xuan Chen yang terdengar asing itu membuat ia tersentak. Mendorong pria itu segera dan menghunuskan belati kecil yang semula bersembunyi di dalam lengan bajunya.
Sama seperti sesaat sebelum perang terjadi dan pertemuan kembali mereka kemarin, Wu Yun mengelus pipinya dengan halus.
"Aku berbela sungkawa tapi kau malah mengajakku untuk bertarung?" Tanya Wu Yun dengan nada yang angkuh.
"Apakah.. kau yang membunuh Jinmi?" Interogasi Yi Changyin dengan dingin.
Wu Yun mendesis. "Ayolah! Jinmi juga anakku dan seorang ayah tidak mungkin tega untuk membunuh anaknya."
Yi Changyin mendengus. "Jinmi bukan anakmu."
"Jinmi anakku!" Kukuh Wu Yun yang membuat Yi Changyin menggertakkan giginya. "Dan kau adalah istriku." Tambahnya sambil mengedipkan sebelah matanya genit.
"Siapa bilang?" Sahut Yi Changyin dengan kesal.
"Seseorang akan datang." Bisik Wu Yun tiba-tiba.
Yi Changyin mendengus lagi. "terus saja membual."
Namun sejurus kemudian dia terkejut mendapati Wu Yun yang menarik tengkuknya yang lalu menciumnya secara paksa. Mendesaknya dalam dan tak mau diam. Yi Changyin mencoba mendorongnya namun tak bisa.
Tak lama kemudian Wu Yun melepaskannya. Menatap Yi Changyin dalam jarak yang dekat.
"Kita harus bekerja sama karena Wen Yuexin yang akan datang." Bisik Wu Yun dengan ekspresi yang serius.
"Kau?!"
Tiba-tiba Wu Yun mengangkat tubuhnya. Kemudian pergi masuk ke dalam rumah dengan langkah yang tergesa dan menutup pintunya. Benar saja, tak lama setelah itu Wen Yuexin datang.
Mereka berdua mengintip diam-diam dari jendela. Tampaknya gadis itu kebingungan mencari keduanya. Bayangan bahkan auranya tak terdeteksi.
__ADS_1
Namun nyatanya Wen Yuexin segera berlari ke arah rumah. Membuat mereka berdua terperanjat kaget, saking tak ingin bertemunya.
Membuat Yi Changyin terpaksa mengikuti rencana Wu Yun. Mereka berdua memasuki kamar, dan Wu Yun mulai mencium bibirnya dengan manis.
Tak lama kemudian Wen Yuexin datang. Gadis itu terbelalak melihat tingkah intim mereka berdua. Yang bahkan tak terganggu oleh kedatangannya.
"Junzhu.. sebaiknya kita pergi." Xueqi berbisik di belakangnya.
"Diam! Aku tahu kalau mereka hanya bersandiwara!" Teriaknya.
Hal itu menarik Wu Yun untuk melorotkan pakaian Yi Changyin sampai terlihat bahunya yang seputih susu. Dan Yi Changyin tersentak. Dalam hati ia mengutuk-ngutuk pria di hadapannya.
Sedangkan Wen Yuexin semakin terkejut dan tak tahan dengan pendiriannya yang terus ingin berada di sini. Sayang sekali kekuatan dewa kegelapannya belum pulih.
'baiklah.. baiklah..' Yi Changyin mengikuti permainan. Kini giliran ia yang membuka jubah luar Wu Yun. Melepaskan ikat pinggangnya hingga pakaian silangnya terbuka.
Wen Yuexin mundur beberapa langkah. Nafasnya memburu. "Kalian?!"
Sejurus kemudian Wu Yun menghentikan aksinya dan menoleh ke arah Wen Yuexin. "Pergilah! Jangan menyaksikan kami yang akan membuat bayi baru!"
Ingin sekali Yi Changyin muntah darah.
"Kau?!" Wen Yuexin sudah kehabisan kesabarannya. Dia langsung bergegas pergi dengan kaki yang di hentak-hentakkan.
Untuk memastikan, Yi Changyin mengintip di jendela. Melihat apakah Wen Yuexin benar-benar pergi atau tidak. Namun gadis itu benar-benar dibakar api cemburu hingga berlari sampai menjauh.
Yi Changyin menghela nafas lega sambil memperbaiki penampilannya yang sempat diacak-acak Wu Yun. Namun begitu tersentak ketika Wu Yun menarik Yi Changyin kedalam dekapannya.
Sialnya lagi pria itu masih telanjang dada. Sekarang Yi Changyin menyesal telah membuka bajunya.
"Kau membuka bajuku?" Tanya Wu Yun dengan tatapan yang menggoda. Berusaha menghembuskan nafas hangatnya ke depan wajah Yi Changyin.
Namun sejurus kemudian kepalan erat tangan Yi Changyin menonjok perutnya hingga ia mengaduh kesakitan. Rasanya sangat berputar-putar, ditambah satu tamparan keras berhasil mengenai pipinya.
Wu Yun pingsan, ambruk ke atas kasur dalam keadaan tengkurap. Dengan nafas yang masih memburu Yi Changyin pergi dari ruangan itu. Bisa-bisanya saat berduka ada kejadian semacam ini.
Dia kembali ke hadapan nisan Jinmi. Merapikan sekitarnya dan mengganti dupa. Namun tak lama kemudian ketika ia sedang merenung, Wu Yun kembali datang sambil memegangi perutnya.
"Tak ku sangka setelah enam belas ribu tahun kau bertumbuh menjadi wanita bertenaga." Ujar Wu Yun dengan suara yang tertahan.
Awalnya Yi Changyin mengira yang bangun adalah Xuan Chen, namun ternyata adalah Wu Yun. Membuat ia melotot terkejut.
"Pergi dari sini!" Usirnya dengan dingin.
Wu Yun si pria sombong itu mendengus, "aku tidak mau!"
"Kalau begitu keluar dari tubuh Xuan Chen."
"Aku tidak bisa keluar." Jawabnya dengan polos. Namun sukses membuat Yi Changyin menggeram rendah.
"Maksudku biarkan Xuan Chen sadar!" Geramnya tidak sabaran.
"Kalau begitu lebih baik aku pergi."
"Kau?!" Yi Changyin menunjuknya kesal. Pria itu sungguh menjengkelkan. Kematian sesaat ternyata tidak bisa mengubahnya. Sialan!
.......
.......
.......
Setelah membaca tinggalkan jejak dengan cara like dan komen. Jangan lupa beri dukungan dengan cara beri hadiah dan vote di laman karya🤗
__ADS_1